[Jepang] 2016 – Day 4 : Tateyama Kurobe Alpine Route

Tateyama Kurobe Alpine Route
Tateyama Kurobe Alpine Route

Dihari keempat menjelajah Jepang, gw berencana mengunjungi Alpine Route a.k.a Tateyama Kurobe Alpine Route.

Jika dilihat dari awal muasal sejarahnya, Alpine Route merupakan tujuan utama gw menyambangi Jepang untuk kedua kalinya.

Ambisius plus (sedikit) obsesip, yes?!?!

Maklum deh…
Et causa foto-foto the famous snow corridor Alpine Route berkeliaran di blog para pecinta traveling, membuat napsu minat gw ke tempat ini semakin panas membara.

Setelah tiket pesawat sudah ditangan, otomatis gw memasukan Alpine Route ke dalam itinerary.

Di masa proses pematangan itineray, berbagai macam informasi Alpine Route bertebaran. Jujur saja gw sedikit bingung mengikuti penjelasan mereka. Gw harus berulang-ulang kali membaca dan kemudian mengeceknya satu persatu di website resmi Alpine Route. Namun walaupun bingung, tetap saja gw tulis kedalam itinerary. Zzz…Zzz…Zzz…Zzz…

Ketika gw memasukan Alpine Route kedalam itinerary, gw pun harus rela mempunyai dana extra karena trip ke Alpine Route itu m.a.h.a.l (pake banged), Sodara-sodara!

Baik dari tiket satu rangkaian Alpine Route maupun tiket dari starting point dan kembali dari Alpine Route.

Tambahan lainnya, gw harus extra keras mengatur detik per detik, menit per menit, jam per jam rencana perjalanan mengarungi Alpine Route. Akibat Golden Week, gw mengasumsikan tempat ini akan penuh dengan wisatawan dan mengakibatkan antrian membludak serta perjalanan yang molor. Melenceng sedikit, wassalam rencana kembali ke Tokyo!

Jadi bisa disimpulkan, tujuan wisata inilah yang membuat gw stress berat, baik dilihat dari sisi dana ataupun mengatur itinerary. Huft!
Stress tapi challenging bingid!

Baiklah…

Mari kita pecahkan misteri Alpine Route!

Route
Tateyama Alpine Route

Alpine Route adalah sebuah rute perjalanan yang melintasi pegunungan utara Jepang, terbentang dari Toyama City di Prefektur Toyama hingga Omachi Town di Prefektur Nagano. Dimana terdapat dua buah gunung tinggi yaitu Tateyama (3015 mdpl) dan Akasawadake (2678 mdpl) yang akan di lewati.

Penjelasan simpelnya, gw akan mengarungi satu rute perjalanan panjang dengan menaiki berbagai jenis armada transportasi berbeda.

Rute Alpine Route secara resmi di awali dari :

  1. Tateyama menuju Ogizawa dengan akses terdekat menuju Tateyama adalah kota Toyama
  2. Ogizawa menuju Tateyama dengan akses terdekat menuju Ogizawa adalah Shinano Omachi ataupun Nagano.

Hal yang perlu diperhatikan pertama kali adalah tentukan rute yang akan kalian lewati !!!

Berhubung di hari sebelumnya gw menyambangi Shirakawa-go, kota terdekat menuju Alpine Route adalah kota Toyama sehingga gw akan menggunakan rute perjalanan Toyama-Ogizawa.

Kebingungan selanjutnya yaitu setelah tiba di Ogizawa, bagaimana cara kembali menuju Tokyo…???

Gw mendapatkan beberapa pilihan antara lain :

  1. Kebanyakan orang-orang akan menuju stasiun Shinano Omachi dan menggunakan kereta menuju Tokyo. Sayangnya setelah berguru ke Hyperdia, jadwal kembali ke Tokyo dengan waktu perjalanan terpendek dan jumlah transfer minimalis yaitu dengan menggunakan kereta Ltd EXP Azusa 26, dimana jadwal keberangkatannya hanya tersedia di pukul 15.05.
    Jika telat, konsekuensinya gw harus menggunakan kereta lokal, transit di Nagano atau Matsumoto dengan beberapa kali transfer kereta yang jumlahnya lebih dari dua kali transfer. Gw pun sudah membayangkan keparnoan edisi nyasar mencari platform… 😦
  2. Pilihan selanjutnya Nagano. Dari Ogizawa terdapat express bus menuju Nagano dengan waktu tempuh 1 jam 45 menit. Pilihan jadwal kereta (terutama shinkansen) dari Nagano menuju Tokyo sangatlah banyak, jadi kalian tidak akan khawatir tiba terlalu larut di Tokyo. Cek disini untuk informasi Express Bus.
  3. Pilihan terakhir yang gw baca dari blog adalah menggunakan express bus rute Ogizawa-Tokyo. Awalnya gw tertarik dengan pilihan ini, karena selain lebih murah, aman tidak perlu transfer-transfer dan aman terhindar dari nyasar. But somehow, gw sama sekali tidak bisa menemukan informasi ini lebih detail, terutama untuk time table, berapa lama waktu perjalanan dan tarif sekali jalan. Gw pun mencoret pilihan ini.

Menimbang…
Dengan urutan sebagai berikut :

  • gw menghindari terlalu banyak naik turun stasiun kereta akibat terlalu banyak transfer stasiun,
  • menghemat waktu perjalanan (walaupun akhirnya ditebus dengan biaya perjalanan mahal),
  • menghindari emosi tak jelas akibat nyasar
  • lebih memilih jadwal kereta sudah fix

Mengingat dan memutuskan…
→ Gw memilih menggunakan pilihan kedua yaitu kembali dari Nagano.

