[Singapore] 2016 – Day 1 : Chinatown, Jamae Mosque, Vivo City & Mustafa Center

Imlek celebration from Singapore Airlines
Imlek celebration from Singapore Airlines

“ Mungkin lo udah kebelet mau piknik lagi.
Tapi emang tulisan yang sekarang agak-agak ringkes dibanding yang dulu-dulu.
Bawaannya mau buru-buru kelar alias kejar setoran.
Udah gak ada utang lagi ya? “

Kalau gak ingat percakapan random antara gw dengan Ratri, rasanya postingan kali ini tidak akan release. Selain rasa malas yang mulai bergelayut, konsentrasi sudah mulai terpecah memikirkan itinerary trip selanjutnya.

Makasih loh untuk Mak Ratri yang sudah berjasa mengingatkan utang gw!
*salim*

Baiklah, mari kita flash back ke asal muasal perjalanan kali ini.

Siang hari di pertengahan bulan Sepetember 2016, selain karena ingin bertemu dengan Ibu Sp.KK di salah satu mall ter-heiiitz di Jakarta, antara sengaja-tidak sengaja serta niat-gak niat, gw melipir ke travel fair yang disponsori oleh bank swasta terkemuka yaitu BCA Singapore Airlines Travel Fair 2015.

Awalnya gw ragu-ragu untuk masuk ke area pameran BCA Singapore Airlines Travel Fair 2015. Tidak terbayang berapa harga promo untuk sebuah tiket pesawat sekelas Singapore Airlines yang merupakan top three dari Top 20 Best Airlines of The World 2015.

Gw coba-coba aja deh.
Gak salah memulai peruntungan.
Rejeki gak akan kemana inih…?!?!?!

Setelah berkeliling di beberapa booth dan mengecek harga yang di tawarkan, mulailah gw mencoba mencari tanggal merah di tahun 2016, bergerilya mencari harga promo dan tak lupa, teman perjalanan.

Saat itu special privilege langsung gw berikan kepada Uke.
*Special privilege atau gak punya teman jalan, Bu???* 😀

Gw langsung menembak Uke untuk ikut bergabung ke Singapore. Dengan sedikit rayuan (sangat tidak) gombal, Uke menyetujui. Sambil menghitung hari baik #ehhhh (berlibur) maka terbelilah tiket Jakarta-Singapore untuk keberangkatan di hari imlek.

Kenapa ke Singapore???
Inginnya melancong ke NZ, Turki, Eropa, London atau USA sekalian. *ngayal atau ngarep???*

Apa daya selain budgeting kami yang tidak memungkinkan berpergian ke negara dongeng impian, sudah dua tahun kami tidak menjejakan kaki di negara salah satu jajahan Inggris ini.

Perencanaan itinerary dan penginapan semua gw serahkan kepada Uke.
Biarkan Uke berkerja secara optimal. 😛

Berikut ini adalah itinerary yang sudah dirancang Uke.

Day 1 : Heading to Singapore, Explore Vivo City *niat ngemall,Jeng???*
Day 2 : Singapore Botanic Garden, Pasar Bella, Katong & Helix Bridge
Day 3 : Mustafa and back to Jakarta

Pada hari H-nya ya kurang lebih sama seperti cerita di Melaka.
Berhubung kami jalan pada saat imlek, perjalanan kami banyak di iringi dengan hujan sehingga kami lebih memilih kegiatan indoor alias ngemall. :mrgreen:

*****

February 6th, 2016

Pagi ini kami menggunakan bis Hiba Bandara keberangkatan pukul 6 pagi. Gw yang memulai perjalanan dari terminal sempat mengenali salah satu teman SMU yang ikut menumpangi bis Hiba menuju bandara Soetta.

*live report ke Uke*

Setelah Uke bergabung dari pick up point HIBA Bandara pintu tol Cijago, kami meyakinkan diri bahwa doi adalah salah satu teman ‘dekat’ yang pernah hinggap di hati seorang dedengkot utama grup Gatelan.

Mulailah pagi itu kami merusuhi wasap grup Gatelan dengan wasapan gak penting membahas kehidupan masa-masa jahiliyah. 😀

Tepat pukul 07.20 kami sudah tiba di Soetta, tak lupa sebelumnya kami memberikan foto tergres hasil live report kepada buteki via wasap Gatelan. #eaaaa #kodekeras

Setelah check in, rencananya kami akan keluar untuk sarapan. Perut kami sudah mengeluarkan suara-suara tak senonoh.

Namun begitu melihat boarding time yang tercantum di boarding pass pukul 08.20 sudah mepet. Kami mulai memperhitungan waktu yang dibutuhkan proses imigrasi dan pemeriksaan barang akan menyita waktu yang tak sebentar. Akhirnya kami membatalkan rencana makan dan mengikuti proses selanjutnya.

