[UK] Day 2 : Sherlock Homes Shop, Natural History Museum & Camden Town

Sunday, April 23rd 2017

Alkisah…
Hari ini kami berencana akan jalan lebih siang.
Kenyataannya, ya benar! >.<

Demi mengantisipasi jetlag dan planga-plongo bego, kami mengeplot perjalanan dimulai di atas jam sembilan pagi.

Malam sebelumnya, tepat pukul sebelas malam waktu London, ketika kami bersiap-siap tidur, ternyata adek Dwi sudah bersiap-siap jalan menuju bandara Soetta. Chat sebentar dengan Dwi sambil diskusi besok mau bangun jam berapa, jalan jam berapa dan tempat yang akan kami datangi. Akhirnya jam 12 malam kami baru bisa tidur. Yang berarti saat itu bertepatan dengan jam 6 pagi waktu Jakarta.

Jetlag oh jetlag…
Kejamnya dirimu!

Zzzzzzzz………

Pukul 05.30
Terjadilah sedikit drama di pagi hari.

Ketika gw beranjak ke kamar mandi, baru melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi. Kecipuk-kecipuk. Kaki gw langsung basah. Terendam oleh genangan air.

Gw paksakan mata untuk melek. Sambil melirik kondisi kamar mandi. Ternyata di lantai sudah penuh dengan genangan air setinggi satu sentimeter.

“ Inih hotel bintang tiga. Kok pake ada air bocor sih! “, komentar dalam hati.

Berhubung gw lebih memilih merem daripada ngurusin genangan air. Gw langsung keluar kamar mandi dan melanjutkan tidur.

Satu jam kemudian, mendengar krasak-krusuk Didit dan Uke yang mulai bangun, gw mulai memaksakan diri bangun. Uke yang masuk ke kamar mandi, mulai bersuara menunjukan kekagetan dengan genangan air di kamar mandi yang masih bertahan.

Usut punya usut.
Ternyata penyebabnya adalah adanya air yang tumpah dari ember lipat yang kami bawa dari Jakarta. Kami memang sengaja request ke Didit untuk membawa ember lipat agar kami gak ribet dengan urusan cebok-mencebok dan gak wara-wiri sibuk menampung air ke wastafel. Namun ternyata ember lipatnya tidak bisa berdiri dengan sempurna hingga airnya pun sukses bubar jalan juga.

Barbuk : ember lipat

Pagi itu kami bertahan di edisi leyeh-leyeh dan berusaha melawan jet lag selama dua jam lamanya. Semua aktivitas kami lakukan secara lambat. Gw yang tidak mau meninggalkan kasur, sibuk bikin instastory, pembahasan penting kami mencari tempat yang menjual coat yang dipakai oleh satu pembawa acara London Marathon hingga sarapan santai di kamar. Tepat pukul sepuluh kami baru beranjak meninggalkan hotel.

Sebelum memulai perjalanan, kami menyempatkan diri membeli Oyster card di toko minimarket yang berada di seberang hotel. Setelah itu kami berjalan menuju stasiun Kilburn Park, menuju tujuan pertama kami di London yaitu Sherlock Homes Museum Shop.

Keluar dari stasiun Baker Street, arahan yang tertulis di City mapper adalah keluar dari pintu utara. Tapi sesuai dengan informasi yang gw tulis sebelumnya, tulisan pintu exit di stasiun tube London serba gak jelas. Jadi kami mengira-ngira saja. Yang gw inget, begitu keluar dari gate out stasiun, kami belok kanan dan begitu bertemu lampu merah pertama, kami belok kanan kembali. Teruslah berjalan lurus dan terlihat Sherlock Holmes Museum di sebelah kiri jalan.

Dari awal, ketika gw bertanya ke Didit apakah mau masuk ke Sherlock Holmes Museum. Jawabannya gak. Cuma mau mampir lihat souvenirnya ajah.

Jadi setibanya kami di Sherlock Holmes Museum, kami hanya benar-benar berfoto di depan museum dan kemudian mampir ke toko souvenir. Menemani Didit yang menggalau mencari souvenir yang sesuai dengan kocek. 😀

Berhubung gw bukan fans sejati Sherlock Holmes, gw tidak bisa mengomentari toko ini. Tapi souvenir yang dijual cukup menarik. Berbagai jenis barang yang ditawarkan rasanya akan berbeda jauh dengan barang-barang yang ditawarkan penjaja souvenir di pinggir jalan. Gak rugi kok.

Sherlock Holmes Museum
221b Baker Street
Open every day of the year (except Christmas Day) from 09.30 – 18.00
Admission : Adult 15 £ ; Child 10 £ (under 16 years)

http://www.sherlock-holmes.co.uk/

Direction to Sherlock Holmes Museum *courtesy Google Maps*
Sherlock Homes Museum
Bisa pose dulu loh dengan babang pengaman..
Sherlock Homes Shop #1
Sherlock Homes Shop #2
Sherlock Homes Shop #3
Sherlock Homes Shop #4
Candies
Sherlock Homes Shop #5
Sherlock Homes Shop #6

Berhubung lokasi Sherlock Holmes Museum sudah berdekatan dengan salah satu restoran burger halal, Burgista. Kami memutuskan untuk mampir makan siang. Lokasi Burgista sejajar dengan Sherlock Holmes Museum dan persis berada di depan salah satu pintu keluar stasiun Baker Street.