Mendekati hari H, pucuk dicinta ulam pun tiba!

Website Alpine Route menginformasikan penjualan paket hemat bernama The Tateyama Kurobe Option Ticket yang dijual khusus hanya untuk para wisatawan!

Tiket ini menggunakan rute satu jalur dari stasiun Dentetsu Toyama hingga titik akhir perjalanan di stasiun Shinano Omachi/stasiun Nagano ataupun menggunakan rute sebaliknya.

Oya, rute ini hanya berlaku untuk satu rute perjalanan berangkat ya!
Tidak berlaku untuk rute PP!

Harga seharusnya dengan rute ini adalah 12.090 Yen, namun dijual seharga 9.000 Yen untuk tiket dewasa dan 4.500 untuk tiket anak-anak. Tiket ini berlaku dengan masa perjalanan dari 16 April – 13 November 2016. Info selanjutnya cek disini.

Dimanakah gw membeli The Tateyama Kurobe Option Ticket?
Tiket dibeli di hari pertama kami tiba di Jepang yaitu di JR East Service Center yang berada di Narita International Airport.

*****

Tuesday, May 3rd 2016

Berhubung gw masih punya pe-er menukarkan melapor tiket The Tateyama Kurobe Option Ticket di stasiun Dentetsu Toyama serta mendrop tas jinjing, pukul 05.25 gw sudah check out dan berjalan meninggalkan hotel.

Pagi ini suhu udara di Toyama tidak terlalu dingin. Matahari sudah menampakan diri secara sembunyi-sembunyi. Menurut ramalan cuaca, hari ini cuaca bernuansa cerah (ceria).

Bekal onigiri serta peralatan perang hari ini sudah siap di tas.
Gw siap mengarungi Alpine Route!

Bismillah…

Berhubung kemarin sore gw sudah mengecek lokasi stasiun Dentetsu Toyama, jadi pagi-pagi buta seperti ini gw tidak perlu planga-plongo mencari lokasi stasiun Dentetsu Toyama.

Sesampainya di depan loket stasiun Dentetsu Toyama, gw menunjukan The Tateyama Kurobe Option Ticket kepada petugas. Beliau kemudian menunjukan sebuah kertas berisi time table perjalanan dari Tateyama menuju Bijodaira dan menanyakan jadwal keberangkatan yang gw pilih yaitu pukul 07.40 atau 08.00.

Gw memberikan jawaban dengan menunjukan jadwal keberangkatan pukul 07.40 sesuai dengan itinerary yang telah gw susun. Sebuah tiket di print out dan beliau mencap basah The Tateyama Kurobe Option Ticket.

Selesai beres dengan tiket, gw mulai kebingungan mencari tempat men-drop off baggage. Sebenarnya tas jinjing (yang berisi beberapa lembar pakaian) gw juga tidak terlalu besar, namun daripada gw tidak bisa menikmati pemandangan dan lebih sibuk mengurus tas jinjing daripada menikmati perjalanan, gw merelakan 2.200 Yen melayang.

Tempat drop off baggage berada sejajar dengan gate tapping tiket. Gw menginformasikan kepada petugas bahwa lokasi akhir pengambilan tas yaitu Nagano dan petugas tersebut memberikan selembar kertas untuk kita isi. Bayar 2.200 Yen dan tas siap diangkut.

Informasi detail tentang baggage delivery service dapat cek di website berikut.

Baiklah mari kita mengarungi Alpine Route…!

Tateyama Option Ticket
The Tateyama Kurobe Option Ticket
Ticket reservation from Tateyama Ekimae
Ticket reservation from Tateyama Station
The schedule
The schedule

Toyama Chiho Railroad

Inilah transportasi pertama yaitu sebuah kereta antar kota yang menghubungkan Stasiun Dentetsu Toyama dengan Stasiun Tateyama di ketinggian 475 mdpl. Waktu tempuh kereta berkisar 60 hingga 75 menit dengan tarif sekali jalan adalah 1.200 Yen.

Selesai dengan urusan tas, gw mulai berdiri mengantri mengikuti petunjuk petugas. Pada pukul 6, petugas mempersilahkan kami memasuki kereta dan tepat sepuluh menit kemudian kereta bergerak meninggalkan stasiun Dentetsu Toyama.

Keretanya memang tampak seperti kereta lama, namun kondisinya sangat terawat. Gw yang duduk di gerbong dan bangku paling depan amat senang mengamati bagaimana Bapak masinis berkerja.

Kereta akan berhenti beberapa kali di stasiun kecil bahkan kalian akan melihat stasiun yang tampak seperti stasiun tak berpenghuni, hanya tampak kayu-kayu tua kusam yang menghiasi stasiun. Spooky!

Pemandangan yang bisa dinikmati antara lain pemandangan sawah dan pedesaan berlatar Gunung Tateyama. Sambil mencoba menahan kantuk, gw mulai membuka Wasap, menanyakan rencana perjalanan Uke hari itu.

Ticket Counter - Lokasi penukaran tiket berada di sebelah kiri (diberi panah hitam)
Ticket Counter – Lokasi penukaran tiket berada di sebelah kiri (diberi panah hitam)
Gate in - Lokasi mendrop tas berada di tempat berdiri para petugas
Gate in Dentetsu Toyama Station – Lokasi mendrop tas berada di tempat berdirinya petugas kereta
Drop off baggage
Drop off baggage
receipt
receipt
The train..
Tampak seperti warna permen..nyam nyam..
Ada 3 petugas yang berada di ruang masinis, salah satunya cewek loh...
Ada 3 petugas yang berada di ruang masinis, yang berdiri di tengah itu cewek loh…
Berasa naik kereta ekonomi ke Jawa yes?
Berasa naik kereta ekonomi ke Jawa yes?
minimalis station
minimalis station
Pematang sawah ala Jepang
Pematang sawah ala Jepang
Sungai..
Sungai..

