[Jepang] 2016 – Day 3 : Shirakawa-go

Monday, May 2nd 2016

Sesuai dengan judul di atas, hari ini kami akan menuju Shirakawa-go.

Hepiiihhhh…????
PASTI…..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
*UUUUPS,CAPSLOCK-NYA KEBLABASAN*

Setelah check out dan menitipkan tas di luggage store, kami berjalan menuju meeting point pemberhentian bus J-Hop tour di bus stop yang berada tak jauh dari stasiun JR Takayama.

Yup, kami akan menggunakan J-Hop Tour dengan harga paket half day tour to Shirakawa-go sebesar 4.400 Yen/orang, namun karena kami menginap di J-Hoppers Hida Takayama, kami mendapatkan diskon 500 Yen/orang menjadi 3.900 Yen. Info lengkapnya cek di sini.

Sambil menunggu bus di meeting point, terdapat seorang pria berperawakan Jepang memegang papan kayu kecil bertuliskan Shirakawa-go berjalan bolak-balik di depan kami. Uke pun menghampiri doi. Ternyata doi adalah tour guide J-Hop tour dan kami segera melakukan registrasi ulang.

Tepat pukul 8 bus tiba.
Kami dipersilahkan menaiki bus.

Selama perjalanan menuju Shirakawa-go, sang tour guide yang bernama Yamamoto melancarkan guyonan ala Jepangnya. Doi menjelaskan panjang lebar sejarah Shirakawa-go, ada apa di Shirakawa-go, rumah-rumah yang bisa dikunjungi di Shirakawa-go serta tak lupa menceritakan boneka unik Sarubobo dengan bahasa Inggris yang cukup fasih dan jelas.

Niatnya ingin tidur sebentar, mau tidak mau gw mendengar cerita Yamamoto.

Meeting point
Meeting point
J-Hop Tour
J-Hop Tour
Hello, My name Yamamoto - Sarubobo...
Hello, My name Yamamoto – Sarubobo…
Pose with Sarubobo
Pose with Sarubobo

Setelah menempuh perjalanan 50 menit, pemberhentian pertama bus adalah Shiroyama Observatory.

Yamamoto hanya memberikan waktu 10 menit untuk menikmati Shiroyama Observatory. Begitu turun dari bus, kami mulai melancarkan aksi gerak cepat.

Shiroyama Observatory merupakan area yang tinggi (seperti bukit kali ya?!?!) sehingga kita bisa melihat miniatur rumah-rumah ciri khas Shirakawa-go dari atas ketinggian.

Berhubung hati sudah senang banget sampai disini.
Rasanya sudah gak karuan melihat pemandangan Shirakawa-go dari atas.
Senang, hepi, bahagia (ehhh, satu arti semua ya?!?!) jadi satu…!

Pemandangan Desa Ogimachi yaitu desa terbesar di Shirakawa-go, yang selalu gw lihat di majalah-majalah traveling sekarang tampak di depan mata.

Rumah-rumah tradisional ciri khas Shirakawa-go dengan background pepohonan dan bukit yang menghijau.
Plek-plek sama persis (pake banged) seperti di majalah!

Tapi rasanya pemandangan akan lebih keceh kalau kesini di musim dingin. Sayangnya gw gak sanggup melakukan perjalanan di musim dingin. Jadi gw sudah puas dengan pemandangan yang tampak di depan mata saat ini.

*memandang Desa Ogimachi*
*tarik nafas dalam*
*hembuskan*
*keluarkan kamera*
*lancarkan aksi*

Ogimachi Village, Shirakawa-go #1
Ogimachi Village, Shirakawa-go #1
Ogimachi Village, Shirakawa-go #2
Ogimachi Village, Shirakawa-go #2
Ogimachi Village, Shirakawa-go #3
Ogimachi Village, Shirakawa-go #3
Ogimachi Village, Shirakawa-go #4
Ogimachi Village, Shirakawa-go #4
Ogimachi Village, Shirakawa-go #5
Ogimachi Village, Shirakawa-go #5
Ogimachi Village, Shirakawa-go #6
Ogimachi Village, Shirakawa-go #6
Cheese...
Cheese…

Setelah dari Shiroyama Observatory, bus melanjutkan perjalanan selanjutnya menuju Desa Ogimachi, Shirakawa-go.

Dari area parkir bus Seseragi, kami berjalan menyebrangi jembatan panjang di atas Sungai Shokawa menuju Desa Ogimachi, Shirakawa-go.

Di deklarasikan sebagai UNESCO World Heritage di tahun 1995, begitu memasuki Desa Ogimachi, tampaklah rumah pertanian bermodel Gassho-zukuri yang berarti “seperti tangan yang sedang berdoa”, menyerupai tangan biksu yang sedang berdoa. Rumah yang di desain dengan atap yang besar dan tebal ini memang dirancang untuk menahan musim dingin.

