[Jepang] 2016 – Day 1 : Heading to Tokyo

Friday, April 29th 2016

Sore hari di tanggal 29 April 2016, gw memulai perjalanan pulang dari kantor menuju rumah. Sepanjang jalan mendadak mood ngedrop. Ngegalau. Nelongso gak jelas.

PMS dah lewat.
Kerjaan kantor dah beres.
Utang juga gak ada.
Jodoh aja yang belum ketemu hilalnya.
#eehhh

Usut punya usut.
Sepertinya eikeh stress menjelang traveling!

Hmmm…
Penyebab stressnya karena liburan ke Jepang kali ini bertepatan dengan Golden Week (peak season yang penuh dengan wisatawan) dan di salah satu dua rute perjalanan, gw akan traveling sendiri.

Iyap, Mak Ratri aja sampai komentar kenapa ngetrip berdua tapi malah jalan mencar-mencar. Traveling macam apa kalian..???!!!
Traveling yang pengen bikin diri sendiri hepi dunks, mak Rat. πŸ˜›

Sesuai dengan kesepakatan, gw dan Uke akan berpisah selama dua hari. Setelah itu kami akan bertemu kembali di Tokyo.

Yang bikin stress adalah rute perjalanan gw di Tateyama Kurobe Alpine Route dan bertepatan dengan hari pertama tanggal merah Golden Week. Takut itinerary berantakan, takut jadwal molor, takut macet, takut ketinggalan shinkansen, takut gak bisa balik ke Tokyo dan ketakutan-ketakutan gak penting lainnya. Cemen bener yak??? *Hooh!*

Tapi yang paling paranoid adalah karena gw jalan sendiri.
Gw harus bisa mengandalkan diri sendiri dan mengendalikan ketakutan-ketakutan gak penting.

Bismillah…
Ganbatte, Vika-chu!

Setelah maghrib, gw dianter Kepala Suku dan Ibu Suku menuju meeting point. Kali ini gw akan menumpang mobil Uke yang dipandu oleh Adiknya Uke dengan pendampingan ketat dari Ibunda Uke. Mobil mulai menembus kelengangan tol Jagorawi menuju Bandara Soetta.

Selang beberapa menit, Uke berkata, β€œJaket gw ketinggalan, Vik! β€œ
Eaaaa….
*melongo menatap Uke*

Suhu di Jepang masih belasan derajat. Belum lagi anginnya yang kencang! Mengingat cuaca lagi berubah ekstrim sesuka-sukanya, gw yakin suhu di Jepang bisa ngedrop gaje (baca: gak jelas).

Pasrah aja deh sama bantalan lemak badan lo ya, Ke. Hehehe… πŸ˜€

Perkiraan gw malam itu perjalanan menuju bandara akan macet, namun ternyata perjalanan kami hanya membutuhkan waktu 75 menit dan pada pukul 20.15 kami tiba di terminal 2D, bandara Soetta.

Tepat 3 jam dari jadwal keberangkatan, counter check in dibuka. Gw langsung menggeret satu koper berukuran medium, sedangkan Uke menggeret satu koper ukuran cabin dan satu tas carrier.

Berhubung ini penerbangan pertama kalinya kami membawa power bank, jadi kami rada kebingungan apakah power bank dimasukan ke bagasi atau tas cabin. Melihat dari regulasi maskapai Cathay, kami memutuskan untuk menyimpannya di koper yang akan masuk bagasi. Namun ketika petugas check in mengecek barang-barang yang tidak boleh dimasukan ke dalam tas bagasi, petugas tersebut menginformasikan bahwa power bank tidak diperkenankan masuk ke bagasi. Kami pun langsung grasak-grusuk membongkar mencari power bank yang sudah terlanjur tersimpan rapi di dalam koper dan memindahkannya ke dalam tas tangan.

Beres dengan check in, kami pun keluar menuju salah satu restoran fast food. Selesai makan, kami melangkahkan kaki menuju imigrasi dan masuk menuju boarding room. Tepat pukul 23.30 panggilan boarding mulai menggema.

