[Wonderful Indonesia] Waerebo

Waerebo

Setelah di malam sebelumnya kami mengarungi perjalanan tak berujung, pagi ini gw bangun dengan sedikit rela-tidak rela meninggalkan kenyamanan kasur dan hawa dingin pagi hari di Waerebo Lodge, Desa Dintor.

Agak sedikit memaksakan diri untuk segera bergegas mandi dan beberes karena hari ini kami harus melanjutkan perjalanan menuju Waerebo.

Yup, Waerebo!

Tujuan utama gw mengambil road trip Flores!

Siapa yang tidak tertarik melihat sebuah desa dengan pemandangan tujuh rumah kerucut dengan atap ijuknya, terisolasi di balik pegunungan serta penampakan kabut yang membuat desa ini semakin terlihat eksotis.

Kembali ke cerita asal muasal beberapa bulan sebelum perjalanan…
Berhubung gw bukan pecinta gunung dan ini baru pertama kalinya gw menyengajakan diri ikutan trekking ke gunung, gw sudah wanti-wanti ke Anet dengan gaya jalan gw yang 100% lambat seperti kura-kura.

Kalau untuk anak pecinta alam yang saban bulan naik turun gunung, perkara jalan ke Waerebo pasti urusannya keciiiiiil. Tapi untuk newbie dan gak rutin olah raga kayak gw, untuk meluruskan niat dan menyugestikan diri bahwa trekking adalah perjalanan yang sangat menyenangkan adalah perihal tidak mudah.

Niat awal untuk olah raga rutin sebelum nanjak sih boleh banget dikasih dua jempol.
Tapi sudah bisa dipastikan, eksekusinya kedodoran.

Dari rencana dua bulan akan rutin olah raga, kenyataannya hanya sekali sekali terlaksana.
Itu pun pasti edisi khilaf. Kekekek… ^_^

*****

Perjalanan menuju Waerebo selama kurang lebih satu hari setengah akan di pimpin oleh Pak Cornelius. Seorang bapak yang memiliki kontur wajah keras (akan kehidupan) namun percayalah, ketika ia tersenyum ekspresinya mengalahkan model majalah papan atas.

Ari Sihasale lewaaaaattttt, cyiiinnn!
#ups
*edisi ABG jaman kolot*

Begitu selesai sarapan, kami bergegas membereskan barang-barang yang akan kami bawa ke Waerebo. Fyi, perlengkapan perang milik gw, Uke dan Didit digabung dalam satu carrier milik Didit dan akan dibawa oleh pak Cornelius. Praktis kami hanya membawa barang kebutuhan masing-masing. Lumayan untuk menghemat tenaga. Beda tipislah ya antara kami gak sanggup membawa beban atau ingin menghemat tenaga.

Setelah selesai menitipkan koper dan barang-barang yang tidak dibawa ke Waerebo, kami meninggalkan Desa Dintor dengan menggunakan mobil.

Seharusnya mobil dapat tiba hingga ujung akhir jalan beraspal. Namun diakibatkan adanya perbaikan jalan dan jembatan, kami harus berhenti di tempat perbaikan jalan dan melanjutkan perjalanan dengan motor selama 5 menit hingga tiba di unjung akhir jalan beraspal yaitu titik awal trekking.

Begitu turun dari motor, tampaklah pemandangan akan hijau serta rimbunnya hutan.
Inilah perjalanan selanjutnya yang harus kami arungi.

Ganbatte!!!!

Baru saja kami memulai perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa rombongan wisatawan lokal layaknya kami, yang baru saja turun dari Waerebo.

SOP pertanyaan yang keluar dari mulut kami :
“ Berapa lama kemarin nanjak ke Waerebo ? “
“ Tadi dari Waerebo jalan jam berapa ? “
“ Berapa lama jalannya? “
“ Hah, Dua jam? “

*lambaikan tangan ke kamera*
*tersenyum getir*
*lesu*
*tandu, mana tandu*

Jarak dari titik awal trekking hingga tiba di Waerebo kurang lebih sejauh 4,8 km. Lama waktu tempuh perjalanan berangkat kurang lebih 2,5 – 3,5 jam sedangkan pulangnya bisa ditempuh selama 2 jam.