Tateyama Cable Car

Dari Stasiun Tateyama, kami berpindah menggunakan cable car untuk menuju perhentian berikutnya yaitu Bijodaira. Cable car ini akan menempuh jarak 1,3 Km dengan kemiringan 502 meter dalam waktu tempuh 7 menit. Jika kita berpindah dari Tateyama dengan ketinggian 475 mdpl menuju Bijodaira di ketinggian 977 mdpl maka didapatkan hasil rata-rata kemiringan 24 derajat. Tarif sekali jalan menggunakan Tateyama Cable Car adalah 720 Yen.

Tepat pukul 07.22 kereta tiba di stasiun Tateyama. Gw berjalan mengikuti arus keramaian orang. Sambil memperhatikan area didalam stasiun Tateyama, gw memutuskan mampir ke sebuah minimarket membeli minuman hangat. Ketika gw membuka salah satu kulkas berukuran mini, ternyata didalam kulkas berisi minuman botol bertemperatur hangat.

Keceh ya…???
Mereka punya kulkas bersuhu hangat…
#ehhh

Setelah membayar 140 Yen untuk sebotol green tea, gw melihat antrian masuk menuju Tateyama cable car mulai mengular. Baru saja gw mengantri, mendadak pandangan mata mulai terasa kabur.

Ada apa ini dengan mata gw???

Ternyata soft lens di mata eikeh copot!
Akhirnya gw bergegas menuju toilet dan terjadilah drama pasang-memasang soft lens ditengah sempitnya waktu dan tidak sterilnya tangan gw. Rasanya seperti amaizing race!

Setelah soft lens sudah berada di posisi seharusnya, gw kembali menuju gate in Tateyama Cable Car. Ternyata antrian sudah sangat sedikit. Gw memperhatikan papan informasi tertulis angka 07.40. Gw mengecek kembali jadwal tiket yang tercantum sudah sesuai sekaligus memperhatikan sekeliling stasiun yang tampak ramai.

Jadi inilah fungsi reservasi di stasiun Dentetsu Toyama sebelumnya.
Jika kalian sudah pasti dengan jadwal yang dibuat, buatlah reservasi keberangkatan Tateyama Cable Car di stasiun Dentetsu Toyama untuk menghindari antrian panjang serta mendapatkan (kepastian) jadwal keberangkatan yang kita inginkan.

Berhubung gw masuk di detik-detik terakhir, gw mendapatkan posisi tidak strategis di Tateyama Cable Car. Perjalanan selama 7 menit gw habiskan dengan memandangan bahu dan punggung orang. *sigh*

Tateyama Cable Car #1
Tateyama Cable Car #1
Tateyama Cable Car #2
Tateyama Cable Car #2
Inside of Tateyama Cable Car ; Ramai yah...?
Inside of Tateyama Cable Car ; Ramai yah…?

Tateyama Highland Bus

Dari Bijodaira, perjalanan selanjutnya menggunakan bus menuju Murodo. Perjalanan sejauh 23 km akan ditempuh selama 50 menit dengan perbedaan ketinggian 1.473 meter. Tarif sekali jalan sebesar 1.710 Yen.

Fyi, di antara Bijodaira dan Murodo, kalian bisa berhenti di Midagahara untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan sekitar ataupun hiking. Namun rasanya saat itu bus tidak berhenti di Midagahara. Mungkin karena jalananan masih tertutup salju kali ya…

Sesampainya di Bijodaira, gw berjalan mengikuti petunjuk. Sudah tampak antrian di depan gate. Jam masih menunjukan pukul 07.47, sedangkan jadwal keberangkatan terdekat di pukul 08.20. Gw pun memilih mengikuti jalur antrian.

Hanya selang beberapa menit, kami dipersilahkan menaiki bis.

Woooowww…

Mungkin mengantisipasi membludaknya antrian wisatawan, sehingga petugas mempersilahkan kami memasuki bus dengan mengacuhkan time table.

Memang rejeki anak shalehah! 😀

Bis mulai berjalan pukul 07.53 mengikuti tanjakan yang meliuk-liuk. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah pepohonan yang mengering serta timbunan salju.

Semakin mendekati Murodo, yang tersisa adalah hamparan salju…
Salju…
Salju…
dan salju…

Mari mengantri.......
Mari mengantri…….
Bus to Toyama
Bus to Toyama
Pemandangan awal... Masih tampak puhun-puhun kering
Pemandangan awal… Masih tampak puhun-puhun kering
Cuaca cerah
Cuaca cerah
Salju...Salju... dan Salju...
Es serut… Es serut… dan Es serut…
Penampakan snow wall koridor sebelum dibuka
Penampakan snow wall koridor sebelum dibuka

Tepat setelah lima puluh menit perjalanan, kami tiba di Murodo pukul 08.43. Gw bergegas memasuki ruangan melindungi badan yang mulai terpapar dengan angin kencang nan dingin!

Murodo merupakan stasiun tertinggi di Jepang yaitu 2.450 meter. Sebagai jalur masuk para pendaki gunung (salju), di Murodo banyak sekali para pendaki gunung dengan peralatan lengkap untuk hiking.

Gw berjalan menaiki tangga menuju rooftop observation deck mengikuti para pendaki gunung. Sesampainya di tangga teratas, langsung disungguhkan pemandangan salju (atau es serut?) dengan orang-orang yang akan memulai hiking.

