[Malaysia] Day 3 : Dutch Square & Porta De Santiago (A Famosa)

December 26th, 2015

Sesuai dengan janji pramuka semalam, pagi ini gw sukses bangun pagi pada pukul 7 kurang. *big applause*
Setelah shalat dan mandi, gw mencoba membangunkan dua cewek yang masih asyik tidur kemulan selimut.

” Besok pagi jalan jam delapan ya! ”

Perjanjian tinggal perjanjian, kami baru bisa berjalan meninggalkan penginapan pukul 08.30 pagi.

Leyeh-leyeh sebentar, sambil nunggu Jeng Uke dempulan
Leyeh-leyeh sebentar, sambil nunggu Jeng Uke selesai dempulan
Cafe yang berada di Wayfarer Guest House
Analog Cafe – Wayfarer Guest House

Rute hari ini: berkeliling disekitar Dutch Square, membeli tiket bus di Mahkota Medical Centre dan eksplor Baba Nyonya Heritage House.

Kami memilih berjalan melewati Melaka River yang berada di belakang penginapan. Walaupun jalan setapak di sekitar Melaka River masih tampak lengang, namun matahari sudah mulai menunjukan keperkasaannya.
Panasnya garang! *pasang topi ala-ala pantai*

Melaka River #1
Melaka River #1
Melaka River #2
Melaka River #2
Melaka River #3
Melaka River #3
Mural Area at Melaka River
Mural Area at Melaka River
Nice Mural!
Nice Mural!

Sesampainya kami di Dutch Square, harapan kami mendapatkan tempat ini tidak ramai dengan wisatawan hanyalah khayalan belaka. Para wisatawan sudah mulai ramai mengunjungi daerah ini. Bahkan beberapa bus pariwisata sudah mulai sibuk menurunkan penumpangnya di salah satu pinggir jalan Laksamana.

Dutch Square terdiri dari beberapa bangunan yang menjadi highlight tempat wisata Melaka yaitu Red Square/Stadthuys, Christ Church, Queen Victoria’s Fountain, dan Menara Jam Tan Beng Swee. Jadi wajar tempat ini penuh dengan kehadiran para wisatawan, termasuk kami!

The Stadthuys was built between 1641 and 1660 on the ruins of a fort which belongs to the Portuguese. It is believed that the Stadthuys is the oldest Dutch building in the East. This massive red building displays all the common features of the Dutch colonial architecture which includes substantial solid doors and louvered windows. Since its completion to 1980, the Stadthuys was used as the administrative center of successive governments for a period of 300 years. It was in 1982 when the Stadthuys was converted into a history museum which exhibits Malacca’s history starting from the great Malay Sultanate and the Portuguese, Dutch and British colonization till the present day. Beside the Stadthuys is also another fine example of the Dutch architecture which is the Christ Church that was built in 1753.

The Queen Victoria Fountain was built in 1901 by the British and is still standing as elegant as ever until this very day. Although more than a hundred years old, this fountain is still functioning well and is probably the only functioning colonial water fountains in Malaysia. Queen Victoria surpassed George III as the longest reigning monarch in the history of England and Scotland history on 23rd September 1896. The Queen requested at the time that any special celebrations are to be put on hold until 1897 in order to coincide with her Diamond Jubilee which was later made a festival of the British Empire. The fountain is a famous backdrop for visitors who come to Malacca as it is so near the Stadhuys and the Chirst Church. On the tip of the fountain says ‘Victoria Regina 1837-1901, erected by the people of Malacca in memory of a great Queen. The Queen Victoria Fountain is probably one of the last traces of the British colonial era in Malaysia and it symbolizes the glorious days of the British colonization in Malaysia in the yesteryears.

http://malacca.attractionsinmalaysia.com/The-Stadthuys.php
http://malacca.attractionsinmalaysia.com/Queen-Victoria-Fountain.php

Dutch Square #1
Dutch Square #1
Mulai ramai dengan wisatawan
Mulai ramai dengan wisatawan
Komplek wisatawan..???
Komplek wisatawan..???
Christ Church #1
Christ Church #1
Christ Church #2
Christ Church #2
Dutch Square #2
Dutch Square #2
Menara Jam Tan Beng Swee & Queen Victoria’s Fountain
Menara Jam Tan Beng Swee & Queen Victoria’s Fountain
- red -
– red –

Perjalanan kami teruskan menuju Porta De Santiago (A Famosa).

