[Jepang] Day 7 – Kyoto : Kinkaku-ji Temple, Sanjusangendo, Kiyomizudera Temple, Gion & Nijo Castle

Wednesday, April 8th, 2015

Pagi itu ketika gw turun ke lantai tiga, ruang makan tampak sepi. Berbeda 180 derajat dengan penampakan di malam sebelumnya, dimana ruangan ini ramai dengan obrolan dan celotehan para penghuni guest house. Segera setelah menghabiskan sarapan pagi, kami akan menuju tujuan pertama di hari itu yaitu Kinkaku-ji Temple.

Kami berjalan menikmati dinginnya udara pagi menuju terminal bus Kyoto. Dari settingan itinerary, kami akan naik Raku Bus nomor 101. Namun karena pagi itu antrian mulai tampak panjang menunggu kedatangan bis menuju Kinkaku-ji Temple, sang petugas dengan suara lantang menginformasikan bus yang akan segera berangkat menuju Kinkaku-ji Temple berada di stand B3 dengan menggunakan city bus nomor 205. Kami pun bergegas berlari menuju stand B3.

Perjalanan menuju Kinkaku-ji temple ditempuh selama 42 menit. Sesampainya di halte Kinkakuji Michi kami berjalan ke arah kiri (berlawanan dengan arah bus yang mulai meninggalkan halte Kinkakuji Michi) dan diperempatan lampu merah pertama kami belok kanan. Dari kejauhan tampaklah keramaian orang-orang serta polisi yang mengatur para wisatawan di gerbang pintu masuk menuju Kinkaku-ji Temple.

Kinkaku-ji Temple atau yang dikenal sebagai Golden Pavilion merupakan kuil Zen yang berada di Kyoto Utara dimana dua lantai teratas dilapisi oleh emas. Secara resmi kuil ini bernama Rokuonji, setelah digunakan sebagai tempat pertapaan oleh shogun Ashikaga Yoshimitsu, atas keinginannya kuil ini dijadikan kuil Zen dari Sekte Rinzai setelah kematiannya di tahun 1408.  Beberapa dekade kemudian, dengan nama yang hampir sama dengan Kinkakuji temple maka dibangunlah Ginkakuji temple (Silver Pavilion) yang dibangun oleh cucu Yoshimitsu, Ashikaga Yoshimasa.

Dalam sejarahnya, kuil ini sudah beberapa kali terbakar, termasuk dua kali selama Perang Onin (perang sipil yang menghancurkan Kyoto) dan tahun 1950 ketika dibakar oleh seorang biarawan fanatik. Bangunan ini kemudian dibangun kembali pada tahun 1950.

Masing-masing lantai kuil ini mempunyai arsitektur yang berbeda-beda. Lantai pertama mewakili Shinden style dengan menggunakan pilar kayu dan dinding plester berwarna putih sangat kontras dengan lantai atasnya yang berlapis emas. Di lantai kedua dibangun dengan Bukke style yang digunakan sebagai kediaman para samurai. Dilantai ketiga dibangun dengan Chinese Zen Hall, ditutup oleh lapisan emas dengan bagian atasnya berdirilah sebuah patung phoenix emas.

Mengelilingi kuil ini tidak membutuhkan waktu lama, cukup satu jam saja. Tidak banyak yang dapat dilihat di dalam area Kinkakuji Temple selain bangunan Kinkaku-ji temple sendiri dan beberapa bangunan lain. Harga tiket masuk Kinkaku-ji Temple sebesar 400 Yen dengan jam operasional pukul 09.00 – 17.00.

Melihat kekinclongan warna emas yang sangat eye catching, menarik perhatian para wisatawan. Ternyata seperti ini toh warna asli emas Jepang, buka emas sepuhan, imitasi bahkan KW Super. Tapi yang jadi pertanyaan gw selanjutnya, warna emasnya apakah tidak akan pudar dikikis oleh panasnya terik matahari, hujan, salju dan angin???

