[Korea] 2015 – Day 3 : Haneul Park, Itaewon, Hongdae & Seoul City Tour Bus

October 11th, 2015

Pagi ini kami bangun dengan wajah segar dan berseri-seri. Walaupun semalam gw sempat beberapa kali terbangun karena ternyata Ahjumma #1 sudah grasak-grusuk bangun pada pukul 3 pagi dan mulai sibuk dengan hp-nya. *tarik selimut (lagi) sampai kepala*

Selesai sarapan dan urusan perkamar mandian, kami mulai mengarungi kota Seoul di hari ketiga.

Tujuan pertama : Haneul Park.

Gw sedikit exciting karena Haneul Park merupakan tempat yang belum pernah gw kunjungi di trip sebelumnya. Expectation gw tentang Haneul Park cukup tinggi. Semoga saja tempat ini seindah dengan bayangan gw.

Memasukan Haneul Park ke dalam itinerary baru gw lakukan di minggu-minggu terakhir keberangkatan. Awalnya jadwal di hari Minggu masih kosong tak bertuan karena gw sedikit galau menyiasati mencari tempat yang tidak penuh orang di hari weekend.

Ketika gw membuka Visit Korea, keluarlah headline beberapa tempat yang harus dikunjungi dimusim gugur. Salah satunya adalah Seoul Eulalia Festival dimana festival ini berlangsung di salah satu taman di World Cup Park.

World Cup Park terdiri dari 5 taman, yaitu Haneul Park​, Pyeonghwa (Peace) Park, Noeul (Sunset) Park, Nanjicheon Park, dan Nanji Hangang Park. Kata haneul memiliki arti ‘langit,’ yang menunjukkan bahwa taman ini berada di daerah yang tinggi.

Pada awalnya Nanjido digunakan sebagai lokasi TPA dari tahun 1978 hingga tahun 1993. Pada tahun 1996 dilakukan proses pemulihan dari lahan tandus menjadi lahan yang subur dimana pada bulan Oktober tempat ini akan penuh dengan tanaman Eulalia.

Di Haneul Park, pengunjung dapat melihat pemandangan kota Seoul dengan pemandangan gunung Bukhansan di sebelah utara, gunung Namsan dan 63 Building di sebelah timur, Sungai Han di selatan serta benteng Haengjusanseon di sebelah barat.

Ketika gw melihat dari beberapa sumber, pemandangan di Haneul Park terlihat sangat cantik. Namun sepertinya petunjuk arah menuju Haneul Park agak-agak menyesatkan.

Dari stasiun Myeongdong kami naik subway, transit di stasiun Samgakji, melanjutkan perjalanan menuju stasiun World Cup Stadium (line 6) dan keluar di pintu exit 1.

Begitu kami keluar di pintu exit 1, kami mulai kebingungan arah.

Petunjuk yang tertulis : Berjalan 13 menit. Setelah tiba di Haneul Park, seberangi jembatan dan ambil jalan ke kiri di depan tangga. Lurus dan akan menemukan Jalan Pohon Redwood.

Hmmm…
Petunjuk yang tertulis kok tidak sesuai dengan lapangan ya.
Bahkan tidak ada satupun petunjuk untuk menuju Haneul Park.

Kami mulai mengikuti keramaian orang berjalan. Tapi ketika kami bertemu jalan besar, kami tidak yakin dengan jalan yang akan kami tempuh sehingga kami harus berputar kembali. Bertanya kepada beberapa orang, petunjuk yang diberikan mereka minimalis sekali.

Berdasarkan petunjuk yang tertulis di website, kami harus menyebrangi jembatan.

Jembatannya sih terlihat, permasalahan selanjutnya : itu jembatan yang dimaksud atau bukan..?

Baiklah, kita sotoy ajah ya.
Kami mulai berjalan memutar mencari jalan terdekat untuk dapat melintas di atas jembatan.

Singkat cerita….

Kami berhasil menemukan jalan yang dapat melintasi jembatan. Jembatan ini bersisian dengan Seoul World Cup Stadium dan dari jembatan inilah kami melihat penampakan 290 anak tangga yang harus dilewati untuk menuju Haneul Park.