Tak beberapa lama kami menempati singgasana kursi untuk beberapa jam kedepan, gw segera memasang bantal leher dan penutup mata. Hanya dalam hitungan detik gw tak sadarkan diri.

Zzz…Zzz…Zzz…

*****

Saturday, April 30th 2016

Pesawat landing sempurna di HKIA pada pukul 06.23. Berhubung pesawat mengalami keterlambatan landing 30 menit dari jadwal, kami harus pasang strategi agar tidak telat menyambangi boarding gate di penerbangan selanjutnya.

Sambil menunggu informasi lokasi boarding gate CX 504, kami berusaha mempelajari denah bandara HKIA. Menurut gw, bandara HKIA sangat besar dan jarak antara boarding gate-nya jauh-jauh. Jadi kalau apes mendapatkan boarding gate yang jauh dari pusat terminal bandara, gempor juga kalau harus menyusuri boarding gate dari ujung ke pusat terminal dan kembali lagi ke ujung boarding gate. Jangan lupa siapin koyo yak!

Setelah memastikan lokasi boarding gate penerbangan HK-Tokyo, kami beranjak menuju fast food Popeyes untuk sarapan pagi. Selesai sarapan, kami bergegas menuju boarding gate dan pada pukul 09.40 pesawat take off meninggalkan HKIA.

Breakfast at Popeyes, price 36 HKD
Breakfast at Popeyes, price 36 HKD. Jangan lupa bawa saos sambal dari Indonesia ya!
SAMSUNG CSC
Inside of CX 504
Moslem Menu
Moslem Meal
Ready to take off
Ready to take off
Hi, Tokyo!
Hi, Tokyo!

Pesawat landing di Narita International Airport pada pukul 14.30. Kami keluar dari pesawat mulai menyusuri bandara bersama penumpang lain menuju area imigrasi. Antrian di imigrasi cukup panjang tapi seperti biasa para petugasnya sangat sigap mengatur antrian.

Di imigrasi pun aman terkendali. Tidak ada pertanyaan yang diajukan oleh petugas. Paspor dicap dan secara resmi kami sudah diperbolehkan memasuki Jepang! *dancing*

Setelah mengambil koper, kami menuju proses selanjutnya yaitu pemeriksaan custom.

Petugas custom menyapa kami dengan ramah. Beliau menanyakan beberapa pertanyaan seperti tujuan, rute perjalanan dan berapa lama kami di Jepang. Beliau melirik koper yang kami bawa.

Sesuai dengan dugaan gw, koper Uke yang mempunyai dimensi lebih kecil dan lebih gampang dibongkar, diminta oleh petugas tersebut untuk dibuka.

Sambil mengecek barang-barang yang ada di dalam koper Uke, beliau menanyakan cokelat milik Uke yang berhamburan memperlihatkan diri. Setelah puas memeriksa, beliau mempersilahkan Uke untuk menutup kopernya. Tak lupa beliau membantu membereskan koper Uke lagi loh!
Top markotop!

Beres dengan random check, kami berjalan keluar dari terminal dua. Pertama-tama yang akan kami lakukan adalah mencari prayer room dan kantor pos untuk mengambil mobile wifi router.

Prayer room di terminal 2 terletak di lantai 1 dan lokasinya persis bersebelahan dengan Narita information center sedangkan posisi kantor pos berada di lantai 3, area check in terminal 2.

Selesai mengambil mobile wifi router, tujuan selanjutnya adalah JR East Service Center yang terletak di lantai B1 dan berseberangan dengan gate masuk stasiun kereta.

Begitu tiba di depan pintu masuk JR East Service Center, antrian wisatawan tampak mengular.

Niatnya gw hanya akan mengecek dan menanyakan paket Tateyama, namun berhubung Uke akan memesan tiket Shinkansen Kyoto-Tokyo akhirnya demi menghemat waktu, gw mengikuti jejak Uke membeli tiket Tateyama Kurobe Option dan tiket shinkansen rute Nagano-Tokyo.

Untuk mempercepat proses pembelian, ada petugas yang mendatangi kami, menanyakan paspor kami dan jenis tiket yang akan dibeli, kemudian kami diberikan kertas yang sudah di isi oleh petugas tersebut untuk diberikan kepada petugas di counter. Proses ini sangat mempercepat proses pembelian tiket.

