[Singapore] 2016 – Day 2 : Singapore Botanic Gardens, Bugis, Fullerton Road & Helix Bridge

February 7th, 2016

Pukul 08.30 kami berpindah ke gedung sebelah untuk melancarkan aksi makan pagi. Cukup dengan setangkap roti berisi kaya toast ala Singapore dan segelas teh tarik untuk menaikan mood booster hari ini.

Selesai sarapan, kami menyempatkan diri bertemu Jeng Kue Seus kembali. Sayangnya hari ini doi tidak akan menemani kami mengelilingi Singapore. Doi akan kembali ke peraduannya dalam rangka berkunjung kepada bos dan klien-klien pentingnya di hari Imlek.

Begitu bertemu doi.

Hmmmm…
*menatap dari atas rambut hingga ke ujung sepatu*

“Gw habis lari pagi, Jeng!”

Atasan : baju kutung sporty, bawahan : celana pendek sporty juga, sepatu sesuai tema : running shoes, tak lupa memasang headset yang menyambung ke handphone dengan rambut tetep klimis tak bergeser satu sentimeter pun.

Eitsss… mari kita ulang kembali rinciannya!
Tolong diperjelas di statement akhir.
Rambut kok tetep klimis ya, Jeng…???

Alasannya, “ Hujan, Jeng! “
Beberapa kali doi melipir berteduh. Alhasil lari paginya tidak maksimal.

Tetep kasih tepuk tangan meriah untuk niat sehat Jeng Kue Seus dengan acara lari pagi yang penuh semangat ’45 menembus rintik-rintik hujan.
*prok prok prok*

Selesai pamitan dengan Jeng Kue Seus, *puk-puk bahu Uke* kami memasuki stasiun MRT Chinatown, menaiki jalur Downtown Line menuju Botanic Garden Station.

Untuk menuju Singapore Botanic Gardens, kami keluar di pintu exit A dan begitu keluar dari stasiun, kami langsung bertemu dengan pintu masuk Singapore Botanic Gardens via Bukit Timah Gate yang berada di sisi sebelah kanan.

The idea of a national garden in Singapore started in 1822 when Sir Stamford Raffles, the founder of modern Singapore and a keen naturalist, developed the first ‘Botanical and Experimental Garden’ at Fort Canning. It was only in 1859 that the Gardens at its present site was founded and laid out in the English Landscape Movement’s style by an Agri-Horticultural society. The Gardens was soon handed over to the British colonial government (in 1874) and a series of Kew-trained botanists saw the Gardens blossom into an important botanical institute over the following decades. Today, the Gardens is managed by the National Parks Board, a statutory board of the Singapore government.

In the early years, the Gardens played an important role in fostering agricultural development in Singapore and the region through collecting, growing, experimenting and distributing potentially useful plants. One of the earliest and most important successes was the introduction, experimentation and promotion of Para Rubber, Hevea brasiliensis. This became a major crop that brought great prosperity to the South East Asian region in the early 20th century. From 1928, the Gardens spearheaded orchid breeding and started its orchid hybridisation programme, facilitated by new in vitro techniques pioneered in its laboratories. In contemporary times, the Gardens also played a key role in Singapore’s Garden City programme through the continual introduction of plants of horticultural and botanical interest.

With more than 150 years of history, the 82-hectare Gardens holds a unique and significant place in the history of Singapore and the region. Through the botanical and horticultural work carried out today, it will continue to play an important role as a leading tropical botanical institute, and an endearing place to all Singaporeans.

The Gardens has been inscribed as a UNESCO World Heritage Site at the 39th session of the World Heritage Committee (WHC) on 4 July 2015. The Gardens is the first and only tropical botanic garden on the UNESCO’s World Heritage List. It is the first in Asia and the third botanic gardens inscribed in the world following Orto botanico di Padova and the Royal Botanic Gardens, Kew.

Opening hours : 5 am to 12 midnight daily
Admission fee : Free

https://www.sbg.org.sg/

Kami berjalan-jalan perlahan memasuki Singapore Botanic Gardens.

Pengunjung yang mendominasi Singapore Botanic Gardens kebanyakan warga asing alias Londoh. Ada yang sekedar berjalan-jalan dengan membawa satu tim keluarga, namun ada juga yang sedang jogging dan aktifitas olah raga lainnya.

Baru saja beberapa menit kami asyik memfoto black swan di Eco Lake, tiba-tiba langit mulai menurunkan rintik-rintik hujan dan kami berlari mencari tempat berteduh di salah satu kanopi terdekat.