Kami berjalan mengelilingi Desa Ogimachi.
Rumah-rumah tradisional masih tetap di pertahankan, namun di beberapa rumah mulai dialihfungsikan menjadi toko ataupun tempat makan.

Shirakawa-Go Map
Shirakawa-Go Map
The Bridge
The Bridge
Shokawa river
Shokawa river
Shirakawa-go #1
Shirakawa-go #1
Shirakawa-go #2
The main street
Shirakawa-go #2
Shirakawa-go #2
Fire monitors
Fire monitors
Gassho style
Gassho style
Shirakawa-go #3
Shirakawa-go #3
Shirakawa-go #4
Shirakawa-go #4
Shirakawa-go #5
Shirakawa-go #5
kinclong..
kinclong..
Bu, minjem tangganya ya buat ngambil mangga..
Bu, minjem tangganya ya buat ngambil mangga di pohon sebelah..
Keceh banged idenya!
Keceh banged idenya!
Hei fish, kamuh siap digoreng...?!?!?!
Hei fish, kamuh siap digoreng…?!?!?!

Kami menyempatkan diri memasuki Kanda House.
Kanda House adalah rumah tradisional yang direkomendasikan Yamamoto untuk dikunjungi.

The Gassho style settlement in Shirakawa village located at the headstream of the Sho River in northern Gifu prefecture was registered as UNESCO World Heritage in December 1995. It is reported that the pattern of Ogimachi Town with the largest number of Gassho style house existing, which is 114, among the sttlementa registered as world heritage, was already formed in the beginning of the Middle Ages and prospered by entry of Yamashita Ujikatsu, the lord of Ogimachi Castle, who is Uchigashima Ujimasa’s general, into this Shirakawago in 1460.

Begitu memasuki Kanda House kami disambut dengan ramah oleh resepsionis. Setelah membayar harga tiket sebesar 300 Yen, kami diberikan brosur Kanda House dan dipersilahkan untuk mengelilingi rumah.

Di lantai satu Kanda House terdapat ruang minum teh dan ditengah ruangan terdapat tungku api yang sedang dipakai untuk memasak air sekaligus berfungsi untuk menghangatkan badan. Naik menuju lantai dua, kita bisa melihat perkakas kayu, peralatan untuk membuat atap serta peralatan (yang gw anggap) tradisional lainnya. Kalau dilihat secara detail, kayu yang mereka gunakan tampaklah sangat kokoh.

Setelah puas mengeksplor Kanda House, kami kembali turun ke lantai bawah.
Kami duduk (selonjoran) di ruangan minum teh sambil menikmati Japanese tea gratis sambil narsis.

Kanda House
Kanda House
Lighting, pleaseee....!
Lighting, pleaseee….!
Yuk ngerajut..
Yuk ngerajut (rotan)..
Perabotan kayu
Perabotan masak..?
Musuhnya Putri Tidur..
Musuhnya Putri Tidur..
The history
The history
Isi loteng
Isi loteng
Pemandangan dari lantai 2 Kanda House
Pemandangan dari lantai 2 Kanda House
Tampak Shiroyama Observatory
Tampak Shiroyama Observatory
jejeran pohon dibelakang ituh yang tidak sempat kami jelajahi
Jejeran pohon dibelakang ituh yang tidak sempat kami jelajahi
Masak air dulu ya...
Masak air dulu ya…
Tak lama setelah air matang..
Tak lama setelah air matang..

Waktu menunjukan pukul 11 kurang, kami bergegas berjalan menuju tempat parkir. Yap, 90 menit berkeliling di Desa Ogimachi, Shirakawa-go terasa tidak puas. Ada beberapa tempat menarik yang hanya gw bisa lihat dari jauh, namun tidak dapat gw sambangi karena waktu yang terbatas.

Saran gw, jika kalian mau mengeksplor Shirakawa-go dengan waktu tidak dibatasi, suka dengan tantangan dan tidak keberatan merogoh kocek sedikit lebih mahal (harga tiket Takayama-Shirakawa-go PP sebesar 4.420 Yen), pilihlah perjalanan menuju Shirakawa-go dengan menggunakan Nouhi bus dari Takayama Bus Terminal. Info lengkap bis bisa cek di sinih ya.

Salah satu sahabat bernama Sari, yang baru saja pulang dari Jepang menggunakan Nouhi bus untuk menuju Shirakawa-go. Doi mendapatkan pencerahan dari bosnya untuk tidak menggunakan paket tur karena waktu menjelajah Shirakawa-go akan dibatasi. Pilihan yang tepat ya, Sar!

Jika berencana menggunakan Nouhi bus, maka perhatikan baik-baik time table bus, terutama jika kalian akan pulang menuju Hida Takayama serta carilah informasi dan lokasi shuttle bus jika berminat menuju Shiroyama Observatory.