Okeh, berarti kami tidak salah jalan!

Tapi kok jauh banget ya…. 😀
*mulai kunang-kunang*

Dari jembatan ini kami mulai menuruni anak tangga, berjalan menuju arah kanan sambil mengira-ngira dimana letak ujung 290 anak tangga ini berada. Hingga tampaklah jembatan biru yang akan mengantarkan kami tiba (persis) di ujung bawah dari 290 anak tangga.

Sebagai bahan pertimbangan, waktu yang kami tempuh berjalan kaki dari kami keluar pintu exit subway hingga tiba di ujung bawah 290 anak tangga adalah 35 menit. Ini sudah termasuk dua kali kami (harus) jalan berputar kembali, jalan kaki mulai melambat karena sibuk foto-foto serta jarak (sebenarnya) yang lumayan jauh.

Dari ujung bawah 290 anak tangga, gw menatap nanar ke atas. Apalagi dua ahjumma di sebelah gw..

*keluh*
*tarik nafas panjang*
*minum air putih sebanyak-banyaknya*

Apakah kami akan menjajal anak tangga ????

Ohhhh, tentu tidak….!!!!

Kami akan menaiki mobil untuk menuju Haneul Park dengan harga tiket pergi-pulang sebesar 3.000 KRW. Posisi tempat pembelian tiket dan halte mobil berada di sebelah kanan dari ujung 290 anak tangga.

Selesai membeli tiket, kami mengikuti antrian untuk menaiki mobil dan gw sukses duduk di sebelah pak sopir (yang sedang berkerja). 😉

Ternyata Ahjussi yang super ramah ini bisa berbahasa inggris. Beliau menjelaskan secara singkat bahwa Haneul Park penuh dengan katak. Terlihat dengan banyaknya gambar katak yang dipajang di kanan kiri jalan.

Perjalanan kurang lebih 10 menit tak terasa karena gw sibuk berbicara dengan Ahjussi.

Peta menuju Haneul Park. Tanda panah bergaris tipis adalah jalur yang kami gunakan, sedangkan tanda panah yang bergaris tebal merupakan jalur yang gw rekomendasikan untuk berjalan kaki. *courtesy Google Maps*
Peta menuju Haneul Park. Tanda panah bergaris tipis adalah jalur yang kami gunakan, sedangkan tanda panah yang bergaris tebal merupakan jalur yang gw rekomendasikan untuk berjalan kaki. Lambang mobil merupakan tempat konter tiket mobil dan halte menuju Haneul Park *courtesy Google Maps*
Posisi kami berada di lantai 2 dan sisi kanan jalan adalah Seoul World Cup Stadium
Posisi kami berada di lantai 2 dan sisi kanan jalan adalah Seoul World Cup Stadium
Jalanlah mengikuti tanda panah
Jalanlah mengikuti tanda panah
Akan tampak tulisan Seoul World Cup Stadium.
Akan tampak tulisan Seoul World Cup Stadium di sisi sebelah kanan
Turuni tangga ini menuju arah parkiran. Dari kejauhan sudah tampak jejeran 290 anak tangga untuk menuju Haneul Park
Turuni tangga ini menuju arah parkiran. Dari kejauhan sudah tampak jejeran 290 anak tangga untuk menuju Haneul Park
Susuri jalan hingga bertemu dengan jembatan berwarna biru
Susuri jalan hingga bertemu dengan jembatan berwarna biru
Lewati jembatan biru ini
Lewati jembatan biru ini
Yup, ini adalah 290 anak tangga untuk menuju Haneul Park. Siapa berani menaikinya...??? Fyi, tempat pembelian tiket mobil berada di sebelah kanan dari tangga (dengan posisi sedang menghadap tangga)
Yup, ini adalah 290 anak tangga untuk menuju Haneul Park. Siapa berani menaikinya…??? Fyi, tempat pembelian tiket mobil berada di sebelah kanan dari ujung anak tangga (dengan posisi kami yang sedang menghadap anak tangga)
Halte
Halte
Counter ticket
Counter ticket

Atauuuuu kalian bisa menggunakan jalan tercepat termudah dengan menggunakan jalur seperti ini…

