[Jepang] Day 10 – Osaka : Osaka Castle, Shitennoji Temple, Tsutenkaku Tower, Dotombori, Tombori River Cruise & Umeda Sky Building Floating Garden Observatory

Saturday, April 11th, 2015

Osaka Guidance
Osaka Guidance

Sesuai dengan cerita sebelumnya, itinerary Osaka gw percayakan sepenuhnya kepada Yudha. Kalau ditilik-tilik membuat itinerary di Osaka tidaklah sulit, terutama jika membaca jalur subwaynya, tidak sesulit seperti membaca jalur subway di Tokyo.

Gw mensharing itinerary Tokyo-Kyoto yang telah gw buat dan setelah itu Yudha melanjutkan itinerary Osaka. Setelah selesai, bongkar pasang sedikit tempat yang dikunjungi dan akhirnya fix-lah itinerary di Osaka.

Mari kita membahas transportasi yang ada di Osaka!

Ada 2 jenis moda transportasi yang ada di Osaka yaitu kereta dan bus. Selama di Osaka kami tidak menggunakan bus, hanya menggunakan kereta karena tempat wisata yang berada di Osaka lebih mudah di akses dengan kereta.

Jalur kereta di Osaka terdiri dari beberapa jenis antara lain subway, private railways dan satu jalur JR loop line.

Subway terdiri dari 8 jalur yaitu :

  1. Midosuji line
  2. Tanimachi line
  3. Yotsubashi line
  4. Chuo line
  5. Sennichimae line
  6. Sakaisuji line
  7. Nagahori Tsurumi – Ryokuchi line
  8. Imazatosuji line
  9. Ditambah dengan new tram untuk Nanko Port Town Line

Sedangkan untuk private railways terdiri dari :

  1. Hankyu railway, kereta ini menghubungkan Osaka dengan beberapa kota sekitarnya seperti Kyoto dan Kobe
  2. Keihan electric railway
  3. Nankai railway, jalur kereta menuju Bandara Inernasional Kansai
  4. Hanshin railway
  5. Kinki Nippon railway

Untuk transportasi dengan bus menggunakan flat rate bus dengan tarif untuk dewasa sebesar 210 Yen dan anak-anak 110 Yen. Sedangkan untuk subway dibagi menjadi 5 zone dimulai dari 180 Yen hingga 370 Yen. Informasi selengkapnya bisa cek di http://www.kotsu.city.osaka.lg.jp/foreign/english

Osaka Amazing Pass - One Day
Osaka Amazing Pass – One Day Pass

Selama satu hari ini kami akan menggunakan Osaka Amazing Pass-One Day Pass. Osaka Amazing Pass-One Day Pass seharga 2.300 Yen memberikan penggunaan tidak terbatas pada subway, private railways (note: tidak termasuk JR!!!), city bus dan tiket gratis masuk ke 28 tempat wisata.

Kalau dihitung-hitung dari total harga tiket masuk keempat tempat wisata yang kami masuki yaitu Osaka Castle, Shitennoji Temple, Tombori River Cruise & Umeda Sky Building Floating Garden Observatory senilai 2.600 Yen dan ini belum termasuk tarif tiket subway kami menuju keempat tempat wisata tersebut.

2.300 Yen v.s 2.600 Yen → Penghematan yang okeh bukan?!?!?!

Sedangkan untuk Osaka Amazing Pass-Two Day Pass dibandrol dengan harga 3.000 Yen. Fasilitas tempat wisata yang ditawarkan untuk Osaka Amazing Pass-Two Day Pass sama dengan Osaka Amazing Pass-One Day Pass, namun perhatikan baik-baik untuk penggunaan transportasi Osaka Amazing Pass-Two Day Pass tidak berlaku untuk private railways dan JR.

