[Korea] 2015 – Day 2 : Downtown Seoul, Insa-dong

October 10th, 2015

Setelah pesawat merapat di salah satu gate Incheon International Airport, para penumpang tampak tak sabar meninggalkan pesawat menuju bagian dalam bandara. Begitu pula kami yang bergegas meninggalkan pesawat menuju destinasi selanjutnya, toilet! πŸ˜€

Beres dengan urusan hajat di pagi hari, kami berjalan menuju imigrasi. Proses imigrasi berjalan sangat lancar. Tidak ada satupun pertanyaan yang diberikan oleh petugasnya. Kami melangkah menuruni eskalator menuju conveyor belt dan tampak koper kami sedang tawaf bersama koper yang lain.

Sesampainya di Arrival Hall, kami mencari tempat penyewaan pocket wifi. Yup, kami memutuskan untuk menyewa portable wifi mengingat kami perlu berkomunikasi dengan keluarga di Jakarta dan berjaga-jaga jika kami membutuhkan informasi ketika dihubungi orang kantor nyasar selama di perjalanan nanti.

Dan inilah beberapa pilihan portable wifi yang tersedia :

  1. Pocket Wifi Korea
    Terdapat dua pilihan yang disediakan oleh Pocket Wifi Korea yaitu :
    – Pocket Wifi Korea (LTE) seharga 5,25 USD yang meliputi jaringan di seluruh penjuru Korea termasuk Nami, Pulau Jeju, Mt Seorak dan Busan, dengan kemampuan daya tahan baterai hingga 5 jam.
    – Pocket Wifi Seoul seharga 3,95 USD dapat digunakan di Seoul, namun di beberapa tempat seperti di Myeongdong, Dongdaemun dan Gangnam jaringan dengan paketan ini kurang begitu baik sehingga disarankan untuk menggunakan Pocket Wifi Korea (LTE). Kemampuan daya baterai bertahan hingga 8 jam.
    Provider ini menyediakan jasa pengantaran pocket wifi di bandara ataupun pengantaran di tempat penginapan. Untuk informasi lebih lanjut bisa klik di sini.
  2. LG U+
    Dengan konektivitas hingga 10 gadget (HP, tablet dan laptop), paketan internet LG U+ di bandrol dengan harga 3.000 KRW/hari untuk biaya penyewaan ditambah 5.000 KRW/hari untuk service harge data, sehingga total biaya yang dibutuhkan setiap harinya 8.000 KRW. Paket ini berlaku untuk penggunaan data unlimited. LG U+ menyediakan konter di Arrival dan Departure Hall Incheon International Airport. Info lebih lanjut bisa cek disini.
  3. Kt Wifi Router
    Dengan konektivitas yang disarankan maksimal untuk 3 gadget, Kt Wifi Router mematok total biaya penyewaan sama dengan harga LG U+ (3.000KRW/hari untuk biaya penyewaan + 5.000 KRW/hari untuk service harge data=8.000 KRW) untuk penggunaan data unlimited. Provider ini menyediakan konter di arrival hall Incheon International Airport. Namun jika kalian memesan online melalui Kt Roaming website, hanya dikenakan biaya service data sebesar 5.000 KRW.
    Jangkauan Kt Wifi Router mencakup 82 kota di seluruh penjuru Korea. Info selanjutnya cek di sini.
  4. T Mifi (LTE Router) dari SK Telecom
    Dengan konektivitas untuk 3 penggunaan gadget, provider ini dapat menjangkau jaringan di seluruh daerah di Korea. Semenjak tanggal 3 Juli 2015 hingga 31 Desember 2015, biaya penyewaan T Mifi ditiadakan sehingga kalian hanya perlu membayar biaya service charge data sebesar 5.000 KRW. T Mifi menyediakan konter di arrival hall Incheon International Airport. Untuk info lengkapnya cek di sini.

Dari beberapa pilihan di atas, kami menjatuhkan pilihan kepada T Mifi (LTE Router) dari SK Telecom. Alasannya karena selain SK Telecom merupakan jaringan nomor satu di Korea, harga perhari biaya penyewaan dibebankan hanya sebesar 5.000 KRW (5.000 KRW dibagi 3 orang πŸ˜‰ ) serta jalur antrian penyewaan di bandara Incheon paling pendek.