Ah, biarlah semilir angin yang menjawab pertanyaan gak penting gw.. 😛

Sambil menunggu Yudha yang sepertinya mulai asyik menyusuri stand makanan, gw duduk di salah satu taman yang berdekatan dengan toko yang menjual es krim. Ada apa dengan orang-orang disini, cuaca dingin-dingin malah sibuk antri es krim.

Baiklah..
Ketika orang-orang sibuk beli es krim, maka gw sibuk mengeluarkan ransum onigiri dan mencoba menghangatkan diri dengan kopi instan yang gw beli di vending machine.
Sambil sibuk ngunyah onigiri, gw sabar menanti Yudha yang lagi test food.

Walking direction to Kinkaku-ji Temple *courtesy Google Maps*
Walking direction to Kinkaku-ji Temple *courtesy Google Maps*
Kinkaku-ji Temple #1
Kinkaku-ji Temple #1
Kinkaku-ji Temple #2
Kinkaku-ji Temple #2
Kinkaku-ji Temple #3
Kinkaku-ji Temple #3
Emasnya kinclong banget deh..
Emasnya kinclong banget deh..
I wish..
I wish..
The incenses
The incenses
Praying
Praying
The candles
The candles
Ice cream
Ice cream
Souvenirs
Souvenirs
The umbrella
The umbrella… ella… ella… e… e… e… *Raihana mode on*
My snack - Tuna onigiri
My snack – Tuna onigiri

Setelah bersua dengan Yudha kembali, kami berjalan menuju halte bus yang berada di seberang halte Kinkakuji Michi yaitu halte Waretenjin Mae untuk menunggu city bus nomor 204. Dengan bus ini kami harus transfer di halte Kumano Jinja Mae, melanjutkan perjalanan dengan city bus nomor 206 hingga tiba di halte Hakubutsukan Sanjusangendo Mae.

Sesampainya di halte Hakubutsukan Sanjusangendo Mae, terlihat jelas (dan besar) tulisan Sanjusangendo Temple.

The official neme of Sanjusangen-do is Rengeo-in temple and the structure is registered as a National Tressure by the Japanese government. It was established by the powerful warrior-politician taira-no-Kiyomori in 1164. The original temple building was lost in a fire, but the building was reconstructed in 1266. That structure has remained unchanged for 700 years since then with four great renovations during that period. The long temple hall, which is about 120 meters long, is made in the Mayo (Japanese) style architecture. As there are thirty-three spaces between the columns, this temple came to be called “Sanjusangen-do” (a hall with thirty-three spaces between columns). Other noteworthy objects in this temple are the roofed earthen fence and the South Gate, which are registered as Important Cultural Properties. They are noted in connection with Regent Toyotomi Hideyoshi and reflect the aesthetics of the 16th century.

The principal images of Sanjusangen-do temple are the 1001 statues of the Buddhist deity. Juichimen-senju-sengen Kanzeon, which is often called by the simplified name, “Kannon”. One thousand standing statues of Kannon (Important Cultural Properties) and one gigantic seated statue (National Treasure), placed at the center of the standing statues, are housed in the temple hall. The statues are made of Japanese cypress. Among the standing statues, 124 were made in the 12th century when this temple was fouded and the remaining 876 were made in the 13th century when the temple was renovated.

Address:
657, Kaimachi, Sanjusangendo, Higashiyama-ku, Kyoto-city, Kyoto

Hours open to visitors:
0
8.00 – 17.00
09:.00 – 16.00  (from November 16 through March)
(Last admission 30 minutes before closing)

Admission Fee:
600 yen (regular fee)

Closed:
Open throughout the year

http://www.sanjusangendo.jp/

Ketika kami akan memasuki bangunan utama, sangat banyak informasi larangan untuk mengambil foto dan berbicara dengan suara keras. Baiklah, gw simpan baik-baik kamera dan Ipin ke dalam tas.

Begitu mulai masuk kedalam bangunan, rasa sakral dan hening menyelimuti suasana di dalam bangunan utama. Plus bebauan ‘wangi’ yang bikin perasaan gw gak enak.. 😦

Sanjusangendo atau yang dikenal dengan Rengeo-in, merupakan kuil yang berisikan 1.001 Kannon atau patung Budha. Patung ini tersimpan rapi didalam sebuah rumah tradisional Jepang yang mempunyai panjang 120 meter.