Ketika kami berjalan kembali menuju area parkir, pengunjung semakin memadati Shirakawa-go. Mengambil perjalanan di pagi hari adalah pilihan tepat mengunjungi Shirakawa-go.

Bus berjalan meninggalkan area parkir Shirakawa-go.
Di arah sebaliknya sudah mulai tampak kemacetan panjang efek dari Golden Week.

Sepanjang perjalanan pulang, Yamamoto memberikan kesempatan kepada seluruh penumpang untuk beristirahat. Begitu pula kami yang kelelehan dan memilih untuk tidur ayam.

Tepat pukul 12 siang, kami sudah tiba di Hida Takayama.
Kami pun mampir di stasiun dan terminal bus Takayama (posisinya keduanya berdekatan) untuk membeli tiket perjalanan kami selanjutnya.

Kami masih mempunyai waktu dua jam di Hida Takayama. Dua jam kami habiskan dengan berkeliling keluar masuk area pertokoan untuk mencari souvenir khas Hida Takayama.

Tetep niat shopping ya, Bu…!
Pastiiii…!

Setelah mendapatkan beberapa souvenir, kami kembali ke hostel untuk mengambil tas. Di hostel tampak sangat lengang, hanya ada petugas hotel (yang merangkap sebagai resepsionis) sedang sibuk membersihkan ruangan lantai.

Pada awalnya gw berniat ingin menjamak shalat setibanya di Toyama nanti. Namun ternyata petugas tersebut menawarkan gw menggunakan common room untuk shalat. Alhamdulillah diberikan kemudahan untuk menjalankan shalat.

Sebelum pamit meninggalkan J-Hoppers Hida Takayama, kami sempat berbincang-bincang dengan petugas hostel. Doi menjelaskan bahwa pemandangan terbaik di Hida Takayama dan Shirakawa-go selain di musim dingin, bisa di dapatkan di akhir Oktober hingga awal November, namun harus tetap bawa jaket tebal karena suhu dapat mencapai -10 derajat. Note!

Kami berjalan kembali menuju pusat kota.
Berhubung jadwal keberangkatan gw lebih lama daripada jadwal keberangkatan Uke, gw lebih dulu menemani Jeng Uke menuju terminal bus Takayama.

Di detik-detik keberangkatan Jeng Uke, tiba-tiba gw berasa galau bin mellow. Kok jadi sedih ya melepas Uke??? Huhuhu…
Mulai ngegalau membayangkan solo adventure untuk dua hari kedepan.

Yang ditinggal melow - Yang ninggalin nyengir ajeh
Yang ditinggal melow – Yang ninggalin nyengir ajeh! Huh…

Setelah ditinggal Uke, gw berjalan menuju stasiun Takayama hingga menunggu waktu kedatangan kereta Limited Express Hida No 11 dengan jadwal keberangkatan pukul 15.10. Harga tiket Limited Express Hida No 11 untuk reserved seat sebesar 3.560 Yen.

Sebenarnya ada kereta lain menuju Toyama dengan harga yang lebih murah yaitu JR Takayama Line dengan harga 1.660 Yen. Namun berhubung kereta JR Takayama Line akan transit satu kali dan gw mengejar waktu agar lebih cepat tiba di Toyama, gw memutuskan menggunakan kereta Limited Express.

Luas Stasiun Takayama tidaklah terlalu besar, kali ini gw menunggu kereta mengantri di luar gate in hingga dipersilahkan masuk oleh petugasnya. Sepuluh menit sebelum waktu keberangkatan, kami dipersilahkan masuk menuju peron satu.

Pukul 15.16, telat 6 menit dari jadwal keberangkatan, kereta meninggalkan stasiun Takayama. Sembilan puluh menit perjalanan selanjutnya, pemandangan dihiasi dengan petak-petak sawah, sungai dan pegunungan yang menghijau.

Time schedule
Time schedule
Antrian di gate in
Antrian di gate in
Limited Express Hida No 11
Limited Express Hida No 11
Destination Toyama
Destination Toyama
The ticket
The ticket
View #1
View #1
View #2
View #2
View #3
View #3

Tepat pukul 16.40, kereta tiba di stasiun Toyama. Awalnya gw sempat kebingungan mencari pintu exit menuju hotel. Coba mengamati peta yang ada di dalam stasiun dan ternyata pintu exit menuju APA Villa Hotel Toyama Ekimae dengan menggunakan pintu south (front) exit.

Begitu keluar dari stasiun Toyama, matahari sore (masih) bersinar dengan cerah. Pemandangan pekerja jepang berciri khas setelan-hitam-kemeja-putih sudah mulai tampak lalu lalang. Kota Toyama tampak lebih “kota” dan lebih hidup dibandingkan kota Hida Takayama.