Fyi, kami langsung menyewa pocket wifi on the spot, tanpa melakukan proses online reservation sebelumnya sehingga agak sedikit gambling kalau ternyata stok pocket wifi sudah tidak tersedia.

Prosedur penyewaannya sendiri cukup gampang. Kami mendatangi konter SK Telecom yang berada di Ground Floor (Arrival Hall) di antara exit 6 dan 7, kemudian diberikan formulir, isi data, dibutuhkan identitas paspor serta kartu kredit untuk jaminan deposit, setelah itu kami diberikan satu paket pocket wifi.

Biaya penyewaan T Mifi akan ditagihkan ketika kami mengembalikan pocket wifi. Bentuk pembayarannya sendiri dapat berupa uang tunai atau dibebankan ke kartu kredit. Jangan lupa pastikan deposit kalian sudah menjadi nol dan tidak akan ditagihkan ke dalam kartu kredit, jika kalian tidak bermasalah atau merusakan pocket wifi selama masa peminjaman.

Selama penggunaan T Mifi, kami tidak menemukan masalah. Jaringannya sangat baik, stabil dan cepat, namun mengingat frekuensi kami menggunakan internet cukup tinggi *colek Ahjumma #1 yang selalu update dengan orang kantor* biasanya di sore hari baterai sudah megap-megap minta di charge dan untuk mengatasinya kami menggunakan power bank.

Oya, seluruh biaya penyewaan di atas belum termasuk VAT (alias PPN) sebesar 10% ya… πŸ˜‰

Tempat penyewaan untuk Sk Telecom dan Kt
Tempat penyewaan untuk Sk Telecom dan Kt
T Mifi
T Mifi

Beres urusan portable wifi, kami beranjak meninggalkan Arrival Hall menuju pemberhentian Airport Railroad Express (AREX) .

Mengingat kami akan menginap di daerah Myeong-dong, ada beberapa pilihan transportasi yang dapat digunakan menuju Myeong-dong yaitu :

  1. Taksi
    Terdapat 3 jenis taksi yaitu regular, deluxe dan jumbo. Taksi jenis regular dan deluxe dapat mengangkut 4 penumpang dan taksi Jumbo dapat mengangkut hingga 9 orang. Tarif pertama kali masuk taksi regular dipatok sebesar 3.000 KRW, sedangkan taksi deluxe dan jumbo mematok tarif pertama kali masuk sebesar 5.000 KRW. Harga perkiraan taksi menuju pusat kota berkisar di antara 60.000 hingga 100.000 KRW. Sedangkan tempat pemberhentian taksi berada diluar arrival area, keluar dari gate 4 hingga 8, sebrangi jalan dan berjalanlah menuju stand taksi (4D-8C).
  2. Airport Limousine Bus
    Untuk menuju Myeong-dong dapat menggunakan Airport Limousine Bus nomor 6015 yang berlokasi di lantai 1, platform 5B dan 12A. Harga tiket bus ini sebesar 10.000 KRW dengan waktu tempuh kurang lebih 70-75 menit. Untuk jadwal keberangkatan bus bisa cek di website ini.
  3. Airport Railroad Express (AREX)
    Terdapat 2 jenis kereta yang akan membawa kita ke pusat kota yaitu :
    Express Train
    Kereta ini akan melakukan perjalanan non stop menuju Stasiun Seoul dengan waktu tempuh 43 menit. Harga tiket dewasa sebesar 14.800 KRW, namun hingga tanggal 31 Desember 2015 terdapat potongan spesial, harga tiket dewasa menjadi 8.000 KRW dan anak-anak 6.900 KRW. Pembelian tiket dapat dilakukan di 45 stand di Level 1 Incheon International Airport, AREX Travel Center, Express Train Passenger Information Center yang berlokasi di level B1 Incheon International Airport.
    All Stop Train
    Kereta ini akan melakukan perjalanan menuju Stasiun Seoul dan akan berhenti di 11 stasiun. Waktu tempuh yang digunakan selama 56 menit. Harga tiket dewasa 4.250 KRW, remaja 3.040 KRW dan anak-anak 1.900 KRW. Tiket All Stop Train merupakan single journey ticket, dimana penumpangnya dapat membeli tiket secara langsung di Airport Transportation Center di level B1 Incheon International Airport, ataupun dapat menggunakan T-Money dan M-Pass .

