[Malaysia] Day 2 : St. Paul’s Hill, Menara Taming Sari, Pahlawan Walk & Jonker Street

Melaka Map
Melaka Map

December 25th, 2015

Jam 6 pagi alarm hape sudah mulai meraung-raung di sebelah telinga gw.
Teriakan hati nurani : “Arrgghh…. Ini kan masih jam 5 waktu Jakarta!!!! “
*tarik selimut*

Dan…. akhirnya gw kebablasan tidur. *salahkan jendela kamar yang jauh dari tempat tidur* 😛
Gw terbangun ketika Uke sudah berdiri di samping sisi tempat tidur, berusaha membangungkan gw dan Ade.

Singkat cerita, pukul 10 pagi kami baru memulai rute perjalanan menyusuri Melaka.
*itinerary sukses terdepak*

Cuaca pagi hari itu sudah terasa panas.
Kami mulai berjalan menyusuri Lorong Hang Jebat.

Hanya berjarak beberapa rumah dari Wayfarer Guesthouse, kami melihat sebuah tempat makan yang menarik perhatian gw dengan tulisan ‘Bismillah’ di salah satu papan menu yang terpampang di pinggir jalan dan kami melipir masuk untuk menuntaskan niat breakfast brunch.

Nama tempat makan ini adalah Sayyid Antique. Kalau dilihat dari menunya, tempat ini menjual makanan khas Malaysia seperti nasi lemak, mee hoon soup dan laksa nyonya.

Sambil menunggu pesanan kami datang, gw mulai mengeksplor Sayyid Antique. Tempat makan ini mempunyai dekorasi jadul ala tahun ’70-80an. Kalau dilihat dari tata letak barangnya agak-agak mess up sih. Tapi berhubung semua barang disini adalah barang antik. Jadi sepertinya sah-sah saja dan mungkin bisa dikatakan agar terlihat artisitik.

Beberapa menit kemudian, makanan yang kami pesan datang.
Gw segera mencoba nasi lemak. Rasa nasi lemaknya cukup okeh seperti nasi lemak seperti biasanya. Namun yang bikin terasa enak adalah ikan teri asinnya.
Perpaduan antara nasi lemak dan ikan teri asin : Perfect!

Sedangkan Nyonya laksa yang dimakan oleh Uke terasa tasty. Gw lebih suka mengatakan kalau ini adalah makanan rumah banget! Semua bumbunya terasa pas bercampur di mulut. Kaya rasa. Love it!

Sayyid Antique
Sayyid Antique
Inside of Sayyid Antique
Inside of Sayyid Antique
Pasutri yang melayani pengunjng di Sayyid Antique
Pasutri yang melayani pengunjung di Sayyid Antique
Our brunch ; Nasi Lemak 4 RM, Laksa nyonya 5 RM & Tea tarik 1,5 RM
Our brunch ; Nasi Lemak 4 RM, Laksa nyonya 5 RM & Tea tarik 1,5 RM

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Kami sempat melewati salah satu museum yaitu Cheng Ho Cultural Museum. Uke menanyakan apakah mau mampir ke museum tersebut. Berhubung harus membayar tiket masuk RM 10 dan cuaca semakin membara, gw menolak ide Uke. Hehehe…
Maap ya, Ke! Mood eikeh dah mabur untuk masuk ke museum. 😀

Diperempatan jalan Hang Jebat, terdapat sebuah tempat makan minimalis sangat sederhana namun selalu dipenuhi dengan antrian panjang orang-orang. Dari pagi hingga siang hari, antriannya tidak pernah surut, selalu panjang bahkan memanjang hingga di halaman depan Hard Rock Café.

Tempat makan ini bernama Kedai Kopi Chung Wah yang terkenal dengan chicken rice ball-nya. Uke memasukan kedai ini ke dalam list tempat yang harus dikunjungi, namun sekali-dua kali-tiga kali kami melewati tempat ini. Gw semakin ragu kalau tempat ini menjual makanan yang halal. Tidak ada penampakan satu pun orang Melayu didalam Kedai Kopi Chung Wah. Membuat gw semakin tidak yakin kalau tempat ini menjual makanan halal.