Cukup lama kami menunggu hujan reda. Namun dikarenakan hasrat mencari toilet makin tinggi, gw pamit ke Uke mencari toilet. Uke yang tidak ingin ditinggal akhirnya mengikuti gw menerjang hujan mencari toilet terdekat di area Jacob Ballas Children’s Garden.

Singapore Botanic Garden #1
Singapore Botanic Garden
Singapore Botanic Garden #2
Foto terakhir sebelum kami bubar kehujanan
Black swan
Black swan
Bahkan angsa ini berjalan sangat anggun!
Bahkan angsa ini berjalan (atau berenang ya?) dengan gaya sangat anggun!

Hujan pun semakin deras, Uke mulai gundah gulana. Tidak ada penampakan hujan akan segera reda. Uke mulai melempar beberapa alternatif tempat. Kami memutuskan mencoret tempat tujuan selanjutnya yaitu Pasar Bella dan sebagai penggantinya kami mencari ruangan indoor alias ngemall. Hehehehe… Buntut-buntutnya belanja lagi nih.

Kami memilih berkunjung ke daerah Bugis. Selain karena kami malas berjibaku dengan turis-turis senegara di Orchard Road, gw ingin bernostalgia dengan Singapore Zam-Zam Martabak.

Sambil menembus hujan, kami kembali berjalan menuju pintu exit Bukit Timah Gate dan meneruskan perjalanan dari Botanic Garden Station menuju Bugis station. Sesampainya di Bugis station kami memasuki dua pusat perbelanjaan yaitu Bugis Junction dan Bugis+.

Fyi, saat itu ada beberapa store yang mencantumkan kata sakti “Sale” untuk menarik perhatian calon pembeli. Salah satunya adalah Cotton On. Mereka memberikan sale 38% ke hampir sebagian pakaian yang di display. Setelah gw perhatikan dengan seksama, beberapa barang memang tampaknya ada yang belum masuk ke store Cotton On di Jakarta.

Satu setengah bulan kemudian, ketika gw mampir di salah satu store Cotton On di Jakarta, gw menemukan beberapa baju yang sempat gw lihat di Cotton On store Bugis dengan harga yang lebih murah! Perbedaan harganya lebih murah dikisaran 20.000 hingga 30.000 rupiah. Lumayan kan selisih harganya bisa dipakai untuk ngupi-ngupi cantik?!?!

Pukul 13.00, kami berjalan meninggalkan Bugis+ menuju Singapore Zam-Zam restaurant yang berlokasi di belakang Mesjid Sultan.

Dari arah Bugis+ kami berjalan lurus melewati tempat perbelanjaan terkenal Bugis Street dan mengarah ke Raffles Hospital. Pada perempatan lampu merah ketiga, kami berbelok kanan, setelah itu di perempatan pertama kami belok kiri dan langsung tampak keramaian orang yang memenuhi Singapore Zam-Zam Restoran.

Setelah menunggu antrian, kami mendapatkan tempat duduk di lantai dua. Kami segera memesan satu porsi martabak beef, satu nasi goreng dan dua gelas es milo dinosaur.

Uke sangat menyukai kekhasan es milo dinosaur yang doi idam-idamkan semenjak berada di Singapore, sedangkan gw lebih memilih menyantap nasi goreng dan martabak. Lapar sangat!

Route from Bugis+ to Singapore Zam-Zam Restaurant
Walking route from Bugis+ to Singapore Zam-Zam Restaurant *courtesy Google Maps*
Singapore Zam-Zam Restaurant
Singapore Zam-Zam Restaurant
Walaupaun penampakan warna merahnya menyeramkan, rasanya Nasi goreng terasa lezat ; Price 4 SGD
Walaupaun penampakan warna merahnya menyeramkan, rasanya Nasi goreng terasa lezat ; Price 4 SGD
Delicious Martabak Beef ; Price 7 SGD
Delicious Martabak Beef ; Price 7 SGD
Ice Milo Dinosaur ; Price 3,5 SGD
Ice Milo Dinosaur ; Price 3,5 SGD

Usai makan, kami menunaikan ibadah shalat di Mesjid Sultan. Tampak ada beberapa perubahan di Mesjid Sultan. Yang terlihat signifikan adalah tersedianya fasilitas lift menuju prayer hall di lantai dua sehingga memudahkan para sesepuh (terutama jamaah wanita) jika harus shalat di lantai dua.

Mesjid Sultan
Mesjid Sultan
Inside of Masjid Sultan
Inside of Masjid Sultan
Ladies prayer hall
Ladies prayer hall

Pukul tiga sore kami mulai mengarungi jalan kembali. Kali ini Uke mulai menggalau kembali antara menyelesaikan itinerary menuju Katong atau berpindah ke tempat lain.

