[Jepang] Kyoto : Kyoto Guest House Lantern

Kyoto Guest House Lantern
Kyoto Guest House Lantern

Perjuangan mendapatkan penginapan di Kyoto sudah sempat gw singgung di postingan Itinerary Jepang. Ribetnya mencari penginapan di Kyoto hampir sama dengan keribetan mencari penginapan di Tokyo. Namun yang menjadi pembedanya adalah kota Kyoto tidak sebesar kota Tokyo sehingga pilihan penginapan di Kyoto tidak sebanyak dengan pilihan penginapan di Tokyo.

Pencarian melalui website-website standar seperti website hostel.com, hostelbookers, hostelworld, agoda, booking.com, hotel.com, BnB tidak membuahkan hasil. Usaha selanjutnya, gw bergerilya mencoba membuka satu-persatu link penginapan yang tersedia di japan-guide.com serta link yang tertaut di semua website hostel di Kyoto.

Dari beberapa pilihan yang tersedia, gw sempat melirik beberapa penginapan di Kyoto, antara lain :

  1. Piece Hostel Kyoto
    Selain lokasi penginapan ini berada tidak jauh dari stasiun Kyoto, konsep design hostel ini sangat menarik perhatian gw. Tidak tanggung-tanggung dalam merancangnya, sang pemilik mengonsep design hostel ini dengan melibatkan arsitektur, design directors, graphic design, lighting designer, furniture designers dan plant hunter sehingga menelurkan membuahkan hostel berkonsep minimalis dan ramah lingkungan.
    Namun perhatikan baik-baik karena penginapan ini mengusung konsep ‘hostel’, mereka tidak menyediakan private atau ensuite bathroom yang tersedia didalam sebuah kamar. Kamar mandi yang tersedia digunakan bersama-sama dengan tamu penginapan yang lain.
    Jika kalian berminat menginap disini, pesanlah dari jauh-jauh hari (minimal 3 bulan sebelumnya) karena jika dilihat dari rating di booking.com, hostel ini mempunyai rating Superb dan membuat hostel ini laris manis seperti kacang goreng.
  2. Kyoto Hana Hostel 
    Sejak awal hostel ini adalah target penginapan kami selama di Kyoto. Namun apa daya hingga detik-detik terakhir, hostel ini full booked. Selain lokasinya yang strategis dan berdekatan dengan stasiun Kyoto, harganya pun masih standar untuk ukuran hostel. Kamar dorm untuk mixed dormitory dan female dormitory di bandrol dengan harga 2.800 Yen sedangkan kamar Double Japanese style dipatok 3.200 Yen dan kamar Double Japanese style dengan fasilitas ensuite bathroom dikenakan harga 3.600 Yen.
  3. Hotel Ibis Styles Kyoto Station
    Jika kalian tidak suka menginap di hostel dan mempunyai budget lebih, maka Hotel Ibis Styles Kyoto bisa dijadikan pilihan yang tepat. Hotel berbintang tiga ini mempunyai lokasi yang sangat strategis, persis berada di seberang stasiun Kyoto dan hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat pemberhentian bus Willer Express.

Note : Berkaca dari pengalaman gw, jika kalian mengincar penginapan di sekitar stasiun Kyoto, pesanlah dari jauh-jauh hari. Ketika gw mengumpulkan bahan untuk menulis postingan ini, untuk pemesanan 2,5 bulan kedepan (pemesanan di tanggal 18 November 2015) dari 25 penginapan yang berada di sekitar stasiun Kyoto hanya tersisa 2 penginapan yang masih mempunyai kamar available. Laris manis yeeee…!

Ketelatenan membuka satu persatu link yang tersedia disalah satu website Kyoto Hana Hostel akhirnya terbayarkan setelah melihat masih tersedianya kamar di Kyoto Guest House Lantern. Mengingat harga masih bersahabat, lokasi tidak jauh dari stasiun Kyoto dan kami sudah pontang-panting mencari penginapan, tanpa ba-bi-bu kami langsung mengeksekusi tempat ini.

Bukalah link yang gw lingkari atau yang gw beri tanda panah. Link ini terdapat di website http://kyoto.hanahostel.com/
Bukalah link yang gw lingkari atau yang gw beri tanda panah. Link ini terdapat di website http://kyoto.hanahostel.com/

Pada hari H-nya, sesuai dengan denah yang tercantum di website mereka, sampailah kami ke Kyoto Guest House Lantern dengan selamat sentosa dan sejahtera lahir batin tanpa disertai drama nyasar. 😛

Kami memesan dua jenis kamar yang berbeda. #Yaeyalaaahhh… #bukankode
Yudha menginap di Japanese mixed dorms dengan harga 2.500 Yen. Lokasi kamarnya berada di lantai 2 dan bersebelahan dengan resepsionis. Sedangkan gw menginap di Female Dorms yang berada di lantai 4 dengan harga 3.000 Yen.

Konsep privacy sangat diterapkan di kamar bertipe dorm. Yang gw tidak temukan di Tokyo (namun sama dengan penginapan di Osaka) masing-masing tempat tidur mempunyai tirai. Jadi kamu tidak usah khawatir jika tidak ingin diganggu dengan aktifitas penghuni satu kamar, maka tinggal tutup tirai, nyalakan lampu baca ataupun langsung mendengkur bobo manis.