Didalam bangunan utama tersusun 1000 patung Kannon dibagi dalam 10 baris sejajar dan dibagian depan terdapat patung dewa-dewa dalam agama Budha. Ditengah hall ini terdapat sebuah patung besar yaitu patung 1000-armed Kannon (Senju Kannon). Patung besar ini cukup menarik perhatian karena ukurannya yang terbilang besar dan mempunyai ‘1000 tangan’. Dibagian depan patung ini terdapat tempat untuk berdoa.

Semakin jauh gw melangkah, udara terasa ‘dingin’, lantai kayu berderik oleh langkah kaki, barisan patung-patung serta tatapan mata mereka yang terasa ‘hidup’ semakin menambah aura mistis. Walaupun saat itu ramai dikunjungi oleh wisatawan, gw merasa tatapan seribu patung ini memantau dari segala penjuru sudut dan membuat bulu kuduk gw berdiri seketika.

Dari hasil browsing-browsing di dunia maya, tempat ini sepertinya tidak terlalu tenar di antara postingan cerita perjalanan di Jepang, namun gw merekomendasikan Sanjusangendo masuk ke dalam list yang harus didatangi ketika mengunjungi Kyoto. Gw belum pernah masuk kedalam satu kuil atau museum yang berisi 1000 patung Kannon dengan hasil patung terlihat sangat detail. Dari sisi aura mistisnya pun keceh banged! 😛

Sanjusangendo Temple tampak luar
Sanjusangendo Temple tampak luar
Sanjusangendo Counter
Sanjusangendo Counter
Sanjusangendo Temple #1
Sanjusangendo Temple #1
Sanjusangendo Temple #2
Sanjusangendo Temple #2
The main hall
The main hall
Sedikit aksesoris bintik-bintik yah..
Sedikit aksesoris bintik-bintik yah..
The Kannon *courtesy http://www.sanjusangendo.jp/ *
Atas : Senju Kannon ; Bawah : 1000 kannon  *courtesy http://www.sanjusangendo.jp/ *
beberapa dewa Budha yang ada di Sanjusangendo Temple * courtesy http://www.sanjusangendo.jp/ *
beberapa patung dewa Budha yang ada di Sanjusangendo Temple * courtesy http://www.sanjusangendo.jp/ *
*Courtesy http://www.sanjusangendo.jp/ *
*Courtesy http://www.sanjusangendo.jp/ *

Karena letak Sanjusangendo tidak begitu jauh dari penginapan, kami memutuskan pulang terlebih dahulu untuk makan siang dan shalat.

Satu jam kemudian, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Kiyomizudera Temple. Dari halte bus terdekat dari penginapan yaitu halte Nanajo Horikawa kami menggunakan city bus nomor 206 dan turun di halte Gojozaka. Sesampai di halte Gojozaka, kami menyebrang menuju arah petunjuk yang ada serta mengikuti keramaian orang berjalan.

Tak lama setelah jalan mulai menanjak, jalan akan bercabang menjadi dua. Kami mengikuti orang-orang yang berjalan menyusuri percabangan sebelah kanan. Jika kamu berjalan ke sebelah kiri, kamu akan melewati jalan yang penuh dengan penjual cinderamata.

Jalan menuju Kiyomizudera
Jalan menuju Kiyomizudera
Ujung jalan menuju Kiyomizudera
Ujung jalan menuju Kiyomizudera

Kiyomizudera yang dikenal sebagai Pure Water Temple merupakan kuil bersejarah yang didirikan pada tahun 778. Sejak berdiri, kuil ini terbakar beberapa kali. Sebagian besar bangunan yang ada pada saat ini, dibangun kembali oleh Shogun ketiga, Tokugawa Iemitsu pada awal periode Edo (1631-1633).