Sekitar pukul 9 pagi, kami dipersilahkan masuk menuju pesawat.

Emmm….
Berhubung ini pertama kalinya kami menjajal Singapore Airlines. Maapkan kami kalau di cerita selanjutnya menjadi cerita perjalanan yang agak sedikit ‘noraks’ dan menyebalkan yah. 😛
Tak lupa diinformasikan bahwa tulisan ini bukanlah pesan-pesan sponsor!

Boeing 777-300A yang mempunyai posisi seat 3-3-3 ternyata mempunyai jarak lebar kursi lebih besar daripada maskapai lain. Gw yang kadang-kadang suka grasak-grusuk merasa kesempitan dengan lebar kursi dan kebingungan meletakan tas, kali ini terasa nyaman dengan jarak lebar kursi lebih besar dan jarak kaki dengan kursi depan yang cukup lapang.

Tak lama setelah kami duduk, Uke memulai percakapan :

“ Vik, kayaknya cuma kita berdua doang yang pribumi. “
“ Ah, masak sih…??? Kayaknya tadi gw sempat liat adaaaaaaa…. “, gw mulai sibuk mengedarkan pandangan mata.
“ Kayaknya iya, Ke. Eh, tapi lo kan putih. Sudah mirip. Bedanya lo di jilbabin ajah. “ 😀

Berhubung gw sempat memesan menu halal di Singapore Airlines, kami diberikan makanan terlebih dahulu oleh mbak pramugari.

Setelah membuka penutup alumunium foil, penampakan nasi yang di depan gw seperti nasi goreng kesukaan gw, tanpa kecap manis!

Setelah dicoba, rasanya maknyuuusss dan nasi goreng langsung berpindah cepat ke perut gw. Hohoho…

Bantalnya empuuukkk...
Bantalnya empuuukkk…
Gak sabar ketemu Jeng Kue Seus ya, Ke...?
Gak sabar ketemu JKS ya, Ke…? *kode untuk cerita selanjutnya*
My (early) lunch
My (early) lunch

Pukul 11.58 (waktu Singapore) pesawat landing dengan sempurna di Changi International Airport. Begitu keluar dari garbarata, kami masih menyempatkan diri mengunjungi beberapa toko drug store Guardian yang berada di terminal 3.

Setelah itu kami segera bergegas menuju imigrasi. Oya sebelum mengantri di imigrasi, kami melihat banyak orang yang sedang mengisi arrival card di salah satu sisi sebelum memasuki imigrasi.

Biasanya kartu ini akan diberikan di dalam pesawat, sebelum pesawat landing. Berhubung pramugarinya tidak memberikan arrival card dan banyak orang yang sibuk mengisi, kami melipir ke sisi tersebut dan mengisi lengkap arrival card.

Setelah itu kami menuju imigrasi, mengambil koper dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun MRT.

Welcome to Changi International Airport
Welcome to Changi International Airport
Imigrasi tampak dari jaaauuuuhhhh...
Imigrasi tampak dari jaaauuuuhhhh…

Berhubung gw sudah membawa 2 (pinjaman) kartu EZ Link, kami mengantri untuk top up di salah satu auto machine ticket yang persis berada di bawah eskalator. Namun ternyata mesin ini menolak kehadiran kartu EZ Link sehingga kami mengantri kembali di loket Passenger Service.

Petugas di Passenger Service menginformasikan bahwa kartu EZ Link kami tidak bisa dipakai (padahal expired date-nya masih 5 tahun lagi loh!) dan daripada membuang waktu percuma (serta melihat panjangnya antrian dibelakang kami), kami membeli kartu EZ Link baru seharga 12 SGD. Harga tersebut sudah termasuk isi saldo sebesar 7 SGD.

Tujuan kami selanjutnya menuju Chinatown, tempat dimana kami akan menginap.

Dari stasiun Changi Airport, kami transit di stasiun Tanah Merah dan kemudian menaiki MRT East West Line menuju pusat kota, transfer di stasiun Outram Park dan kembali menaiki MRT North East Line menuju stasiun Chinatown. Perjalanan dari stasiun Changi Airport hingga tiba di stasiun Chinatown memakan waktu 45 menit.

Sesampainya di stasiun Chinatown, kami keluar dari pintu A menuju penginapan kami yaitu 5footway.inn Project Chinatown 1.

Setiba di hostel, kami harus menunggu satu jam lagi untuk dapat masuk kamar. Agar menghemat waktu, kami memutuskan shalat terlebih dahulu di Jamae Mosque (Chulia Mosque) yang letaknya tak jauh dari penginapan.

Jika kalian ingin mampir ke masjid ini, dari pintu exit A stasiun Chinatown, berjalanlah lurus hingga bertemu dengan jalan besar bernama South Bridge Road dan berbeloklah ke arah kiri. Hanya selang beberapa bangunan akan tampak Jamae Mosque (Chulia Mosque) di sebelah kiri jalan.