Osaka Amazing Pass dapat dibeli di Kansai Tourist Information Center, Osaka Visitor Information Center yang berada di stasiun Osaka dan stasiun Namba serta beberapa tempat lainnya. Info detail untuk Osaka Amazing Pass dapat dicek di https://www.osaka-info.jp/osp/en/index.html

*****

Sedikit catatan, berhubungan perjalanan hari ini gw hanya mengikuti jejak langkah Yudha dan gw tidak banyak survey untuk perjalanan Osaka, jadi pada postingan kali ini, gw tidak dapat menginformasikan secara detail bagaimana cara dari dan menuju tempat wisata.

Kami memulai perjalanan hari ini di pukul 09.30. Perjalanan kami mulai menuju Osaka Castle. Dari stasiun Fukushima kami naik JR Osaka Loop Line menuju stasiun Osaka, kemudian jalan menuju stasiun Higashiumeda menaiki Subway Tanimachi Line menuju stasiun Tanimachi-4chome keluar di pintu exit 9.

Begitu keluar di pintu exit 9, kami mengikuti beberapa petunjuk yang ada hingga kami tiba di Osaka Castle. Dari pintu exit ini lumayan juga berjalan kaki hingga tiba di Osaka Castle sekitar 20 menit deh.

Kami menunjukan Osaka Amazing Pass di loket tiket masuk dan masuklah kami ke dalam Osaka Castle. Dengan menumpangi lift, kami langsung menuju observation deck. Pemandangan dari atas cukup menarik. Kita bisa melihat kota Osaka dengan berbagai macam bangunan pencakar langit yang mengelilingi Osaka Castle Park.

Dari observation deck, kami turun dengan menggunakan tangga sambil mengelilingi Osaka Castle Museum yang berada di lantai 2 hingga lantai 7. Museum ini menceritakan sejarah Hideyoshi Toyotomi hingga peperangan yang terjadi di Osaka. Yang menariknya di pajanglah berbagai macam baju dan alat perang jaman baheula, tradisional sekali tapi rasanya sangat usefull dijaman itu. Oya, ada larangan untuk mengambil foto pada beberapa lantai di Osaka Castle Museum ya…

Tadinya gw ingin mencoba masuk salah satu taman yang ada di Osaka castle yaitu Nishinomaru Garden atau Japan Plum Garden, namun mengingat hari semakin siang, kita skip saja deh.

Osaka Castle is widely known as an emblem of the power and fortune of Hideyoshi Toyotomi.
In 1583, Hideyoshi began construction at the former site of Honganji Temple and completed the magnificent castle, which was reputed as being unparalleled in the country.

Hideyoshi, having employed the castle as his stronghold, succeeded in quelling the wars which had continued for more than one century, thereby unifying the entire nation. After Hideyoshi’s death, Ieyasu Tokugawa, who worked for Hideyoshi as his chief retainer, was appointed to the Shogun and he established the shogunate (government) in Edo (Tokyo).

In 1615, Ieyasu ruined the Toyotomi family and destroyed Osaka Castle (in the Summer War of Osaka).
Thereafter, the Tokugawa shogunate reconstructed Osaka Castle. It held the castle under its direct control until 1868, when the Tokugawa shogunate lost power and the castle fell.

In 1931, the Main Tower of the Castle was reconstructed in the center of Osaka Castle, which was used as a military base, with funds raised by the citizens.

The present-day Main Tower is the third generation. It follows the Main Tower from the Toyotomi period, which was destroyed by fire during the Summer War, and the tower from the Tokugawa period, which was struck by lightning and was burned down. Since its construction, Osaka Castle repeatedly featured as the battleground of the major wars in Japanese history.

Open : 9:00 -17.00
(Last admission is at 16.30)
Opening hours extended during certain periods in the spring and summer