Lantai panggung kuil Kiyomizudera dibangun menggunakan metode khusus; dengan Keyaki (Japanese Zelkova) setinggi 12 meter, pilar-pilar berkumpul tanpa menggunakan paku tunggal dan lantai dipasang menggunakan lebih dari 410 papan cemara.

Bangunan utama kuil (yaitu Hondo) ditetapkan sebagai national treasure. Selain itu, kuil ini mempunyai  kekayaan budaya lain yaitu gerbang Deva, gerbang Barat, pagoda bertingkat dan menara lonceng. Di tahun 1994, kekayaan budaya tersebut dimasukan ke dalam UNESCO World Cultural Heritage List sebagai Historic Monuments of Ancient Kyoto.

Open hours :
06.00 in the morning, but closing time varies depending on the season.
During the season of special night opening, the gate is closed once at the ordinary closing time and later re-opened.

Admission Fee :
300 yen

http://www.kiyomizudera.or.jp/lang/01.html

Saat itu kuil penuh dikunjungi oleh orang-orang, baik para turis, masyarakat setempat, peziarah ataupun para siswa yang sedang study tour. Walaupun begitu, karena kuil ini menempati lahan yang luas, kuil ini tidak tampak padat dipenuhi oleh orang-orang.

Kiyomizudera berdiri diatas bukit dengan pemandangan sakura disebelah kanan dan kiri kuil. Jika berhadapan dengan bangunan utama, kuil ini terlihat seperti mengambang di atas papan-papan. Imajinasi gw mulai bermain membayangkan bagaimana cara mereka membangun kuil setinggi 12 meter ini (hanya) dengan menggunakan pohon Keyaki.

Sayangnya ketika gw mengunjungi Kiyomizudera, beberapa tempat sedang dalam proses renovasi dan mekarnya bunga sakura sudah lewat dari waktunya. Proses renovasi ini akan berjalan dalam beberapa waktu kedepan hingga nantinya bangunan utama ini akan kena giliran untuk proses renovasi. Untuk mengetahui bangunan mana yang sedang ditutup bisa cek di website resmi Kiyomizudera dan website Japan Guide .

Sekitar Kiyomizudera banyak sekali gw melihat para wanita yang memakai pakaian kimono. Namun jika didengarkan dengan seksama, bahasa percakapan mereka bukanlah bahasa Jepang. Selidik punya selidik, ternyata di sekitar Kiyomizudera Temple banyak sekali tempat yang menyediakan jasa penyewaan pakaian kimono yang dapat digunakan dalam beberapa jam. Jadi selama ini wanita-wanita yang wara-wiri disekitar Kiyomizudera dengan menggunakan kimono adalah KW1 nya wanita Jepang. 😀

Deva Gate
Deva Gate
The stairs
The stairs
Up..up..up..
Up..up..up..
Pria berkimono
Pria berkimono
Three-storied pagoda
Three-storied pagoda
The hunters
The hunters
Kiyomizu-dera Main Hall (Hondo) #1
Kiyomizu-dera Main Hall (Hondo) #1
Kiyomizu-dera Main Hall (Hondo) #2
Kiyomizu-dera Main Hall (Hondo) #2
Kiyomizu-dera Main Hall (Hondo) #3
Kiyomizu-dera Main Hall (Hondo) #3
Kiyomizu-dera Main Hall (Hondo) #4
Kiyomizu-dera Main Hall (Hondo) #4
Penampakan Otowa waterfall dari Main hall
Penampakan Otowa waterfall dari Main hall
Para siswa yang sedang study tour ikut berdoa
Para siswa yang sedang study tour ikut berdoa
Otowa waterfall
Otowa waterfall

Setelah selesai berkeliling, kami keluar dari Kiyomizudera Temple dengan menggunakan jalur yang penuh dengan penjual cinderamata. Cinderamata disini sangat menarik, harga yang dibandrol pun rasanya juga standar. Emmm… standar mahalnya.. 😛

Jejeran penjualan cinderamata
Jejeran penjualan cinderamata
Tempting with Kitkat?
Tempting with Kitkat?
gw
mood belanja pun menguap ketika melihat penuhnya tempat ini

Karena gw penasaran dengan Sannenzaka dan Ninenzaka stairs, kami memilih tidak kembali menuju jalan utama. Namun belok kanan ke arah Maruyama Park dan Yasaka Shrine.