Melirik ke pakaian dan sepatu yang gw pakai.

Sepatu keds, kaca mata hitam, celana kain dan kaos dibalut jaket parka.
Rasanya jomplang sekali dengan pakaian mereka.
Kali ini gw berasa turis banget! 😀
Hahaha…

Pada awalnya gw sempat berpikir ulang untuk berjalan menuju hamparan salju, mengingat ada kemungkinan rembesan air salju masuk menembus ke dalam sepatu.

Tapi ya sebodolah…
Kesempatan tidak datang dua kali!
Kapan lagi gw bisa mendatangi Murodo.

Gw pun mulai sibuk menjejakan sepatu di atas hamparan es serut. 😛

Ketika orang-orang mulai sibuk mengikuti jalur hiking.
Gw sibuk mengokohkan diri dari hembusan angin yang kencang.
Maklum badan tipis begini. Bisa-bisa terbang tertiup angin badai kencang!

yuk, ngesalju..
yuk, ngesalju..
Panoramic view
Panoramic view
which way...?
which way…?
Mari bertempur dengan sakju
Mari bertempur dengan sakju
Naik-naik ke puncak gunung (es), tinggi-tinggi sekali..
Naik-naik ke puncak gunung (es), tinggi-tinggi sekali..
salju
Anggap saja ini Gunung Himalaya 😉

Daripada gw nelangsa menatap penuh iri dan dengki kepada orang-orang yang hiking, gw memutuskan berbalik arah meninggalkan jalur hiking menuju Murodo station.

Fokus selanjutnya adalah koridor salju Tateyama alias Yuki-no-otani snow wall yang letaknya berada disisi lain dari jalur hiking Murodo.

Tampak koridor salju sudah mulai ramai dengan para pengunjung. Koridor salju ini sebenarnya adalah ujung jalan dari jalur perlintasan bus dari arah Bijodaira menuju Murodo. Jalur perlintasan bus yang semula ada dua jalur, hanya digunakan satu jalur untuk bus dan satu jalur lainnya digunakan untuk para pejalan kaki.

Waktu terbaik mengunjungi Snow Wall Tatetayama adalah di pertengahan hingga akhir bulan April dimana ketinggian salju mencapai 20 meter. Namun koridor salju masih dapat dinikmati dari pertengahan April hingga bulan Juni dengan ketinggian koridor salju yang semakin berkurang. Di hari kedatangan gw, ketinggian koridor salju berada di titik 12 meter. Jam operasional snow wall adalah 10.00 – 15.00 (weekdays) dan 09.30-15.00 (weekend).

Aktivitas yang bisa dilakukan selain menyusuri koridor salju, kita bisa menulis di dinding salju sepanjang message area dan terdapat arena bermain seluncur untuk anak-anak.

Walaupun pengunjung tampak semakin bertambah, mungkin karena hari masih pagi (gw mulai menyusuri snow corridor Tateyama pukul 09.37) pengunjung di koridor salju tidaklah membludak seperti yang gw takutkan. Masih banyak spot kosong untuk berfoto.

Lima belas menit telat dari jadwal itinerary yang telah gw buat, gw berjalan kembali ke arah Murodo Station.

Sedikit tips, jika kalian adalah pecinta salju maka alokasikan waktu di Murodo minimal satu jam. Jika mengikuti gaya perjalanan gw yang santai mengeksplor Murodo maka dibutuhkan waktu 90 menit.

Bagaimana rasanya menikmati hamparan salju dan snow wall Tateyama?
Puas!!
Sangat!!

*sumringah*

Murodo station
Murodo station
Roof observatory from Murodo station
View from roof observatory Murodo station – Tampak arena bermain seluncur untuk anak-anak
Let's walking!
Let’s walking!
Snow wall Tateyama Alpine Route #1
Snow wall Tateyama Alpine Route #1
Snow wall Tateyama Alpine Route #2
Snow wall Tateyama Alpine Route #2
Snow wall Tateyama Alpine Route #3
Snow wall Tateyama Alpine Route #3
Snow wall Tateyama Alpine Route #4
Starting point of Snow wall Tateyama Alpine Route
Snow wall Tateyama Alpine Route #5
Snow wall Tateyama Alpine Route #4
Snow wall Tateyama Alpine Route #6
Snow wall Tateyama Alpine Route #5
Snow wall Tateyama Alpine Route #7
Snow wall Tateyama Alpine Route #6
Snow wall Tateyama Alpine Route #8
Snow wall Tateyama Alpine Route #7
Snow wall Tateyama Alpine Route #9
Snow wall Tateyama Alpine Route #8
Kira-kira mau gambar apa ya?
Kira-kira mau gambar apa ya?
Tenang, De! Saljunya gak kakak ambil kok.. :P
Tenang, De! Saljunya gak Kakak ambil kok.. 😛
Yup, 12 m !
Hooh, ini tingginya 12 meter loh, Mbak !

Tateyama Tunnel Trolley Bus

Bus Tateyama Tunnel Trolley berjalan di dalam terowongan yang menembus Gunung Tateyama. Perjalanan dari Murodo menuju Daikanbo sejauh 3,7 km memakan waktu 10 menit dengan perbedaan ketinggian yang mulai menurun sebesar 134 meter.

Bus ini digerakan menggunakan electric jadi bisa dipastikan bus ini adalah bus yang ramah lingkungan.

Gw mulai mengikuti antrian jadwal keberangkatan bus pukul 10.30. Setelah gw cek time table ternyata jadwal ini tidak tercantum. Sepertinya keberangkatan pukul 10.30 adalah jadwal bus tambahan.