Setelah keluar dari pintu exit stasiun, susuri jalan sesuai dengan tanda panah
Setelah keluar dari pintu exit 1 dari stasiun World Cup Stadium, susuri jalan sesuai dengan tanda panah
Susuri jalan ini, Seoul World Cup Stadium berada disebelah kanan
Susuri jalan ini, Seoul World Cup Stadium berada di sisi sebelah kanan
Ikuti jalan yang diberi tanda panah
Ikuti jalan yang diberi tanda panah. Setelah bertemu jalan besar, beloklah ke arah kanan
Jalanlah menuju jalur pedestrian dibawah flyover
Jalanlah menuju jalur pedestrian dibawah flyover
Lewati jalan dibawah flyover
Lewati jalan dibawah flyover
Susuri jalan ini
Susuri jalan ini
Akan tampak tulisan ini di sebelah kiri jalan pada perempatan lampu merah besar
Akan tampak tulisan ini di sebelah kiri jalan pada perempatan lampu merah besar
Seberangi lampu merah perempatan besar dan berbeloklah ke arah kiri
Seberangi lampu merah perempatan besar dan berbeloklah ke arah kiri menuju tempat yang penuh dengan rimbunan pepohonan hingga nanti akan bertemu dengan konter tiket dan halte mobil Haneul Park berada di sisi kanan jalan

Kami mulai berjalan perlahan memasuki area Haneul Park dan sepanjang mata memandang terlihatlah hamparan tanaman Eulalia.

Apa sih tanaman eulalia ituh…???
Eulalia Plant itu adalah alang-alang, Sodara-sodara! 😉

Whaaaattt…????

Alang-alang…???

“ Ngapain jauh-jauh ke Korea yang diliat cuma alang-alang, di belakang rumah gw juga banyak tuh alang-alang! “, kalian pasti akan berkomentar hal yang sama dengan ribuan puluhan komentar atas hasil foto yang gw uplod di social media.

Ya gak papa sih.
Gw kan juga mau liat alang-alang versi Korea.. 😀

Daripada gw jauh-jauh ke negara orang cuma untuk melihat buaya buntung di kasih makan. Kikikik… #kode ke tetangga ujung#

Bentuk tanaman eulalia kurang lebih sama seperti di Indonesia, namun disini mereka dirawat dan diatur dengan sangat baik di sebuah lahan yang luas, bahkan dijadikan sebagai salah satu tempat wisata. Bagaimana cara pemerintahnya menjadikan Haneul Park sebagai objek wisata itulah yang harus diacungkan jempol.

Menimbang perjuangan kami berjalan kaki hingga tiba di Haneul Park cukup membuat betis berkonde, gw sangat menyukai pemandangan di Haneul Park. Beberapa foto terbaik yang gw jepret selama di Seoul berada di Haneul Park. Selain viewnya keceh, gw suka sekali dengan suasana alami Haneul Park terutama ketika alang-alang bergerak melambai mengikuti desiran angin, beeehhh…. romantis bingid deh suasanyanya!

Tips : Waktu terbaik mengambil foto di Haneul Park ketika waktu senja.

Welcome to Haneul Park
Welcome to Haneul Park
Eulalia plant alias alang-alang versi Korea
Eulalia plant alias alang-alang versi Korea
Haneul Park #1
Haneul Park #1
Haneul Park #2
Haneul Park #2
Haneul Park #3
Haneul Park #3
Haneul Park #4
Haneul Park #4
Haneul Park #5
Haneul Park #5
Haneul Park #6
Haneul Park #6
Viewing point
Viewing point
Haneul Park #8
Haneul Park #7
Haneul Park #9
Haneul Park #8
Haneul Park #7
Haneul Park #9
Haneul Park #10
Haneul Park #10
Haneul Park #11
Haneul Park #11
Haneul Park #11
Wind turbin at Haneul Park
Peacefull
Peacefull
Flowers at Haneul Park
Flowers at Haneul Park
Ketika bunga ini ditiup angin, lambaian gerakannya sangat enak untuk dipandang
Pink – Red – White
Colourful
Colourful
Ceritanya para ahjumma request foto tampak belakang
Ceritanya para ahjumma request foto tampak belakang
Yes, narsis dulu!
Yes, kami narsis dulu! *copyright of Ahjumma #2*
Tebak wahaj...??!! yang manakah Ahjumma #1 dan Ahjumma #2 ?
Kegilaan kami 😀

Oya, salah satu fotografer terkenal Diera Bachir sempat menguplod fotonya ketika doi berada di Haneul Park dan hasilnya keceh badai!!!

