[Wonderful Indonesia] Kelimutu

Di awal tahun 2016, (eeittss…lama bener ^_^ ) salah satu sahabat gw, yang bernama Anet, memposting foto keindahan alam Flores. Sebagai owner dan tour leader dari Smart X-Plore, doi menjual paketan trip Flores untuk 8 hari.

Sempat tergoda untuk menjajal trip ini di bulan April tahun 2016. Namun mengingat perjalanan trip ini cukup memakan waktu, akhirnya niat menuju Flores tertunda. Ketika Anet membuka trip Flores kembali di bulan Juni, lempar wacana ini ke Uke dan Didit, mereka pun tertarik menjelajah Flores.

Seeeeppp…!
Mari kita eksplor Flores, girls!

Anggota trip kali ini awalnya terdiri dari 5 orang, yaitu Anet (as a tour leader), gw, Didit, Uke dan salah satu sahabat eikeh di Pontianak bernama Fitri. Dua belas hari sebelum hari H, anggota trip bertambah 1 orang yaitu sahabat Anet bernama Welly. Selang enam hari kemudian, Anet menginfokan kalau akan bertambah 2 cowok, yaitu temannya Welly bernama Dhana dan saudara Welly bernama Sura. Panjang yeee….

Berhubung ini adalah open trip, semua urusan gw percayakan kepada Anet. Dari tiket, penginapan dan transportasi. Gak ada niat sedikit pun untuk browsing kesana kemari mencari info tempat yang akan kami datangi. Yang gw tahu, kami hanya akan mengunjungi Kelimutu, Waerebo dan Pulau Komodo. Informasi yang gw dapatkan hanyalah arahan dari Anet serta komentar Jeng Uke yang rajin bertanya kepada tour leader.

Untuk contekan rute trip Flores yang diberikan Anet adalah sebagai berikut :

  • Day 1 : Perjalanan menuju Ende, NTT dan lanjut menuju Desa Moni
  • Day 2 : Trekking menuju Kelimutu, kembali ke Ende, mampir ke Desa Bena dan menuju Desa Dintor
  • Day 3 : Trekking menuju Waerebo dan tiba di Waerebo
  • Day 4 : Kembali ke Dintor, perjalanan menuju Labuan Bajo
  • Day 5 : Sailing Komodo, menuju Pulau Rinca, Pulau Kelor dan Pulau Padar
  • Day 6 : Manta Point, Pink Beach dan Gili Lawa
  • Day 7 : Pulau Kanawa dan kembali ke Labuan Bajo
  • Day 8 : Kembali ke Jakarta

Di awal trip, Anet menyodorkan list perlengkapan perang yang harus kami bawa, antara lain :

  1. Pakaian secukupnya
  2. Baju renang
  3. Senter
  4. Sendal/sepatu yang nyaman untuk jalan di bebatuan dan tanah
  5. Perlengkapan mandi
  6. Obat pribadi
  7. Sunblock and after sun

Sudah bisa dipastikan, kalau grup wasap berisi personel dagelan Bankir *colek Uke dan Fitri* , akhirnya isi pembicaraan wasap melenceng jauh dari list di atas.

Dimulai dari pembahasan Uke yang alergi dengan segala yang melata dan menjulurkan lidah ( kecuali komodo katanya; ‘buaya darat gimana, ke?’ ), kengerian para cewek-cewek kalau bertemu Komodo di masa-masa menstruasi, kegalauan antara membawa sandal gunung, sepatu keds dan sepatu trekking, berapa jumlah baju yang harus dibawa, bawa koper atau ransel hingga akhirnya ada pengakuan membeli baju renang (walaupun gak bisa berenang), sandal gunung dan back pack waterproof edisi ba(r)uuuuu demi eksistensi *colek Fitri*.

Kenapa rasanya baru sekali ini ngetrip didalam negeri, tapi rusuhnya ampun-ampunan. Rempongnya ngalahin perjalanan ke negara 4 musim. Pfiuuuhh…

“ Berasa mindahin isi rumah ke Flores ”, Fitri said. -_-

At the end, berhubung trip (edisi gak mau susah) ini mengekor itinerary yang sudah diberikan Anet, jadi harap maklum kalau gw hanya akan memposting beberapa tempat wisata di Flores dan sekitarnya. Itupun hanya tempat wisata yang menjadi highlight Flores yah, sodara-sodara…. 😀

Enjoy the story!

*****

Setelah mengarungi perjalanan udara via Jakarta – Denpasar – Kupang dengan edisi transit yang cukup melelahkan, akhirnya pada pukul 16.00 kami tiba di Ende, Kabupaten Ende, NTT. Disambut dengan cahaya matahari yang masih menunjukan kegarangannya khas ala Indonesia Timur, kami akhirnya bertemu dengan seluruh personil rombongan trip Flores.

Setelah berkenalan dengan seluruh personel, kami memulai perjalanan dengan menggunakan 2 buah mobil rentalan yang dikemudikan oleh Pak Gusti dan Pak Stefanus. Mobil bergerak meninggalkan ibukota Ende pada pukul 17.28 dan tiba di Desa Moni pukul 19.00. Desa Moni merupakan salah satu desa terdekat dengan Kelimutu dan menjadi tempat persinggahan sebelum memulai pendakian ke Kelimutu.