Pendakian menuju Waerebo akan melalui 3 pos.

Pos pertama adalah Sungai Wae Lomba. Dari pos pertama menuju pos kedua sejauh 1,8 km ini memiliki kontur jalur menanjak dengan kemiringan 30-50 derajat.

Jangan tanya kayak apa rasanya!
Berasa jalan digandulin tentengan barbel 10 kg ditangan kanan dan ditangan kiri.

Selama 10 menit pertama, semangatnya pol to the max.
Setelah itu, badan memaksa untuk beradaptasi.
Jantung berdetak cepat, nafas mulai tidak teratur serta rasa haus mulai mendera, cukup membuat stamina drop. Rasanya ingin membalikan badan kembali ke Waerebo Lodge.

Beratnya kontur perjalanan memaksa kami beberapa kali berhenti. Hingga akhirnya Fitri pun menyerah. Dengan pertimbangan perjalanan kami masih jauh dan langkah kami lambat, rombongan dibagi menjadi 2 tim dan kami sepakat akan bertemu di pos kedua.

Kami meninggalkan Welly dan Pak Cornelius yang akan menemani Fitri untuk memulihkan tenaga selama beberapa saat. Anet yang berjalan memimpin rombongan, dilanjutkan gw, Uke, Didit dan ditutup oleh dua pria gentleman yaitu Dhana dan Sura.

Jalur pendakian menuju Waerebo berbentuk jalan setapak dimana salah satu sisinya terdapat jurang.
Kalau kalian bertanya-tanya apakah kami bertemu dengan hewan yang ditakutkan Uke?
Nope, Alhamdulillah kami tidak bertemu lintah dan binatang lainnya di sepanjang perjalanan pergi pulang.

Beberapa kali kami berpapasan dengan penduduk asli Waerebo yang akan turun ke Desa Dintor. Dengan ramahnya mereka menyapa kami.

Pertanyaan yang selalu keluar dari mulut kami adalah “ Berapa jam lagi tiba di Waerebo? “ dan mereka pun menjawab polos jujur diakhiri dengan senyum mempesona namun menyakitkan hati. Kenyataan itu memang kejam, sodara-sodara.

Rimbunnya pepohonan, semilir udara gunung serta merdunya kicauan burung cukup mengalihkan lelahnya perjalanan. Beberapa kali (mungkin mencapai puluhan 😛 ) kami berhenti. Tidak lama kemudian, bergemalah motto “ Pelan-pelan aja! “ bak lagu Tantri Kotak mengiringi perjalanan kami.

Begitu tiba di pos kedua, Pocoroko, kami beristirahat kembali sambil menunggu kedatangan Fitri, Welly dan Pak Cornelius. Perjalanan dari pos pertama hingga pos kedua kami tempuh selama 90 menit. Behind the scene perjalanan menuju pos kedua bisa di cek disini.

Setelah Fitri, Welly dan Pak Cornelius bergabung, kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalur trekking sejauh 1,5 km dari pos Pocoroko menuju pos ketiga lebih mudah kami lalui karena didominasi dengan jalur landai dan jalanan menurun. Tanpa terasa, kami sudah tiba di pos 3, Nampe Bakok.

Dari pos ketiga kami berjalan sejauh 1 km hingga tiba di Rumah Kasih.
Yeeaaayyyy….!
*gelar karpet merah*

Total perjalanan kami berjalan dari pos pertama hingga tiba di Rumah Kasih adalah 3 jam.

Perjuangan yang luar biasaaaaa!
Sangat menyenangkan!
Fabulous! Fabulous! Fabulous!
Proud to my self. 😉

Rumah Kasih tampak seperti gubuk sederhana. Begitu kami naik ke atas Rumah Kasih, dari kejauhan tampak jajaran tujuh rumah yang terkenal dengan nama Desa Waerebo.

Ah, saya terharu, sangat!
Perjuangan trekking langsung terbayarkan dengan indahnya pemandangan Desa Waerebo.