Dengan alasan kami baru saja menyelesaikan makan siang dan ragu dengan cuaca yang serba tak menentu, kami beralih menuju area yang penuh dengan spot foto di sekitar Fullerton Road.

Dari halte bus yang berada di depan Raffles Hospital, kami menaiki bus nomor 130 dan turun di halte keempat yaitu halte Opp S’pore Cricket Club.

Mulailah kami mengeksplor tempat ini!

Area ini penuh dengan gedung-gedung vintage antara lain Victoria Theatre & Concert Hall, Dalhousie Obelisk serta Asian Civilisations Museum.

Di depan Asian Civilisations Museum terdapat empat buah bola kaca besar. Tempat ini cukup ramai di datangi oleh para pejalan kaki yang sengaja menyempatkan diri untuk bernarsis ria. Lumayanlaaahh untuk bahan foto di IG, Sis!

Victoria Theatre & Concert Hall
Victoria Theatre & Concert Hall
Dalhousie Obelisk
Dalhousie Obelisk
Narsis team from Indonesia!!!
Duet narsis team from Jakarta coret !!!
Siluk-ba
Siluk-ba
Hasil fotonya tampak singset yah..yah..yah..???
Hasil fotonya tampak singset yah..yah..yah..???

Usai berfoto-foto, kami menyusuri pedestrian yang bersampingan dengan Singapore River menuju arah bangunan duren yaitu Esplanade.

Di ujung dari Esplanade kami melihat ada sebuah jembatan baru bernama Jubile Bridge yang menghubungkan antara Esplanade dengan patung singa Merlion. Pembangunan jembatan yang digagasi oleh PM Singapore Lee Kuan Yew merupakan salah satu rangkaian dalam menyambut dirgahayu kemerdekaan Singapore ke-50.

Jadi jika kalian sudah berada di sekitar Esplanade, sudah tidak ada alasan lelah memutar berjalan kaki untuk menuju patung singa Merlion. Jubile Bridge solusinya! 😛

Kami berjalan kembali hingga tiba di The Float @Marina Bay. Tempat ini dipenuhi dengan booth pameran dalam rangka menyambut perayaan Imlek.

The tunnel
The tunnel
Jubile Bridge
Jubile Bridge
tampaklah Merlion dari kejauhan
tampaklah Merlion dari kejauhan
Salah satu perayaan Imlek di The Float @Marina Bay
Salah satu perayaan Imlek di The Float @Marina Bay

Uke yang mulai kehausan, menyempatkan diri mencari minuman di stand yang tersedia. Sedangkan gw duduk melipir di salah satu pinggiran jalan.

Di sekeliling tempat kami duduk, kami jumpai beberapa keluarga yang sedang membawa putra-putrinya jalan-jalan. Banyaknya anak kecil berlarian menambah keceriaan sore itu.

Gw dan Uke menikmati pemandangan di sekitar kami dengan tenang sambil sesekali mengomentari orang-orang yang lewat di depan kami. Hehehe…
Tetep banci komen ya, Jeng!

Persis di atas kami duduk adalah Helix Bridge. Rencananya kami akan memfoto Helix Bridge pada waktu peralihan sore menuju malam hari. Namun mengingat matahari akan terbenam satu setengah jam kemudian dan kami mulai mati gaya, kami memutuskan mengeksplor Helix Bridge saat itu juga.

It’s 280 meters long, made of a special stainless steel, was lovingly assembled over two years with great precision and is already being touted as an architectural marvel and engineering feat. Officially named “The Helix,” the sweeping, curving structure is the world’s first double helix bridge.

The bridge is located just beside the floating platform at Marina Bay, and when Phase 2 of Marina Bay Sands is open in June, it will allow pedestrians a direct link to the integrated resort. At its entrance is Singapore’s first art park — the Youth Olympic Park — which opened at the same time as the bridge, and alongside it is the vehicular bridge to the casino resort, called Bayfront Bridge.

Designed by Australian firm Cox Group, engineering firm Arup and Singapore-based Architects 61, the bridge is made up of a major and minor steel helix that wind around each other. The bridge has five viewing platforms spanning across the entire length which provide great views of the Singapore skyline and events taking place within Marina Bay. It also functions as a outdoor gallery where children’s paintings and drawings are exhibited for public viewing.

