[Jepang] Day 6 – Kyoto : Arashiyama, Sagano Romantic Train, Kyoto Imperial Palace, Kyoto Mosque & Philosopher’s Path

Tuesday, April 7th, 2015

Dua (setengah) hari ke depan, topik perjalanan akan berkutat di kota kecil yang bersahaja nan penuh budaya yaitu Kyoto. Sebelum memulai behind the story journey of Kyoto, akan gw bahas berbagai moda transportasi yang ada di Kyoto.

One Day Pass
Kyoto City Bus – Kyoto Bus One Day Pass

Secara garis besar terdapat 2 moda transportasi untuk Kyoto, yaitu dengan armada bis dan subway. Dari hampir seluruh postingan yang ada, rekomendasi transportasi yang digunakan di Kyoto adalah dengan menggunakan bis. Alasan utamanya karena Kyoto merupakan kota yang tidak besar sehingga hampir seluruh tempat wisata di Kyoto mudah di akses dengan bis.

Berikut ini adalah beberapa pass yang disediakan :

  1. Kyoto City Bus & Kyoto Bus One-Day Pass
    Dengan harga tiket sebesar 500 Yen untuk dewasa dan 250 Yen untuk anak-anak, tiket ini digunakan tak terbatas selama satu hari untuk penggunaan City Bus & Kyoto Bus Flat-Fare Zone.
  2. Kyoto Sightseeing One and Two-day Pass
    Tiket one-day pass sebesar 1.200 Yen, anak-anak 600 Yen serta harga two-day pass sebesar 2.000 Yen, anak-anak 1.000 Yen berlaku penggunaan tak terbatas untuk seluruh Kyoto City bus dan subway.
  3. Kyoto Sightseeing One-day Pass (Yamashina-Daigo Area added)
    Pass seharga 1.300 Yen yang berlaku hanya untuk dewasa, sama dengan Kyoto Sightseeing One-Day Pass, namun dengan penambahan area Yamashina-Daigo.
  4. Kyoto City Subway One-day Pass
    Penggunaan tak terbatas untuk tiket kereta (Karasuma Line dan Tozai Line) selama satu hari, dengan harga tiket dewasa sebesar 600 Yen dan 300 Yen untuk anak-anak.

Berbagai macam pass yang disebutkan di atas dapat dibeli di Kyoto Tourist Information Center (terletak di Kyoto Station Building lantai 2), kantor informasi subway dan bus, ticket office, serta convenience store. Dengan pembelian tiket City Bus & Kyoto Bus One-Day Pass di Kyoto Tourist Information Center, gw mendapatkan Route Map – City Bus Sightseeing Map “Bus Navi” . Untuk contekan map nya bisa dilihat disini dan disini.

Bus di Kyoto terdiri dari 2 jenis yaitu Kyoto City Bus merupakan bus berwarna hijau yang mengakomodir rute di dalam kota Tokyo dan Kyoto Bus Company menggunakan bus berwarna putih untuk rute daerah terpencil seperti Ohara dan Arashiyama.

Jam operasional bus dimulai dari pukul 5 pagi hingga pukul 11 malam. Tarif untuk sekali jalan menggunakan Kyoto City Bus adalah 230 Yen sekali (flat fare). Jika kalian berpergian lebih dari satu tempat atau akan menggunakan Kyoto City Bus lebih dari 3 kali dalam satu hari, gw sarankan agar membeli Kyoto City BusKyoto One Day Pass seharga 500 Yen. Praktis dan menghemat posko keuangan pastinya! 😉

Untuk memudahkan perjalanan para wisatawan, terdapat Raku Bus yang khusus ditujukan ke beberapa tempat wisata (terkenal) di Kyoto. Sepengamatan gw, Raku Bus hanya berhenti di beberapa titik halte, tidak sebanyak dengan halte yang harus disinggahi oleh bus biasa. Oleh karena itu dengan Raku Bus kita bisa menghemat waktu perjalanan di bandingkan dengan menggunakan bus biasa. Info detailnya bisa cek di http://www.japanvisitor.com/japan-transport/kyoto-buses

Untuk informasi cara menggunakan bus di Kyoto bisa dilihat di postingan ini, sedangkan untuk informasi lebih detail tentang transportasi di Kyoto bisa cek di sini.

Petunjuk letak A, B, C dan D
Bus stop information
Ini adalah petunjuk untuk mengetahui apakah posisi bus sudah dekat dengan halte tempat kita berdiri
Ini adalah petunjuk yang tersedia di halte bus untuk mengetahui apakah posisi bus sudah dekat dengan halte tempat kita berdiri

Transportasi subway di Kyoto hanya terdiri dari 2 lines yaitu Karasuma Line (warna hijau) yang menghubungkan utara dan selatan kota serta Tozai Line (warna merah) yang menghubungkan timur dan barat kota Kyoto. Cara membeli tiket serta penggunaan subway, hampir sama saja dengan subway di Tokyo. Untuk peta lengkap subway bisa cek di sini dan sini.

*****

Back to the journey..

Kelopak mata mulai terbuka satu persatu setelah mendengar grasak-grusuk di dalam bus. Lirik sisi kanan terlihat berkas cahaya mulai menyeruak masuk di antara sela-sela tirai, lirik sisi kiri terlihat Yudha masih terbuai dengan alam mimpi. Menguap sedikit, kucek-kucek mata (alias bersihin belek 😛 )dan berakhir dengan ngulet merupakan usaha terbaik yang bisa gw berikan untuk mengumpulkan nyawa. Gw coba merogoh ipin, hmmm… dalam satu jam lagi kami akan tiba di Kyoto.

Maju 15 menit dari jadwal kedatangan di stasiun Kyoto, begitu kami turun dari bis, udara dingin langsung menyambut kami tanpa malu-malu. Cuma bisa komentar dalam hati kalau saat itu udaranya lebih dingin daripada udara di Tokyo pada empat hari sebelumnya.