Begitu mobil berhenti di salah satu penampakan home stay sederhana bernama Pondok Hidayah. Tanpa babibu, kami segera turun meluruskan kaki, pinggang dan badan. Angkut koper, penyerahan kunci kamar, beberes sebentar, makan malam dan kembali ke kamar untuk tidur.

Pondok Hidayah
Pondok Hidayah
Istirahat sebentar setelah sarapan...
Istirahat sebentar setelah sarapan…
Our room..
Our room..

Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, demi mengejar sunrise di Kelimutu, kami akan berangkat jam 4 pagi. Ketika kami tiba di depan mobil, tampak seorang cowok bule sedang mengobrol dengan Pak Gusti dan Pak Stefanus. Ternyata doi sedang menunggu ojek motor yang sudah dipesannya semalam, namun hingga melewati jam perjanjian yang sudah disepakati, ojek tersebut belum datang juga. Kami pun menawarkan tumpangan dan doi pun menerima tawaran kami. Oya, cowok bule Perancis ini bernama Vincent dan doi mempunyai aktivitas pengajar bahasa Inggris di salah satu sekolah di Sukabumi.

Dari Desa Moni, perjalanan berlanjut menuju Kelimutu. Perjalanan selama 30 menit sangat tidak terasa karena hawa-hawa semangat cuti hari pertama masih panas membara. 😉

Dari area pelataran parkir, kami berjalan kaki santai selama 30 menit hingga menuju puncak Kelimutu. Jalur pendakiannya terbilang cukup mudah. Di awal pendakian kita akan bertemu tangga, kemudian jalan beraspal dan tanah berkontur padat hingga akhirnya bertemu tangga kembali. Jangan lupa siapkan senter karena tidak ada penerangan lampu jalan, yang ada hanya penerangan alami dari cahaya bulan dan bintang! Itupun kalau langit sedang cerah ya.. 😛

Danau Kelimutu yang dikenal sebagai danau 3 warna berada di ketinggian 1.640 meter di atas permukaan laut. Danau tersebut diberi nama lokal sesuai dengan keyakinan masyarakat tempat. Danau yang paling dalam, sekitar 127 meter, disebut Tiwu Nua Muri Koo Fai (Danau Pemuda dan Gadis). Di bagian tenggara terdapat Tiwu Ata Polo alias Danau yang Mempesona sedalam 64 meter dengan luas 4 hektare. Danau itu diperkirakan menjadi salah satu sumber air bagi Sungai Ria Mbuli yang mengalir di Gunung Kelimutu. Sekitar setengah kilometer dari puncak, terdapat Tiwu Ata Mbupu (Danau Orang Tua) yang berwarna hijau. Luasnya 4,5 hektare dengan kedalaman 67 meter.

Hingga saat ini, ketiga danau selalu mengalami perubahan warna. Ketika gw menunjukan foto Kelimutu kepada orang tua gw yang pernah mengunjungi Kelimutu sekitar 10 tahun yang lalu, warna danau Kelimutu di 10 tahun yang lalu berbeda dengan warna danau di saat gw datangi.

Menurut info yang gw ambil dari Website Tempo, sejumlah ilmuwan menduga perubahan warna itu terjadi karena aktivitas gunung api, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota air, zat kimia terlarut, ganggang, dan pantulan warna dinding dan dasar danau. Namun menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, penelitian yang lebih akurat menyimpulkan bahwa warna danau yang berubah-ubah disebabkan oleh proses geokimia di dasar danau yang menghasilkan kandungan zat kimia tertentu di dalam air.

Sesampainya di puncak Kelimutu, sudah tampak beberapa turis meramaikan detik-detik sunrise. Mereka sudah duduk manis di tugu yang berada di puncak Kelimutu. Sambil berharap langit akan tetap cerah hingga waktu matahari terbit.

Ketika matahari mulai menunjukan keperkasaannya, semburat sinar kemerahan tampak menghias langit. Subhanallah! Keindahan pemandangan sunrise di Kelimutu tidak akan pernah tergantikan.

Perlahan-lahan tampak dua danau Kelimutu yang saling berdempetan. Dua danau ini berwarna biru tosca dan hijau muda. Sedangkan satu danau yang berwarna biru kehitaman, memiliki lokasi yang terpisah dari kedua danau ini.

Matahari mulai beranjak naik, maka terlihat jelas keindahan warna danau Kelimutu.

Cantik.
Kokoh.
Tegas.
Mistis.

Terbayang mengapa gambar Danau Kelimutu harus tercetak di mata uang Rp. 5.000 terdahulu…
Karena keindahan Indonesia Timur harus diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia.

“ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? “

Ticket price
Ticket price
Semburat sinar matahari...
Semburat sinar matahari…
Beautiful Kelimutu..
Beautiful Kelimutu..
Kelimutu
Dua danau
Dan inilah danau yang terpisah..
Dan inilah danau yang terpisah..
First photo...!!!
First photo…!!!
We with Vincent
Flores team with Vincent
We did it!
We did it!
Smileee....
Smileee….
Fitri, Uke, me and Didit...
Fitri, Uke, me and Didit…
we..
Happy face, right…???!!!
We (again)...
We (again)…
The track
The track
Girls..
Girls..
Nice view
Nice view
the last shoot at Kelimutu..
the last shoot at Kelimutu..
So green..
Green..
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s