Pada pukul 12 kami baru dapat masuk ke restoran. Uke dan Didit memesan BBQ Burger sedangkan gw memesan Portabelo Beef Burger.

Bagaimana rasanya?
Didit : Rasanya sama seperti burger-burger lainnya.
Uke : Kejunya enak.
Gw : Rasanya okeh-okeh saja, gak spesial. Yang bikin unik ya jamurnya.

Map to Burgista *courtesy Google Maps*
Burgista
BBQ Burger ; price 12,49 £
Portabelo Beef Burger ; price 13,49 £

Selesai makan, kami meneruskan perjalanan selanjutnya yaitu menuju Natural History Museum. Dari stasiun Baker Street, kami transit di stasiun Picaddly Circus dan turun di stasiun South Kensington, keluar di pintu exit 2 dan masuk ke Natural History Museum melalui pintu masuk museum di Exhibition Road.

Natural History Museum adalah salah satu museum yang direkomendasikan website pariwisata UK, London, Have Halal Will Travel dan blog orang-orang.

Namun yang bikin kami lebih tertarik karena masuk ke museum ini tidak perlu membayar tiket masuk alias gretong.

Sesuai dengan nama museumnya, museum ini berisi dengan sejarah dan pengetahuan tentang bumi dan penghuninya. Untuk pecinta museum dan penggila ilmu pengetahuan, museum ini wajib untuk disambangi.

Natural History Museum mempunyai empat wilayah zonasi yaitu

  • Orange Zone terdiri dari area masuk, zoology spirit building, Attenborough studio dan wildlife garden yang berada di halaman luar museum
  • Blue Zone terdiri dari area mammalia, dinosaurus, human biology, marine invertebrates, fishes, amphibians & reptile
  • Green Zone terdiri dari creepy crawlies, fossil marine reptiles, minerals & giant sequoia
  • Red Zone terdiri dari lasting impressions, human evolution, earth treasury, volcano & earthquakes

Natural History Museum terbilang cukup luas. Kalau kalian addicted dengan museum, kalian bisa menghabiskan waktu disini minimal setengah hari (atau bahkan satu hari sendiri). Kami sendiri memutari museum ini selama kurang lebih tiga jam.

Museumnya sendiri dibuat nyaman dengan penerangan yang disesuaikan per zone. Coba bayangkan kalau di area birds dengan penerangan yang minim, hadeeuuu berasa kayak di museum Jakarta. Spooky, cin!

Oya, museum ini sangat ramah anak. Di beberapa display bahkan dibuat secara menarik dan interaktif. Jadi rasanya wajar sekali kalau museum ini selalu dipenuhi oleh anak-anak dan para orang tuanya.

Didit :
Andai di Jakarta ada museum kayak gini. Salut dengan fasilitas dan detail koleksi museumnya. Gak cuma dipajang tapi edutainment untuk anak-anak. Gratis pula!

 

Uke :
Mengamini testimoni Didit.
Gedung cakep. WC lumayan jauh, baunya agak aneh. Suka dengan benda yang dipamerin. Aksesnya mudah.

 

Gw :
Jika dibandingkan dengan British Museum, gw lebih suka Natural History Museum. Mungkin karena gw lebih familiar dan terpapar dengan pelajaran jaman sekolah dulu, jadi rasanya informasinya lebih mudeng dan terserap dengan baik. 😀

Area favorit gw di museum ini adalah area dinosaurus dan mamalia. Begitu masuk area Dinosaurus kita akan melihat penampakan Dinosaurus dengan badannya yang sangat tinggi dan mengeluarkan suaranya, yang mungkin bagi anak-anak akan sedikit menyeramkan. Berbagai macam fossil dinosaurus yang (rasanya) belum pernah gw lihat terpajang lengkap dan diberikan penjelasan secara detail. Gw jadi sibuk membayangkan bagaimana rasanya hidup dimasa jaya-jayanya dinosaurus. Mungkin gw akan jadi mangsanya yang gampang di toel (baca : colek).

Sedangkan untuk area mammalia, gw suka sekali dengan informasi tentang lumba-lumba. Super duper lengkap! Tak lupa dengan rangka gray whale-nya yang geda (baca:besar) ituh. Cakep nian!

Ditengah-tengah kami berkeliling, mulailah percakapan gak penting kami menjadi melebar. Pembahasan tingkat tinggi kalau sudah berdiskusi dengan Didit. Ketika kami sampai di area From The Beginning yaitu masa evolusi bumi dan manusia, munculah topik pembahasan yaitu kapan kira-kira waktu Nabi Adam turun ke bumi jika dimasukan kedalam tahun sebelum masehi serta pembahasan dimana adanya tahun yang terlongkap antara jaman dinosaurus dan jaman manusia.