Beres urusan shinkansen, kami mulai tergopoh-gopoh menuju stasiun kereta dan segera membeli tiket Keisei Narita Sky Access Exp menuju Asakusa seharga 1.290 Yen.

Setelah pengalaman tahun lalu gw planga-plongo kebingungan di stasiun ini, kali ini kami langsung menanyakan jadwal kereta Keisei Narita Sky Access Exp terdekat. Berhubung dalam beberapa menit kereta akan datang, kami langsung tergopoh-gopoh berjalan cepat menuju peron. Hanya selang beberapa menit kami tiba di peron, kereta pun tiba.

Our mess up luggage
Our mess up luggage

Setibanya di Asakusa, kami mulai menggeret koper menuju Khaosan Tokyo Original. Jarak dari pintu exit stasiun Asakusa menuju hostel tidaklah jauh.

Begitu memasuki hostel, kami langsung disambut ramah. Tipikal keramahan yang selalu didapat di hostel. Feels like home!

Berhubung stok kamar di lantai bawah sudah penuh akhirnya kami mendapatkan kamar di lantai 3. Dengan bantuan resepsionis, koper kami dibawa ke lantai tiga.

Begitu kami membuka kamar, gw terpesona dengan twin room private yang ada di depan mata.
Ngek-ngok.
Kamarnya kecil.
Sangat!

Ini adalah rekor kamar terkecil yang pernah gw inapi.
Otak gw mulai berpikir, kebingungan mencari lokasi untuk tempat kami shalat, tempat menyimpan 2 koper dan satu carrier serta caranya mondar-mandir menghindari senggolan bokong di dalam kamar. πŸ˜€

Mau berdiri dimana lagi inih...?
Mau berdiri dimana lagi inih…?

Rute perjalanan malam ini yaitu mengecek lokasi Shinjuku Express Bus Terminal dan makan malam di Ramen Shinjuku Gyoen Ramen Ouka.

Pukul 19.10 kami mulai meninggalkan hostel menuju Shinjuku.

Berhubung gw masih mencoba beradaptasi dengan pergerakan cepat di Jepang, perjalanan pertama kami naik subway di kota Tokyo (sudah pasti) mengalami kedodolan.

Sepertinya kami gw *iya, karena gw!* salah keluar pintu exit!
Yang seharusnya kami berjalan menuju pintu transit namun kami justru berjalan keluar stasiun dan mau tidak mau kami harus membeli tiket baru kembali.

Begitu turun di peron stasiun Shinjuku, kami mulai kebingungan mencari lokasi pintu exit stasiun.

Note : Setibanya di peron stasiun Shinjuku, berjalanlah menyusuri anak tangga/eskalator terlebih dahulu hingga tiba di lantai atas stasiun Shinjuku. Setelah itu, kalian bisa menemukan petunjuk arah pintu exit yang kalian tuju.

Begitu kami tiba di luar stasiun Shinjuku, kami langsung dapat melihat gedung Shinjuku Express Bus Terminal. Okeh, kami sudah mempunyai gambaran untuk tiba disini esok pagi. Jadi besok pagi gak ada acara yang namanya nyasar, yes…?!?!

Shinjuku Express Bus Terminal
Shinjuku Express Bus Terminal

Tujuan selanjutnya : Ramen Shinjuku Gyoen Ramen Ouka!

Kami mulai menyusuri jalan utama menuju Ramen Shinjuku Gyoen Ramen Ouka. Kalau diliat dari gugel maps, jarak dari stasiun Shinjuku menuju tempat ramen bisa kami tempuh dengan berjalan kaki selama 10-15 menit.

Okeh itu gaya jalan orang Jepang!
Gak tau dengan riwayat jalan kaki kami akan memakan waktu berapa lama.

Karena waktu sudah menunjukan puku 20.35 dan kami tidak bisa memperkirakan berapa lama kami akan tiba di Ramen Shinjuku Gyoen Ramen Ouka, sedangkan jam operasional restoran hanya sampai pukul 21.00, akhirnya kami mengubah tempat makan malam di sekitar Shinjuku yaitu Ramen Kaijin.

