Hanbok

Hanbok

*Written by Uke*

Invasi hallyu yang bertubi-tubi ke seluruh penjuru dunia membuat orang semakin mengenal budaya Korea, terutama Korea Selatan, termasuk mengenal pakaian tradisionalnya: hanbok. Pakaian tradisional ini terlihat menawan dengan tiga bagian utamanya: Jeogori (baju bagian atas yang bentuknya menyerupai jaket), Chima (rok), dan Baji (celana yang digunakan dibalik Chima). Sejak diperkenalkan pada masa Kerajaan Goguryeo 37 tahun sebelum masehi, desain hanbok tidak banyak mengalami perubahan.

 Pada awalnya, hanbok memiliki warna-warna yang ‘kuat’ yang menggambarkan lima elemen dalam yin dan yang. Warna putih mewakili unsur logam, merah mewakili unsur api, biru mewakili unsur kayu, hitam mewakili unsur air, dan kuning mewakili unsur bumi. Selain itu, warna yang digunakan juga menggambarkan status sosial dan status pernikahan si pemakai. Warna-warna cerah digunakan oleh anak-anak dan gadis-gadis remaja, perempuan yang tidak menikah memakai Jeogori kuning dan Chima merah, perempuan yang memiliki anak laki-laki menggunakan warna navy, dan rakyat jelata identik dengan warna pink pucat, hijau pupus, dan abu-abu.

 Material bahan yang digunakan juga menggambarkan status sosial, dimana rakyat jelata hanya boleh menggunakan hanbok yang terbuat dari katun. Tak hanya warna dan bahan, setiap bentuk bordir yang dijahitkan pada hanbok juga memiliki arti tersendiri. Sebagai contoh, bordir berbentuk naga, harimau, phoenix, dan burung bangau, hanya boleh digunakan oleh kaum bangsawan atau pejabat tinggi.
Jika di masa lalu, hanbok merupakan pakaian sehari-hari rakyat Korea, kini ia hanya digunakan pada acara-acara tertentu, seperti saat pernikahan atau Lunar New Year.

***

Kecantikan hanbok telah memukau hati banyak orang, termasuk kami yang tergoda ingin mencicipi bagaimana rasanya mengenakan hanbok dan berjalan menikmati jalan kecil Bukchon Hanok Village. Membayangkan Chima dengan warna-warni cantik menyapu jalanan Bukchon yang bersih terawat dengan latar rumah-rumah tradisional Korea, rasanya seperti adegan dalam K-drama, walau entah adegan apa di drama mana.

Berbekal keinginan mendalam dan tekad baja, kami mulai mencari tau penyewaan hanbok di Seoul. Dari beberapa pilihan, akhirnya kami memutuskan menggunakan jasa Oneday Hanbok yang mematok harga sebesar KRW 15.000 untuk penyewaan hanbok selama 4 jam. Kami pesan melalui klook, memilih waktu yang diinginkan, mendapatkan tanda booking, sementara pembayaran akan dilakukan secara cash saat hari H nanti.

Karena kami sudah berniat untuk puas-puasin sesi pemotretan dengan hanbok ini, maka kami memilih slot waktu yang sekiranya matahari belum terlalu terik. Penyewaan pertama dibuka pukul 9 pagi, tapi karena tidak ada slot tersisa maka kami bergeser ke pukul 10 pagi.

Selasa pagi di awal bulan april kami melangkahkan kaki menuju tempat Oneday Hanbok di dekat Bukchon. Turun di stasiun Anguk (line 3/oranye) dan keluar di exit 2, kemudian berjalan lurus sekitar 200 meter hingga bertemu perempatan. Dinding kuning Oneday Hanbok sudah tampak. Ketika kami masuk, sudah banyak turis-turis lalu lalang sibuk memilih hanbok dan mematut-matut diri di depan cermin. Kami segera menyerahkan kode booking dan menitipkan barang-barang; kecuali paspor, dompet, dan kamera, tentunya. Jangan sampai terlambat ya, Oneday Hanbok memberi toleransi hanya 10 menit keterlambatan dari waktu yang disepakati. Oya, sebelum mulai memilih hanbok, sebaiknya tuntaskan dulu urusan ke kamar kecil.

Kami pun dibawa oleh eonni-eonni ke dalam satu ruangan berisi banyak sekali pilihan hanbok dengan berbagai ukuran. Saking banyaknya (dan semuanya cantik! Kami bingung!) kami sampai pusing menentukan pilihan paduan Jeogori dan Chima (tanpa Baji ya). Sebagai tips, untuk yang berjilbab sebaiknya siapkan jilbab polos dengan beberapa pilihan warna netral, pastel, dan warna bold seperti navy dan maroon.

Hampir 1 jam kami memilih dan berganti baju juga mengenakan aksesoris rambut dan tas, tak lupa kami menyewa lapisan pengembang seharga KRW 2000 yang dipakai dibalik Chima, gunanya untuk membuat Chima tampak mengembang, lebih anggun dan cantik.

Menginjak pukul 11 kami keluar dari Oneday Hanbok dan punya waktu 4 jam sejak keluar pintu (jadi saat pilih-pilih hanbok dan dandan nggak dihitung ya) untuk menaklukkan Bukchon Hanok Village (and hopefully we could counquer Gyeongbokgung, too).

Oneday Hanbok
2nd Floor, 4 Bukchonro5-gil, Jongno-gu, Seoul
http://www.onedayhanbok.com
IG : onedayhanbok
email : onedayhb@naver.com

Hanbok at Gyeongbokgung Palace
@ Bukchon Hanok Village

 

***

 

 

 

 

*Author*

Uke, berprofesi lawyer di salah satu bank BUMN ternama di Indonesia. Punya blog tapi lupa password, so she stop blogging then. Suka traveling, pecinta shopping, rempong urusan jamban dan ditinggal kawin (mantan) gebetan tertjintah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s