Lokasi Sannenzaka dan Ninenzaka stairs berada didalam Distrik Higashiyama serta di antara Kiyomizudera Temple dan Yasaka Shrine. Menyusuri jalan di Distrik Higashiyama seperti menyusuri kota tua Kyoto. Walaupun jalan ini penuh dengan jejeran toko cinderamata, kafe dan restoran namun tidak menghilangkan suasana “traditional district”.

Jalan setapak, bangunan yang terbuat dari kayu serta warna cokelat kayu yang mendominasi membuat atmosfir di distrik ini sangat berbeda. Gw merasa seperti kembali di tahun 70-an. I love this street !

Sannenzaka and Ninenzaka stairs #1
Sannenzaka and Ninenzaka stairs #1
Sannenzaka and Ninenzaka stairs #2
Sannenzaka and Ninenzaka stairs #2
Nice place to walking
Nice place to walking
The souvenirs
The souvenirs
The ambience of Sannenzaka and Ninenzaka stairs
The ambience of Sannenzaka and Ninenzaka stairs
Lovely alley
Lovely alley
Salah satu sudut terbaik untuk berfoto
Salah satu sudut terbaik untuk berfoto
Akhirnya gw tergugah mencoba Ice Cream Vanilla-Green Tea. Berhubung gw tidak terlalu suka dengan green tea, tapi rasanya masih bisa diterima dilidah gw.
Akhirnya gw tergugah mencoba Ice Cream Vanilla-Green Tea. Berhubung gw tidak terlalu suka dengan green tea, gw membeli es krim dengan gabungan dua rasa. Alhamdulillah rasanya masih bisa diterima di lidah gw.

Matahari mulai tenggelam perlahan-lahan dan gw mulai sedikit putus asa mencari jalan menuju Maruyama Park dan Yasaka Shrine. Mengingat hari semakin malam, akhirnya kami memutuskan mencoret Maruyama Park dan Yasaka Shrine dan berjalan menuju Gion. Kami kembali mencoba menyusuri jalan-jalan kecil untuk menemukan jalan besar menuju Gion.

Ironisnya didalam perjalanan setelah sampai di lampu merah pertigaan Gion hingga menuju jalan yang terkenal dengan lokasi Geisha, kami nyasar!!!
Emmm….Lebih tepatnya gw menyasarkan anak orang! 😛
Nyasarnya pun lumayan jauh, menjauhi Gion. Kekekek…

Kebodohan gw pun bertambah, ketika gw sedang membuat postingan ini, gw baru tahu kalau tempat kami berdiri dipertigaan lampu merah Gion, tepat dibelakang kami adalah Yasaka Shrine.
Hadeeuuuuu…. Dong-dong banget deh!

Kenapa gw sampai nyasar?
Efek nge-blank, buuuuu!

Gw tidak mengira kalau jarak dari Sannenzaka dan Ninenzaka stairs menuju Yasaka Shrine akan sejauh itu serta gw tidak tahu kalau di antara jalan tersebut juga terdapat beberapa kuil. Gw tidak mampu mengingat kembali letak dan petunjuk-petunjuk khusus yang sudah gw susun rapi di itinerary.

Berkaca dari pengalaman tersebut. Ini adalah cara jalan menuju Gion :

  • Jika tidak akan menyusuri Sannenzaka dan Ninenzaka stairs, maka kembalilah ke jalan utama. Naik kembali dari halte bus Gojozaka menuju Gion dengan menggunakan City Bus nomor 202, 206 atau 207. Jarak dari halte bus Gojozaka menuju Gion hanya sejauh 3 halte bus.
  • Jika menyusuri Sannenzaka dan Ninenzaka stairs, maka ketika kita sudah selesai menyusuri Sannenzaka dan Ninenzaka stairs,
    1. Kita akan bertemu dengan pertigaan jalan dan didepan jalan akan terlihat lahan luas yang digunakan sebagai tempat parkir mobil dan bus.
      At the end of Sannenzaka and Ninenzaka alley
      At the end of Sannenzaka and Ninenzaka alley