Untuk informasi transportasi bisa dilihat di sini sedangkan untuk informasi Airport Railroad Express dapat di cek di sini.

Untuk menuju pusat kota kami akan menggunakan AREX. Kami keluar dari arrival hall dan mengikuti petunjuk menuju level B1. Begitu bertemu dengan hall yang luas, berjalanlah lurus dan terlihat stand Airport Railroad Travel Center. Kami pun membeli tiket AREX di tempat tersebut.

Oya, berhubung pemerintah Korea sedang meningkatkan kembali pariwisata dari anjloknya wisatawan akibat wabah MERS, mereka tidak tanggung-tanggung menggemakan Korea Grand Sale yang berlaku hingga 31 Oktober 2015 kemarin. Banyak sekali merchant-merchant yang berpartisipasi mengikuti Korea Grand Sale.

Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Melalui website Korea Grand Sale, kami menggunakan diskon ini antara lain untuk pembelian tiket AREX Express Train, tiket masuk Petite France dan N-Seoul Tower. Kalau dihitung-hitung, lumayan juga loh diskon yang diberikan. Bisa untuk beli banana milk!

Jadi untuk membayar tiket AREX Express Train, dengan menggunakan voucher Korea Grand Sale kami hanya perlu merogoh 6.000 KRW (dari harga semula 8.000 KRW.)

Selesai membeli tiket kami mengikuti petunjuk untuk menuju gate in AREX. Perhatikan baik-baik, gate in untuk All Stop Train akan berwarna biru sedangkan gate in untuk AREX Express Train berwarna oranye (menyala).

Kami diberikan tiga buah kartu tiket serta sebuah struk pembelian dimana tercantum jam keberangkatan, nomor gerbong dan nomor tempat duduk. Setelah tapping kami menuruni eskalator dan menunggu kedatangan kereta di peron.

Begitu kereta datang, kami segera memasuki kereta sesuai dengan nomor gerbong yang tercantum. Kami meletakan koper di tempat penyimpanan koper dan langsung menempati tempat duduk.

Pukul 10.30 kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun Incheon International Airport.

Begitu kereta keluar dari jalur bawah tanah, maka terlihat pemandangan alam (pinggir kota) Seoul. Pagi itu, matahari sedang tidak bersahabat. Kami disambut dengan gerimis hujan.

Gate to AREX Express Train platform
Gate to AREX Express Train platform
The platform
The platform
The ticket
The ticket
Luggage
Luggage

Sesuai dengan jadwal, kami tiba di Stasiun Seoul pukul 11.14. Mulailah kami mendorong koper..

Sebelum tiba di transfer gate, kami mampir di 7-Eleven untuk membeli T-Money seharga 3.000 KRW.

Kami sempat kebingungan bagaimana kami bisa keluar di transfer gate antara jalur AREX dengan jalur subway.

Kami diarahkan untuk keluar terlebih dahulu dengan menggunakan kartu tiket AREX Express train (dimana kartu akan tertelan mesin) dan kemudian masuk kembali di gate yang sama dengan mentapping kartu T-Money.

Mulailah kami mendorong koper di selasar panjang menuju subway line 4.

Gw lirik Ahjumma #1, sepertinya doi masih anteng ajah. Masih menikmati kecanggihan transportasi AREX.. πŸ˜€

Begitu mentok bertemu tangga turun, gw cuma bisa nyengir-nyengir ngeliat Ahjumma #1.

Tangga???
Hayoookkk mari kita angkut koper, Ahjummaaaaa…!!!!

Dari Seoul Station, kami berpindah menggunakan subway line 4 yang hanya berjarak 2 stasiun. Begitu turun di stasiun Myeong-dong kami disambut (baik) dengan adanya eskalator naik.

Namun ketika kami melangkah kembali, tampak jelas kehadiran tangga naik, tanpa ada eskalator! *mulai mojok di pinggiran*

Kami sempat berhenti sebentar, memikirkan nasib Ajumma #1 dengan kopernya yang hampir sebesar dengan badan Ahjumma #1.