Tempat ini berlokasi agak sedikit memojok dari Jalan Kota. Yang tersisa dari Porta De Santiago (A Famosa) pun hanyalah tampak satu bangunan berbata merah. Kalau kami tidak memperhatikan peta dengan seksama, rasanya kami akan berjalan melewati bangunan Porta De Santiago (A Famosa).

Porta De Santiago (A Famosa) which translates to ‘The Famous’ in Portuguese is one of the few oldest surviving remnants of European architecture in the whole of Asia. It was built in 1511 under the command of Alfonso de Albuquerque. The fortress was built to consolidate their gains in Malacca after they defeated the armies of the Malacca Sultanate. At that time, the Portuguese believed that Malacca would someday become a vital port which links Portugal to the spice trade from China. The Porta De Santiago (A Famosa) that we see today was once made up of long ramparts and four major towers. One of the towers was a four-storey keep while the other housed the residence of the captain, officers’ quarters and an ammunition storage room. The fort changed hands in 1641 when the Dutch successfully drove the Portuguese out of Malacca. After the Dutch got their hands on the A Famosa, they placed their company logo, the ‘VOC’ coat of arms about the gates of Porta De Santiago (A Famosa). ‘VOC’ is the abbreviation of Verenigde Oostindische Compagnie.

Even today,if you look at the Porta de Santiago, you can still see the VOC coat of arms on the shield carried by the soldier on the right side of the logo. The Dutch then handed the fort over to the British in the early 19th century. The English, being wary of maintaining the fort gave orders to the British Governor of Pahang to demolish it. The fort was saved by Sir Stamford Raffles in 1810 as he stopped the demolishing and saved what we see today.

http://malacca.attractionsinmalaysia.com/Porte-De-Santiago.php

Porta De Santiago (A Famosa) #1
Porta De Santiago (A Famosa) #1
Porta De Santiago (A Famosa) #2
Porta De Santiago (A Famosa) #2
Porta De Santiago (A Famosa) #3
Porta De Santiago (A Famosa) #3

Usai mengeksplor Porta De Santiago (A Famosa), kami berjalan menuju Mahkota Medical Centre. Lokasi Mahkota Medical Centre tidak jauh dari lokasi penginapan kami. Mahkota Medical Centre berada dibelakang persis Hatten Hotel dan tidak jauh dari mall pernah yang kami datangi di satu hari sebelumnya yaitu Mahkota Mall.

Kami memasuki memasuki Mahkota Medical Centre dari bagian belakang gedung. Pintunya sendiri berada di salah satu sudut dan akan terlihat banyak orang-orang wara-wiri melewati pintu ini.

Begitu memasuki Mahkota Medical Centre, langsung terlihat loket penjualan tiket bus dan di bagian depan dari loket tampaklah Seven Eleven. Loket ini terdiri dari loket penjualan tiket bus dan pesawat. Untuk loket bus yang tersedia adalah bus Transnasional dan StarMart Express. Sayangnya saat itu tidak ada penjaga di loket Transnasional. Demi menghemat waktu, kami membeli tiket bus StarMart Express seharga RM 25 per orang.

Dengan estimasi perjalanan menuju KLIA akan memakan waktu 3 jam, kami berencana memesan bus keberangkatan pukul 16.00. Namun mbak-mbak penjaga konter dengan berwajah serius dan bersuara tegas mencoba meyakinkan kami agar menggunakan bus keberangkatan pukul 13.00. Alasannya lalu lintas di hari libur long weekend tidak dapat di prediksikan dan tanpa banyak perdebatan, kami mengikuti saran doi. Akhirnya, tiket pukul 13.00 sudah berpindah ke tangan kami.

Mahkota Medical Center
Mahkota Medical Center
Pintu masuk menuju Mahkota Medical Center
Pintu masuk menuju Mahkota Medical Center
Penampakan loket penjualan tiket setelah masuk ke Mahkota Medical Center
Penampakan loket penjualan tiket setelah masuk ke Mahkota Medical Center, sebelah kanan adalah Seven Eleven
Loket pembelian tiket
Loket pembelian tiket
Starmart Express schedule
Starmart Express schedule
Transnasional schedule
Transnasional schedule

Langkah selanjutnya menuju penginapan.
Sambil menyoba menyusun itinerary yang mulai berantakan, untuk menghibur hati yang mencoret Baba Nyonya Heritage House dari list itinerary, kami menyempatkan diri untuk mampir ke sisi lain Melaka River, tak jauh dari Melaka River Pirate Park di Jalan Merdeka.