      Jika sudah bertemu dengan tempat parkir mobil dan bus yang tampak seperti di gambar, berjalanlah menuju jalan utama atau ikuti arah seperti gambar orang di atas
      Jika sudah bertemu dengan tempat parkir mobil dan bus yang tampak seperti di gambar, berjalanlah menuju jalan utama dengan mengikuti arah orang berjalan seperti gambar di atas
    2. Berbeloklah ke arah kiri dan susuri jalan hingga bertemu dengan jalan utama.
    3. Setelah bertemu jalan utama (terdapat pertigaan lampu merah), beloklah ke arah kanan.
    4. Susuri jalan utama tersebut hingga sampai di pertigaan lampu merah ke dua. Di sebelah kiri jalan terdapat Lawson sedangkan disebelah kanan jalan akan terlihat Yasaka Shrine.
    5. Belok ke arah kiri dan susuri jalan kembali hingga bertemu perempatan pertama lampu merah.
    6. Belok kiri dan tibalah di Hanamikoji Dori yaitu salah satu area Gion yang popular dengan keberadaan Geisha!
Jalur menuju Gion *courtesy Google Maps*
Rute berjalan kaki menuju Hanamikoji Dori *courtesy Google Maps*
Arah menuju pertigaan Gion. Sebelah kiri terdapat Lawson sedangkan sebelah kanan terdapat Yasaka Shrine *courtesy Google Maps*
Arah menuju pertigaan lampu merah Gion. Sebelah kiri terdapat Lawson sedangkan sebelah kanan terdapat Yasaka Shrine *courtesy Google Maps*
Penampakan dari yasaka Shrine, berjalanlah lurus ke seberang dari Yasaka Shrine *courtesy Google Maps*
Penampakan dari Yasaka Shrine, berjalanlah lurus ke seberang dari Yasaka Shrine. Sebelah kiri merupakan arah dari Kiyomizudera *courtesy Google Maps*
Yasaka Shrine *courtesy Google Maps*
Yasaka Shrine *courtesy Google Maps*
Masuklah melewati gerbang menuju Dori *courtesy Google Maps*
Masuklah melewati gapura (berwarna putih) menuju Hanamikoji Dori *courtesy Google Maps*

Gion terletak sekitar Shijo Avenue di antara Yasaka Shrine di sisi timur dan Sungai Kamo disisi barat. Area ini penuh dengan rumah kayu yang merupakan toko, restoran dan ochaya (tea house). Temaram lampu yang mulai menggantikan cahaya matahari semakin menambah pesona di area ini.

Ketika kami baru mulai melangkahkan kaki di Hanamikoji Dori, berdirilah beberapa orang berkumpul di salah satu sudut jalan. Naga-naganya mereka sedang ‘hunting’ geisha. Dan benar saja ketika kami berdiri di dekat mereka, gw melihat 3 orang Geisha yang sedang berjalan ke arah kami.

Gw coba setting kamera manual, tanpa flash, setting iso tinggi dan ketika mereka sudah didekat mata, shutter kamera orang-orang mulai berbunyi, gw pun mulai bergerilya.

Cektrek…Cetrek… Cetrek… Cetrek… Cetrek…
*bergaya layaknya potograper propesional*

Dan ketiga geisha tersebut berjalan melesat meninggalkan kami. Gw hanya bisa mengagumi kecepatan mereka berjalan.

Terus, bagaimana dengan hasil fotonya?
Bluuuuuurrrr gila-gilaan, kakak!
Hehehehe…

Gw tidak menyangka geisha itu berjalan sangat cepat seperti badai tornado!
Mereka berjalan dengan diameter lebar kimono yang tidak terlalu besar serta sandal kayu yang gw rasa cukup berat untuk menakuti buaya darat , namun dapat melangkah cepat seperti the flash.