Ahjumma #1 sudah mulai stress melihat tangga didepan!
Gw cuma bisa nyengir-nyengir pasang muka anak baik-baik aja deh!

Ahjumma #2 langsung berinisiatif mengangkat koper, disusul Ahjumma #1 dan sebagai pengawas, gw menyusul dibelakang kedua Ahjumma.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba koper Ahjumma #1 langsung beralih tangan ke seorang pria. Pria yang hanya gw tatap dari balik punggungnya itu berjalan cepat melewati tangga-tangga jahanam.

Emmm…
Ada yang mau membantu mengangkat koper gw gaakkkk…???
#hopeless

Setelah keluar dari stasiun Myeong-dong, seharusnya kami keluar melalui pintu exit 4. Namun mengingat pintu exit 4 tidak mempunyai eskalator, kami sedikit berputar menggunakan pintu exit 3 yang mempunyai fasilitas eskalator.

Hanya berjalan 5 menit, kami sudah tiba di New Oriental Hotel. Kami pun melakukan proses check in. Awalnya gw mengira kami tidak bisa early check in, karena kami tiba di hotel sekitar jam 12 kurang.

Namun ternyata kami langsung diberikan kunci dan dengan senang hati kami menuju kamar.

Kami pun beristirahat sejenak meluruskan kaki sambil mendengar celotehan Ahjumma #1 yang berkeluh kesah dengan topik utama, tak lain dan tak bukan : tangga, tangga dan tangga!

Tapi kalau ditanya-tanya lagi, sejujurnya Ahjumma #1 senang sekali dengan kehadiran pria misterius yang membawa kopernya.

Ketika kami bertanya apakah pria itu ganteng.
Ahjumma #1 hanya menjawab, β€œLumayanlaaahhh…!”

Cie..cie..cie, Ahjumma….!
Kyuw-kyuw…Prikitiw…!

*****

Sekitar jam 2 siang, kami mulai meninggalkan hotel. Mau kemana kita siang ini?

Insa-dong…!

Dari stasiun Myeong-dong kami naik subway line 4, transit di stasiun Chongmuro, pindah line 3 dan turun di stasiun Anguk, keluar di pintu exit 6.

Insa-dong merupakan salah satu area perbelanjaan dimana kita bisa menemukan cafΓ©, gallery, traditional restaurants dan traditional teahouses. Setiap hari Sabtu (pukul 14.00 – 22.00) dan Minggu (pukul 10.00 – 22.00), beberapa jalan di Insa-dong akan ditutup untuk kendaraan sehingga para pengunjung dapat bebas menikmati keindahan dan beragam pertunjukan kebudayaan di tempat ini.

Sangat mudah untuk jatuh cinta dengan daerah ini. Selain daerah ini ramah dengan pejalan kaki, galeri-galeri disini dibuat β€˜cantik’ dan menarik hati, beberapa toko menjual souvenir khas Korea yang sempat gw temukan di Namdaemun Market (dengan harga yang kurang lebih sama) serta banyaknya cafΓ© untuk penggemar kopi.

Ini adalah jalan yang berhadapan dengan Insa-dong tourist information
Ini adalah jalan yang berhadapan dengan Insa-dong tourist information
Insa-dong #1
Insa-dong #1
Salah satu tempat penjualan es krim yang ramai di Insa-dong
Salah satu tempat penjualan es krim yang ramai di Insa-dong. Es krim ini sudah bisa kita temukan di mall-mall besar Jakarta
Boutique
Boutique
Insa-dong #2
Insa-dong #2
Insa-dong #3
Insa-dong #3
Insa-dong #4
Insa-dong #4
Salah satu pedagang kaki lima
Salah satu pedagang kaki lima di Insa-dong

Selain rasa penasaran dengan daerah Insa-dong, tujuan utama kami gw ke Insa-dong adalah mencari restoran yang menjual sujebi.

Nama asli untuk Sujebi ini adalah Su-jeb-i yaitu sup tradisional khas Korea. Berbeda dengan cara membuat sup pada umumnya dengan cara dipotong, adonan dalam sup ini disobek dengan tangan. Rasa dan resep membuat sup ini sama dengan Kalguksu, hanya saja mie yang dipakai adalah yang berbahan dasar tepung bukan gandum.