Pemandangan yang bisa dilihat sepanjang perjalanan adalah terowongan panjang. Di ujung perjalanan, kita akan berselisih jalan dengan Tunnel Trolley Bus. Ternyata perjalanan di dalam lorong ini saling bergantian, mengingat hanya tersedia satu jalur.

Tateyama Tunnel Trolley Bus
Tateyama Tunnel Trolley Bus
Inside Tateyama Tunnel Trolley bus
Inside of Tateyama Tunnel Trolley bus

Tateyama Ropeway

Perjalanan selanjutnya dari Daikanbo menuju Kurobedaira dengan menggunakan Tateyama ropeway. Perjalanan sejauh 1,7 Km menuruni Daikanbo di ketinggian 2.316 meter menuju Kurobedaira di ketinggian 1.828 meter dengan waktu tempuh 7 menit.

Yang harus kalian perhatikan ternyata Tateyama Ropeway tidak mempunyai tiang penyangga. Perjalanan menuju Kurobedaira hanya mengandalkan kekuatan kabel sepanjang 1,7 km. Maknyus kan deg-degannya.. :mrgreen:

Sebelum gw menaiki Tateyama Ropeway gw berusaha mencari letak roof observatory. Yes, tampak tangga menuju ke area paling atas. Susuri perlahan-lahan anak tangga hingga tampaklah pemandangan jejeran pegunungan salju yang membuat nafas tertahan.

Gw tidak berlama-lama disini. Gw kembali menyusuri anak tangga menuju antrian Tateyama Ropeway.

Sayangnya selama di perjalanan Tateyama Ropeway, gw berada di tengah-tengah antara badan orang-orang yang besar. Alhasil gw tidak bisa melihat (dan mendapatkan foto) pemandangan ketika cable car berjalan menurun.

Sedih!
Huhuhu… 😦

Roof observatory
Roof observatory
Panoramic view
Panoramic view
Ngeker...
Ngeker…
Danau apa ya?
Danau sumbing? 😛
Tinggal pilih mau kemana
Tinggal pilih mau kemana
Tateyama Ropeway
Tateyama Ropeway

Kurobe Cable Car

Perjalanan dari Kurobedaira menuju Kurobeko sejauh 0,8 km dengan menggunakan underground cable car. Waktu yang ditempuh adalah 5 menit dengan perbedaan ketinggian sebesar 373 meter. Tarif sekali jalan dari Murodo hingga Kurobeko sebesar 4.320 Yen.

Begitu sampai di Kurobeko, gw langsung mengantri Kurobe Cable Car. Tanpa mengikuti time table yang tercantum di 2016 Tateyama Kurobe Alpine Route Time Table, armada ini bergerak berjalan menurun pada pukul 11.05.

Layaknya menyusuri terowongan, pemandangan yang didapatkan adalah lorong panjang di sepanjang perjalanan.

Menunggu Kurobe Cable Car
Menunggu Kurobe Cable Car
Kurobe Cable Car
Kurobe Cable Car
the track
the track

Sesampainya di Kurobeko, gw berjalan menyusuri lorong hingga bertemu dengan pemandangan Kurobe Dam disisi kanan jalan. Dari ujung terowongan Kurobeko, perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki selama 15 menit hingga tiba di Kurobe Dam station.

Di ketinggian 1.500 m, Kurobe Dam merupakan bendungan tertinggi di Jepang. Danau yang berada di belakang bendungan menampung air sebanyak 200 juta meter kubik. Dengan ketinggian bendungan sejauh 186 meter dan 10 meter kubik air melewati bendungan per detiknya maka akan menghasilkan daya satu miliar kWh per tahun.

Setibanya di ujung jalan, gw memasuki lorong kembali hingga bertemu dengan gate in Kurobe Dam station. Melirik informasi petunjuk Dam Observatory yang tergantung sebelum di gate in Kurobe Dam station, gw berbelok ke arah kiri mengikuti petunjuk yang ada.

Fyi, anak tangga menuju Dam Observatory sangat banyak!
Jadi pertimbangkan baik-baik jika ingin menuju Dam Observatory. 😛

Terowongan setelah turun dari Kurobe Cable Car
Terowongan setelah turun dari Kurobe Cable Car
Kurobe Dam #1
Kurobe Dam #1
Kurobe Dam #2
Kurobe Dam #2
Kurobe Dam #3
Kurobe Dam #3
Bendungan Jatiluhur...?
Bendungan Jatiluhur…?
Kering
Kering
Terowongan menuju Kurobe Dam Station
Terowongan menuju Kurobe Dam Station
belok kiri untuk menuju Dam Observatory, lurus untuk naik Kanden Tunnel Trolley Bus
belok kiri untuk menuju Dam Observatory, lurus untuk menaiki Kanden Tunnel Trolley Bus
The stairs to Dam observatory
The stairs to Dam observatory
Dam Observatory
Dam Observatory
Kurobe Dam #1
Kurobe Dam #4
Kurobe Dam #2
Kurobe Dam #5

Kanden Tunnel Trolley Bus

Sama seperti Tateyama Tunnel Trolley Bus, bus ini berjalan di dalam terowongan yang menembus Gunung Akazawadake. Perjalanan dari Kurobe Dam menuju Ogizawa sejauh 6,1 km memakan waktu 16 menit dengan perbedaan ketinggian yang mulai menurun sebesar 37 meter. Tarif sekali jalan sebesar 1.540 Yen.

Pukul 12.10 gw mulai mengantri di depan gate in. Bus mulai berjalan pada pukul 12.35 dengan jadwal keberangkatan yang tidak tercantum di 2016 Tateyama Kurobe Alpine Route Time Table.