Kami segera menyebrangi jalan menuju Kyoto Station sambil mencari lokasi penyewaan loker dengan harga termurah. Walaupun banyak sekali jajaran lemari loker, namun kami menghabiskan waktu cukup lama juga berkeliling mencari loker dengan posisi strategis dan murah. 😀

Sambil menunggu Yudha memasukan koper ke loker, gw coba update perkiraan cuaca dan suhu hari ini.
Alamakjaaannnn…
Sepuluh derajat sajah, Sodara-sodara!!!
Saiah butuh kehangataannn…!
Mari kita keluarkan jaket ba(r)uuuuu…
Test drive euy!

Beres dengan urusan loker, cuci muka dan urusan hajat di pagi hari, kami masuk kedalam stasiun Tokyo. Rencana awalnya kami akan mencari tempat pembelian tiket Sagano Romantic Train di kantor tiket JR. Tapi karena kantor JR yang kami datangi itu (sepertinya) khusus untuk penukaran JR Pass akhirnya kami memutuskan menanyakan informasi Sagano Romantic Train di Kyoto Tourist Information Center yang baru beroperasional pukul 08.30 pagi.

Sambil menunggu, kami berkeliling mencari tempat strategis untuk sarapan pagi. Pagi itu kami menikmati kelezatan onogiri. Sebenarnya, baru pagi itu dan untuk pertama kalinya gw mencoba onigiri. Ternyata rasanya enyaaaakkkk ya!
Pantesan aja Yudha selalu bolak-balik beli onigiri dengan berbagai rasa.

Kalau dibandingkan dengan onigiri yang dijual di minimarket Jakarta, rasanya berbeda 180 derajat! Onigiri di Jepang mempunyai tekstur nasi lebih lembut dan nasinya sendiri sudah terasa gurih, tak lupa ikan tunanya terasa lebih fresh. Nyum-nyum deh! Kalau rasa onigiri di Jakarta, gw tidak mau bisa berkomentar banyak 😦

Sambil menikmati onogiri, gw mulai menatap pemandangan diluar stasiun Kyoto. Hujan deras mulai membasahi tanah Kyoto, berbagai macam jenis payung mulai menghiasi jalur pedestrian, hembusan angin yang kencang membuat orang-orang semakin merapatkan jaket.

Arggggghh…
Inih kan musim semi, bukan musim dingin!
Seharusnya bisa jalan-jalan dengan modal satu lapis sweater saja. Mana nih pertanggungjawaban Jeng Uninuna yang bilang musim semi itu dinginnya sama seperti di Puncak. Ini namanya suhu Puncaknya Gunung Himalaya, bukan Puncaknya Cisarua! *heater mana heater* *sibuk pasang sarung tangan*

Inside of Kyoto Station
Inside of Kyoto Station
View from the top floor
View from the top floor

Jam 8 lewat kami berjalan menuju Kyoto Tourist Information Center. Sudah tampak beberapa orang yang menunggu didepan pintu masuk Kyoto Tourist Information Center. Sambil menunggu pintu dibuka, Yudha mulai sibuk dengan gadgetnya sedangkan gw memperhatikan kesibukan pagi hari masyarakat Kyoto.

Gw senang sekali melihat ritme kehidupan orang Jepang. Mereka selalu jalan tergesa-gesa, namun ketika harus ‘bersinggungan’ dengan orang lain, mereka selalu-selalu-dan-selalu menghargai privacy orang lain. Lihat saja dari keteraturan mereka mengantri, berdiri pada sisi yang sama di eskalator, berbicara tidak bersuara keras, bahkan ada kalanya ketika gw tidak sengaja menyenggol mereka, mereka yang akan lebih dulu minta maaf.

Puncak kekaguman gw ketika menaiki subway di saat rush hour, ketika gerbong kereta mulai penuh dengan jutaan umat manusia (maaf, lebay sedikit!) para penumpang didalam kereta tidak akan sibuk dengan gadgetnya. Beberapa orang terlihat memasang headset, namun jarang sekali melihat mereka sibuk kutak-katik memainkan HP. Mereka hanya berdiri tegak, tidak mengganggu penumpang disekitarnya, hanya demi mematuhi peraturan Please set your cell phone to silent mode and refrain from talking on it during your ride, and please turn your phone off when near courtesy seats”. Kalaupun mereka menyenggol orang yang ada disebelahnya, langsung deh nunduk-nunduk minta maaf.

Ahhh… Mereka keren banget sih!!!
Gw hanya bisa berangan-angan!
Andaikan para penumpang commuter line Jabodetabek bisa sepeka mereka, menghormati penumpang lain dan gak main gadget kalau kereta dalam kondisi penuh bin padat kayak pepes  #kode #curcol
Sepertinya, budaya Jepang adalah budaya timur sebenarnya!

Tepat pukul 08.30 pintu Kyoto Tourist Information Center dibuka dan tampaklah jejeran pegawai (dengan sikap berdiri tegak ala Jepang) siap menanti kehadiran kami. Salut dengan etos kerja mereka yang tepat waktu! Kami segera masuk dan mengantri sebentar untuk menunggu giliran.

Kami mencoba menanyakan apakah kami bisa membeli tiket Sagano Railway di tempat ini dan ternyata jawabannya tidak bisa. Beliau mengarahkan kami membeli tiket di Saga Tarokko Statation setelah tiba di Arashiyama. Akhirnya, kami hanya membeli tiket Kyoto Bus One Day Pass untuk penggunaan hari ini dan esok.

Setelah itu kami kembali ke lantai satu dan membeli tiket JR untuk menuju Arashiyama. Waktu tempuh dari Kyoto Station menuju stasiun Saga Arashiyama yaitu 16 menit dengan biaya tiket sebesar 240 Yen. Ikuti saja petunjuk seperti dibawah ini untuk membeli tiket JR Sagano Line Local dan tinggal ikuti petunjuk platform untuk menuju Arashiyama.

How to buy the tickets?
How to buy the tickets?
The machine ticket
The machine ticket
The Fare Table of Major Station
The Fare Table of Major Stations
Gate in
Gate in

Begitu kami keluar stasiun, jalanan tampak basah, sepertinya hujan lebat baru saja berhenti. Setelah menemukan Saga Tarokko Station (yang bersebelahan dengan stasiun JR Saga Arashiyama) , kami berjalan masuk untuk membeli tiket Sagano Romantic Train.