Kincir Air Kesultanan Melayu Melaka
Kincir Air Kesultanan Melayu Melaka
Casa Del Rio #1
Casa Del Rio #1
Casa Del Rio #2
Casa Del Rio #2

Sesampainya di penginapan, mengingat koper sudah mulai menggembung, kami memesan taksi melalui resepsionis dengan tujuan Mahkota Medical Center.

Pukul 12 kurang, taksi yang dipesan sudah tiba.
Dengan tergopoh-gopoh kami segera check out dan menarik koper menuju taksi.

Uke yang duduk di depan bersebelahan dengan pak supir ikut mengawal rute perjalanan menuju Mahkota Medical Center. Gw yang mulai tepar, tak sengaja mulai tertidur tak sadarkan diri a.k.a ketiduran. 😀

Perjalanan menuju Mahkota Medical Center pun berkisah drama satu babak. Bapak supir yang sepanjang jalan sangat suka bercerita ini ternyata mengemudikan mobilnya menuju Melaka Sentral.

Ketika Uke menjelaskan bahwa kami meminta mengantarnya ke Mahkota Medical Center maka mulailah doi mengomel. Uke menjelaskan dari awal kami meminta taksi ke resepsionis dengan tujuan Mahkota Medical Center. Taksi akhirnya berbelok menuju Mahkota Medical Center dan di akhir perjalanan kami menambahkan 5 RM dari perjanjian awal tarif kami menjadi 25 RM.

Sesampainya di Mahkota Medical Center, kami mulai bergesa-gesa untuk membeli makan siang di salah satu cafeteria. Gak perlu mengunyah sebanyak 32 kali! Yang penting perut terisi… 😛

My lunch ; price 4.8 RM
My lunch ; price 4.8 RM
Shelter for StarMart Express Bus
Shelter for StarMart Express Bus

Pukul 12.55 kami segera menuju tempat pemberhentian bus yang berada di salah satu pojok area pedestrian Mahkota Medical Center.

Pukul 13.05 :
Belum ada penampakan bus.

Pukul 13.15 :
“ Busnya kok belum datang ya, Ke? Gw mau pipis. ” *mulai berdiri gelisah*

Pukul 13.30 :
G : Ke, ini kita gak ditinggal bus kan ya?
U : Kayaknya sih nggak.
G : Tadi kita sampai jam satu kurang kan?
U : Iya..
Gw dan Uke saling berusaha meyakinkan diri kalau kami tidak ditinggal atau tertinggal bus.

Pukul 13.35 :
Mbak penjaga loket menghampiri kami. Doi menginformasikan kalau bus terjebak macet dan meminta kami menunggu di dalam rumah sakit. Kami pun segera berhamburan menuju ke dalam. Cuaca Melaka mulai membara!

Pukul 14.10 :
Petugas loket : Bus sudah tiba at shelter!

Pukul 14.15 :
Bus yang kami nanti-nantikan pun tiba.
Tak lama setelah kami menyimpan koper dan naik ke bagian atas bus, bus double decker yang kami tumpangi segera berjalan meninggalkan Mahkota Medical Center.

Perjalanan menuju KLIA ditempuh dalam waktu 2 jam 50 menit. Begitu menjejakan kaki di KLIA, berhubung kami punya waktu 5 jam dan perut kami mulai bergemuruh, kami mampir ke salah satu tempat makan. Pilihan pun jatuh ke Nooodles. Harganya memang sedikit mahal, tapi rasa Penang Curry Noodle Soup yang gw pesen terasa nikmat. Laper atau nikmat, bu?!?!?! 😛

Usai makan, kami mulai beranjak mencari info lokasi loket check in. Berkali-kali kami mencoba mengecek, namun info yang tercantum menginformasikan bahwa loket check in untuk penerbangan kami masih tutup.

Kami akhirnya duduk di salah satu bangku panjang. Uke yang masih penasaran mulai berkeliling lagi. Hingga akhirnya Uke menginformasikan bahwa kami sepertinya harus self-check in.

Usai Self-check in, kami memasukan bagasi ke salah satu loket drop baggage di loket C dan melewati proses selanjutnya yaitu imigrasi.