Di dalam sup ini terdapat sayur-sayuran yang menyehatkan seperti timun Jepang, kentang, bawang merah, paprika merah dan daun bawang. Sedangkan kaldu untuk sup ini dibuat dengan ikan asing kering, kerang, dan rumput laut yang direbus selama berjam-jam demi mendapatkan cita rasa yang sedap.

Sujebi sudah ada sejak pertengahan masa Dinasti Joseon. Masakan ini termasuk masakan mewah pada masa itu sehingga dapat dicicipi pada jamuan hari istimewa di keluarga bangsawan. Pada zaman itu tepung terigu yang merupakan bahan utama Sujebi dijual sangat mahal sehingga masakan mi semuanya termasuk makanan mewah.

Namun, setelah Perang Korea, masakan ini menjadi milik rakyat. Saat itu rakyat mengalami kekurangan pangan dan Sujebi menjadi santapan bagus untuk membuat mereka merasa kenyang.

Fyi, ketika gw mencari referensi tempat makan (yang β€˜aman’ untuk gw makan), cukup sulit menemukan referensi tempat makan dari postingan blogger Indonesia, yang mendominasi justru referensi dari blogger Malaysia. Mungkin postingan tempat makan bukanlah menjadi sesuatu hal penting dan menarik untuk dibahas oleh blogger Indonesia. Atauuuu bisa jadi mereka tidak tertarik menuliskannya… πŸ˜€

Gw mengetahui sujebi ini setelah blog walking di seorang blogger Malaysia. Tapi setelah ditelusuri, tempat makan ini cukup terkenal dan sering wara-wiri di kalangan blogger Malaysia.

Untuk menuju restoran ini sebenarnya mudah, tapi ternyata gw salah mempersepsikan jalur yang seharusnya gw lewati sehingga kami harus berbalik arah kembali. Berikut adalah rutenya :

    • Dari pintu keluar exit 6 stasiun Anguk, berjalanlah lurus sejauh Β± 300 meter hingga bertemu dengan Tourist Information dimana posisi Tourist Information berada menyerong ke sebelah kiri.
    • Berhadapan dengan Tourist Information terdapat jalan menuju Insa-dong, Berjalanlah ke jalan tersebut (dimana kita akan melewati beberapa jajaran pohon tinggi), berjalan lurus terus hingga melewati Szamziegil (salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Insa-dong) disebelah kiri jalan.
    • Jika kalian sudah bertemu dengan perempatan jalan kecil dengan patokan apotik Sudoyakguk Pharmacy di sebelah kiri jalan dan di depan kalian terdapat toko Dong Yang Da Ye, maka berbeloklah ke arah kiri.
    • Berjalanlah lurus kembali, hingga nanti belok kanan di jalan kecil (seperti gang) sebelum Woo Lim Gallery.
    • Jalan lurus kembali melewati gang kecil dan belok kiri di belokan ke 2 (patokannya terdapat tulisan MBC).
Peta menuju Sujebi restoran Lambang ? adalah tourist information, sedangkan lambang rumah adalah lokasi sujebi restoran
Peta menuju Sujebi restoran
Lambang ? adalah tourist information, sedangkan lambang rumah adalah lokasi sujebi restoran *courtesy Google Map*
Insa-dong tourist information
Insa-dong tourist information
Szamziegil
Szamziegil berlokasi disebelah kiri jalan *courtesy Google Map*
apotik Sudoyakguk Pharmacy di sebelah kiri jalan
apotik Sudoyakguk Pharmacy di sebelah kiri jalan
toko Dong Yang Da Ye di hadapan jalan
toko Dong Yang Da Ye di hadapan jalan
belok kiri setelah bertemu apotik Sudoyakguk Pharmacy
belok kiri setelah bertemu apotik Sudoyakguk Pharmacy
belok kanan di jalan kecil sebelum Woo Lim Gallery
Ikuti panah berbelok kanan di jalan kecil sebelum Woo Lim Gallery
Susuri jalan ini
Susuri jalan ini
Suasana di dalam jalan kecil ini terdapat beberapa tempat makan
Suasana di dalam jalan kecil ini terdapat beberapa tempat makan
Belok kiri jika sudah bertemu papan bertuliskan MBC
Belok kiri jika sudah bertemu papan bertuliskan MBC
Sujebi restaurant
Sujebi restaurant