Kenapa gw kami ngotot mencari tiket Sagano Romantic Train?

Selain dari beberapa rekomendasi beberapa blog untuk mencoba kereta wisata ini, gw penasaran ingin melihat pemandangan jejeran pohon sakura yang berada di kanan kiri jalur Sagano Railway. Karena saat itu peak season, agak-agak gambling juga kalau gw kami tidak mendapatkan tiket Sagano Romantic Train. Pasrah tingkat dewa deh kalau seapes-apesnya kami tidak mendapatkan tiket, but at least minimal dapat tiket berdiri alias no seat number.

Sesampainya di loket tiket, rencana awal kami ingin naik kereta dengan rute stasiun Arashiyama Torokko Station menuju Kameoka Tarokko Station di pukul 11. Namun mengingat kami baru tiba di Arashiyama pukul 10 dan rasanya satu jam tidak cukup untuk mengeksplor tempat ini, kami memilih jadwal kereta pukul 12.30 dan pada dasanya sudah rejeki anak shalehah, kami mendapatkan tiket dengan number seat! Yeaaayyy… Bravooo!

JR Arashiyama
JR Saga Arashiyama Station
Sagano Station
Saga Tarokko Station
Time schedule of Sagano Romantic Train
Time schedule of Sagano Romantic Train

Beres dengan urusan tiket, mari kita eksplor Arashiyama!

Rencana rute awal yang ingin kami gunakan yaitu Togetsukyo Bridge → Bamboo Forest → berakhir dengan Sagano Romantic Train. Namun berhubung begitu gw keluar dari Saga Tarokko Station, gw agak-agak “blank” dengan rute yang seharusnya kami gunakan, gw kami hanya mengikuti keramaian orang-orang yang berjalan di depan gw dan ternyata jalur mereka mengarah ke Bamboo Forest.

Awalnya, didepan kami terdapat keramaian orang yang berjalan. Sayu-sayu sempat terdengar seorang Bapak yang memberikan informasi rute menuju Bamboo Forest (dengan menggunakan bahasa Jepang) kepada orang-orang yang berjalan tak jauh di depan gw. Gw sama sekali tidak ada niat mengikuti mereka. Tapiiii… Tanpa disadari, gw jalan membututi mereka. :mrgreen:

Gw mulai berjalan lambat menikmati suasana lingkungan yang gw kagumi saat itu. Beberapa rumah berdiri diatas lahan tahan yang kecil, namun penggunaan lahan dan dekorasi minimalis ala Jepang yang tampak dari luar sangat menarik hati. Bener juga kata Mak Ratri, Ratri menyebutkannya Kyoto sebagai kota yang romantis. Dan baru saja gw mulai menjelajah Kyoto, gw mulai jatuh cinta kota ini. Kota kecil yang membuat hati ini mulai bergetar. Tsaaahhh… Cakeeeppp! 😛

Ketika gw menengok ke arah depan, orang-orang di depan gw yang grasak-grusuk dengan rute Bamboo Forest menghilang, yang tersisa hanya si Bapak. Bapak tersebut mencoba berkomunikasi dengan bahasa tubuh “Ayo, kamu ikuti saya! Saya akan menunjukan arahnya!”.
Gw : *nyengir kuda*

Agak-agak dilematis. Di satu sisi gw tidak mau rushing berjalan mengikuti Bapak tersebut, namun kok rasanya tidak enak menolak kebaikan Beliau. Akhirnya gw mengkode Yudha yang tak jauh berjalan di belakang gw (mau-tidak mau) untuk mengikuti si Bapak.

Rute menuju Bamboo Forest :

Dari stasiun Saga Arashiyama, kami menyusuri jalan kecil (seperti gang) yang mengarah ke kanan. Berjalan saja lurus, kemudian melewati jalur kereta yang berada di atas kepala kami hingga mentok bertemu jalan besar. Setelah itu kami menyebrang dan belok kiri dari arah kedatangan. Tak jauh, terlihat keramaian orang-orang dan terdapat gambar petunjuk halte bus, kami pun berbelok kanan. Dan tampaklah rimbunan Bamboo Forest dari ujung jalan tersebut.

Bamboo forest map *courtesy Google maps*
Bamboo forest map. Kami menyusuri jalur titik-titik biru *courtesy Google Maps*
Setelah belok kanan dari JR Saga Arashiyama Station, maka kita akan menyusuri jalan kecil ini yang menyerupai gang
Setelah belok kanan dari JR Saga Arashiyama Station, maka kita akan menyusuri jalan kecil ini yang menyerupai gang
Berjalanlah lurus.. Fyi, Bapak berjaket putih dan bertas kuning inilah yang sabar menunggu kita menunjukan Bamboo Forest
Berjalanlah lurus.. Fyi, Bapak berjaket putih dan bertas kuning inilah yang sabar menunggu kita menunjukan jalan menuju Bamboo Forest, sesekali doi menoleh kearah belakang untuk melihat apakah kami masih mengikutinya
Inilah beberapa design rumah yang gw kagumi, berkonsep minimalis
Inilah beberapa design rumah yang gw kagumi dengan konsep minimalisnya
Berjalan lurus saja, melewati fly over kereta
Berjalan lurus saja, melewati fly over jalur kereta
Dipertigaan jalan ini, seberangi jalan dan beloklah ke arah kiri
Dipertigaan jalan ini, seberangi jalan dan beloklah ke arah kiri
Di keramaian tersebut merupakan jalan menuju Bamboo Forest
Di keramaian tersebut merupakan jalan menuju Bamboo Forest
Patokannya adalah halte bus
Patokannya adalah halte bus dan kemudian beloklah kanan
Tampak Bamboo Forest dari kejauhan
Tampak Bamboo Forest dari kejauhan… Yeaaayyyy!!!

Kami menyusuri jalan perlahan-lahan. Pagi itu tidak terlalu banyak orang yang berjalan menuju Bamboo Forest. Namun ketika di sepertiga jalan, keramaian mulai tampak. Mari kita nikmati sajah ya, Sodara-sodara!