Kedai Kopi Chung Wah
Kedai Kopi Chung Wah
Antrian Kedai Kopi Chung Wah tampak dekat
Antrian Kedai Kopi Chung Wah tampak dekat
Antrian di Kedai Kopi Chung Wah
Panjang yeee antriannya..

Kami pun berlalu meninggalkan perempatan Lorong Hang Jebat.

Baru saja sampai di ujung bundaran jalan Dutch Square, area disekitaran Dutch Square sudah tampak penuh dengan kerumunan wisatawan.

Hmmm…
Sepertinya kami salah strategi. Kami lupa kalau long weekend disini hampir sama long weekend di Bandung. Penuh dengan orang-orang!

Kami langsung memutuskan akan kembali ke tempat ini esok pagi dan beralih menuju St. Paul’s Hill.

Pagi nyaris menjelang siang, perjalanan menuju St. Paul’s Hill benar-benar mengerahkan tenaga lahir dan batin. Panasnya poooollll bener! Bisa hancur minah perawatan muka berbulan-bulan dalam satu hari sajah! Apalagi tetangga sebelah ada yang mau kewong, bisa-bisa ada complain pelanggan kalau balik-balik ke Jakarta mukanya gosong.

Sebelum menanjak menuju St. Paul’s Hill, kami menyempatkan diri membeli topi ala-ala pantai. Emang dasar ogah rugi, milihnya pun pakai lama. Murah tapi maksimal mencegah sinar UV mendarat di muka kami. 😉

Kami mulai berjalan menanjak menuju St. Paul’s Hill. Sesampainya di atas, bukit ini tetap dipenuhi orang-orang. *sigh*

The St Paul’s Church is the church ruins that sit on the top of the St Paul’s Hill. The hill was originally named as Malacca Hill. It was then changed to Monti Ali Maria or Mary’s Hill after the Portuguese took over the hill. The St Paul’s Church was originally a chapel and was known to the Portuguese in Malacca as the Chapel of Mother of God (Madre de Deus) or Our Lady of the Hill (Nossa Senhora do Oiteiro).

The St Paul’s Church was built by Duarte Coelho, a Portuguese Captain in 1521 AD. The church was formerly a chapel for the Portuguese and was named as ‘Nosa Senhora’ which means Our Lady of the Hill. Although what remains of the church are now only ruins, the strong and thick bricks are a reminder that this chapel used to be a magnificent piece of architecture at that time.

http://malacca.attractionsinmalaysia.com/St-Paul-Church.php

Dijual...Dijual... Topi anti sinar UV...
Dijual…Dijual… Topi anti sinar UV…
St. Paul’s Hill #1
St. Paul’s Hill #1
Disaat orang-orang mulai merapat mencari daerah teduh
Disaat orang-orang mulai merapat mencari ke-teduh-an
St. Paul’s Hill #2
St. Paul’s Hill #2
Inside of St. Paul’s Hill
Inside of St. Paul’s Hill
Ngejreng kan topi ala-ala pantainya..???
Ngejreng kan topi ala-ala pantainya..???
Three musketer
Three musketer
Uke..
Uke ,
Ade..
Ade ,
...and, me!
…and me!

Dari St. Paul’s Hill, gw menanyakan sebuah menara yang berputar-putar.
Kata Jeng Uke, itu Menara Taming Sari.

“ Deket kan ya, Ke? ”
“ Tinggal jalan memutar sepertinya, Vik. “
“ Kita melipir ngadem kesana aja yuk, Ke..! Panas banget!”
“ Sip! “

Yes, itu Menara Taming Sari, yang gak keliatan menaranya :D
Yes, itu Menara Taming Sari, yang gak keliatan menaranya 😀

From a height of 80 metres, the ride offers you a spectacular and panoramic view of Melaka UNESCO World Heritage City and a far with a host of interesting sights such as St.Paul’s Hill, Independence Memorial Building,Samudra Museum and the ship, Flor De La Mar, Dataran Pahlawan, Pulau Selat Mosque, Pulau Besar and the Straits of Melaka. That apart you will also see the fast and rapid development taking place in the state.
Take a ride and make your visit to historical Melaka, a truly joyous and memorable one.