Kanden Tunnel Trolley Bus
Kanden Tunnel Trolley Bus
Busnya papasan...
Busnya papasan…
coraknya bunga-bunga :P
coraknya bunga-bunga 😛

Express Bus

Setibanya di Ogizawa pukul 12.52, gw berjalan menuju loket tiket. Jika kalian sudah selesai menuruni anak tangga, tetaplah berjalan lurus hingga bertemu loket tiket yang berada disisi kiri dan tidak jauh dari tempat pemberhentian bus.

Hanya tinggal menunjukan The Tateyama Kurobe Option Ticket, petugas langsung menunjukan tempat parkir express bus menuju Nagano.

Pastikan baik-baik ya!
Ada dua bus yang mempunyai jalur dan tujuan yang berbeda yaitu local bus menuju Shinano Omachi dan express bus menuju Nagano.

Tarif sekali jalan express bus dari Ogizawa menuju stasiun Nagano sebesar 2.600 Yen. Jadwal keberangkatan express bus hanya tersedia 5 kali yaitu pukul 11.05, 13.00, 14.10, 15.10 dan 16.30 dengan waktu tempuh 1 jam 45 menit. Untuk informasi selanjutnya cek di sini.

Express bus
Express bus
Bus stop at Nagano station
Bus stop at Nagano station

Molor delapan menit dari jadwal seharusnya, bus tiba di east gate stasiun Nagano pukul 14.58. Gw berjalan memasuki stasiun Nagano.

Hal yang pertama kali harus gw lakukan setibanya di stasiun Nagano adalah mencari lokasi pengambilan tas.

Sesuai dengan denah yang tercantum di website, gw berjalan menuju lantai 2, memasuki pusat perbelanjaan Midori melalui pintu bertuliskan Oraho. Posisi pengambilan tas berada di pojok kiri pusat perbelanjaan Midori, berdekatan dengan pintu masuk Hotel Metropolitan Nagano.

Selesai mengambil barang, gw berencana mengganti jadwal keberangkatan shinkansen yang telah gw pesan di Narita Aiport. Tiket yang gw beli adalah Shinkansen Kagayaki 510 dengan keberangkatan pukul 17.55. Menurut informasi dari petugas di JR East Service Center Narita Airport, tiket tersebut diperbolehkan untuk di reschedule maksimal sebanyak satu kali.

Pukul 15.29 gw sudah memasuki JR Ticket Office. Petugas JR menginformasikan kursi yang tersedia hanya ada di jadwal keberangkatan pukul 15.39 dan pukul 17.00.

Toh gw hanya ingin segera sampai di Tokyo, gw mengambil tiket Shinkansen Asama 652 dengan keberangkatan pukul 15.39 dan tiba di Ueno pukul 17.14.

Gw segera bergegas memasuki stasiun dan menunggu kereta di peron 11.
Begitu kereta datang, gw mencari gerbong 8, kursi nomor 9A dan kali ini eikeh sudah dapat beristirahat dengan hati tenang.

Alhamdulillah perjalanan mengarungi Alpine Route terlaksana tanpa kurang satu apapun. Bahkan perjalanan berjalan 45 menit lebih cepat dari itinerary yang telah dibuat.

Perjalanan selama satu setengah jam gw lalui dengan berwasapan ke Uke dan Ratri menanyakan kabar diluar sana.

Mauklah
Masuki pusat perbelanjaan Midori, melewati pintu dibawah tulisan Oraho
Tempat pengambilan tas
Tempat pengambilan tas
Lokasinya bersebelahan dengan pintu Hotel Metropolitan Nagano
Lokasinya bersebelahan dengan pintu Hotel Metropolitan Nagano
The ticket
The ticket
Inside of Shinkansen
Inside of Shinkansen Asama 652

Sesampainya di stasiun Ueno, gw berjalan ke luar stasiun dan berganti kereta yaitu subway menuju Asakusa. Yup, gw kembali menginap di Khaosan Tokyo Original. Proses check in berjalan sangat cepat karena sebelumnya gw sudah membereskan pembayaran kamar.

Setiba di kamar, gw segera beberes dan melaksanakan shalat jamak Zuhur dan Ashar. Inilah alasan gw terburu-buru tiba di Tokyo secepat mungkin supaya masih mendapatkan waktu shalat.

Yup, ketika membuat itinerary Alpine Route gw sempat kebingungan mencari tempat untuk shalat. Tidak adanya nursery room dan gw solo traveler membuat memilih shalat di tempat yang lebih tenang yaitu di penginapan. 🙂

Setelah keseruan menjelajah Alpine Route, di penghujung hari akan gw habiskan dengan santai. Gw hanya sibuk wasapan, menyuci baju bahkan sempat planga-plongo di balkon atas menikmati gemerlap lampu disekitar Sumida River.

*menatap nanar hape*
*menatap nanar hape*
cozy place for leyeh-leyeh
cozy place for leyeh-leyeh
River
Sumida River
The famous icon
The famous icon – Asahi Beer

Pada malam harinya gw berencana makan malam di Ippin Asakusa. Berhubung lokasi Ippin tidak jauh dari hostel, gw (baru) berjalan meninggalkan hotel pukul 19.35.

Dari hotel hingga tiba di Ippin Asakusa memakan waktu dua puluh menit. Agak lambat yes, maklum saja gw hanya berjalan mengandalkan gugel map dan lebih banyak berhentinya melihat spot yang keceh untuk obyek foto. 😀

Beralamat 3-16-11, Nishiasakusa, Taito-ku, Tokyo, jadwal buka restoran Ippin Asakusa adalah pukul jam 11.30 – 22.00, dengan last order pukul 21.00.