Setting kamera, cari posisi, gw dan Yudha mulai sibuk berfoto. Yang pertama jatah Yudha ambil bagian, jeprat-jepret sebentar dan ketika giliran gw mulai berpose, tanpa angin-tanpa badai-tanpa banjir-tanpa tsunami, orang-orang mulai banyak berdatangan.

*krik krik krik krik krik*
*mulai jongkok di pinggiran*

Sabar…Sabar…Sabar…
Sabar menunggu hingga si sabar tidak membuahkan hasil, hanya menghasilkan foto bluuuurrr atau fokus berjalan kesana-kemari!
*sigh*

Baeklah, kita cabut (baca:pergi) ajah!
Emang dasarnya gw gak bakat narsis!
*ngelengos*

Dan kami melanjutkan perjalanan kembali.

Suasana di Bamboo Forest memang sangat cocok untuk pejalan kaki dan bersepeda. Hembusan angin membuat jejeran bambu meliuk-liuk menari mengikuti arah angin, udara yang sejuk dan suara gemerisik daun membuat kelopak mata ini menutup dan menikmati suasana syahdu nan romantis ini. Tidak banyak kata yang bisa gw gambarkan ketika berdiri ditengah-tengah Bamboo Forest, selain kata heaven and romantic!

Hadeeeuuuu…
Suasananya bikin mellow to the max nih!

IMHO, cobalah mengelilingi Arashiyama dengan bersepeda. Selain medannya tidak berat, suasana romantisnya bikin hati klepek-klepek! *mojok lagi* *mulai garuk-garuk tanah*

Pada bulan Desember, Arashiyama memiliki Hanatoro illumination yang berlangsung selama 10 hari dimana kota-kota akan ramai dengan cahaya lentera yang menghiasi jalan-jalan utama dan Bamboo Forest. Coba cek disini untuk melihat keindahan penampakan Hanatoro.

Bamboo Forest Map
Bamboo Forest Map
Let's start..
Let’s start..
Bamboo Forest #1
Bamboo Forest #1
Bamboo Forest #2
Bamboo Forest #2
Bamboo Forest #3
Bamboo Forest #3
Satu-satunya foto gw yang gak blur dan gak penuh orang
Satu-satunya foto gw yang gak blur dan gak penuh orang. PS: Ini jaket ba(r)uuuuu loh!
Pre wedding photo shoot
Pre wedding photo shoot
Temple
Nonomiya Shrine
Bamboo Forest
Bamboo Forest #4
Greeennn...
Greeennn…
Bamboo Forest
Bamboo Forest #5
Bamboo Forest #4
Bamboo Forest #6

Setelah selesai menyusuri Bamboo Forest, jalanan berakhir dengan pertigaan. Jika belok kanan jalanan akan mengarah ke Arashiyama Torokko Station dan belok kiri menuju Arashiyama Park dan Togetsukyo Bridge.

Karena kami akan mengeksplor Togetsukyo Bridge, kami berbelok ke arah kiri. Sempat agak-agak galau karena tidak ada arah petunjuk yang jelas, kami hanya menyusuri jalan yang bersisian dengan sungai Katsura.

Di seberang jalan yang kami susuri, tampak jajaran warna-warni pohon yang menghiasi gunung. Di ujung jalan tampak barisan rickshaw atau yang biasa disebut jinrikisha yaitu becak khas ala Jepang yang ditarik dengan tenaga manusia.

Barisan rickshaw ini cukup eye catching dengan bungkus selimut berwarna merah yang menutupi kaki para penumpangnya. Tapi (sebenarnya) yang bikin lebih eye catching itu adalah para pengemudinya! Bodinya ituh loh… Padat-padat kekar gimana gituh! Gak sebesar binaragawan, tapi gak sebesar orang-orang yang hobi fitness ngegedein otot juga. Aih…Aih… *backsound : serigala melolong* *lap iler*
Perfecto deh pokoknya! 😛

Fyi, para pengemudi rickshaw sudah dibekali dengan pengetahuan dan sejarah tempat wisata yang akan dilalui oleh rickshaw. Mereka juga fasih berbahasa inggris jadi tidak usah ragu jika ingin menaiki rickshaw. Kalau gw sendiri, rasanya ingin mencoba menaiki rickshaw, namun mengingat harganya yang cukup menjerat kantung uang, gw hanya bisa menganggumi kekuatan, penampilan, keramahan dan body shaping sang pengemudi. *nelen ludah*

Tak jauh dari barisan pria-pria keren ini (read:rickshaw), tampaklah Togetsukyo Bridge yang mulai dipenuhi dengan para wisatawan.

Togetsukyo Bridge yang berarti Moon crossing bridge mempunyai panjang 155 meter. Jembatan ini dibangun dibangun untuk kunjungan Kaisar Saga menuju Horinji Temple di periode Heian (794-1185) dan kemudian jembatan ini direkonstruksi ulang pada tahun 1930-an.

Jejeran abang-abang Rickshaw
Jejeran abang-abang Rickshaw
The rickshaws
The rickshaws
Togetsukyo Bridge #1
Togetsukyo Bridge #1
Togetsukyo Bridge #2
Togetsukyo Bridge #2
Togetsukyo Bridge #3
Togetsukyo Bridge #3
Colourfull..
Colourfull
Cozy place to hang out, right?
Cozy place to hang out, right?
Disekitar Togetsukyo Bridge
Disekitar Togetsukyo Bridge

Tidak jauh dari Togetsukyo Bridge terdapat jajaran toko-toko, baik itu tempat makan, souvenir, café dan galeri. Berhubung waktu yang kami tidak terlalu banyak, kami hanya berjalan ala kaca mata kuda alias gak mau mampir-mampir. Hehehe…

Dari Togetsukyo Bridge kami memutar kembali menuju Bamboo Forest. Kami hanya berjalan lurus meninggalkan Togetsukyo Bridge dan setelah itu bertemu dengan halte bus yang menjadi patokan untuk menuju Bamboo Forest.