Untuk mengetahui lokasi persisnya Ramen Kaijin bisa cek di postingan ini ya.

Seperti biasa, tempat ini selalu ramai dikunjungi orang. Tanpa perlu menunggu lama, kami memesan 2 porsi Spicy seafood bace Ramen with Heshiko Yaki rice ball seharga 1.030 Yen/porsi. Kami sempat ditawarkan chicken meat ball, namun kami menolak additional topping tersebut.

Bagaimana dengan rasanya?
Tidak ada perubahan!
Masih sama enaknya.
Lezat.
Endes bingid!

Berhubung besok pagi kami akan jalan sangat pagi, setelah selesai makan kami langsung kembali ke hostel. Keletihan perjalanan hari ini sudah terbayar dengan kelezatan ramen kaijin.

SAMSUNG CSC
Lokasi ramen Kaijin
Ramen Kaijin
Ramen Kaijin
The menu
The menu
Yummy....!
Yummy….!

 

Advertisements

22 thoughts on “[Jepang] 2016 – Day 1 : Heading to Tokyo

      1. Iya deng ya mumpung berdua πŸ™‚
        Dulu pernah nginep di female dormitory pas mau shalat subuh jadi keluar ke common room gara2 gak enak sama temen sekamar -_-

  1. Yaampyuun, jadi itu kamar hostel yang bakalan kutempati nanti πŸ˜‚πŸ˜‚. Ramen shinjuku gyoen itu ramen halal ya mba? Perasaan di trip ini udah nambah referensi makanan halalnya.. 😁

    1. Iyah, Difa.. πŸ˜…
      Kurang lebih sama kecilnya. Paling-paling yang berbeda adalah lokasi kamarnya.
      Iya, makanan halalnya bertambah tapi di hari-hari terakhir kami kembali ke Tokyo. Yang berarti.. Postingannya masih lama. Kekekek.. πŸ˜†

  2. vik, ternyata kamar lu kecil banget ya πŸ˜€
    harusnya gue waktu itu juga di lt3 trus ditawarin ke lt2 krn ada yg kosong.
    sptmya kamar gue lebih lebar 30cm deh ;D , jatuhnya tetep kecil sih zzzzz zzz

    1. Krik.. Krik.. Krik..
      😴😴😴😴😴
      Sempet dicariin juga yang di lantai 2, Doena. Gw dah seneng aja. Ternyata kalah cepat. Katanya baru aja di ambil kamarnya. Memberikan harapan palsuuuuhhh… πŸ˜‚

  3. Dear mbak vika…
    It’s always fun to read ur story… hehehe….

    Mbak, mau nanya lagi dong… gw kan jalan berdua ama istri, kalo bawa 1 koper large dan 1 koper medium (1 buat baju, 1 buat oleh2) hahaha… efisien kah? Khususnya buat airport dan jalan naik shinkansen and kereta….
    Thanks a bunch mbak…..

    1. Hai.. Hai..
      Rasanya tidak masalah kalau mau membawa koper ukuran besar selama di Jepang karena sarana pendukung transportasi di Jepang sudah sangat baik. Masalahnya hanya pertimbangan berat koper (dan isi dalam koper) yang harus di geret kesana kemari selama berpindah tempat/kota.
      Jangan lupa, siapkan balsem pegal linu sebanyak mungkin! Hehehe… πŸ˜›

      1. Mbak vika… mau nanya dong… kan kemaren mesen 3 tiket masuk fujiko fujio museum… kalo namanya cuma namaku doang yg tercatat disitu gpp kan yah? Hahahah…

      2. Well.. the fast response is the reason why ur reader can’t take their eyes off of ur blogπŸ˜€πŸ˜πŸ˜€πŸ˜
        Btw.. kisah disneysea masi ditunggu ini.. menjelang keberangkatan saya yg tinggal 3 minggu lagi… huhuhu…

        *pembaca banyak mau nih*

        Thanks a bunch mbak vika!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s