Operational hour : 10.00 – 22.00
Admission fee : adult 20 RM ; children 10 RM (below 12 years old)
http://menaratamingsari.com/

Siang itu Menara Taming Sari penuh dengan turis-turis domestik dan mancanegara. Gw dan Ade bertugas membeli tiket sedangkan Uke kami persilahkan untuk mengantri.

Setelah membayar tiket seharga 20 RM/orang, kami mendapatkan sebuah struk dan 3 buah paket masing-masing berisi sebuah brownies dan air mineral. Lumayan buat jadi ganjelan sebelum makan siang.

Pukul 12.57, kami sudah duduk manis di dalam Menara Taming Sari yang bergerak menuju ke bagian teratas tiang, sambil berputar mengelilingi pusat tiang.

Waktu yang dibutuhkan dari bawah – ke puncak tiang – hingga kembali lagi ke bawah memakan waktu selama 5 menit. Terasa singkat namun yang dilihat juga tidak banyak karena pada dasarnya menara ini hanya setinggi 80 meter. So, luas pandang yang dilihat juga tidak terlalu maksimal.

Menara Taming Sari #1
Menara Taming Sari #1
Menara Taming Sari #2
Menara Taming Sari #2
Menara Taming Sari #3
Menara Taming Sari #3
Menara Taming Sari #4
Menara Taming Sari #4
View from Menara Taming Sari #1
View from Menara Taming Sari #1
View from Menara Taming Sari #2
View from Menara Taming Sari #2
View from Menara Taming Sari #3
View from Menara Taming Sari #3
View from Menara Taming Sari #4
View from Menara Taming Sari #4
View from Menara Taming Sari #5
View from Menara Taming Sari #5
Gelas-gelas kaca...
Gelas-gelas kaca…
Modus banget deh 2 cewek ajaib inih, sampai-sampai cowok disebelahnya ngerasa kalau di modusin..
Modus banget deh dua cewek cantik inih, sampai-sampai cowok disebelahnya ngerasa kalau sedang modusin..

Setelah keluar dari Menara Taming Sari, kami memutuskan untuk makan siang tak jauh dari Menara Taming Sari. Merujuk dari peta yang diberikan Mrs. Lian, kami melipir ke salah satu restoran Asam Pedas Selera Kampung.

Ketika akan memasuki restoran, kami sempat ragu-ragu. Dari tivi yang ada di dalam restoran, terlihat siaran live shalat Jumat. Semua pegawai pria tidak tampak didalam restoran. Didalam restoran pun terlihat agak berantakan dan penuh dengan orang-orang sibuk mencari tempat duduk kosong.

Berhubung rasanya tanggung sudah menunggu, kami pun masuk ke dalam restoran dan mulai hunting tempat duduk. Setelah mendapat tempat duduk, kami berkerja secara tim. Uke duduk menempati singgasana yang kami dapatkan dengan perjuangan dan kesabaran tingkat tinggi, gw dan Ade bertugas mengambil makanan.

Ketika kami mengantri, tiba-tiba restoran mendadak dipenuhi para pria yang sudah selesai menunaikan ibadah shalat. Peperangan selanjutnya sudah dimulai!

Gw mencoba mengambil makanan dan Ade yang bolak-balik mengoper makanan ke meja. Niatnya ingin mencoba menu andalan restoran ini yaitu asam pedas ikan. Namun karena sang koki berkata membutuhan waktu 10 menit untuk asam pedas ikan. Kami akhirnya mengambil makanan seadanya yang ada di meja prasmanan.

Untuk pembayarannya, nanti akan ada orang yang datang ke meja makan, menghitung harga makanan yang kita makan dan setelah itu akan diberikan secarik kertas coret-coretan. Jika sudah selesai makan, bawa coretan tersebut ke kasir dan bayarlah sesuai tagihan.