Built in 1826, Jamae Mosque was the first of three mosques in Chinatown erected by the Chulias, who were Tamil Muslims from the Coromandel Coast of Southern India. This is why it is also known as Masjid Chulia or Chulia Mosque. It is one of the few mosques in Singapore holding religious classes in Tamil today.

Jamae Mosque has an eclectic architectural style, borrowing elements from both East and West. The entrance gate has a South Indian Indo-Islamic influence, while the prayer hall’s neoclassical features include Doric columns and large windows with Chinese green-glazed tiles. The intricately designed palace facade has tiny doors and cross-shaped openings – worth a second look.

In any case, this is the site to see early Singapore architecture in its original form. Unlike other 19th-century religious buildings, Jamae Mosque has not been rebuilt, although it has been repaired and repainted.

Jamae Mosque was gazetted as a national monument in 1974.

http://www.yoursingapore.com/see-do-singapore/culture-heritage/places-of-worship/jamae-mosque.html

Jamae Mosque #1
Jamae Mosque #1
Jamae Mosque #2
Jamae Mosque #2
Jamae Mosque #3
Jamae Mosque #3
Female hall
Ladies prayer hall

Usai shalat, kami kembali ke penginapan. Kali ini kami sudah bisa masuk ke kamar. Oya, resepsionis, common room dan dapur utama 5footway.inn Project Chinatown 1 berada di gedung yang berbeda dengan gedung tempat kami menginap. Gedung tempat kami menginap masih berada di sisi yang sama dan berjarak sekitar 5-6 ruko dari gedung resepsionis 5footway.inn Project Chinatown 1.

Usai beberes koper sebentar, pukul 15.40 kami kembali ke common room.

Kami janjian dengan seseorang di common room!

Tanpa perlu celangak-celenguk, tampaklah seorang pria yang berbodi besar, penampakan tinggi, rambut klimis dan berpakaian necis di salah satu sudut common room.

“ Bolehkah aku melihat raut wajahmu? Ow ow siapa dia? “

*singing lagu kuis Siapa Dia*

Dia adalah Jeng Kue Seus, sobatnya Uke, yang sama errornya dengan Uke dan percayalah ini bukan nama sebenarnya.
*biarkan para pirsawan kepo dengan sosok pria necis inih*

Perjalanan kami selama enam jam selanjutnya akan ditemani oleh Jeng Kue Seus, seorang tour guide dadakan. Berhubung doi hijrah ke Batam, alhasil jarak Batam-Singapore terasa seperti jarak antara Detos menuju Margo City dengan menggunakan jembatan penyebrangan. Hobi banget bolak-balik ke Singapore hanya untuk lari pagi di MBS. Hanya satu pesan gw, jangan keseringan berteduh ketika lari pagi ya, Jeng! *muka sangat serius*

Oya, sekedar informasi untuk geng Gatelan.
Mengingat usia Jeng Kue Seus ini masih muda belia dan betapa cerewetnya doi, kalian pasti akan senang bertemu dengan berondong yang suka ngebanyol dan berceloteh panjang lebar dari A sampai Z.
Jadi kapan kalian akan bertemu dengan sosok lucu inih…? *sodorin Mak Bunges*

Setelah selesai dengan perkenalan plus sedikit chit-chat, kami akan memulai perjalanan pertama di Singapore yaitu Vivo City!

Heeehhh…
Ngemall…????
Ssstttt…..!!! Gak usah protes yah. 🙂

Tujuan awal gw ke Vivo City adalah mencari salah satu primer wajah. Namun berhubung beberapa orang (dan beberapa grup Wasap) mengetahui gw jalan ke SG, niat ngemall berubah menjadi ajang mencari titipan orang-orang. Alangkah mulianya niat baik gw kan…???!!! 😉

Kami mengelilingi Vivo City dengan tujuan dan hati ikhlas yang berbeda-beda. Gw sibuk keluar masuk Sephora, MAC, Urban Decay dan L’Occitane. Uke dengan niat tulus mencari Face Shop, Guardian dan Starbucks sedangkan Jeng Kue Seus bolak-balik ke Infinite.

Bah, beda kasta deh kalau dibandingin dengan hasil belanjaan Jeng Kue Seus.

