[Wonderful Indonesia] Pulau Rinca dan Pulau Padar

Percayalah, kapal ini hanya salah satu ilustrasi bentuk kapal live on board *iri tanda tak mampu*
Percayalah, kapal ini hanya salah satu ilustrasi bentuk kapal live on board *iri tanda tak mampu*

Pagi ini kami mulai berangkut dari Labuan Bajo mengikuti rencana perjalanan selanjutnya, live on board alias sailing selama 3 hari 2 malam di Pulau Komodo dan sekitarnya.

Makhluk apa sih live on board itu?

Live on board merupakan perjalanan dengan menggunakan kapal laut dimana selama perjalanan para penumpang akan menginap di dalam kapal.

Kalau ditilik-tilik model live on board hampir sama seperti perjalanan menuju Sumatera dan Kalimantan dengan menggunakan kapal feri. Sedangkan untuk versi mahalnya, kurang lebih sama seperti dengan perjalanan menggunakan kapal wisata pesiar alias cruise rute Singapura menuju Thailand.

Kapal yang kami tumpangi mempunyai tempat leyeh-leyeh (merangkap sebagai tempat makan), dua kamar, satu kamar mandi, dek atas, ruang kemudi dan dapur mini. Kamar pertama berada dibelakang ruang kemudi nahkoda yang mempunyai 3 tempat tidur sedangkan kamar kedua berada di dek bawah dengan kapasitas 4 tempat tidur. Kamar mandinya sendiri terbilang bersih dan mereka mempunyai stok air tawar untuk kami mandi, BAB dan BAK hingga hari terakhir berlayar.

Note :
Untuk yang mempunyai penyakit asma aktif, pertimbangkan baik-baik untuk tidur di kamar yang tidak mempunyai AC. Berhubung pengalaman dua malam kapal merapat di teluk, dimana angin tidak berhembus banyak dan mesin kapal dimatikan pada malam hari (otomatis kipas angin mati), gw sempat kena serangan asma. Penyebabnya karena tidak ada udara yang masuk kedalam kamar serta suhu udara yang sangat lembab. Akhirnya gw berpindah tidur ke bagian depan ruang kemudi yaitu di atas matras tempat kami makan. Tidur dengan angin pantai yang bersemilir membuat gw dapat bernafas lega.

Selama diperjalanan, kami disuguhkan makanan lengkap sebanyak 3 kali sehari dan bonus snack sore. Kebayang kan habis capek-capek berenang, begitu naik kapal langsung disuguhi makanan. Makanan hanya berpindah tempat ke dalam perut kami. Ludes tak bersisa.

Pose sebelum sailing dimulai
Pose sebelum sailing dimulai
Inilah tempat leyeh-leyeh, tempat makan sekaligus TKP tempat gw tidur dimalam hari
Inilah tempat leyeh-leyeh, tempat makan sekaligus TKP tempat gw tidur dimalam hari
Kamar di dek bawah
Kamar di dek bawah
kamar di belakang ruang kemudi
kamar di belakang ruang kemudi
Kamar mandi
Kamar mandi

Dengan menggeret koper dan ransel masing-masing, kami berjalan menuju Pelabuhan Labuan Bajo dan mencari kapal bernama “Dua Putra”. Hanya selang beberapa menit, kami bersama barang-barang bawaan sudah berpindah tempat di dalam kapal Dua Putra. Setelah selesai menyeleksi kaca mata renang dan kaki katak yang akan kami gunakan, kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga.

Hari itu, matahari bersinar sangat cerah. Setelah menyimpan barang-barang di kamar. Kami mengeksplor kapal Dua Putra. Di awal perjalanan, kami menikmati pemandangan laut dari atas dek kapal. Pemandangan laut membiru, awan putih yang bercorak serta angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah kami cukup membuat mata kriyep-kriyep menahan kantuk.

Let's sailing!
Let’s sailing!

Baru saja tertidur, Anet sudah membangunkan kami untuk bergegas segera turun. Pulau Rinca sudah tampak di depan mata.

Dengan semangat ’45 kami segera mendaratkan kaki di daratan Pulau Rinca.

*Melirik jam tangan*
Hmmmm… matahari sedang terik-teriknya membakar kulit kami.

Jam 12 teng, ciiinnn!!!!
Pa kabar sun block???
Bisa bubar jalan SPF-nya.. -_-

Taman Nasional Komodo mempunyai beberapa pulau. Salah dua diantaranya yaitu Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Perbedaan yang cukup mencolok yaitu dari sisi geografis. Pulau Komodo didominasi oleh lebih banyaknya hutan, sedangkan pulau Rinca lebih di dominasi dengan banyaknya padang savana.