Laaaaaah…
Ya iya, doi kan fotografer PRO-fesional sedangkan gw cuma tukang poto abal-abal.

Ternyata ada perbedaan yang cukup signifikan setelah melihat hasil jepretan Diera Bachir. Tanaman eulalia di awal Oktober batangnya masih tampak menghijau sedangkan di bulan November tanaman ini sudah berwarna coklat secara keseluruhan dan mulai tampak mengering.

Jadi, jika ingin mendapat hasil foto keceh seperti Diera Bachir, selain (harus) mempunyai skill berfoto seperti doi, maka datanglah ke Haneul Park di bulan November ya!

IMG_2455
Keceh banged kan…?!?!?!?! Gw mah apa dah tuh. Hanya setitik debu… *copyright of IG Diera bachir*

Lelah berkelana di Haneul park, kami akan berpindah menuju Itaewon. Dari stasiun World Cup Stadium kami menaiki subway langsung menuju stasiun Itaewon.

Itaewon ini merupakan salah satu daerah yang multi ras, multi culture dan multi agama. Salah satu highlight di daerah ini adalah adanya Seoul Central Masjid serta banyaknya restoran yang menjual makanan halal.

Walaupun jejeran restoran ini menjanjikan makanan yang mereka sajikan halal (sesuai dengan tulisan halal yang berada di papan nama restoran mereka), restoran yang mempunyai sertifikat halal secara resmi di Korea dapat dihitung dengan jari.

Saat ini, satu-satunya restoran yang mempunyai sertifikat resmi halal di daerah Itaewon hanyalah Eid Korean Restaurant.

Restoran yang beralamat di 67, Usadan-ro 10gil, Yongsan-gu, Seoul (서울 특별시 용산구 우사단로 10 67) mempunyai jam operasional 11.30 – 21.00 dan tutup di hari Senin tutup. Websitenya bisa cek di sini.

Untuk melebarkan ekspansinya, restoran Eid membuka guesthouse pertama di Seoul yang bermotokan muslim friendly guesthouse. Yang membuat berbeda dengan guesthouse lainnya adalah Eid Muslim Friendly Guesthouse mempunyai fasilitas prayer room. Untuk pemesanannya bisa cek di website ini atau bisa langsung konfirm ke CEO langsung yaitu Saad di nomor +82 10 2995 8281.

Cara menuju Eid :

  • Dari stasiun Itaewon, keluar pintu exit 3.
  • Berjalanlah lurus, hingga bertemu dengan perempatan lampu merah pertama (di pojok kanan jalan terdapat toko Mr. Kebab) dan beloklah ke arah kanan.
  • Berjalan lurus kembali hingga berbelok ke arah kiri pada belokan ketiga
  • Jalan lurus hingga mentok (disebelah kiri akan tampak gerbang atau gapura Seoul Central Masjid) dan berbeloklah ke arah kanan.
  • Berjalanlah lurus kembali, hingga bertemu restoran Eid yang berada di sebelah kiri jalan.
Peta menuju Eid Restaurant. Gambar rumah merupakan Seoul Central Mesjid
Peta menuju Eid Restaurant. Gambar rumah merupakan Seoul Central Mesjid
Keluar dari pintu exit 3 stasiun Itaewon akan tampak peta ini disebelah kiri
Keluar dari pintu exit 3 dari stasiun Itaewon akan tampak peta ini disebelah kiri
Salah satu suasana di sebelah kiri jalan dari pintu exit 3 stasiun Itaewon
Salah satu suasana di sebelah kiri jalan dari pintu exit 3 stasiun Itaewon
Berjalanlah lurus
Berjalanlah lurus
Disebelah kanan akan tampak Muree yang menyajikan makana Korea halal
Disebelah kanan akan tampak restoran Muree yang menyajikan makanan Korea
Mari kita menanjak...
Mari kita menanjak…