Closed : December 28th through January 1st

Tickets fare : Adults 600 Yen, 15 years old and younger free

http://www.osakacastle.net/english/index.html

Osaka Castle #1
Osaka Castle #1
Sakura di sekitar Osaka Castle
Sakura di sekitar Osaka Castle
Osaka Castle #2
Osaka Castle #2
Osaka Castle #5
Osaka Castle #3
Osaka Castle #4
Osaka Castle #4
Osaka Castle #6
Osaka Castle #5
Osaka Castle #3
Osaka Castle #6
Osaka Castle #7
Osaka Castle #7
View from observation deck
View from observation deck
Nice view, rite?!?!
Nice view, rite?!?!
Kontrasnya antara taman dengan gedung-gedung disekitar Osaka castle
Kontrasnya antara taman dengan gedung-gedung disekitar Osaka castle
Golden dragon
Golden dragon
Diorama at Osaka Museum #1
Diorama at Osaka Castle Museum #1
Diorama at Osaka Museum #2
Diorama at Osaka Castle Museum #2
Osaka Castle tampak belakang
Osaka Castle tampak belakang
Disekitar Osaka Castle
Disekitar Osaka Castle
Sakuraaaaa...
Sakuraaaaa…

Dari Osaka Castle, kami berjalan menuju stasiun Osaka Business Park. Actually, agak-agak absurd nyari pintu masuk stasiun ini. Gw juga agak lupa bagaimana kami bisa menemukan pintu masuk menuju stasiun. 😀

Selanjutnya kami menuju Shitennoji Temple, dari stasiun Osaka Business Park kami menuju stasiun Shitennoji-mae Yuhigaoka exit 4. Keluar dari exit 4, kami berjalan lurus saja hingga nanti akan bertemu pintu masuk menuju Shitennoji temple yang berada disebelah kiri jalan.

Shitennoji Temple merupakan salah satu kuil tertua di Jepang dan kuil pertama yang pernah dibangun oleh pemerintah Jepang. Dibangun pada tahun 593 oleh Pangeran Shotoku, yang mendukung pengenalan Budha ke Jepang. Meskipun bangunan candi terbakar beberapa kali selama berabad-abad, rekonstruksi didesain asli sesuai dengan refleksi abad ke-6.

Shitennoji Temple ini terdiri dari beberapa bagian yaitu bagian luar temple, Inner Precinct, Gokuraku-judo Garden dan Treasure House. Kami cukup lama berkeliling di dalam area Shitennoji temple. Namun mungkin karena informasi gw yang ketahui tentang Shitennoji terlalu minim, gw tidak melihat informasi bangunan yang ada di area ini. Jadi yang ada kami cuma berkeliling mengelilingi Shitennojo temple, foto-foto, duduk sebentar dan kemudian cabut deh.

Opening hours : 8:30 to 16:30 (until 16:00 from October through March)
Closed : No closing days
Tickets : 300 Yen

http://www.shitennoji.or.jp/

Kami memasuki Shitennoji temple melalui pintu ini (sepertinya ini salah satu pintu belakang Shitennoji temple)
Kami memasuki Shitennoji temple melalui pintu ini (sepertinya ini salah satu pintu belakang Shitennoji temple)
Gate in of Shitennoji temple
Gate in of Shitennoji temple
Shitennoji temple #1
Shitennoji temple #1
Shitennoji temple #2
Shitennoji temple #2
Shitennoji temple #3
Shitennoji temple #3
Shitennoji temple #4
Shitennoji temple #4
Shitennoji temple #5
Shitennoji temple #5
Shitennoji temple #6
Shitennoji temple #6
Shitennoji temple #7
Shitennoji temple #7
Shitennoji temple #8
Shitennoji temple #8

Dari Shitennoji temple, kami akan mengeksplor Shinsekai yang terdapat Tsutenkaku Tower. Kami kembali menyusuri jalan menuju stasiun Shitennoji-mae Yuhigaoka. Dari stasiun Shitennoji-mae Yuhigaoka kami akan turun di stasiun Ebisucho pintu exit 3.

Begitu keluar dari pintu exit 3, langsung tampak Tsutenkaku Tower. Awalnya Yudha ingin masuk ke dalam Tsutenkaku Tower. Namun gw menolaknya karena dilihat pada beberapa postingan orang, (menurut gw secara pribadi) pemandangan dari atas Tsutenkaku Tower tidak terlalu menarik dibandingkan pemandangan dari atas Umeda Sky Building. Akhirnya kami hanya berkeliling di sekitar Tsutenkaku Tower.