Ketika matahari mulai terbenam, kami pun mulai menggalau menunggu kejelasan loket check in
Ketika matahari mulai terbenam, kami pun mulai menggalau menunggu kejelasan loket check in
Check in counter for MH
Check in counters
Proudly present : Self-check in!!!
Proudly present : Self-check in!!!
Yuks mare drop baggage!
Yuks mare drop baggage!
Nooodles : Tom Yam Special Soup 15.9 RM, Penang Curry Noodle Soup 15.9 RM & Ice Milo 6.8 RM
Nooodles : Tom Yam Special Soup 15.9 RM, Penang Curry Noodle Soup 15.9 RM & Ice Milo 6.8 RM

Setelah melewati imigrasi, dengan niat belanja yang tampaknya belum khatam-khatam (juga), kami menyusuri satu persatu area Duty Free.

Area perbelanjaan KLIA diluar ekspektasi yang gw harapkan.
Tidak ada yang menarik !!!

*muka bertanduk*

Uke yang berharap menemukan konter Laneige dan gw yang berharap menemukan konter Borjouis harus menelan ludah dan melipat kembali sisa-sisa ringgit ke dalam dompet.

Pilihan barang di Duty Free KLIA tidak terlalu banyak. Dominasi barang yang tersedia adalah cokelat, minuman beralkohol dan rokok. Di area yang berdekatan dengan boarding room pun tampak kosong. Tak hanya perbelanjaan, pilihan restoran juga terasa sangat sedikit.

Jadi jika kalian berharap bisa berbelanja barang dengan pilihan yang lebih beraneka ragam, maka gunakanlah penerbangan yang berada di KLIA2! Titik!

Maksud hati foto dengan fokus ke model pesawat, tapi malah lebih fokus ke papan informasinya
Maksud hati foto dengan fokus ke model pesawat, tapi malah lebih fokus ke papan informasinya
Saking mati gayanya, kami bolak-balik masuk ke Starbucks
Saking mati gayanya, kami bolak-balik masuk ke Starbucks
Starbucks mug & tumbler
Starbucks mug & tumbler
yu
Hmmmm….
Starbucks tumbler
Starbucks tumbler

Setelah lelah berkelana, kami akhirnya duduk melipir menemani Uke yang sedang makan. Tak lama berselang, masuklah SMS ke hp Uke.
Penerbangan kami di undur menjadi pukul 23.00!

OMG….!!!
Mati gayaaaaa inih, Pakciiiikkkk…..!!!!

Keheningan di sekitar boarding room
Keheningan di sekitar boarding room. Gak ada konter makanan atau belanjaan!!!
Kira-kira ini makanan Uke atau makanan gw yaaaa...???
Kira-kira ini makanan Uke atau bukan yaaaa…???
Dan kita masih penasaran dengan Duty Free dibalik kaca panjang... *copyright Ade*
Dan kita masih penasaran dengan Duty Free dibalik kaca panjang… Note : Lokasi di boarding room *copyright Ade*

Sambil menunggu detik-menit-jam menjadi pukul 23.00, kami berkeliling mencari stop kontak listrik. Kata salah satu petugas bandara, di dalam boarding room akan ada stop kontak. Kenyataannya baik di luar maupun di dalam boarding room, sangat susah menemukan stop kontak listrik. Gw hanya menemukan satu stop kontak listrik di dalam boarding room. Itu pun jatah stop kontak listrik milik salah satu papan iklan berlampu. 😀

Pukul 22.15 kami yang mulai mati kebosanan segera masuk ke boarding room. Ketika jam beranjak menuju 22.40, petugas Malaysia Airlines menginformasikan agar para penumpang dapat masuk ke dalam pesawat.

Sesuai dengan jadwal yang telah di ubah, tepat pukul 23.00 pesawat mulai bergerak mundur.

Tak lama lama berselang, pesawat lepas landas meninggalkan KLIA.

Uke dan Ade yang sudah duduk tenang memejamkan mata, menyisakan gw yang (masih) menatap gelapnya langit angkasa malam itu.

Jalja, Oppa…!
#ehhhh
#mulaihalusinasi

Entah ini makanan milik Uke atau Ade...
Entah ini makanan milik Uke atau Ade…
Bahkan melihatnya saja, gw mulai kehilangan selera
Bahkan melihatnya saja, gw mulai kehilangan selera makan
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s