Sebelum menuju Eid, kami janjian bertemu dengan salah satu warga negara Korea yang merupakan kenalan teman di Jakarta. Selanjutnya mari kita panggil pria Korea ini dengan inisial Mr. X ya! 😉 *pasang muka sok misterius*

Sebelumnya Mr. X ini sudah mempunyai bocoran bahwa gw hanya memakan makanan halal sehingga dengan kesigapannya doi berinisiatif berjalan lebih dulu (dan lebih cepat) untuk mencari dan menunjukan arah menuju Seoul Central Masjid.

Niatnya baik banget.
Tapi ternyata para ahjumma keteteran mengikuti ritme jalan Mr. X yang cukup cepat.

Gw pun mengikuti Mr. X dari belakang sambil sesekali menengok kebelakang dan menunggu para ahjumma yang mulai ngos-ngosan menyusuri jalan mendaki.

Gw akhirnya dapat bernafas lega setelah menemukan restoran dengan cat warna merah bertuliskan Eid.

Setibanya di restoran Eid, kami duduk di tempat duduk yang tersisa. Luas restoran ini terbilang kecil, hanya dapat menampung kursi untuk 18 orang namun desain restoran terasa sangat hangat dan nyaman.

Restoran Eid mempunyai dua menu andalan yaitu bulgogi dan samgyetang. Kami pun memesan dua menu andalan tesebut ditambah dengan jajangbap.

Berhubung gw tidak mencoba makanan Mr. X, mari kita bahas dua menu makanan yang gw dan ahjumma pesan yaitu samgyetang dan bulgogi.

Rasa samgyetang sama seperti sop ayam tanpa kehadiran wortel, kentang, buncis ataupun kubis…! Murni ayam tok! 😀

Kalau sedang kelaparan, porsi samgyetang bisa dijadikan rekomendasi karena porsinya besar sekali, sodara-sodara!
Walaupun kata mbak-mbaknya satu mangkuk Samgyetang adalah porsi satu orang namun kehadiran satu ekor ayam utuh yang berada di mangkok cukup membuat gw jiper melihatnya dan gw mulai sibuk membagikannya kepada para ahjumma. 🙂

Untuk rasanya, menurut lidah gw yang terbiasa dengan masakan Momsky dengan segala hiruk pikuk bumbu rempah-rempahnya, rasa kaldu di samgyetang lewaaaattt….!
Kaldu samgyetang yang gw rasakan tidak terlalu gurih namun tidak juga hambar. Kalau kata ahjummas seperti sop orang sakit. 😀

Namun untuk ukuran kaldu yang tidak menggunakan penyedap rasa, samgyetang tetap terasa enak. Gw masih menyukai rasanya. Dagingnya sendiri terasa lembut dan tidak alot. Dari point 1 – 10, gw memberikan angka 8.3 untuk samgyetang. Still recommended!

Untuk menu bulgogi yang dicoba oleh para ahjumma, rasanya sama seperti beef teriyaki. Manis…! Dan ketika gw tanya ke ahjumma, jawaban mereka sama dengan pendapat gw. Bedanya daging bulgogi Korea terasa lembut.

Salah satu dua yang menjadi perhatian kami ketika menikmati menu makanan Eid adalah gw dan Ahjumma #2 sangat menyukai salad. Salad yang disajikan sebagai side dish bersamaan dengan kimchi dan ikan teri.