Price at Vivo City 81 SGD, di free duty Changi 69 SGD :D
Price at Vivo City 81 SGD, di free duty Changi 69 SGD 😀 *cium tangan Ahjumma*
Titipan Jeng Leny ; Price 21 SGD
Titipan Jeng Leny ; Price 21 SGD sedangkan harga online store Rp.248.000
Berhubung sangat jarang menemukan ini di Indonesia, akhirnya gw beli juga eye shadow remover ; Price 25.4 SGD
Berhubung sangat jarang menemukan ini di Indonesia, akhirnya saya khilaf membeli Gentle eye make-up remover ; Price 25.4 SGD
Titipan salah satu MUA kondang ; Price 30 SGD
Titipan salah satu MUA kondang ; Price 30 SGD

Selesai dengan segala titipan orang-orang, kami yang sudah kelaparan mencari tempat makan. Berhubung gw termasuk penggemar Yong Tau Fu, gw request mencari Yong Tau Fu kepada Uke dan Jeng Kue Seus.

Jeng Kue Seus menunjukan jalan menuju sebuah food court kecil bernama BAgus. Posisi BAgus berada di lantai dasar Harbourfront Center, bersebelahan dengan Vivo City. Tak perlu ragu, semua makanan di BAgus mempunyai label halal. Aman, Gan!

Harga satu porsi Yong Tau Fu yaitu 4 SDG berisi 7 jenis makanan yang bebas dipilih. Murah yak! Biasanya kalau di Yong Tau Fu Jakarta gw membeli 6 jenis makanan di bisa habis 50 ribu lebih. Namun, sayangnya kuah yang tersedia di Yong Tau Fu hanya tersedia satu jenis yaitu kuah kaldu.

Setelah mencicip, Jeng Uke berkata kalau rasa Yong Tau Fu di SG lebih enak daripada di Yong Tau Fu di Jakarta. Gw hanya mengangguk-angguk kepala tanda setuju sambil sibuk mengunyah.

Maafkan atas ketidakberaturan gambar inih! ; Yong Tau Fu 4 SGD, Rice 0.60 SGD & Ice milo 1.8 SGD
Maafkan atas ketidakberaturan gambar inih! ; Yong Tau Fu 4 SGD, Rice 0.60 SGD & Ice milo 1.8 SGD

Selesai makan kami melipir ke pinggiran laut yaitu disisi luar Vivo City. Kalau dipikir-pikir sebenarnya pemandangan disini kurang okeh. Di sisi kanan adalah Harbourfront Ferry Terminal, di depan adalah Sentosa Island dan disebelah kiri merupakan jembatan penghubung menuju Sentosa Island. Apa daya kami sudah kehabisan ide mencari tempat melancong.

Sambil berbincang-bincang dengan cerdasnya Jeng Kue Seus menelurkan ide selpih sukaesih. Kami langsung meminta foto dengan kamera GoPro-nya jeng Kue Seus yang baru berusia dua hari.

Kamera sudah dikeluarkan, namun yang punya kamera kebingungan sendiri bagaimana cara mengoperasikannya. Bleehh…
Buntut-buntunya kami poto dengan hp Jeng Kue Seus juga. *keluarkan tongsis* -_-

Entah apa yang gw foto. Kesannya gak ada indah-indahnya ini gambar..
Entah apa yang gw foto. Kesannya gak ada indah-indahnya ini gambar..
Harbourfront
Harbourfront ferry terminal
Dan pria jangkung-berbadan besar-rambut klimis ditengah inilah yang Jeng Kue Seus
Proudly present : pria jangkung-berbadan besar-rambut klimis ditengah inilah bernama Jeng Kue Seus *copyright Jeng Kue Seus*

Ketika langit malam sudah gelap, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat perbelanjaan Mustafa Centre.

Awalnya kami menempatkan Mustafa Centre di hari terakhir, namun ditakutkan waktu menuju bandara akan terganggu, kami memajukan acara belanja di Mustafa pada hari pertama. Lagipula ini pertama kalinya Jeng Kue Seus menginjakan kaki di Mustafa loh!

Begitu keluar dari pintu exit H Farrer Park Station, kami berjalan menyebrang menyerong ke arah kiri dari perempatan lampu merah. Hujan baru saja berhenti dan membuat genangan air di beberapa sudut jalan. Bau tanah basah membuat nafas gw semakin tersengah-sengal. Pengap dan lembabnya udara memperparah obstruksi di saluran pernafasan gw. 😦

Kami pun tidak berlama-lama di Mustafa Centre. Setelah mendapatkan semua barang-barang yang dibutuhkan, kami bergegas keluar dari Mustafa Centre. Uke dan Jeng Kue Seus yang ingin mencari minum segar memutuskan mampir sebentar ke salah satu departemen store di City Square Mall dan selanjutnya kami kembali menuju penginapan.

Map to Mustafa from Farref Park Station
Map to Mustafa from Farref Park Station *copyright Google Maps*
Price 7.5 SGD for 3 Cadbury Chocolate
Price 7.5 SGD for 3 Cadbury Chocolate *dan salah satu cokelat lumer tak berbentuk*
Price 1.4 SGD
Price 1.4 SGD
Price 2.35 SGD
Price 2.35 SGD
Price 5.9 SGD
Price 5.9 SGD
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s