Pak Cornelius segera membunyikan kentongan yang berada di salah satu sisi Rumah Kasih. Kentongan ini merupakan pertanda bahwa akan ada tamu yang datang di Desa Waerebo. Setelah turun dari Rumah Kasih, Pak Cornelius mengingatkan kami untuk tidak mengambil foto semenjak perjalanan dari Rumah Kasih hingga kami menginjak rumah di Waerebo.

*masukan kamera dan hape*

Welcome to Waerebo Lodge
Siapkan kaki menuju Waerebo
Isi tenaga..
Ujung perjalanan yang bisa dicapai dengan mobil
Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra bersama teman bertualang…
Masih bisa tersenyum 😀
Rombongan pertama istirahat dulu
Sura sibuk minum dari sumber mata air
Anet dengan sabar menunggu anak-anaknya tiba
Akhirnya Fitri, Welly dan Pak Cornelius bergabung kembali
Take a break (again)..
Jembatan cintah..???haks haks haks…
Bunyikan kentongnya dengan keras, Pak
Sumringah bingids deh ah…! Soalnya dah sampe boook!

Dengan mengekor Pak Cornelius, kami berjalan menginjak hamparan rumput hijau menuju salah satu rumah utama bernama Mbaru Tembong.

*tersenyum lebar*

Sesampai di dalam rumah utama, kami duduk berpencar disekitar Pak Cornelius. Di depan kami tampak dua orang pria berusia lanjut namun masih tampak segar dengan sesekali tersenyum ramah. Bapak tersebut bernama Pak Rafael dan Pak Rofinus.

Pak Cornelius memulai percakapan dengan bahasa setempat yang kemudian dijawab oleh kedua bapak tersebut. Mereka bercerita sedikit tentang Waerebo dan rumah adat yang kami datangi. Tak lupa mereka menjelaskan bahwa selama kami di Waerebo kami akan dianggap layaknya warga asli Waerebo. Jangan sungkan, kami akan dianggap sebagai anak sendiri.

Selesai dengan acara penyambutan, kami berpindah tempat ke salah satu rumah yang akan digunakan untuk menginap. Begitu tiba, terhampar tempat tidur beralas tikar sederhana. Beberes sebentar dan tak lama kemudian kami disuguhi secangkir kopi khas Waerebo. Kami pun mulai larut percakapan dengan Pak Cornelius.

Di Desa Waerebo memiliki 7 rumah berbentuk kerucut. Rumah utama bernama Mbaru Tembong memiliki 8 kamar disediakan untuk 8 keluarga, dimana kamar ini diperuntukan untuk anak sulung. Jika bukan anak sulung, mereka akan menempati rumah diluar rumah utama yaitu dienam rumah lainnya. Dari informasi Pak Cornelius, generasi Waerebo sudah mencapai generasi ke-19.

Selesai makan siang, kami mulai mengeksplor Waerebo. Di rumah yang kami tempati disediakan tempat tidur beralaskan tikar sebanyak kurang lebih 30 buah. Persis di pintu belakang langsung berhadapan dengan pintu dapur. Di sisi luar rumah disediakan kamar mandi sebanyak 3 buah. Kamar mandinya pun terbilang bersih.

Selama di Waerebo, kami menikmati waktu secara konvensional karena dari pagi hingga sore hari tidak tersedia listrik dan tentunya tidak ada sinyal hape. Listrik akan menyala pada pukul 18.00 hingga 22.00. Setelah itu, listrik akan dimatikan kembali.

Menikmati waktu Waerebo pun cukup mudah.
Kami mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang foto-foto, ada yang mengobrol dengan para sesepuh Waerebo dan ada yang bermain dengan anak kecil penduduk Waerebo.

Note : Please, jika kalian ingin memberikan sesuatu kepada anak-anak, jangan berikan langsung ke mereka tapi salurkan lewat orang tua mereka. Tidak mudah memang mendidik mereka. Di beberapa kali kesempatan, gw melihat mereka tidak malu-malu dan sedikit ‘berani’ untuk meminta permen kepada para pengunjung.

Ketika hari sudah bergullir menuju malam, tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Setelah membersihkan badan dan membereskan urusan perchargeran, kami menunggu waktunya makan malam.