Dengan jam operasional 11.30-21.30,tempat makan ini ternyata cukup besar. Kami memilih duduk lesehan sambil mengistirahatkan kaki. Tak lama kemudian kami diberikan menu, dimana ternyata sudah ada tulisan bahasa Korea, Inggris dan Melayu di setiap daftar makanan yang ada. Pantas saja tempat ini terkenal di Malaysia!

Kami memesan Su-jae-bi untuk 3 orang dan satu porsi Hameol Pajeon (seafood pancake). Para ahjumma yang melayani di tempat makan ini bergerak sangat cepat sehingga tak perlu waktu lama untuk menunggu makanan kami.

Dan ketika makanan datang…

Kami sempat menganga melihat porsi Sujebi yang terlalu besar.
Jadi saran gw, jika kalian makan untuk tiga orang pesanlah sujebi untuk 2 porsi saja.

Ketika kami mencicip sujebi, kami sepakat mengatakan bahwa potongan adonan dan kuah kaldu sujebi terasa seperti tekwan. Rasa kaldu seafoodnya terasa enak dan potongan sujebinya terasa seperti kenyal-kenyal pangsit basah.

Sedangkan untuk seafood pancake, habis tak tersisa oleh kami. Entah karena kami kelaparan ataupun memang rasanya yang enak.

Dan yang paling tak terlupakan hingga saat ini adalah mereka menyediakan kimchi terenak yang pernah gw coba selama gw berada di Korea! Rasa pedasnya terasa sangat pas dan tidak terlalu asam!
Top markotop!

Oya, karena Ahjumma #2 penasaran dengan rasa soju, doi memesan satu botol soju. Katanya biar kaya di drama Korea! πŸ˜›

Pas diminum, Ahjumma #2 mengatakan rasa soju terasa lebih pahit dibandingkan bir yang ada di Indonesia.

Hmmm…
Roman-romannya kadar alkoholnya tinggi nih.

Gw langsung membayangkan drakor edisi mabok-mabokan Soju dan tak sadarkan diri. Gw langsung melirik Ahjumma #2..
β€œ Mbak, gak pake mabok ya! Gak ada yang bisa gotong nanti.. β€œ

*pindahin Soju ke Ahjumma #1*

Ahjumma #2 cuma mesem-mesem.

Suasana di dalam restoran
Suasana di dalam restoran
Cozy place
Cozy place
The main menu - Sujebi ; Price 6.000 KRW
The main menu – Sujebi ; Price 6.000 KRW
Hameol Pajeon (seafood pancake) ; Price 10.000 KRW. Porsinya termasuk besar loh!!!
Hameol Pajeon (seafood pancake) ; Price 10.000 KRW. Porsinya termasuk besar loh!!!
The best kimchi...!!!
The best kimchi…!!!
Gegayaan minum soju
Gegayaan minum soju

Selama kami menyusuri Insa-dong dan makan Sujebi, kami (t.e.r.u.t.a.m.a gw) terasa sangat mengantuk (sekali !). Rasanya cahaya terang dari layar monitor pesawat semalam cukup mempengaruhi tingkat kepuasan tidur kami. Ditambah jetlag, rasanya semakin memperparah rasa ngantuk.

Rencana awal, gw ingin mengganjal mata dengan mencari minuman ber-cafein karena kami masih mempunyai jadwal perjalanan menyusuri kota Seoul di malam hari.

Namun,
Menimbang : kami ngantuk
Mengingat : kami ngantuk
Memperhatikan : kami ngantuk
dan memutuskan : kami kembali ke hotel untuk tidur (cantik!)

Setelah itu, kami kembali menuju stasiun Anguk. Tak lupa kami menyempatkan masuk ke Szamziegil. Szamziegil adalah salah pusat perbelanjaan yang didesain melingkar dan dihubungkan dengan tangga spiral. Desain Szamziegil terbilang cukup menarik dan barang-barang yang dijual pun terlihat unik.