Oleh karena kontur inilah konon menjadi penyebab komodo di Pulau Rinca lebih bersifat agresif dibandingkan di pulau Komodo. Luasnya padang savana membuat cuaca di pulau ini terasa lebih panas dan para komodo lebih gahar.

Sesampainya di gerbang, kami disambut oleh beberapa ranger. Berhubung kami terdiri dari 8 orang, kami akan dilindungi di guide oleh 2 orang ranger. Posisi ranger ini akan berjalan di depan dan belakang rombongan.

Welcome to Pulau Rinca!
Welcome to Pulau Rinca!
Tiga kata yang pas : panas, gersang dan padang savana
Tiga kata yang pas : panas, gersang dan padang savana
Pose wajib di gerbang kedatangan
Pose wajib di gerbang kedatangan

Sesampainya di area front office Loh Buaya, kami di briefing oleh Bapak Ranger. Doi memberikan pilihan short, medium atau long trekking.

Kira-kira kami memilih tracking yang mana, gaes …????

Short Trekking, pastinya !!!!

*angkat ransel*
*siap beradu dengan teriknya matahari*

Kami diberikan wejangan-wejangan singkat.
Things to do and things not to do!

Oya, area di Pulau Rinca dan Pulau Komodo merupakan alam yang tidak boleh diganggu ekosistemnya. Jadi pada dasarnya hewan-hewan yang ada disini merupakan hewan liar. Jadi jangan membuang sampah dan ganggu mereka ya!

Perjalanan (short) trekking pun dimulai.

Baru berjalan beberapa menit, kami langsung disuguhkan dengan pemandangan beberapa komodo yang sedang leyeh-leyeh ngadem. Dengan sigap, ranger memberikan instruksi untuk kami segera berkumpul dan doi memberikan arahan layaknya fotografer profesional.

Mulailah kami memaksakan diri berpose tersenyum manis dengan dibawah tekanan lirikan maut sang komodo, berikut gerak-gerik tak terduga hewan melata ini. Keringat mulai membasahi wajah dan badan. Entah karena pengaruh pesona maut komodo atau efek panas gersang. 😀

Selesai berpose dengan sang bintang utama nan tersohor di pulau Rinca, kami memulai perjalanan kembali. Track selanjutnya adalah mendaki. Pfiuuuhh…

Derajat pendakian yang lumayan tinggi serta teriknya matahari membuat gw segera menghabiskan sebotol air mineral.

Sesampainya di atas bukit, terhampar pemandangan padang savana yang kontras dengan birunya laut. Yes, pemandangan cantik ala Indonesia Timur.

Puas berfoto-foto, kami segera berjalan memutar menuruni bukit. Kali ini kami berjalan menyusuri padang savana melewati seekor kerbau yang sedang berendam di lumpur dan rimbunan pepohonan yang dipenuhi dengan kupu-kupu.

Namanya juga short tracking ya, Bu-Ibu. Tanpa kami sadari perjalanan trekking selama satu jam sudah membawa kami kembali ke point front office. Cepet kan?!?!?!

Hasil buruan para komodo
Hasil buruan para komodo
Jalur tracking
Jalur tracking
Briefing with the ranger
Briefing with the power ranger
Hai, guys!
Hai, guys! Pa kabar???
Pose komodo lebih diutamakan daripada pose kami...
Pose komodo lebih diutamakan daripada pose kami…
Ceritanya nanjak..
Ceritanya nanjak..
Ngadem nih yeeee...
Ngadem dengan kesibukan masing-masing…
pose seadanya
pose seadanya
Pemandangan yang mempesona
Pemandangan yang mempesona
Gersang kan ?!?!?!
Gersang kan ?!?!?!
Waktunya kembali..
Waktunya kembali..
Sibuk mengamati kupu-kupu
Sibuk mengamati kupu-kupu

Setelah berpamitan dengan para ranger, kami berjalan (cepat) kembali menuju arah dermaga.

Sesampainya di kapal, kami langsung disambut dengan santapan makan siang. Begitu melihat menu yang disajikan, ingatan langsung berputar kembali ke menu makanan jaman PTT yang selalu tersedia setiap hari. Tak lain dan tak bukan, Indomie goreng. Nomnom…

Tanpa banyak cerita, kami langsung segera menghabiskan jatah makan siang. Lezat tak terkira….