Sumpeeehhh!!!
Berat kan tuh topik! *colek Didit*
Hahahahaha…

The Natural History Museum

The Museum is a world-class visitor attraction and leading science research centre. We use our unique collections and unrivalled expertise to tackle the biggest challenges facing the world today. We care for more than 80 million specimens spanning billions of years and welcome more than five million visitors annually.

Cromwell Road
London SW7 5BD

Open daily 10.00-17.50
Last entry 17.30
Closed 13 July and 24-26 December

http://www.nhm.ac.uk/

Map to Natural History Museum *courtesy of Google Maps*
Welcome to Natural History Museum
Opening icon – Stegosaurus
Luv the ambience..
Earth..
Bahkan mereka pun lelah melihat fossil 😛
Fossil marine crocodiles
One spot at Natural History Museum
The famous bird, Dodo – Temannya Tata
Birds – kebayang gak spookynya kalau di area ini dengan lighting temaram -_-
white bear – entah kenapa tetap terlihat imut ya?
Welcoming speech from the Dino
Tyrannosaurus & Triceratops
Tuojiangosaurus
mereka terlihat (sangat) tidak lucuk! Galak face! – The Deinonychus
Dinosaurus #1
Allosaurus
Dinosaurus #2
Gray whale – sayangnya the famous blue whale masih di umpetin
Ceritanya, penampakan utuh gray whale
Kumpulan the mammals
Dolphin dkk

Pada pukul empat sore kami berjalan meninggalkan Natural History Museum. Tujuan selanjutnya adalah Camden Town. Perjalanan dimulai dari stasiun South Kensington, transfer di stasiun Leicestern Square dan turun di stasiun Camden Town dengan memakan waktu kurang lebih 35 menit.

Di Camden Town, kami menemukan toko-toko yang menjual souvenir khas London dengan rata-rata harga barang di bandrol 10 £ untuk 3 hingga 4 jenis barang. Namun berhubung kita tidak sempat mampir ke Chinatown, gw tidak bisa membandingkan kualitas barang dan harganya yang ditawarkan di Camden Town dan Chinatown.

Berhubung sore itu ramai orang, kami hanya berjalan menyusuri jalan hingga melewati salah satu sisi canal sungai yang dikelilingi dengan tempat makan sambil sesekali mampir masuk ke toko souvenir.

Camden Market #1
Camden Market #2
Camden Market #3
Camden Market #4
The famous Chin Chin Labs

Pulangnya, walaupun kita masih sedikit kenyang, kami memaksakan diri untuk early dinner di restoran Poppies Fish and Chips.  Restoran Poppies Fish and Chips ini masuk ke dalam list 5 best muslim friendly foods di website Have Halal Will Travel.

Kami memesan menu traditional fish and chip ukuran regular dengan harga 12.2 £. Menu ini mempunyai dua pillihan ikan yaitu cod dan haddock.

Apa bedanya?
Ikan cod mempunyai tekstur daging yang lebih tebal, padat, kering dan rasanya sedikit tawar, mungkin pengadaiannya hampir sama seperti ikan tuna. Sedangkan untuk haddock, ikan ini mempunyai tekstur yang lebih lembut, tidak padat dan lebih ada rasa (sedikit gurih), kurang lebih sama seperti jenis ikan karang di Indonesia.

Bagaimana rasanya?
Gak ada yang special dengan fish and chip di negaranya langsung. Namun yang pasti, olahan fish and chip di London terasa sedikit berbeda jika dibandingkan olahan fish and chip di beberapa restoran (yang cukup terkenal dengan fish and chip-nya) di Jakarta.

Pilih cod atau haddock?
Vote for haddock.

Direction to The Poppies *courtesy Google Maps*
Poppies
Haddock fish and chips

Selesai makan, kami langsung bergegas kembali ke hotel. Di itinerary awal, Didit sempat mengusulkan untuk menyambangi Little venice versi London. Namun berhubung kami sempat melewati Little Venice di perjalanan menuju hotel sehari sebelumnya, kami langsung menyetujui untuk menskip tempat ini. Tampaknya tidak ada yang spesial di Little Venice.

Fyi, enaknya jalan ketika musim semi, waktu siang hari ternyata lebih panjang dibandingkan malam hari. Matahari terbit pukul enam pagi dan mulai terbenam pada pukul delapan malam. Keuntungannya kami bisa jalan-jalan lebih lama dan lebih suka menunaikan ibadah shalat ashar ketika sudah kembali ke penginapan di malam sore hari.

Sesampainya di penginapan, kami shalat dan beristirahat sebentar. Kemudian lanjut keluar hotel untuk mencari sim card. Kami membeli sim card di salah satu toko yang menjual perangkat komunikasi. Kalau di Jakarta hampir sama seperti counter HP deh.

Sambil menunggu proses pembelian sim card, seharusnya bertepatan dengan kedatangan Dwi. Benar saja. Tak lama kemudian munculah penampakan Dwi dengan koper barunya.

Anyeonghaseyo.
Selamat datang di London, Wi!
Welcome to the club!
😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s