Bumbu saladnya hanya diberikan saus kacang. Saus kacangnya sendiri terbilang cair, tidak kental seperti bumbu kacang gado-gado. Namun rasa gurih didalam bumbu kacang ini terasa sangat berbeda, unik dan yang pasti enyyaaaak. *finger licking*

Yang kedua adalah teh.
Sang Bapak menyajikan teh ini sebagai minuman penutup. Beliau menginformasikan bahwa special drink yang disajikannya bernama omija tea (오미자) terbuat dari buah omija dan homemade by Eid. Rasanya unik, perpaduan sensasi antara rasa asam dan manis. It’s perfect! *elus-elus perut buncit*

Selama kami menikmati makan, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan Mr. X. Topiknya pun random sekali. Dari rencana perjalanan kami selama seminggu, tentang kehidupan kami di Jakarta hingga Mr. X memanggil salah satu ahjumma dengan sebutan ‘rich people’, rasa penasarannya kenapa kami tertarik datang ke negaranya, kehidupan sehari-hari Mr. X sebagai masyarakat Seoul hingga pertanyaan gak penting kami yaitu krim tangan apa yang digunakannya hingga tangannya terasa lembut (sekali)… #kepoooooooooo

Setelah satu jam kami berada di Eid, kami meminta Ahjumma #1 untuk membayar di kasir. Yang selanjutnya transaksi ini menjadi bahan penyesalan antara gw dan Ahjumma #2 di beberapa hari selanjutnya.

Kami lupa kalau ada CEO Mr. Saad yang ganteng nan rupawan ituh (dan kalau kata Ahjumma #2 body-nya okeeeeh, Bu!) sedang sibuk di area dapur dan sekitarnya. Doi yang multitasking dan double job sebagai CEO dan chef, mengajukan diri untuk memfoto kami serta menyempatkan diri untuk menyapa kami. Bahkan Ahjumma #1 sempat berbincang-bincang dengannya ketika membayar tagihan.

*kesal*
*mendengus*
*ngetok-ngetok pensil ke meja*

Berapa harga makanan di Eid?

Berhubung gw tidak sempat memfoto menu di Eid, gw akan memberikan estimasi harga makanan yang kami makan. Untuk tiga buah menu makanan bulgogi, samgyetang, jajangbap dan dua porsi nasi, kami membayar 30.000 KRW sehingga kira-kira harga per menu berkisar di 8.000 – 12.000 KRW.

Eid restaurant
Eid restaurant – Salahkan mobilnya yang menghalangi pintu restoran
Inside of Eid restaurant
Inside of Eid restaurant ; Mr. Saad lagi sibuk di dapur tuh 😉
Jajangbap
Jajangbap
Bibimbap
Bibimbap
Samgyetang
Samgyetang
Omija Tea - Love it!!!!
Omija Tea – Love it!!!!
With Mr.
Take a picture with Mr.X. Hmmm…yang fotoin kami adalah Mr. Saad loh 😉 *copyright of Ahjumma #2*

Dari Eid, gw menyempatkan diri singgah untuk shalat di Seoul Central Masjid. Seoul Central Masjid adalah masjid Islam pertama di Korea. Pembangunan masjid dimulai pada bulan Oktober 1974 diatas sebidang tanah yang disumbangkan oleh pemerintah Korea dan resmi dibuka pada tanggal 21 Mei 1976.

Lantai pertama mesjid merupakan ruang pertemuan dan kantor Federasi Muslim Korea, di lantai kedua adalah tempat shalat pria dan lantai ketiga adalah tempat shalat perempuan. Untuk informasi selanjutnya bisa cek di sini.

Walaupun design didalam Seoul Central Masjid tidak mewah, namun aura ketenangan dan kedamaian di dalam masjid ini terasa sangat kental. Subhanallah.

Gate of Seoul Central Mesjid
Gate of Seoul Central Mesjid
Seoul Central Mesjid
Seoul Central Mesjid
Inside of Seoul Central Mesjid
Inside of Seoul Central Mesjid

Next : Hongdae.

Dikarenakan kami mengikuti jejak Mr. X, gw tidak ingat jalur subway yang kami naiki hingga akhirnya kami sudah tiba di stasiun Hongik.

Hongdae dikenal sebagai lingkungan khusus untuk anak muda Seoul. Jejeran café-cafe, galeri, toko aksesori, toko fashion, live club, pasar seni, dan restoran membuat Hongdae populer sebagai tempat hang-out ataupun sekedar cuci mata.

Setiap hari Minggu pukul 13.00-18.00 terdapat free market di mana para seniman berkumpul untuk menampilkan dan menjual kerajinan dan aksesoris buatan tangan mereka. Free market berlokasi di Hongik Children’s Park.