Why is this bridge such a big deal? To put it in perspective, if all the steel tubes forming the major and minor helix are laid end to end, it will measure 2,250 meters long, and the entire structure weighs about 1,700 tons, which is equivalent to about 1,130 saloon cars. There is also a night lighting feature built into the pedestrian bridge, which can be programmed to create various moods for different events.

http://travel.cnn.com/singapore/play/worlds-first-curved-double-helix-bridge-marina-bay-505668/

Tidak banyak yang bisa gw sampaikan tentang Helix Bridge. Arsitekturnya tampak menarik seperti sktruktur DNA yang gw pelajari pada pelajaran Biokimia di jaman kuliah. Strukturnya keceh, tapi tidak dengan pelajarannya. 😀

Helix Bridge tanpa penerangan lampu terlihat biasa, tidak ada yang spesial. Gw bertanya kepada Uke, “Yang bikin menarik di Helix Bridge memang lampu di malam harinya, Vik. “

Hooo….Baiklah!
Setidaknya menuntaskan rasa penasaran gw untuk mengujungi jembatan ini.

Walking route from Fullerton Road to Helix Bridge
Walking route from Fullerton Road to Helix Bridge *courtesy Google Maps*
Helix Bridge #1
Helix Bridge #1
Helix Bridge #2
Helix Bridge #2
Helix Bridge #3
Helix Bridge #3
Helix Bridge #4
Helix Bridge #4
Helix Bridge #5
Helix Bridge #5
Helix Bridge #6
Helix Bridge #6
Helix Bridge #7
Helix Bridge #7
Helix Bridge #8
Helix Bridge #8
Helix Bridge #9
Helix Bridge #9

Dari Helix Bridge, kami akan kembali menuju penginapan. Kami berjalan menuju MRT Bayfront station melalui The Shoppes at Marina Bay Sands.

Memasuki salah satu pusat perbelanjaan terkenal The Shoppes at Marina Bay Sands, Bagai pungguk merindukan bulan alias barang-barangnya mehong abeeesss! Barang-barang branded berkumpul menjadi satu di The Shoppes at Marina Bay Sands, dari barang branded yang sering terdengar wara-wiri di kuping gw hingga barang branded yang tidak gw ketahui jenisnya pun numplek disini.

Walking route from Helix Bridge to Bayfront Station
Walking route from Helix Bridge to Bayfront Station *courtesy Google Maps*

Sesampainya di Chinatown, kami memutuskan mencari makan malam terlebih dahulu. Kami berjalan menuju ke arah belakang dari penginapan, dimana terdapat Chinatown Food Street.

Chinatown Food Street tampak sangat dipenuhi oleh pengunjung. Kami memang tidak terlalu banyak menemukan makanan halal disini. Di bagian akhir dari jajaran gerobak, kami menemukan dua buah gerobak yang menjajakan makanan yang tampaknya bisa kami makan yaitu Serangon Raju Indian Cuisine dan Newton Ahmad Ibrahim Satay.

Tapi begitu melihat harga yang terpampang, gw pasang ekspresi menganga sedangkan mata Uke mendelik. Kenapa begitu???
Karena harga satu porsi sate mencapai 10 SGD. Weeeww….

Kami memutuskan untuk meninggalkan Chinatown Food Street dan mencari makanan di tempat lain.

Chinatown Food Street
Chinatown Food Street
Food stall
Food stall
Keramaian di Chinatown Food Street
Keramaian di Chinatown Food Street
Dan inilah sate ayam yang hanya kami lirik harganya
Dan inilah kios sate yang hanya kami lirik harganya

Setibanya di jalan utama New Bridge Road, dimana menjadi titik pusat perayaan Imlek, berdirilah sebuah panggung megah dan rasanya sebentar lagi acara perayaan Imlek akan dimulai.

Kami yang sudah tidak sanggup berada di tengah lautan manusia, berusaha menghindar dan memutuskan dengan cepat untuk take away Mc Donald’s sebagai menu makan malam kami.

Sesampainya di penginapan, masing-masing dari kami menghabiskan setangkap burger dan 2 buah spicy wings, kemudian memilih kembali ke kamar untuk beristirahat. Yup, waktu baru menunjukan pukul delapan malam dan diluar sana terdengar kemeriahan perayaan imlek, namun kami dengan senang hati memilih meringkuk di balik selimut.

Waktunya bobo chantik, teman-teman!

Chinatown
Chinatown
Kemeriahan perayaan imlek di Chinatown
Kemeriahan perayaan imlek di Chinatown
Jalan New Bridge Road di blokir untuk menampung perayaan Imlek
Jalan New Bridge Road di blokir untuk menampung perayaan Imlek
Our Dinner ; Price Mc Spicy 5.1 SGD, Big Mac 5.35 SGD & Mc Wings 4 SGD
Our Dinner ; Price Mc Spicy 5.1 SGD, Big Mac 5.35 SGD & Mc Wings 4 SGD
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s