Sedikit saran, ketika ingin mencoba hunting geisha :

  • Jangan gunakan flash karena para geisha ini tampaknya sudah terganggu dengan kehadiran dan “keingintahuan” para wisatawan.
  • Setting kamera dengan baik karena mereka berjalan sangat cepat!
    Perhatikan pencahayaan serta gunakan ISO dan speed yang tepat ya..
    Jangan seperti gw yang salah setting hingga akhirnya tidak bisa tertangkap dengan kamera.

Kami mulai melangkah masuk ke arah dalam dari Hanamikoji Dori. Suasana malam itu mulai dipenuhi dengan orang-orang (yang gw rasa mereka juga) mencari keberadaan geisha. Untuk mengeksplor tempat ini rasanya bisa memakan waktu dua jam karena tempat ini mempunyai spot-spot berfoto, atmosfer lingkungan yang nyaman untuk berjalan kaki ataupun sekedar duduk santai menikmati secangkir ocha hangat di ochaya. Namun udara yang mulai ‘menggila’ serta kami tidak dapat menemukan Shirakawa Area membuat kami memutuskan untuk kembali.

Ketika berjalan kembali menuju halte bus, kami sempat melihat seorang geisha berjalan di depan kami. Jalan yang kami susuri Yamato Oji Dori sebenarnya adalah jalan utama kendaraan sehingga rasanya kemungkinan para turis untuk hunting sampai area ini terbilang kecil, namun tetap saja sosok itu berjalan sangat cepat.

Kami berusaha mengejar dari belakang dan tiba-tiba geisha tersebut berbelok arah dan kemudian menghilang. Ya sudahlah, mungkin memang sudah sewajarnya menghargai privacy mereka untuk tidak mengejar layaknya papparazi.

Sepatu qu numpang ngeksis
Sepatu qu numpang ngeksis dulu
Gion #1
Gion #1
Gion #2
Gion #2
Gion #3
Gion #3
Gion #4
Gion #4
Gion #5
Gion #5
Dan inilah yang ditunggu-tunggu oleh semua orang... Geisha! PS: Sorry ya fotonya ngeblur! Alasan foto blurnya sudah tertulis di atas
Dan inilah yang ditunggu-tunggu oleh semua orang… Geisha! PS: Sorry untuk hasil foto yang teramat sangat ngeblur! At least, ada bukti autentik gw bertemu dengan Geisha 😀

Sesampainya di halte bus Shijo Keihan Mae, Yudha mengajukan ide untuk mampir ke Nijo Castle yang seharusnya kami kunjungi di malam sebelumnya.

Baiklah, Broo!
Siapa takut!

Setibanya di halte bus Nijojo Mae (nijo-jo castle), udara dingin langsung menampar badan ini. Ya ampuuuunn…dingin banget inih! Cek-cek sebentar, ternyata suhu malam ini mencapai 7 derajat celcius sajah! *sibuk lari-lari ditempat*

Setelah membayar tiket masuk seharga 400 Yen, kami segera masuk ke dalam area Nijo Castle.

A castle is a defensive structure built to defend against enemy attack. From ancient fortresses and castle towns, feudal lord residences and hill castle or forts of the Middle Ages, or also temple towns surrounded by a moat to fortresses built in various places at the end of the Edo Period (1603-1868), the word castle includes many meanings. From all of these, the majority of castles regarded as castle-like were those built in the almost half century from the end of the Warring States period, through the Azuchi-Momoyama period, and into the beginning of the Edo period. During this period the number of big and small castles in Japan reached over 3,000. However, following the summer campaign of the siege of Osaka in 1615, the Tokugawa Shogunate instigated the ‘law of one castle per province’ and the number of castles quickly fell to just 170. Following this, the construction of new castles and the restoration of old ones were prohibited without permission from the Shogunate, and as such the number of castles did not change much as Japan headed into the Meiji Restoration (1868-1912).