Tsutenkaku Tower ini dibangun pada 3 Juli 1912 dan mempunyai observation deck di lantai 4 dan 5. Pada malam hari Tsutenkaku Tower akan menyinarkan lampu berwarna-warni yang akan disesuaikan dengan bulan dan musim yang sedang berlangsung pada saat itu. Oya, di basement floor Tsutenkaku Tower terdapat stand yang menjual makanan ringan yang terkenal seperti Glico dan Pocky. Sayangnya gw hanya bisa menatap nanar melihat jejeran makanan yang tampak sangat menarik.

Opening hours : 09.00 – 20.30 (close at 21.00)
Closed : No closing days
Tickets : 700 Yen

http://www.tsutenkaku.co.jp/

Shinsekai
Shinsekai
Tsutenkaku Tower #1
Tsutenkaku Tower #1
Tsutenkaku Tower #2
Tsutenkaku Tower #2
Siapakah nama karakter ini?
Siapakah nama karakter ini?

Dari Tsutenkaku Tower kami akan menuju Namba. Kami turun di stasiun Namba, exit 4 menuju Namba City. Ada apa di Namba City? Kami akan shalat. Yuk!

Prayer room ini berlokasi di Namba City main building 1st dengan jam operasional 11.30-20.30.

Begitu keluar dari exit 4 berjalanlah lurus hingga bertemu Information Counter, mengisi formulir sebentar dan kemudian kami diberikan kartu serta petunjuk menuju prayer room.

Prayer room di Namba City tidak terlalu besar dan bentuk ruangannya sendiri agak sedikit tidak jelas karena menyiasati lekuk-lekuk ruangan yang tersedia. 😀 Namun untuk kebersihannya seperti biasa tidak perlu diragukan lagi.

Namba City Information
Namba City Information Counter
Prayer room at Namba City
Prayer room at Namba City
Inside of prayer room #1
Inside of prayer room #1
Female prayer room
Female prayer room
Inside of prayer room #2
Inside of prayer room #2

Selanjutnya kami akan makan siang.
Berbekal Muslim Friendly Map kami akan maksi di Ten-don (Tempura Rice Bowl) Tendon No Mise.

Hmmm…
Jangan ditanya lokasinya dimana ya?!?!?!
Gw beneran gak mudeng kecuali lokasinya berada di Sennichimae Shopping Street dan tak jauh dari Dotombori Shopping Street. Kami hanya mengandalkan petunjuk arah dari mbak-mbak di information center.

Mencari restoran ini sendiri pun cukup sulit. Kami berkali-kali bolak-balik menyusuri Sennichimae Shopping Street, restoran yang dicari tidak tampak juga. Agak-agak mulai menyerah namun mengingat gw sendiri penasaran dengan makanan muslim friendly di Osaka, satu persatu toko dan persimpangan gw susuri dengan teliti disesuaikan dengan gambar yang ada di Muslim Friendly Map. Hingga akhirnya bertemu dengan Ten-don (Tempura Rice Bowl) Tendon No Mise. Horaaayyy!

Luas Restoran Ten-don (Tempura Rice Bowl) Tendon No Mise terbilang kecil. Begitu kami memasuki restoran ini, berjejer rapat 5 bangku dan meja bar yang langsung menempel dengan dapur. Yang melayani kami seorang Bapak dan Ibu (rasanya mereka adalah pasutri) yang sudah cukup berumur. Sang Bapak langsung sigap memasak tempura sedangkan si Ibu sibuk mempersiapkan nasi dan minuman air putih untuk kami.

Dalam waktu beberapa menit, tersajilah tempura rice bowl.

Itadakimasu!!!
*sibuk ngunyah*

Rasanya endeeees ya, Bu-Ibu.
Entah karena kelaparan atau memang rasanya enak, namun udangnya dimasak secara sempurna, tidak kematangan ataupun mentah, ketika digigit terasa lembut dan krenyes. Pokoknya maknyus!