Sebenarnya efek ‘blank’ ngikutin orang, rute kami memang menyusahkan diri sendiri karena otomatis kami harus melewati Bamboo Forest untuk kedua kalinya. Agar bisa menghemat tenaga, rute yang sebaiknya ditempuh pertama kali yaitu Togetsukyo Bridge, Bamboo Forest dan berakhir di Sagano Romantic Train.

Ketika kami kembali menyusuri Bamboo Forest, suasana di Bamboo Forest mulai tampak dipenuhi orang. Jadi lebih baik tiba disini pada pagi hari ya biar bisa mendapatkan spot narsis terbaik.

Dipertigaan awal yang gw ceritakan sebelumnya, kami berbelok ke arah kanan. Tak lama tampaklah stasiun Arashiyama Torokko Station.

Setelah menyusuri Bamboo Forest, beloklah ke kanan dan bertemu dengan dua jalur ini. Ambilah jalur sebelah kanan dan menurun menuju Arashiyama Station
Setelah menyusuri Bamboo Forest, beloklah ke kanan dan bertemu dengan dua jalur ini. Ambilah jalur sebelah kanan dan menurun menuju Arashiyama Station.
Arashiyama Station
Arashiyama Station
Inside of Arashiyama Station
Inside of Arashiyama Station
The tickets
The tickets , gerbong ke 5, nomor kursi 4A
The steps
The steps
Arashiyama Station Platform
Arashiyama Station Platform

Sagano Scenic Railway atau yang dikenal sebagai Sagano Romantic Train ataupun Sagano Torokko adalah jalur kereta wisata yang membentang di sepanjang Sungai Hozugawa antara Arashiyama dan Kameoka. Kereta kuno ini mempunyai 5 gerbong yang terdiri dari gerbong pertama hingga keempat merupakan gerbong tertutup dan gerbong kelima merupakan gerbong terbuka. Kereta dengan menggunakan bangku kayu ini berjalan dengan kecepatan relatif lambat jadi cukuplah menikmati pemandangan yang ada.

Hours
Hourly from 9:00 to 16:00 (until 17:00 on busy days)

Days of Operation
March 1 – December 29

Closed
Wednesdays (except for national holidays, during the spring and summer vacation periods and the autumn foliage season), December 30 to the end of February

Fees
620 yen one way between Torokko Saga and Torokko Kameoka Stations

http://www.japan-guide.com/e/e3965.html
https://www.sagano-kanko.co.jp/english.php

Seperti biasa kereta datang on time, kami sudah siap-siap mengantri di jalur gerbong kelima sebelum bapak masinis tiba dengan keretanya 😛
Rasanya sudah tidak sabar untuk menikmati pemandangan di jalur Sagano Romantic Train.

Empat menit lebih cepat dari jadwal keberangkatan di pukul 12.35, kereta mulai bergerak meninggalkan Arashiyama Torokko Station.

Ketika kereta berjalan, kami masih duduk manis menunggu pemandangan. Begitu kereta mulai menyusuri sungai Hozugawa, mulailah penumpang didalam kereta rusuh grasak-grusuk memfoto pemandangan disekitar sungai, dan kerusuhan itu dimenangi oleh para penumpang dengan ‘waham kamera’ ditangannya and it’s including me! 😀

Gw mencoba mencari tempat yang tidak mengganggu dengan kehadiran gw dan akhirnya gw berdiri di salah satu pojokan gerbong. Tanpa gw sadari, sepertinya yang sibuk grasak-grusuk foto-foto hingga berpindah tempat mencari spot foto hanya gw seorang. Para penumpang lain tidak ada yang berpindah tempat, hanya berdiri di tempat duduk masing-masing, sedangkan gw sibuk pindah antara pojok gerbong dan tempat duduk gw. Hahaha… *tutup muka pakai bantal* *urat malu mulai menipis*

Ya udah lah ya, mereka gak kenal gw inih kan ya?
Sesial-sialnya mereka (akhirnya) punya foto muka gw terpajang disalah satu hasil jepretan mereka. Kikikik…

Pemandangan selama perjalanan 20 menit seharga 620 Yen ini sangat terbayarkan dengan keindahan alamnya. Kereta menyusuri Sungai Hozugawa dan bukit-bukit Arashiyama menawarkan pemandangan warna-warni pohon sakura. Walaupun sepertinya sakura yang disini hanya tinggal sisa-sisa laskar perjuangan, tapi pemandangannya tidak akan tergantikan dengan apapun.

Dalam perjalanan menuju Kameoka Tarokko, beberapa kali kami melihat perahu penuh wisatawan yang sedang menaiki Hozu-gawa River Boat Ride. Disalah satu perahu, para penumpangnya tampak ramah tersenyum dan sibuk melambaikan tangan kepada kami. Mereka tidak tahu saja kalau beberapa saat lagi mereka akan bertemu jeram yang akan membuat hati mereka ciut… *pasang bando red devil*

Setelah tiba di Kameoka Torokko Station, ada beberapa pilihan cara untuk kembali ke Arashiyama yaitu dengan menggunakan Sagano Romantic Train kembali ke Arashiyama, dengan Hozu-gawa River Boat Ride atau dengan kereta JR dari stasiun Umahori.

Sekilas gambaran, Hozu-gawa River Boat Ride merupakan perjalanan mengarungi Sungai Hozugawa dari Kameoka kembali menuju Arashiyama. Waktu tempuh yang diperlukan kurang lebih dua jam. Untuk kamu yang suka dengan tantangan mengarungi jeram sungai dengan long boat dan mau merogoh kocek 4.100 Yen, rasanya suatu kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Info selanjutnya klik disini. 

Sagano Romantic Train
Sagano Romantic Train
Inside of Sagano Romantic Train
Inside of Sagano Romantic Train
View at Sagano Railway #1
View at Sagano Railway #1
Long Boat
Hozu-gawa River Boat Ride
View at Sagano Railway #2
View at Sagano Railway #2
View at Sagano Railway #3
View at Sagano Railway #3
View at Sagano Railway #4
View at Sagano Railway #4
View at Sagano Railway #5
View at Sagano Railway #5
At Station
At Kameoka tarokko Station

Mengingat kami harus bergegas menuju kota Kyoto, kami memilih menggunakan kereta JR langsung dari stasiun Umahori. Stasiun Umahori ini berada tidak terlalu jauh dari stasiun Kameoka Torokko, kami berjalan kaki selama 10 menit menyusuri jalan yang bersebelahan dengan pematang sawah dan mengikuti petunjuk yang sangat jelas untuk menuju Stasiun Umahori.