Szamziegil #1
Szamziegil #1
Szamziegil #2
Szamziegil #2
Szamziegil #3
Szamziegil #3
Szamziegil #4
Szamziegil #4

Mengingat sore itu sudah mulai hujan dengan intensitas sedang, kami tidak berlama-lama menyusuri Szamziegil. Kami pun berjalan kembali ke stasiun Anguk dan menaiki subway menuju stasiun Myeong-dong.

Setelah keluar di stasiun Myeong-dong, kami membeli Deli Manjoo yang berada disalah sudut stasiun dan tak jauh dari gate out stasiun. Rasanya enak loh! Emmm… Kurang lebih seperti kue cubit. πŸ˜€

Sesampainya di hotel, tak perlu berlama-lama, kami sudah berada dibalik selimut, haha-hihi sebentar dan langsung tertidur pulas-tak sadarkan diri…

Deli Manjoo ; Letaknya berada di sebelah kanan dari gate out stasiun Myeong-dong
Deli Manjoo ; Letaknya berada di sebelah kanan dari gate out stasiun Myeong-dong
Deli Manjoo
Deli Manjoo
Snack - Deli Manjoo 3.000 KRW & Banana Milk 1.300 KRW
Snack – Deli Manjoo 3.000 KRW & Banana Milk 1.300 KRW
Advertisements

6 thoughts on “[Korea] 2015 – Day 2 : Downtown Seoul, Insa-dong

  1. Hai mba Vika, saya rencana ke seoul akhir november ini. Blog mba membantu bgt ni.. nah untuk tukar uang, lebih mending tukar langsung ke won atau ke dollar dulu baru tuker won disana ya? Terimakasih infonya..

    1. Hai ira..!!!
      Wah senangnya yang mau trip ke Seoul. Siap-siap ketemu salju donk ya..!?!?!?
      Sarannya lebih baik langsung tuker won, karena nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dollar. Penukaran uang biasanya dilakukan di bank, kecuali daerah Myongdong yang ramai dengan money changer. Kalaupun ingin tetap membawa dollar, lebih baik digunakan untuk uang cadangan atau untuk situasi darurat.
      Semoga bermanfaat ya infonya.
      Have a nice trip!

  2. Tahun lalu blog mbak berguna banget buat aku pergi liburan ke jepang. dan sekarang aku lagi baca-baca buat ke korea (yang padahal baru berangkat november nanti.. lamaaaa) hahah.. apalagi aku juga berhijab dan butuh banget yang namanya referensi makanan halal dan tmpt sholat saat liburan. gomawoooo…

    1. Holllaaa Affin!
      Wah, senang banget dengernya kalau postingan Jepangnya bisa bermanfaat selama di Jepang.
      Boleh bagi-bagi cerita gak selama di Jepang?
      Apakah ada perubahan rute atau apapun yang gak sesuai di blog, dan mungkin ada cerita lain yang bisa di sharing?
      Ditunggu infonya ya… πŸ˜‰

  3. Hi Mbak Vika…. mbak pergi nya taun lalu awal Oktober kan. itu cuaca nya bagaimana ya? Kl ga da halangan, saya dan keluarga jg akan ke Korea tgl 5 Oktober nanti. Ampe tgl 13. Kl hya sweater lengan panjang saja kira2 cukup ga ya utk cuaca di awal musim gugur itu ? Soalnya saya dan suami bw baby usia 6bln & anak usia 5thn & org tua 2 org. Heheheee…

    1. Hmmm…
      Awal oktober tahun lalu suhu udaranya hampir sama seperti di lembang,bandung. Kalau mau ke Nami Island harus prepare jaket tebal karena disana lebih dingin lagi (biasanya sih untuk pagi hari). Tapi daya tahan tubuh tiap orang beda-beda, mbak. Kalau aku hampir selalu bawa coat atau minimal pakai sweater (kadang malah pakai longjohn kalau lagi malas bawa coat) karena memang badanku gak bisa kena dingin.
      Kalau bawa balita, saranku bawa jaket tebal saja, mbak. Kasian kalau mesti adaptasi dengan cuaca dingin. Hehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s