Kami tidak berlama-lama disini mengingat beberapa kali orang keluar masuk ketika kami sedang sibuk melahap tempura. Segera setelah makan, kami membayar seharga 650 Yen dan melanjutkan perjalanan kembali.

Muslim Friendly Map
Muslim Friendly Map

Jika sudah menemukan toko ini disebelah kanan Sennichimae Shopping Street, beloklah ke arah kanan
Jika sudah menemukan toko ini disebelah kanan dari Sennichimae Shopping Street, beloklah ke arah kanan. Selang beberapa toko setelah berbelok, tampak restoran Tendon No Mise disebelah kanan jalan
Tendon No Mise #1
Tendon No Mise #1
Tendon No Mise #2
Tendon No Mise #2
Tendon No Mise #3 ; lambang berwarna hijau merupakan logo Muslim Friendly
Tendon No Mise #3 ; lambang berwarna hijau merupakan logo Muslim Friendly
The chef
The chef
Tempura rice bowl ; price 650 Yen
Tempura rice bowl ; price 650 Yen

Kami melanjutkan perjalanan menuju Dotombori Shopping Street. Tempat ini merupakan tempat perbelanjaan dan restoran. Pada malam hari tempat ini diterangi warna-warni ratusan lampu neon. Tak lupa tempat ini terdapat it’s a must destination for tourist yaitu ikon Glico Running Man.

Selagi kami berada di Dotomborigawa River kami akan mencoba berlayar dengan Tombori River Cruise. Perjalanan menyusuri sungai selama 20 menit dan melewati beberapa jembatan serta kehidupan di daerah Minami. Harga tiket Tombori River Cruise dibandrol seharga 900 Yen.

Selama menikmati Tombori River Cruise, kami dipandu oleh tour guide yang sayangnya berbicara dengan bahasa Jepang. Namun gw cukup senang menikmati Tombori River Cruise, sambil duduk melepas lelah, menikmati hangatnya matahari sore hari dan keramaian di sekitar Dotomborigawa River.

Menuju Sennichimae Shopping Street
Menuju Sennichimae Shopping Street
Sennichimae Shopping Street #1
Sennichimae Shopping Street #1
Sennichimae Shopping Street #2
Sennichimae Shopping Street #2
Sennichimae Shopping Street #3
Sennichimae Shopping Street #3
Dotombori Shopping Street #1
Dotombori Shopping Street #1
Dotombori Shopping Street #2
Dotombori Shopping Street #2
Dotombori Shopping Street #3
Dotombori Shopping Street #3
daerah disekitar Soemoncho Shopping Street
daerah disekitar Soemoncho Shopping Street
IMG_6572
Tombori river cruise #1
Tombori river cruise #2
Tombori river cruise #2
Tombori river cruise #3
Tombori river cruise #3
Yes, glico man!
Yes, glico man!
the famous icon at Osaka
the famous icon at Osaka – Glico Running Man

Sekitar pukul 7 malam kami beranjak meninggalkan Dotombori menuju Umeda Sky Building Floating Garden Observatory. Kami turun di stasiun Umeda exit 5. Begitu kami keluar di exit 5 kami berjalan lurus, perempatan pertama kami belok kiri dan di perempatan selanjutnya kami belok kiri hingga akhirnya gw menyadari kalau kami tersesat!

Toleh kanan-kiri..
Yup, kami berjalan berputar mengelilingi satu blok gedung dan hampir kembali ke tempat kami keluar dari exit 5.

Coba kroscek ke Yudha, doi juga nampak bingung. Doi cuma bilang kita akan lewat underpass.

Hmmm… Okeh mari kita buka peta!
*hidung mulai kembang kempis*

Ternyata diperempatan kedua seharusnya kami berjalan lurus, bukan belok kiri. Kami berjalan kembali menuju arah yang benar dan tak lama kemudian dari kejauhan tampaklah Umeda Sky Building.