Petunjuk menuju stasiun Umahori
Petunjuk menuju stasiun Umahori

Dengan harga tiket 320 Yen, perjalanan dari stasiun Umahori menuju Kyoto ditempuh selama 25 menit. Sesampainya di stasiun Tokyo, kami keluar stasiun dan mencari pintu masuk stasiun Kyoto khusus untuk subway. Stasiun subway letaknya berada di bawah stasiun JR Kyoto, maka kami menumpangi eskalator menuju lantai basement.

Rencana selanjutnya kami akan menuju Kyoto Imperial Palace. Dari stasiun Kyoto kami menaiki Kyoto City Subway Karasuma Line, turun di stasiun Imadegawa dan keluar dari pintu exit 6.

Kenapa kami tergesa-gesa menuju Kyoto Imperial Palace?
Karena hari ini adalah hari terakhir Kyoto Imperial Palace dibuka untuk umum (tahun ini dibuka dari tanggal 3-7 April 2015), tanpa harus reservasi terlebih dahulu ataupun mengikuti grup tour.

Yup, untuk masuk ke dalam Kyoto Imperial Palace di luar jadwal umum/public (biasanya dari 4-8 April dan 31 Oktober-4 November), untuk masuk ke Kyoto Imperial Palace para pengunjung harus reservasi terlebih dahulu. Reservasi ini bebas biaya ya, namun sebelumnya para pengunjung harus mengisi berkas formulir dan menunjukan paspor di The Imperial Household Agency Office yang terletak disisi barat laut dari Kyoto Imperial Park.

Agak-agak ribet kan tuh?
Jadi ketika ada kesempatan terbuka lebar tanpa bersusah payah mendaftar, kenapa kita sia-sia kan.

Begitu keluar dari exit 6, kami menyebrangi jalan dan belok kanan menyusuri pagar tinggi Kyoto Imperial Palace.

In the year 794, the Emperor Kammu transferres the capital to Heian-kyo; the emperor lived in the Dairi (imperial residence), which itself was located in the center of the Daidairi. When the Dairi wa destroyed by fire, the emperor moved his private residences to temporary imperial residences at the palaces of other noble families in the capital, which came to be known as Satodairi. From the latter half of the Heian Period onwards, the original Dairi imperial residence gradually fell into disuse, while the Satodairi came to be the daily living quarter of the emperor.

The present day Kyoto Imperial Palace developed from a Satodairi called thee Tsuchi-Mikado-Higashi-no-Toin-Dono. It was here that Emperor Kogen was crowned in 1331. From then it was the imperial residence until the year 1869, when the Emperor Meiji moved the capital to Tokyo. During the intervening centuries, there was a repeated pattern of destruction by fire and subsequent reconstruction until 1855, when reconstruction took place and almost all of the buildings now standing today obtained their current form.

Visitors to The Kyoto Imperial Palace can witness the transition of architectural styles, from the shinden style in the Heian Period typified by the Shishinden and the Seiryoden. In addition, the palace is a particularly valuable reminder of the world of imperial court life descuribed in Heian-period literature such as the Tale of Genji, which tells of the ceremonies and governmental proceedings of the emperors of the ancient past.

The Kyoto Imperial Palace grounds, enclosed by a tsuijibei earthen wall, cover an area of approximately 110,000 square meters.

http://sankan.kunaicho.go.jp/english/guide/kyoto.html

Admission to Kyoto Imperial Palace :
http://www.insidekyoto.com/kyoto-gosho-kyoto-imperial-palace-central-kyoto

Sesampai di area dalam Kyoto Imperial Palace, kami mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh pihak istana. Terdapat beberapa bangunan yang kami lewati, antara lain :

  1. Shinmikurumayose
    Bangunan yang dibangun sebagai pintu masuk pada upacara penobatan Kaisar Taisho pada tahun 1915.
  2. Shishinden
    Merupakan salah satu bangunan penting di Kyoto Imperial Palace dan digunakan sebagai tempat penobatan kaisar Taisho dan Showa.
  3. Seiryoden
    The seiryoden asli dibangun sebagai tempat tinggal kaisar pada akhir abad ke-8 dan telah digunakan sampai abad ke-11. Seiryoden dibangun kembali pada skala yang lebih kecil dari bangunan aslinya dengan menjaga struktur bangunan tetap asli.
  4. Otsunegoten
    Otsunegoten ini dibangun dalam gaya shoin dan digunakan sebagai tempat tinggal Kaisar sampai ibukota dipindahkan ke Tokyo pada tahun 1869. Bangunan ini merupakan struktur terbesar di istana yang terdiri dari 15 kamar.
  5. Gonaitei
    Gonaitei adalah taman pribadi kaisar. Dengan aliran air berkelok-kelok mengalir melalui taman yang direntangkan oleh tanah, batu dan jembatan kayu.

Berhubung gw baru pertama kalinya memasuki istana kerajaan di Jepang, jadi gw tidak bisa membanding-bandingkan antara istana yang satu dengan yang lain. Selama mengelilingi Kyoto Imperial Palace, para pengunjung hanya bisa menikmati istana dari setiap sisi luar bangunan. Kami tidak diperbolehkan memasuki bangunan atau ruangan yang ada di area Kyoto Imperial Palace.

Konsekuensinya, gw tidak bisa menikmati sensasi, aura, energi dan kebudayaan Jepang di Kyoto Imperial Palace lebih dekat. Berbeda sekali jika kita masuk ke dalam istana Keraton Yogyakarta dimana kita bisa menjelajah ke dalam bangunan istana dan merasakan langsung sensasi, kebudayaan dan aura mistis yang ada. 😀

Terlepas dari hal itu, gw menemukan salah satu area favorit di Kyoto Imperial Palace yaitu Gonaitei. Taman yang berada di salah satu pojokan istana dibuat sesimpel mungkin. Namun jika gw perhatikan secara seksama justru penyusunan taman, baik itu bentuk dan pengaturan tinggi tanamannya serta jenis tanamannya dibuat sedetail mungkin. Rasanya enak sekali jika bisa duduk leyeh-leyeh di salah satu sudut taman ini.