Berhubung gedung APA Villa Hotel Toyama Ekimae sudah tampak menjulang tinggi didepan mata, gw melangkahkan diri menuju hotel.

Dengan ramah, resepsionis APA Villa Hotel Toyama Ekimae menyambut kehadiran gw. Check in berjalan lancar dan gw segera beranjak menuju kamar.

Kamar yang gw inapi sama persis seperti foto yang ada di website.
Dengan segala perabotan yang ada di dalam kamar, kamar ini terlihat kecil dan yang pasti, kamar mandi lebih kecil lagi. 😀

Setelah puas mengeksplor kamar yang tampak KSSSS ( baca : Kamar Sangat Sangat Sangat Sederhana, namun tidak sesederhana harganya!), rencana selanjutnya mengecek lokasi stasiun Dentetsu Toyama untuk perjalanan esok hari.

Lokasi stasiun Dentetsu Toyama persis berada di sebelah stasiun Toyama. Jika keluar dari pintu south (front) exit, berbeloklah ke arah kiri dan kalian akan langsung melihat papan stasiun Dentetsu Toyama.

Selesai mengecek stasiun Dentetsu Toyama, gw mampir ke pusat perbelanjaan Marier yang bersebelahan dengan stasiun.

Mengingat harga-harga barang di mall ini mahal dan gw tidak mempunyai minat agenda berkeliling di Toyama, gw lebih memilih kembali menuju penginapan saja.
Waktunya hibernasi, yes!

Pemandangan kota Toyama setelah keluar dari stasiun
Pemandangan kota Toyama setelah keluar dari stasiun. Hotel mana hotel…???
Tram...?
Modern tram…?
Toyama di sore hari #1
Toyama di sore hari #1
Toyama di sore hari #1
Toyama di sore hari #2
Penampakan hotelkuh dari stasiun Toyama
Penampakan hotelkuh dari stasiun Toyama
My minimalis dinner
My minimalis dinner
Advertisements

10 thoughts on “[Jepang] 2016 – Day 3 : Shirakawa-go

  1. Hai Vika…

    Baca perjalanan kamu di takayama dan shirakawago jadi ngingat perjalananku pas disana juga…ke shirakawago nya pun dengan Yamamoto…dia lumayan tau beberapa kosa kata bahasa indo khan…hehehe.

    Btw…cerita perjalananmu ke Jepang yang tahun 2015 (kalo gk salah) jadi referensiku pas bikin ittenary lho…makasih yaaa.

    Salam

    1. Hai Fenny!
      Iyah ya…
      Ketika gw mampir di blog seseorang, gw juga melihat sosok Yamamoto namun dengan perawakan yang lebih gempal. Pas kemarin ketemu ternyata lebih singset (dikit). Hehehe…
      Ternyata doi bertahan lama menjadi tour guide di J-Hop Tour. 🙂

      Terima kasih juga sudah mampir kesini yah, Fenny!
      Semoga postingannya dapat membantu perjalanan Fenny selama di Jepang kemarin ya. Gak pakai nyasar kan? 😀
      Adios!

      1. Pastinya sangat membantu vika…terutama informasi seputar kyoto. Tau web arakumachikyoto pun darimu lho…Web yang kami gunakan selama cari jalan d kyoto..

        Kalo nyasar di jalan untungnya gak pernah…yang keseringan nyasar dalam stasiun..hihihi.
        Kalo gak nyasar…gak seru ya…hihihi.

        Ditunggu cerita jalan-jalannya lagi ya.

        Success for U..

  2. hai mba Vika

    seru banget ya kayanya,aku mo nanya donk kan aku ini mau ke shirakawago jg nih minggu depan,klo aku baca web nohi bus itu harus di booking dulu
    via tlp dari indo?soalnya aku jg kynya mo naik bus dan dari takayama ke tokyo jg mau naik bus, bingung aku secara ga bisa ngomong jepang hehehehe
    mohon pencerahannya mba vika

    makasih

    salam – pauline

    1. Hai Pauline!
      Kemarin kita pesan bus dari Tokyo (Shinjuku) ke Takayama lewat website Highway buses. Websitenya menggunakan bahasa Inggris, jadi pemesanannya pun sangat gampang ataupun alternatif lainnya bisa booking lewat website Willer Express ya.
      Sedangkan untuk pembelian tiket Nouhi Bus dari Takayama ke Shirakawago yang dibeli secara ketengan (maksudnya bukan paket tour 😛 ), sepertinya kamuh bisa langsung pesan di Takayama Nohi Bus Center pada hari H-nya (saran gw, beli di satu hari sebelumnya ya) ataupun kamu bisa ikutan paket tour Shirakawago lewat website Japan Bus Online.
      Sekian info pencerahannya. 😉
      Sukses untuk perjalanannya ya, Pauline!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s