As the rule of the samurai came to an end in the Meiji Restoration, the new Meiji Government released the ‘order for abandoning castles’ in 1873, and by around 1874 or 1875 about two thirds of Japan’s castles had been demolished. Following this, many castles suffered great damage during World War II. After the war, the historical value of Japan’s castles was reconsidered, and as an outstanding sightseeing resource many castle towers, turrets and castle gates that were lost to fires were reconstructed or restored.

Operational hours :
08.45 to 17.00 (admission until 16.00)
Entry to Ninomaru from 09.00 to 16.00

Closed :
Tuesdays in Jan, Jul, Aug and Dec (or following day if Tue is a national holiday)
December 26 to January 4

Fees :
600 yen

http://www.city.kyoto.jp/bunshi/nijojo/english/index.html

Nijo Castle dibangun pada tahun 1603 sebagai kediaman Tokugawa leyasu, yaitu shogun pertama dari periode Edo (1603-1867). Cucunya (Tokugawa Iemitsu) menyelesaikan bangunan istana pada 23 tahun kemudian dan selanjutnya memperluas benteng dengan menambahkan lima kastil.

Setelah Keshogunan Tokugawa jatuh pada tahun 1867, Nijo Castle digunakan sebagai istana kekaisaran sebelum disumbangkan ke kota Kyoto dan dibuka untuk umum sebagai situs bersejarah. Istana ini ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1994.

Nijo Castle dapat dibagi menjadi tiga area: Honmaru (lingkaran utama pertahanan), Ninomaru (lingkaran kedua pertahanan) dan beberapa taman yang mengelilingi Honmaru dan Ninomaru.

Terus, kalau sudah malam-malam begini, bingung dunk mau ngapain ke Nijo Castle.
Selain gak mungkin ketemu kaisar, emang bisa lihat apa di malam-malam dingin beginih?

Untuk area utama Nijo castle sudah tidak dapat dikunjungi oleh pengunjung. Kami mampir kesini karena ingin melihat pemandangan pohon sakura di malam hari. Selama bulan April, di beberapa tempat akan beroperasional pada malam hari khusus untuk melihat keindahan bunga sakura.

Begitu kami memasuki Nijo castle, kami langsung disuguhi film dengan dinding Nijo Castle sebagai latar pertunjukan film. Karena pertunjukan ini outdoor, kami tidak bisa menikmati film dengan tenang. Anginnya kencang sekali! Brrrr…..

Kami kemudian berjalan menuju taman-taman yang penuh dengan sakura bermekaran.




[hening]
*speechless*

Suasana melihat sakura di malam hari sangat berbeda. Lampu sorot yang menyinari sekitar pohon sakura menambah efek dramatis dan pesona warna bunga sakura terlihat semakin cantik dan romantis.

Sayangnya foto yang gw ambil tidak dapat maksimal. Maklumin aja yaaa, eikeh kan gak bawa dan gak punya tripod juga, jadi hasilnya seadanya ajah.. 😛

The lantern
The lantern.. or lamp..?
Pemutaran film pendek disalah satu sudut dinding Nijo Castle
Pemutaran film pendek disalah satu sudut dinding Nijo Castle
..film lagi..
..film lagi..
Dan inilah foto sakura di malam hari..
Dan inilah foto sakura di malam hari..
*speechless*
*speechless*
romantic..
romantic..
heaven..
heaven..
The pathway
The pathway
pin
*take a deep breath*
Salah satu pertunjukan Koto di Nijo Castle
Salah satu pertunjukan alat musik tradisional Koto di Nijo Castle

Semakin malam, udara semakin dingin. Pukul 21.10 kami pun segera bergegas kembali menuju halte bus. Dari halte bus Nijojo Mae kami menaiki city bus no 50 dan turun di halte Nanajo Horikawa.

Tak jauh dari halte, kami mampir untuk berbelanja perbekalan makan malam yaitu nasi dan onigiri di Circle K. Setelah itu, kami segera berjalan berlari menuju guest house menembus dinginnya udara malam. Membayangkan ruang makan guest house yang penuh dengan kehangatan membuat gw tak sabar untuk segera tiba di guest house.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s