Malam itu restoran tampak sepi dari pengunjung. Gw yang sudah tidak sabar untuk makan dengan baik dan benar, segera memesan Hot and Spicy Ramen with Milky White Soup seharga 850 Yen.

Bagaimana rasanya?
Bumbu kaldunya sangat kental!
Cita rasa ayamnya juga sangat terasa.

Jika ingin mendapatkan citarasa ramen berkaldu ayam, gw merekomendasikan tempat ini.

Setelah kenyang, gw menyempatkan diri mengunjungi Asakusa Don Quijote. Niat awalnya ingin mencari makanan halal untuk oleh-oleh. Sayangnya stok makanan halal sedang habis. Gak rejeki deh ya… Huhuhuhu…

Gw memilih kembali menyusuri jalan menuju hostel melewati Sensoji Temple dan Nakamise Street.

Direction to Ippin Asakusa Restaurant *courtesy of Google Map
Direction to Ippin Asakusa Restaurant *courtesy of Google Map
Ippin Asakusa
Ippin Asakusa
Inside of Ippin Asakusa
Inside of Ippin Asakusa
The menu
The menu
Hot and Spicy Ramen with Milky White Soup
Hot and Spicy Ramen with Milky White Soup
Window shiopping yuk?
Window shiopping yuk?
Asakusa Don Quijote
Asakusa Don Quijote

Berikut ini adalah beberapa tips untuk menjelajah Tateyama Alpine Route :

  1. Hal yang paling pertama dilakukan adalah tentukan rute yang ingin dilewati. Setelah itu buat garis besar perjalanan seperti alokasi waktu di masing-masing tempat serta tentukan fokus tempat yang akan di eksplor. Contohnya selama menjelajah Alpine Route, tempat perjalanan lebih gw prioritaskan adalah Murodo.
  2. Normalnya perjalanan di Alpine route membutuhkan waktu 7-8 jam. Perjalanan dari Stasiun Dentetsu Toyama hingga tiba di Ogizawa membutuhkan waktu 7 jam, sedangkan rute Stasiun Dentetsu Toyama hingga stasiun Nagano membutuhkan waktu 9 jam. Atur rencana perjalanan dengan baik sehingga kalian tidak tertinggal bis atau kereta keberangkatan terkahir.
  3. Jika kalian ragu ataupun kebingungan mengatur itinerary, cobalah menggunakan jadwal yang tersedia di link ini. Link akan mengatur jadwal keberangkatan yang memungkinkan selama di Alpine Route. Keceh banget deh!
  4. Jika kalian ingin berlama-lama bermain salju di Murodo, lindungilah mata dengan menggunakan kaca mata hitam. Pantulan cahaya matahari di atas hamparan salju ternyata membuat gw tidak bisa membuka mata secara sempurna. Gw harus memicingkan mata dan itu tidak baik untuk sudut mata. Kerutan mata bisa bertambah! 😛
  5. Jangan lupa dempulan sun block 7 lapis yes?!?!?!?! Terutama untuk menghindari wajah semakin menggelap…
  6. Persiapkan makanan berat ataupun makanan ringan sebelum memulai perjalanan! Karena selain harga makanannya relatif mahal, gw jarang sekali menemukan makanan pengganjal (seperti onigiri) di sepanjang jalur Alpin Route.

Akhir kata, selamat menjelajah Tateyama Alpine Route!

 

Advertisements

24 thoughts on “[Jepang] 2016 – Day 4 : Tateyama Kurobe Alpine Route

    1. Hi, Amelia!

      Iya, startingnya dimulai pertengahan April karena mereka baru mulai mengeruk saljunya di awal April… 😁
      Kalau di februari masih musim dingin, jd kmungkinan salju masih turun di daerah ini. Bisa-bisa jalannya ketimbun salju lagi. Hehehe…

  1. Seneng bangett akhirnya nemu tulisan iniiii….thanks banget kak…detail dan jelas bangett infonyaa…semoga bisa kesampaian kesini jugaaa 😊😊😊

  2. Kak Vika, makasih ceritanya. Lengkap banget. Senang banget pasti ya bisa ke Jepang 2 kali hehehe… Kebetulan saya dan teman 22-30 April besok mau ke Jepang utk pertama kalinya (tiba di Tokyo, lalu mau ke Kyoto dan terakhir ke USJ-Osaka sekalian pulang). Pas lg gugling2 utk riset itinerary, eh nemu info soal Alpine route dan dinding salju ini dan tergoda sungguh. Apalagi pas baca info bhw April termasuk best time ke sini. *makin ngiler pengen mampir* hahaha

    Kak, saya mau tanya dong.

    1. Di sini kan kak Vika berangkat ke Tateyama dari Toyama ya. Kalau saya berangkatnya dari Tokyo, kira2 keburu nggak yah utk satu hari tur di sini dengan itinerary spt di posting kakak ini? Apa maksa dan mepet dan impossible?
    2. Kalau ke alpine route ini kayaknya harus bekal baju tebal ya. Tapi kalau di Jepang bagian lainnya (khususnya yg bakal sy kunjungi: Tokyo Kyoto Osaka), apa ada saran baiknya busana spt apa yg dibawa?

    Hehehe terima kasih sebelumnya Kak.