Pfiuuhhh… *melap sisa serpihan kelelahan*

Dari pintu exit 5 stasiun Umeda menuju Umeda Sky Building Floating Garden Observatory cukup memakan waktu 20-30 menit dengan berjalan kaki. Jadi kebayang ya ketika kami menyasar dan harus kembali lagi menyusuri jalan.

Sesampainya di Umeda Sky Building kami menuju tempat penukaran tiket masuk. Floating Garden Observatory yang merupakan observation deck yang berada di lantai 40. Pemandangan pada malam itu sangat menarik. Cahaya lampu-lampu gedung pencakar langit dan tak lupa terlihat HEP Five Ferris Wheel yang sedang berputar semakin menambah pesona kota Osaka dimalam hari.

Operational hours : 10:00 to 22:30 (Last entrance: 22:00)
Tickets : 800 Yen

http://www.kuchu-teien.com/english/

Umeda Sky Building #1
Umeda Sky Building #1
Umeda Sky Building #2
Umeda Sky Building #2
Osaka view from Floating Garden Observatory #1
Osaka view from Floating Garden Observatory #1
Osaka view from Floating Garden Observatory #2
Osaka view from Floating Garden Observatory #2
Osaka view from Floating Garden Observatory #3
Osaka view from Floating Garden Observatory #3

Pukul 21.30 dengan berat hati kami meninggalkan Umeda Sky Building. Malam ini kami harus segera kembali ke guesthouse dan berjibaku dengan pe-er selanjutnya, packing!

Advertisements

17 thoughts on “[Jepang] Day 10 – Osaka : Osaka Castle, Shitennoji Temple, Tsutenkaku Tower, Dotombori, Tombori River Cruise & Umeda Sky Building Floating Garden Observatory

    1. Hmmmm…
      Pilihannya berat nih!
      Dan pilihan gw lebih dari dua 😄
      My favorites are :
      1. Kiyomizudera temple
      2. Fushimi inari shrine
      3. Kinkakuji temple
      4. Sanjusangendo
      5. Meiji shrine

  1. oke deh , gue ambil kesimpulan yang yang no.1 adalah yang paling bagus 🙂
    kalo yang no.2 memang udh masuk itinerary sih.

    btw masih perlu nyewa paket wifi ga sih vik? padahal itinerary yg lo bikin udah detail gitu
    kalo ga nyewa dampaknya seperti apa?
    ga bisa ngandalin nanya2 ke sekitarkah?

    1. Hmmm…
      Biasanya dominasi pemakaian wifi gw pakai kalau sudah desperado dengan nyasar, buat buka gugel map, ngecek lokasi, ngecek rute bis selama di Kyoto dan hyperdia selama di Tokyo (karena beberapa jadwal di Kyoto dan Tokyo ada yang kita acak).
      Bisa aja bertanya dengan orang sekitar, tapi dari beberapa orang Jepang yang gw tanya di jalan, mereka tidak bisa bahasa inggris. Harus pintar-pintar mencari orang yang bisa ditanya. Hehehe…

  2. halo mbak mau tanya kalau pakai osaka amazing one day pass itu kan dapet semacam kartu. nah cara pake kartunya pada saat naik subwaynya apa tinggal tap-in tap-out layaknya seperti pake kartu pasmo atau kartunya tinggal tunjukin ke petugas stasiunnya aja?

      1. ok mbak makasih infonya ya. berarti kalo mau naik kereta tinggal masukin aja tiketnya ya mbak. terus kalo mau keluar dari stasiun kereta apa harus masukin lagi tiketnya ya mbak ke pintu gate keluar stasiun? hehe

  3. hi mba
    mau tanya kalo aku udah pake JRPass lebih baik pake amazing osaka pass lagi atau tidak yah? thank u

    1. Hai Adinda,
      Osaka amazing pass lebih berguna untuk menghemat biaya tiket masuk tempat wisata dan penggunaan tak terbatas subway. Pastikan dulu apakah Adinda akan memasuki tempat wisata yang di cover oleh Osaka amazing pass dan perhitungkan total biaya masuknya. Kalau hemat banyak, kenapa tidak mencoba membeli Osaka amazing pass.. 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s