Restoran Asam Pedas Selera Kampung
Restoran Asam Pedas Selera Kampung
Inside of restaurant Asam Pedas Selera Kampung
Inside of restaurant Asam Pedas Selera Kampung
Our lunch (belum termasuk lauknya Uke) , price 36.5 RM
Total price our lunch 36.5 RM

Bersebelahan dengan restoran Asam Pedas Selera Kampung, terdapat suatu tempat perbelanjaan oleh-oleh bernama Pahlawan Walk. Setelah memasuki ke beberapa toko, cinderamata yang dijual disini cukup beraneka ragam. Fokus gw sebenarnya lebih tertuju kepada magnet. Magnet yang dijual disini lebih mempunyai banyak pilihan dibandingkan magnet yang dijual di Jonker Street.

Pahlawan Walk
Pahlawan Walk
Inside of Pahlawan Walk #1
Inside of Pahlawan Walk #1
Inside of Pahlawan Walk #2
Inside of Pahlawan Walk #2
Magnet @ 5 RM
3 Magnets for 10 RM

Berhubung kami sempat galau melanjutkan tujuan berikutnya, gw memutuskan kembali ke penginapan untuk shalat. Untungnya punya penginapan yang strategis dari tempat wisata yaitu kami mudah bolak-balik meletakan barang belanjaan dan shalat. Namun sisi negatifnya, agak-agak wasting time.

Didalam perjalanan menuju penginapan, kami menyempatkan diri membeli coconut shake yang berada di perempatan jalan Lorong Hang Jebat. Tak juga lupa singgah ke San Shu Gong, sebuah pusat oleh-oleh makanan khas Melaka. Tempat ini didominasi oleh hal-hal yang berbau durian (termasuk cendol duriannya yang sangat ramai dibeli!), selai kaya, asinan buah, dll. Namun lagi-lagi, ketika kami masuk tempat ini, hanya gw berdua Uke yang memakai jilbab, membuat gw menahan diri untuk membeli oleh-oleh di tempat ini.

Jonker Walk
Jonker Walk
Ramai yah..?
Ramai yah..?
minum coconut shake di siang bolong ituh godaan banget :D
minum coconut shake di siang bolong ituh godaan banget 😀 ; price 4 RM
San Shu Gong, pusat oleh-oleh makanan khas Melaka
Bangunan bertingkat dan bercat merah adalah San Shu Gong, pusat oleh-oleh makanan khas Melaka

Setelah ishoma di penginapan, kami mampir ke The Orang Utan House untuk ketiga kalinya! 😀

Toko ini menjual t-shirt dan lukisan karya Charles Cham. Desainnya sendiri cukup menarik dan mencuri perhatian. Uke yang sudah membeli t-shirt di pagi hari, Ade membeli beberapa kaos dan gw membeli 2 t-shirt titipan Didit seharga @39 RM cukup membuat kami dikenal oleh pegawai yang melayani kami.

The Orang Utan House
The Orang Utan House
T-shirt The Orang Utan House ; Price 39 RM
T-shirt The Orang Utan House ; Price 39 RM
T-shirt The Orang Utan House ; Price 39 RM
T-shirt The Orang Utan House ; Price 39 RM

Dari pegawai Orang Utan House, kami diinformasikan kalau Starbucks berada di mall yang tak jauh dari St. Paul Hill dan Famosa yaitu Dataran Pahlawan Melaka Megamall. Demi menuntaskan rasa penasaran kami mencari tumbler starbucks, kami akhirnya singgah ke mall tersebut.

Setelah misi sukses mendapatkan tumbler, kami menyebrangi mall diseberangnya yaitu Mahkota Parade untuk menyambangi Giant. Niat banget kami ke mall ini demi lontong instan titipan Ibunda-nya Uke plus hunting snack khas Malaysia.

Setelah selesai dengan list belanjaan kami masing-masing, kami beranjak menuju kasir. Sebelum membayar, kami langsung di informasikan oleh mbak kasir bahwa mereka tidak memberikan kantung plastik, namun hanya kardus!