    1. Hai M!!!
      *berasa di James Bond yah* 😀

      Sepertinya itinerary perjalanan ke Jepang akan padat yah. Jadi, mari kita coba uraikan pertanyaan M…
      1. Kalau M mau berangkat dari Tokyo menuju Toyama dan perjalanan dilaksanakan dalam satu hari, rasanya kamu harus naik shinkansen paling pagi dengan keberangkatan dari Ueno yaitu pukul 06.34 dan tiba di Toyama pukul 09.11 (note : jadwal bisa berubah ya, info lengkapnya bisa cek di Hyperdia). Setelah itu coba buat perhitungan waktu di masing-masing tempat persinggahan selama di Alpine route hingga tiba di tempat terakhir perjalanan. Jangan lupa perhatikan tingkat keramaian ya, mengingat Alpine Route baru buka di tanggal 15 April 2017 jadi rasanya tempat ini masih dipenuhi wisatawan domestik dan mancanegara di tanggal kamu jalan. Kamu juga bisa ngecek perkiraan itinerary di link yang sudah mereka sediakan.
      Kalau sudah buat itinerary, pastikan jangan molor atau keasyikan menikmati Alpine route hingga lupa waktu. Salah satu teman ada yang jalan seharian di Alpine route, sempat ketinggalan jadwal kereta terakhir dan akhirnya tiba di penginapan sekitar jam 11 malam.
      2. Yup, ke alpine route harus pakai coat mengingat kita akan bertemu salju. Untuk Tokyo dan sekitarnya bisa pakai coat ataupun sweater, karena suhunya masih belasan derajat. Tapi tergantung adaptasi tubuh masing-masing ya, apakah kamu bisa berhadapan dengan suhu dingin atau tidak.

      Sekian informasinya.
      Semoga membantu perjalanan ke Alpine route, M!
      Gud lak!

      1. Kak Vika, makasih banget penjelasannya… Saya udah cari airbnb deket Ueno nih hahaha. Siap berangkat ke Alpine route! huh-hah!! Doakan lancar ya Kak 🙂

  3. Hi Vika,
    Salam kenal, ngeliat blog kamu ke alpine route, jadi bikin ngiler, makanya aku mau ubah planning itinery di mey 2017, tapi butuh infonya dunk :
    1. Rekomendasinya rute alpine route mana yang lebih effektif kalo aku berangkat dari tokyo dan pulang langsung ke osaka, karena rencananya akan ke alpinenya last day in tokyo.
    2. Mohon infonya dunk, untuk jasa pengiriman bagage di tokyo di daerah mana ya mba dan kira2 biayanya brpaan ya?
    3. menurut Vika lebih bagus aku beli JR pass apa ngak ya mengingat perjalanan ke alpine banyak menggunakan shinkasen. Dan kebetulan rute aku nanti Tokyo-kyoto-osaka.
    Thanks a lot ya untuk infonya vika

    1. Halo, Thia!
      1. Sepertinya rute yang Thia inginkan ( Tokyo-Alpine Route-Kyoto-Osaka) dapat dijadikan rekomendasi karena kira-kira posisi Alpine Route berada diantara Tokyo dan Kyoto.
      2. Kalau info delivery baggage di daerah Tokyo kurang tahu, Thia.
      3. Coba dibandingkan berapa biaya total perjalanan jika Thia menggunakan shinkansen ataupun dengan menggunakan tansportasi lain seperti bus (ataupun kombinasi bus dan shinkansen) untuk rute yang Thia inginkan. Serta perhatikan lama perjalanan di masing-masing transportasi dan tempat transit untuk shinkasen. Setelah itu tinggal ngulik-ngulik itinerary yang pas dengan waktu, budget dan finally, apakah worth it dengan menggunakan JR Pass.
      Selamat mencoba ya, Thia!

    1. Waaa…
      Ada Mbak Tesya! Jadi minder euy..
      Btw, kemarin nyempetin mampir ke Miraikan karena tertarik setelah baca postingan Mbak Tesya tentang Miraikan. Jadi, thanks juga dah ngeshare ceritanya ya, Mbak. 😃

  4. Hi Kak Tesya..terimakasih banyak sudah meluangkan waktu buat blog tentang tateyama alpine route dgn begitu lengkapnya..bikin kita2 yang mau pergi jadi lebih well prepared..kl mau tanya2 lbh detail sm Kak Tesya bisa lewat apa ya?thanks before..

  5. Pagi vika,

    Salam kenal sebelumnya.
    Mau tanya expresa bus dari ogiwa ke nagano sudah termasuk di tateyama kurobe option ticket ? Atau kita harus bayar lagi ?

    Thank you

    1. Hai Hai Noviliana,
      Yup, sesuai postingan di atas untuk perjalanan menuju Nagano dengan menggunakan express bus sudah termasuk ke dalam biaya Tateyama Kurobe Option Tickets.

  6. Halo mbak vika

    Salam kenal
    Mau tanya kalo saya berangkatnya dari toyama jam 12 siang, apa masi sempat ya mengejar bus ogizawa ke nagano yg terakhir? Sy lihat bus terakhir jam 18.05, dan misalnya kalau tidak terkejar apa ada opsi lain dari ogizawa ke nagano selain naik bus?

    Terima kasih

    1. Salam kenal juga Robby…

      Kalau mau jalan jam 12 dari Toyama kayaknya agak mepet ya..
      Perjalanan Tateyama Alpine Route membutuhkan waktu kurang lebih 7-8 jam. Kalaupun ingin coba, rasanya harus strict dengan jadwal dan tidak bisa berlama-lama di setiap tempat persinggahan. Untuk pilihan lainnya dari Ogizawa naik bis ke shinano-omachi kl untuk ke Nagano rasanya sudah tidak ada pilihan lagi.

      Website resmi mereka bisa membantu memperhitungkan lama perjalanan di Tateyama, Robby. Coba buka link https://www.alpen-route.com/en/courses/scheduling/index.html

      Hope it helps ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s