Kamar yang gw inapi selama 2 malam terdiri dari 6 tempat tidur dengan tipe bertingkat. Fasilitas di setiap tempat tidur terdapat stop kontak listrik, lampu baca dan tirai penutup. Sayangnya di kamar yang gw inapi tidak mempunyai locker, hanya tersedia sebuah lemari baju yang dapat digunakan sebagai tempat meletakan koper. Dalam satu lantai ini terdapat male dorms, living room, bathroom dan shower room yang bersebelahan dengan coin laundry machine.

Di lantai tiga terdapat ruang makan (merangkap sebagai living room) dan dapur yang menempel menjadi satu. Fasilitas peralatan dapur pun terbilang cukup lengkap dan disediakan free drinks, seperti Japanese tea, teh, kopi dan gula.

Satu hal yang gw senangi di tempat ini adalah rasa kekeluargaan dan kehangatan yang terjalin di ruang makan. Dikarenakan tempat ini tidak terlalu luas, kami duduk diruang makan dengan posisi saling berdekatan. Masing-masing orang mau-tidak mau-suka-tidak suka jadi ikut berinteraksi selama di meja makan.

Seperti di malam pertama, kami sempat berbincang-bincang akrab dengan Takeshi yang merupakan pengurus dan resepsionis guest house. Doi menceritakan keseruan pengalamannya mengunjungi Bali dan mencoba beberapa patah kata bahasa Indonesia yang masih di ingatnya. Sambil menemani kami makan, doi sempat memperlihatkan sambal kering yang diberikan oleh penghuni guest house berasal dari Indonesia dan masih tersimpan rapi oleh Takeshi. Di penghujung malam, gw tidak sanggup menolak keramahan dari sebuah keluarga yang menawarkan makanan sayur kuah yang dimasak langsung oleh si Ibu.

Pada malam kedua, keramaian di ruang makan semakin bertambah. Rasanya penghuni guest house banyak yang menyempatkan diri singgah di ruang makan. Kami sempat berbicara dengan salah satu penghuni guest house yang berasal dari Bangkok, Thailand. Dari percakapan kami, ia menceritakan pengalamannya mengunjungi Yogyakarta dan Dieng. Ia menyukai Dieng karena tak mampu menolak pesona alam Dataran Tinggi Dieng yang tidak dapat ditemukan di negaranya.

Sebagai penutup postingan ini, jika kalian tidak keberatan berjalan kaki sejauh 650 meter dari stasiun Kyoto menuju Kyoto Guest House Lantern (yang memakan waktu 15-20 menit), guest house ini bisa dijadikan pilihan penginapan di Kyoto. Yang menjadi spesial dibandingkan dengan penginapan di Tokyo dan Osaka adalah kehangatan dan keakraban yang terjalin di antara penghuni guest house menjadikan sebuah pengalaman yang tidak dapat digantikan dengan apapun.

Kyoto Guest House Lantern

Nishi-Yaocyo Shimogyoku Kyotoshi Kyoto Japan 606-8269
Phone : 075-343-8889

http://k-guesthouse.jp/

 

Direction to Kyoto Guest House Lantern *courtesy Kyoto Guest House Lantern*
Direction to Kyoto Guest House Lantern *courtesy Kyoto Guest House Lantern*
The stairs to 2nd floor
The stairs to 2nd floor
Living room and kitchen at 3rd floor #1
Living room, dining room and kitchen at 3rd floor
Living room and kitchen at 3rd floor #2
Perhatikan jarak antara kursi dan dapur, seperti gang senggol ya 😀
Living room at the 4th floor
Living room yang ‘tidak laku’
Female dorms at the 4th floor
Female dorms at the 4th floor
dimanakah tempat tidur gw?
dimanakah tempat tidur gw?
Coin laundry machine
Coin laundry machine
Bathroom
Bathroom
Advertisements

6 thoughts on “[Jepang] Kyoto : Kyoto Guest House Lantern

  1. bersih yaa penginapannya, tapi gempor juga jalannya 650m 🙂 . btw tamu tamu disana ga ada yang manfaatin ricecookernya ya? apa lebih murah beli nasi jadi aja ya disana?

    1. Hai Doena!

      Karena negara ini mempunyai kebiasaan hidup yg teratur dan pencinta kebersihan, jd rasanya wajar semua penginapan yg gw inapi di tiga kota tersebut termasuk dalam kategori rapi dan bersih. 🙂
      Termasuk untuk ukuran sebuah guest house, mereka mempunyai rules yang ketat dalam menjaga kebersihan bagi para penghuni guest house.

      Hmmm…
      Rasanya gw tdk melihat orang-orang yg menggunakan rice cooker. Lbh sering melihat orang yang memasak mie instan, sayur berkuah dan menghangatkan makanan di microwave.

      Sayangnya gw tidak sempat membandingkan harga beras dgn nasi instan. Berhubung hanya gw yg sering memakan nasi, (my trip mate lebih suka membeli onigiri) jd gw prefer memilih nasi instan. Praktis, porsinya pas utk sekali makan dan harganya pun relatif terjangkau.

  2. Hai mba vika salam kenal.
    Gw tertarik utk stay disini juga.
    Gw uda book via web juga dan hanya dpt balasan otomatis isinya reservasi id.
    Pas nyampe sana tinggal unjukin email itu aja?
    Thx mba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s