*gulp*
*menatap barang belanjaan*
*pasang muka nelangsa*

Dengan berat hati kami tetap melanjutkan pembayaran dan mulai sibuk mengatur barang belanjaan didalam kardus. Lumayan deh jalan kaki dari mall sampai ke penginapan dengan menenteng kardus. Berasa mau mudik! 😀

Masalah lainnya adalah kami tidak diberi tali rafia (mungkin karena tali rafia termasuk kedalam kategori plastik kali yeeee), jadi kami harus membawa kardus terbuka dengan posisi kardus berada di depan badan dan ini sangat tidak okeh untuk postur tubuh dan penampilan (tentunya)!

Ade dengan kesibukannya menata barang belanjaan
Ade dengan kesibukan barunya : menata barang belanjaan
Melaka tumbler , price 55 RM
Melaka tumbler , price 55 RM
Depan, kiri ke kanan : Adabi ketupat nasi 6.99 RM, Juies Butter Crackers 2.05 RM Belakang, kiri-kanan : Julies Hershey's 8.85 RM, ChekHup Teh tarik 13.99 RM, Milo 3 in 1 10.99 RM, Nescafe white 11.99 RM
Depan, kiri ke kanan : Adabi ketupat nasi 6.99 RM, Julies Butter Crackers 2.05 RM
Belakang, kiri-kanan : Julies Hershey’s 8.85 RM, ChekHup Teh tarik 13.99 RM, Milo 3in1 10.99 RM, Nescafe white coffee 11.99 RM

Next destination : Jonker Street

Jonker street adalah pasar malamnya Melaka.
Pada pagi dan siang hari, jalanan ini dilalui oleh kendaraan. Namun pada malam hari, Jonker street menjadi area bebas kendaraan dan dipenuhi dengan lapak-lapak pedagang, dari baju, makanan, cinderamata, barang elektronik, mainan hingga peralatan rumah tangga.

Jonker street ini hanya berlangsung akhir pekan yaitu Jumat dan Sabtu malam. Jadi pastikan kalian mampir ke Jonker Street jika ingin mencoba keramaian pasar malam di Melaka.

Malam itu, Jonker street terasa sangat padat dengan lautan manusia. Mau ngangkat kamera ajah sampai mikir beberapa kali. Apa yang mau gw foto ketika melangkahkan kaki pun terasa sangat sulit.

Jonker street #1
Jonker street #1
Jonker street #2
Jonker street #2
Jonker street #3
Jonker street #3
3 wood magnets for 10 RM
3 wood magnets for 10 RM

Tantang sulit selanjutnya di Jonker Street adalah mencari makanan halal!

Kami berjalan sampai ujung jalan, namun tidak ada penampakan makanan yang bisa kami makan. Hingga akhirnya ketika gw mampir ke tandas awam, gw menanyakan tempat makan yang halal ke salah satu petugas. Gw diarahkan berjalan menuju kumpulan tenda kaki lima yang berlokasi di belakang makam Hang Kasturi. Jika dari arah Dutch Square, lokasi makam Hang Kasturi ini berada di sebelah kanan jalan.

Inilah Makam Hang Kasturi. Posisinya berada di balik makam ini.
Inilah Makam Hang Kasturi. Posisinya berada di balik makam ini.
Tenda biru..?
Di lokasi ini hanya ada beberapa tenda yang menjual makanan halal
Nasi lemak , price 5 RM
Nasi lemak , price 5 RM

Malam pun semakin larut.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.

Dengan rela hati, kami melepas Melaka River Cruise dari agenda perjalanan. Malam semakin larut dan kami masih punya tugas selanjutnya yaitu packing. Jadi rasanya tak mungkin kami memaksakan diri untuk menaiki Melaka River Cruise malam itu juga.

Sambil berjalan berputar menuju penginapan, kami mulai menyusuri sungai. Melaka mulai tampak sepi dari keramaian orang, hanya beberapa café di sekitar pinggir sungai yang masih ramai dengan gelak tawa.

Good night, Melaka!

Masih sibuk pepotoan di jam 10 malam :D
Masih sibuk pepotoan di jam 10 malam 😀
Melaka river #1
Melaka river #1
Melaka river #2
Melaka river #2
Melaka river #3
Melaka river #3
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s