Lunch time
Lunch time
Serbuuuuuuuuuu.......
Serbuuuuuuuuuu…….

Di sore hari, kapal mulai merapat di pinggir pantai Pulau Padar. Dengan mengandalkan perahu ala spongebob, kami bergantian menaiki perahu menuju bibir pantai.

Begitu menatap jalur tracking Pulau Padar (kalau kata Uke namanya Pulau Penderitaan), dalam hati hanya bisa bergumam “ Gimana pulangnya nanti kalau tanjakannya securam inih??? “ 😀

Kami mulai mendaki satu persatu. Anet dengan sigap langsung memimpin pendakian, dilanjutkan dengan Welly, disusul kami para wanita serta rombongan terakhir yaitu dua pria lajang yang masih sibuk selfie.

Dengan moto, “Pelan-pelan aja, Bu!” kami berjalan di kecepatan 0 km/jam. Kikikik…

Kombinasi antara terik matahari sore hari, tandusnya Pulau Padar serta tanah berdebu semakin membuat perjalanan terasa sangat berat. Bagi gw, perjalanan yang membuat berat adalah tanah merah berdebu membuat harus ekstra hati-hati menapak. Salah pijakan, kaki bisa merosot. Alhasil gw lebih memilih jalur yang mempunyai rumput (kering).

Untuk melihat video sekilas perjalanan bisa cek disini ya.

Tarik, maaaanggg...!
Tarik, maaaanggg…!
*Singing Naik-naik ke puncak gunung*
*Singing Naik-naik ke puncak gunung*
Kontras
Kontras
Hmmm... Nanjak kan tuh???
Hmmm… Nanjak kan tuh???
Perlahan-lahan namun pasti
Perlahan-lahan namun pasti
Pose sebelum memulai perjalanan
Pose sebelum memulai perjalanan

Sesampainya di puncak Pulau Padar, kombinasi perpaduan antara tiga teluk dan birunya laut tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata. Keindahan alam Indonesia Timur memang cantik sangat!

Pemandangan dari atas Pulau Padar
Pemandangan dari atas Pulau Padar
Plis, don't jump!
Plis, don’t jump!

Dan kami mulai sibuk berpose ala-ala selebgram!

The Padar Team
The Padar Team, minus Welly!
We did it!
We did it!
Pose kekinian sangat..
Pose kekinian sangat..
Fitri in pose
Fitri in pose
Uke in pose
Uke in pose
Dah tau donk ini sapah :P
Capa ciiihhhh…? 😛
Didit in pose
Didit in pose
Dhana in pose
Dhana in pose
Waktunya pose bertiga!
Waktunya pose bertiga!
Mari pamerkan kamera masing-masing..
Mari pamerkan kamera masing-masing..
Pose gak jelas! Hahahaha...
Pose abstrak! Hahahaha…
Don't try this at home!
Don’t try this at home!
Hi, my name Sura!

Berikut foto-foto kami kembali menuju kapal..

Penampakan merosot sepertinya terlihat enak yah... Tapi percayalah, deg-degan kalau merosotnya kebablasan! :P
Penampakan merosot sepertinya terlihat enak yah… Tapi percayalah, deg-degan kalau merosotnya kebablasan! 😛
Dan akhirnya tetep butuh bantuan seseorang untuk turun
Dan akhirnya tetep butuh bantuan orang lain untuk turun
Advertisements

4 thoughts on “[Wonderful Indonesia] Pulau Rinca dan Pulau Padar

  1. Hai Mba Vika

    Mau Nanya berapaan biaya sewa kapalnya 3 Hari 2 Malam?
    Boleh minta contact person kapal Dua Putra nya?
    Makasih

    Meli

    1. Hai Meli!
      Berhubung kemarin ikut open trip, jd kita gak tau menahu untuk biaya sewa kapalnya.
      Tapi Meli bisa coba kontak ke agennya, Pak Mardiansyah di nomor +62 823-4233-4449

  2. Halo mba Vika,
    berapa lama waktu yg dibutuhkan buat tracking di pulau Padar ya?
    kira2 berapa jarak yg ditempuh sampe ke tujuan?
    Terima kasih

    1. Hai Fannie..
      Kalau untuk tracking di Padar kurang lebih satu jam lamanya. Tapi tergantung kondisi badan masing-masing ya..
      Kalau untuk jaraknya kurang tau.. Gak sempet ngitungin, cukup memandang puncak Padar dari kejauhan ajah 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s