Tidak lama setelah kami menjejakan kaki di Hongdae, hujan turun dengan intensitas sedang. Oleh karena itu, tidak banyak hasil jepretan foto yang gw bisa gw berikan karena kamera tersimpan manis didalam tas.

Setelah hujan berhenti, kami menyusuri kembali Hongdae. Tidak ada jalur spesifik yang harus kami lalui. Kami hanya berputar-putar tak tentu arah menikmati ‘kehidupan’ Hongdae.

Semakin sore suasana di Hongdae terasa semakin ramai dan meriah. Banyaknya pedagang makanan snack khas korea, toko-toko baju khas Korea serta fashion style kaum muda Seoul membuat daerah ini semakin menarik untuk dikunjungi.

Beberapa kali kami sengaja berhenti dan melihat beberapa street performance. Beraneka ragamnya street performance yang ada di Hongdae baik itu group dance, sulap ataupun bernyanyi selalu dipadati penonton.

Hongdae #1
Hongdae #1
Hongdae #2
Hongdae #2
Hongdae #3 ; Dibelakang ini adalah lokasi di Hongik Children Park. sayangnya ketika kami datang sudah tampak sepi.
Hongdae #3 ; Ini adalah lokasi Free Market di Hongik Children Park. sayangnya ketika kami datang sudah tampak sepi.
Snack ala Korea
Snack ala Korea
Korean Pan Cake
Korean Pan Cake
Ice cream , price 3.000 KRW. Rasanya seperti es krim di pinggir jalan yang cepat meleleh :D
Fish ice cream , price 3.000 KRW. Rasanya seperti es krim di pinggir jalan yang cepat meleleh 😀
Magician
Magician
The dancer
The dancer
Ditengah perjalanan kami bertemu dengan keramaian orang yang sedang mempromosikan suatu film atau drama, Ahjumma #2 bilang "Kita foto aja dulu, siapa tahu artes terkenal Korea!". Samapi detik ini gw juga gak kenal siapa mereka. Kalau kata Mr. X mereka adalah komedian terkenal di Korea.
Ditengah perjalanan kami bertemu dengan keramaian orang yang sedang mempromosikan suatu film atau drama, Ahjumma #2 bilang “Kita foto aja dulu, siapa tahu artes terkenal Korea!”. Hmmm…Baiklah! *tetep usaha nyengir*
Hingga detik ini gw gak kenal siapa mereka. Kalau kata Mr. X mereka adalah salah satu komedian terkenal di Korea. *copyright of Ahjumma #2*

Hari beranjak semakin sore malam, hujan mulai turun kembali membasahi Hongdae. Kami segera beranjak meninggalkan Hongdae menuju perjalanan selanjutnya yaitu Gwanghwamun.

Dari stasiun Hongik, kami transit di stasiun Gongdeok. Di stasiun Gongdeok kami berpisah dengan Mr. X. Doi sebelumnya ingin menemani kami menuju Gwanghwamun namun mengingat tujuan kami ke Gwanghwamun untuk menjajal Seoul City Tour Bus maka kami memutuskan untuk berpisah di stasiun Gongdeok. Kami menuju stasiun Gwanghwamun dan doi akan kembali pulang.

Setibanya di stasiun Gwanghwamun (line 5), kami keluar di pintu exit 6. Begitu keluar dari pintu exit 6 kami hanya berjalan lurus melewati Tourist Information Center (berada disebelah kanan jalan) hingga bertemu dengan loket pembelian tiket Seoul City Tour Bus yang posisinya berada di depan Donghwa Duty-free Shops.

Information Center di pintu exit 6 stasiun Gwanghwamun
Information Center berada disebelah kanan jalan dari pintu exit 6 stasiun Gwanghwamun

Kami akan menikmati malam ini dengan mengikuti Seoul City Tour Bus for night tour.

Rencananya kami akan membeli tiket 1-story bus night course seharga 6.000 KRW, namun ternyata jadwal keberangkatan 1-story bus night course untuk malam itu tidak ada sehingga akhirnya kami membeli tiket untuk 2-story bus night course seharga 12.000 KRW. Info selanjutnya cek di sini.

