Hidup di desa atau hidup di kota…?

Speedboat to Sofifi

Preambule :

Postingan kali ini akan sedikit berbeda dengan postingan sebelumnya. Harap maklum kalau isinya lebih banyak curcolnya daripada makna ceritanya ya, Sodara-sodara.

Beberapa hari yang lalu, gw bersama dua orang kantor melakukan perjalanan ke Ternate, Maluku Utara. Hanya selang beberapa hari setelah kami mengatur perjalanan, ternyata kami sedikit lost information. TujuanΒ utama kami yaitu menuju ibukota provinsi, Sofifi, itu sebenarnya berada di luar pulau Ternate. Bukan di dalam pulau Ternate.

Mulailah kami mengatur cara perjalanan menuju Sofifi. Perjalanan dari pulau Ternate ( yang dulunya merupakan ibukota Maluku Utara dan terdapat bandara Sultan Babullah Ternate) untuk menuju Sofifi, kami harus menyebrangi laut. Dari tiga pilihan yang ada yaitu kapal cepat, speedboat (apa bedanya dengan kapal cepat…???) dan ferry, kami memilih menggunakan transportasi speedboat. Perjalanannya sendiri akan ditempuh dalam waktu 40 menit.

Begitu menjajakan kaki di Pulau Ternate, sinyal internet menghilang tak bersisa. Kata supir mobil yang menemani kami, selama beberapa hari kedepan sinyal internet di Maluku Utara mati karena ada jaringan fiber opticΒ yang rusak di bawah laut.

Baiklah!!!
Tantangan pertama tinggal di bagian timur Indonesia baru saja dimulai.

Perjalanan menuju Sofifi tidak mengalami banyak masalah. Kedua teman perjalanan gw sepertinya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Apalagi kondisi laut dalam kondisi tenang. Selama perjalanan gw mulai tertidur tak sadarkan diri, terlarut oleh semilir angin yang berhamburan masuk ke dalam speed boat.

Sesampainya di Sofifi, setelah menyelesaikan beberapa perkerjaan utama, kami di ajak berkeliling ke beberapa (calon) rumah sakit dan melihat area pusat pemerintahan daerah di (desa) Sofifi.

Tidak banyak aktivitas menonjol di Sofifi. Entah karena memang cuacanya saat itu mulai terasa terik ataupun memang karena daerah ini memang di tujukan sebagai pusat kota pemerintahan, bukan untuk pusat tempat tinggal penduduk sehingga tidak tampak banyak orang ataupun kendaraan yang melintas.

Ingatan gw berputar kembali kesembilan tahun yang lalu, disaat gw melakukan pelayanan ke masyarakat di Puskesmas Tamalabang, Pulau Pantar, Kabupaten Alor, NTT selama satu tahun. Perjalanan menuju Puskesmas Tamalabang harus gw tempuh selama 2,5 – 3 jam dengan menggunakan kapal kayu (yang suara mesinnya dapat membuat kuping lo seketika menjadi budek 😦 ) dari ibukota Alor, Kalabahi.

Gw hidup menumpang dengan perawat di salah satu rumah dinas yang mempunyai pintu belakang Β berhadapan dengan laut!!! Alhamdulillah! Salah satu cita-cita gw tinggal di sebuah rumah dengan pemandangan laut di belakang rumah serta backsoundΒ suara gemuruh ombak tercapai sudah. πŸ™‚

Fyi, gw tinggal di daerah dengan kondisi listrik menyala hanya di malam hari (12 jam saja), air yang cukup berlimpah di area Puskesmas (walaupun di musim Kemarau, air akan menyala pada jam-jam tertentu) dan tidak mempunyai sinyal telepon (read: handphone). Untuk bertemu dengan sinyal telepon, gw harus ngojek selama satu jam menuju daerah yang terakses dengan sinyal. Chantik kan…?!?!?

Sudah kebayang kah aktivitas yang gw lakukan sehari-hari dengan kondisi seperti diatas…?

Setelah bangun pagi, beberes RSS ( Read: Rumah Sangat Sederhana), mandi, sarapan dan dilanjutkan pelayanan kesehatan hingga pukul 11 siang. Beres dengan urusan pasien, Β gw balik ke rumah, masak untuk jatah maksi dan makan malam, setelah itu lanjut menyuci baju. Setelah jam 2 siang biasanya gw mulai mati gaya. Dilematis antara ingin tidur siang namun berefek samping tidak bisa tidur di malam hari. Sore harinya, setelah beberes rumah, gw menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di teras mengamati orang yang lalu lalang Β di depan rumah ataupun bermain di belakang rumah sambil menatap deburan ombak. Malam harinya setelah lampu sudah menyala, pekerjaan menghangatkan diri alias menyetrika langsung gw tuntaskan, mumpung ada listrik! Dilanjutkan makan malam dan pada pukul delapan malam biasanya gw sudah beranjak menuju tempat tidur. Kurang lebih seperti itulah yang gw kerjakan setiap hari.

Gak bosen, bu…???

Gw menikmati setiap detiknya!
Hidup lebih tenang dan santai, tidak banyak masalah, hadapi saja yang didepan mata, gaji tidak habis di pusat-pusat perbelanjaan (namun habis di hari pasar πŸ˜› ) dan yang lebih penting lagi, tidak terganggu dengan sosial media serta lebih sering berinteraksi dengan masyarakat luar.

Dan setibanya di Sofifi, gw merindukan suasana itu!
Seketika, hati berkecamuk untuk kembali pindah ke daerah dan hidup tenang di sana.
Agak-agak lebay, yes…? *salahkan hormon*

Kadang ada titik point dimana gw jenuh dengan aktivitas padat ala perkotaan, kepadatan commuter line yang harus gw naiki setiap hari, ritme hidup cepat serta perkerjaan ‘cito’ yang (lebih) sering tak terduga.

But, live must go on, girls!

Pada hari terakhir perjalanan di Ternate, hanya ada satu pertanyaan yang berkecamuk di kepala gw.
Apakah gw mau pindah kembali ke daerah seperti di atas? Yes, mungkin saja…! Kenapa tidak…??!

Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang ditakdirkan Allah hari ini, esok hari dan hari-hari selanjutnya.

Note : postingan ini dibikin secara mellow di atas pesawat menuju sebuah negara yang selalu sukses membuat gw stres.. πŸ˜‰

Back to Ternate Island

 

Advertisements

4 thoughts on “Hidup di desa atau hidup di kota…?

  1. aku pun jenuh sama rutinitas kota, udah muak liat mobil dan macet, apalagi semalem perjalanan pulang sampe 4 jam, cakep kan

    kerja di mana? kok dlnya jauh banget

    1. Capek ya dgn kerusuhan ibukota. Apalagi hari jumat dan menjelang long wiken. Ampuuuunnn dijeh! Berani untuk transmigrasi ke daerah? 😁
      Saya abdi negara,bu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s