Kyoto Imperial Palace #1
The wall
Kyoto Imperial Palace #2
Kyoto Imperial Palace #1
Kyoto Imperial Palace #3
Entrance gate
Kyoto Imperial Palace #4
Shodaibunoma
Kyoto Imperial Palace #5
Shinmikurumayose
Kyoto Imperial Palace #6
Kyoto Imperial Palace #2
Kyoto Imperial Palace #7
Yang membuat gw terpesona di area ini adalah hamparan pasir yang dibuat sejajar dalam satu garis lurus. So detail!
Kyoto Imperial Palace #8
Shishinden
Kyoto Imperial Palace #9
Salah satu pameran yang ada di Kyoto Imperial Palace
Kyoto Imperial Palace #10
Ogakumonjo
Kyoto Imperial Palace #11
Oikeniwa
Kyoto Imperial Palace #12
Otsunegoten
Kyoto Imperial Palace #13
Osuzumisho
Kyoto Imperial Palace #14
Gonaitei – Yes, this is one of my favorite garden!
Kyoto Imperial Palace #15
Gonaitei
Kyoto Imperial Palace #16
Gonaitei
Kyoto Imperial Palace #17
Kyoto Imperial Palace #3

Selanjutnya, pada pukul 15.30 kami mengakhiri kunjungan di Kyoto Imperial Palace. Berhubung lokasi Kyoto Imperial Palace tidak jauh dengan Kyoto Mosque dan restoran halal Rose Café, kami menyengajakan diri menuju kedua tempat tersebut.

Dari Kyoto Imperial Palace, kami berjalan menuju halte bus Karasuma Imadegawa yang letaknya berseberangan dengan pintu exit 6 stasiun Imadegawa. Dari stand A, kami naik City Bus no 59, hanya 4 halte pemberhentian kami sudah tiba di halte Kojinguchi.

Tepat ketika kami turun bus, terlihat gedung Izunome Kyoto dan minimarket Okada Natural didepan kami, berbeloklah ke arah kanan mengikuti arah bus 59 yang mulai berjalan meninggalkan halte Kojinguchi. Setelah melewati 2 gang (atau belokan jalan) yang berada disebelah kiri jalan dan sebelum perempatan lampu merah, kita akan menemukan Rose Café berada disebelah kiri jalan.

Rose café yang beralamat 〒602-0853, 88-3 Miyagaki-cho, Kawaramachi-dori, Koujin-guchi, Kamigyo-ku, Kyoto-shi menyajikan makanan-makanan khas Turki dan yang paling utama adalah restoran ini mempunyai sertifikat halal.

Berhubung gw lapar berat, gw mencoba menu Tavuk Doner (chicken kebab plate) dan ekmek (bread).

Bagaimana dengan rasanya?
Rasa bumbu rempah Tazuk Donernya terasa pas sekali dan potongan dagingnya terasa lembut ketika dikunyah, buat eikeh perfecto! Yummyyy..
Sedangkan untuk menu Ekmek nya, rotinya terasa agak keras ya. Entah memang jenis roti Turki seperti ini atau mungkin seharusnya gw makan ketika roti masih hangat disajikan. Gakpapa deh, yang penting perut kenyang, hati ikut senang!

Open time :
11.00 – 21.00

http://www.kyotorosecafe.jp/

Setelah turun dari bus, akan bertemu dengan
Setelah turun dari bus, akan bertemu dengan gedung Izunome Kyoto dan minimarket Okada Natural
beloklah kanan, mengikuti arah bus berjalan
beloklah kanan, mengikuti arah bus berjalan
Rose cafe #1
Rose cafe #1
Rose cafe #2
Rose cafe #2
Inside of Rose cafe
Inside of Rose cafe
the menu
the menu
Lunch menu
Lunch menu
1200 Yen
Tavuk Doner ; Price 1.100 Yen
gd
Ekmek alias bread ; Price 250 Yen

Dari Rose Café kami berjalan menuju Mesjid Kyoto yang lokasinya tidak jauh dari Rose Café dan berada dalam satu gedung dengan Kyoto Muslim Association.

Setelah keluar dari Rose café, kami berbelok ke arah kanan, jalan lurus dan di belokan pertama, kami belok kanan. Hanya selang beberapa rumah, nanti akan terlihat gedung Kyoto Muslim Association di sebelah kiri jalan.

Ketika kami akan masuk gedung, kami bertemu dengan 2 orang lelaki berwajah timur tengah yang sepertinya baru keluar dari Kyoto Muslim Association. Salah satu dari mereka mengucapkan salam dan menawarkan cokelat. Kayaknya mereka kasihan melihat kami kedinginan. Hehehe… Alhamdulillah, rejeki itu gak kemana ya.

Kami langsung menuju ruangan shalat yang berada di lantai basement. Sayangnya tempat ini (banyak) memasang informasi larangan untuk mengambil foto, jadi tidak banyak foto yang bisa gw perlihatkan di postingan ini. Info selengkapnya bisa cek di http://kyoto.travel/muslim/en/

Kyoto
Petunjuk menuju Islamic Cultural Center atau Kyoto Muslim Association
Tanda panah tersebut adalah
Tanda panah tersebut adalah letak bangunan Kyoto Muslim Association
Kyoto Mosque
Kyoto Mosque at Kyoto Muslim Association building

Tepat pukul 17.00 kami berjalan kembali menuju halte Kojinguchi dan melanjutkan perjalanan menuju Philosopher’s Path.