Counter ticket of Seoul City Tour Bus
Counter ticket of Seoul City Tour Bus
Counter ticket of Seoul City Tour Bus (day view)
Counter ticket of Seoul City Tour Bus (day view)
Double decker for our
Double decker for our 2-story bus night course
Seoul City Tour Bus
Seoul City Tour Bus

Setelah itu, kami duduk menunggu di halte yang bersebelahan dengan tempat pemberangkatan bus hingga waktu keberangkatan Seoul City Tour Bus.

Dua puluh menit sebelum jam keberangkatan, pintu bus dibuka dan kami mulai menaiki bus. Bus yang kami naiki adalah bus double decker dan mayoritas penumpang akan duduk di bagian atas bus. Setiba di atas, kami duduk mengikuti nomor yang tercantum di tiket. Gw duduk di bagian kiri bus sedangkan ahjumma duduk dibagian kanan bus.

Tepat pukul 19.30 bus mulai bergerak.

Satu menit…
Lima menit…
Sepuluh menit…

Gw masih menikmati perjalanan.

Dua puluh menit kemudian ketika bus sudah mulai meninggalkan kota Seoul dan mengelilingi rute Han River, kok pemandangan yang gw liat hanya bangunan-bangunan, bukan Han River.

Ternyata…
Gw salah posisi duduk!!!

Asyeeemmm….Asyemmmm…

*krik krik krik krik krik*
*jangrik mulai bersahut-sahutan*

Fact : Jalur kendaraan di Korea menggunakan jalur kanan. Jika kalian ingin menggunakan rute ini maka posisi terbaik untuk melihat pemandangan di dalam bus adalah tempat duduk di bagian kanan bus.

Akhirnya gw duduk pasrah melihat pemandangan seadanya. Kamera tersimpan kembali didalam tas.

Ketika bus berhenti disalah satu observation deck, gw turun dengan sigap. Segera setelah bertemu ahjumma, gw sudah lupa dengan ketidakberuntungan gw.

Tapi ternyata oh ternyata…
Cerita punya cerita…
Selama di perjalanan, Ahjumma #1 malah asyik tertidur.

Jyahahahaha…. Memang bus ini cocok untuk tempat tidur. 😀

Bus berhenti kurang lebih 10 menit. Sesuai perjanjian dengan Ahjumma #1, gw langsung bertukar tempat duduk.

Gw mulai menikmati kerlap-kerlip lampu yang mengelilingi jembatan di Han River. Sayangnya keinginan gw untuk mengambil foto sudah tandas. Gw malah asyik mengobrol dengan Ahjumma #2.

Kesimpulannya : gw tidak menyukai perjalanan night tour bus ini. Selain sudah be-te dengan posisi tempat duduk gw yang salah, rasanya tidak ada yang spesial selain pemandangan kerlap-kerlip lampu disekitar Han River. Bus ini justru berfungsi sebagai tempat kami melepas lelah setelah mengarungi perjalanan panjang di Haneul Park.

Perjalanan 90 menit berakhir di salah satu halte bus yang berdekatan dengan Cheonggye Plaza dan kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melawan arah jalan menuju subway terdekat yaitu stasiun City Hall.

Rasanya sudah tidak sabar bertemu kasur…
*mata panda*

Advertisements

16 thoughts on “[Korea] 2015 – Day 3 : Haneul Park, Itaewon, Hongdae & Seoul City Tour Bus

  1. Sempetnya nyebut buaya buntung proyeknya tukang cap imigrasi ituh… hahaha… pasti bangga lah doi…
    Overall for the story is good n interesting… 👍

    1. Kita anggap saja doi lagi memperkaya airport tax negara orang, Rim. 😉

      Thanks dah baca postingannya. Pasti lo kepo dengan kelakuan para ahjumma. Kikikik…

      Kapan ke kantor???
      Kangen nih…

  2. Hahaa…

    Lucu bgt ceritanya, w baca sambil cekikikan sendiri..
    Detail jg penjelasannya, dan komen2 iseng nya seru and lucu… Inspiring sekali.. 🙆🙆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s