Kami duduk berkeliling memutari ruangan. Malam ini lebih penuh dibandingkan siang hari. Ada tambahan pengunjung yaitu dua perempuan wisatawan asal Jerman, sepasang wisatawan dari Spanyol, beberapa orang LSM serta beberapa orang tour guide lokal.

Dengan makan malam sederhana, kami menghabiskan makanan dengan lahap sambil sesekali berbicara dengan tamu yang lain.

Penyampaian maksud kedatangan
Smiiillllleeeee….
Nyantai sambil mendengar cerita Pak Cornelius
Muka lelah tapi hepi loh
Waktunya ngopi
Dapur
Our delicious lunch
hasil tenunannya bisa dibeli yah
Jendela dunia
Waerebo #1
Waerebo #2
Waerebo #3
Waerebo #4
Waerebo #5
Waerebo #6
Waerebo #7
Waerebo #8
I luuuuuuvvvv their expression!!!!
Bapak … Bapak… Jadi model ajah yuks?!?!?!
Foto bersama sesepuh desa Waerebo #1
Foto bersama sesepuh desa Waerebo #2
Wefieeeee
yeay..
Bersatu kita teguh!
Wefie dari atas bukit
Jump!
Welly bersama anjing penjaga Waerebo
Numpang neduh
Time to spinning around
Bahagia itu sederhana..
Capek, bu…?
Pusing, kakak…
Aku pilih naik turun aja deh, Kakak..
Dinner time

Pagi hari aktivitas sudah mulai diramaikan oleh tim Indonesia.
Anet, Welly, Sura, Fitri, Dhana sudah mulai sibuk mengejar foto dari atas bukit.

Kalau kita bertiga, adem ayem ajah.
Hmmm…
Lebih tepatnya karena males nanjak ke atas bukitnya sih. Hihihi…

Berhubung gw mager, kita hanya sibuk berfoto disekitar lapangan hijau. Tak lama kemudian, para penghuni lain pun mulai keluar dari peraduan.

Matahari mulai bersinar hangat,
Kabut belum bermain-main,
Kokokan ayam jantan yang berlomba-lomba,
serta merdunya kicauan burung.

Surga dunia…
Pengalaman di Waerebo takkan tergantikan dengan apapun.

Tak lama kemudian, kami diinformasikan bahwa sarapan sudah siap. Kami pun langsung masuk ke rumah. Begitu kami melihat berkas cahaya yang masuk menerobos melewati jendela, momen ini tidak boleh dilewatkan. Mulailah kami dengan photo session.

Wisatawan lain sempat memperhatikan kesibukan kami. Tapi toh pada akhirnya beberapa dari mereka ikut bergabung berfoto dengan kami. Memang rumput tetangga selalu lebih hijau. 😛

Setelah selesai sarapan, kami packing barang-barang dan siap-siap untuk turun gunung.

Waerebo in the morning
Pak Cornelius dari kejauhan
Bahkan si bulek ikut sarungan

Suasana pagi hari di Waerebo bisa cek disinih, kakak….

Model ala-ala Dhana
Bias matahari pagi
Sura yang sibuk menjual dagangan kepada Anet sedangkan Dhana sibuk baca peta dunia
Keluarga kecil bahagia sejahtera
Fitri in the house yooooo…
Udah pas kok jadi model iklan kopi hitam, Wel.. 😀
Dua pria ini memang sangat bertalenta menjadi foto model dadakan
Buka buku jampi-jampi ala Waerebo
Foto bersama sebelum pulang

Dengan ritme sedang dan kontur perjalanan pulang lebih di dominasi dengan turunan, perjalanan kembali memakan waktu dua jam. Sesampainya di titik pertemuan dengan Pak Gusti, kami langsung capcus naik mobil menuju Waerebo Lodge.

Begitu tiba di penginapan, kami memanfaatkan waktu untuk mandi, packing ulang, shalat dan makan siang.

It’s time to say goodbye!

Semoga kita bisa berjumpa lagi, Pak Cornelius.

Advertisements

2 thoughts on “[Wonderful Indonesia] Waerebo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s