Untuk menuju Philosopher’s Path, terdapat 2 pilihan tujuan akhir pemberhentian halte bus (terdekat) yaitu halte yang berdekatan dengan Kuil Ginkakuji atau dapat turun di halte bus Higashitennocho. Gw lebih memilih turun di halte Higashitennocho. Alasannya karena gw anti mainstream alias gak mau pusing nyari rute busnya. Hehehe…

Untuk rute Kyoto City bus dari Kojinguchi menuju halte Higashitennocho terdapat beberapa pilihan bus. Dannnn… Maafkan atas kekhilafan gw, gw lupa dengan nomor bus yang kami naiki saat itu. 😀

But don’t worry, modalnya hanya satu.
Gw hanya mengikuti petunjuk bus yang diarahkan oleh Arukumachi Kyoto Route Planner. Gampang kan ?!?!

Setelah turun di halte Higashitennocho berjalanlah ke arah pom bensin Esso Express, seberangi jalan (menuju sebelah kiri sisi jalan jika kita berjalan mengarah ke pom bensin) dan setelah menyebrang, berjalanlah lurus menjauhi pom bensin. Setelah itu akan bertemu pertigaan lampu merah (dimana sebelumnya kita akan bertemu dengan bangunan Sumitomo Collection disebelah kiri jalan), maka beloklah ke arah kiri. Jalan lurus kembali, diperempatan pertama selanjutnya kami belok kanan. Susuri jalan kembali hingga mentok dan bertemu dengan gapura kecil, beloklah ke kiri dan sejauh mata memandang akan terlihat kanal jalur Philosopher’s Path.

Rute jalan kaki menuju Philosopher's Path
Rute jalan kaki menuju Philosopher’s Path
Jalanlah menuju pom bensin dan menyebrang ke arah tanda panah
Jalanlah menuju pom bensin dan menyebrang ke arah tanda panah
Berjalanlah lurus menyusuri jalan ini hingga bertemu pertigaan lampu merah
Berjalanlah lurus menyusuri jalan ini hingga bertemu pertigaan lampu merah
Sebelum pertigaan lampu merah, kita akan bertemu Sumitomo building
Sebelum pertigaan lampu merah, kita akan bertemu bangunan Sumitomo Collection
Dipertigaan lampu merah, belok kiri
Penampakan jalan setelah kami belok kiri di pertigaan lampu merah
Diperempatan pertama, belok kanan
Diperempatan pertama, belok kanan. Note : ini adalah foto menuju belok kanan
Susuri jalan kembali
Susuri jalan kembali
Hingga mentok bertemu dengan
Jalan hingga mentok dan bertemu gapura
Inilah Philosopher's Path
Inilah Philosopher’s Path

Philosopher’s Path merupakan jalur pedestrian dengan panjang 2 kilometer yang menyusuri salah satu kanal Danau Biwa. Jalur ini ini dimulai dari Ginkakuji Temple hingga Nanzenji yang akan dipenuhi dengan pohon sakura disisi kanan dan kiri kanal. Nama Philosopher’s path ini sendiri diberikan karena salah satu filsuf terkenal Jepang yang bernama Nishida Kitaro selalu berjalan di jalur ini didalam perjalanan sehari-harinya menuju Universitas Kyoto.

Sore itu kami berjalan santai menikmati alur kanal sambil sesekali berhenti memperhatikan lingkungan di sekitar Philosopher’s Path. Guguran bunga sakura yang melayang-layang, suasana tenang bin damai serta tidak ramainya jalur ini dengan orang-orang membuat tempat ini seperti surga.

Yang lebih menarik, walaupun Philosopher’s Path terkenal di mata wisatawan namun tidak menjadikan jalan ini penuh dengan toko-toko yang menjual berbagai macam aksesoris cinderamata. Hanya ada beberapa restoran dan café kecil yang justru membuat jalan ini terasa lebih eksklusif untuk dilalui.

Akhir kata…
Philosopher’s Path adalah penutup sempurna pada penjelajahan hari pertama kami di Kyoto!

I fell in love with Philosopher’s Path!

http://www.japan-guide.com/e/e3906.html

Jalur Philosopher's Path
Jalur Philosopher’s Path. Jalur awal Philosopher’s Path dimulai dari bawah menuju ke atas
Philospher's path #1
Walking path
Philospher's path #2
Philospher’s path #1
Philospher's path #3
Philospher’s path #2
Philospher's path #4
Philospher’s path #3
Philosopher's Path
Philosopher’s Path #4
Red kimono
Red kimono
Japan girls??? Maybe...
Kimono girls
The souvenirs
The souvenirs

Setelah ini kita mau kemana, Sodara-sodara?
Kami akan kembali ke stasiun Kyoto, ambil koper dan check in ke hostel.

Sebenarnya malam baru saja dimulai dan masih ada satu itinerary yang belum kami jalankan, tapi Yudha menyarankan kami check in hostel saja. Baiklah, setelah menikmati perjalanan panjang nan menyenangkan, lebih baik kita istirahat dan menghemat energi untuk esok hari.

Akhir dari perjalanan kami menyusuri Philosopher’s Path adalah jalanan di sekitar Ginkakuji Temple. Sedangkan halte yang terdekat dengan Ginkakuji Temple adalah halte Ginkakuji Mae atau halte Ginkakuji Michi. Dari Arukumachi Kyoto Route Planner, berdasarkan jadwal bus terdekat, kami diarahkan naik bus dari halte Ginkakuji Michi yang berjarak 3 menit berjalan kaki dari halte Ginkakuji Mae.

Setiba di Stasiun Kyoto, kami segera mengambil koper.
Sedikit informasi, jika kalian ingin mencari lokasi tempat penyewaan loker yang strategis dari stasiun JR dan terminal bus Kyoto, maka letak penyewaan loker berada tidak jauh dari Kyoto Tourist Information Center. Jika kalian sudah berada di depan Kyoto Tourist Information Center, carilah loker yang berada di seberang dari pintu masuk Kyoto Tourist Information Center.

Dari stasiun Kyoto, kami mulai berjuang menembus dinginnya malam..
Dengan informasi Kyoto Guest House Lantern berlokasi 3 blok dari stasiun Kyoto, kami tetap optimis berjalan menerjang dingin. Singkat kata, kami berhasil menemukan penginapan tanpa sibuk berargumen salah jalan. *fokus menggeret koper* *biarkan Yudha menjadi imam* #eaaaaa

Kyoto Guesthouse Lantern
Kyoto Guesthouse Lantern

Sesampainya di pintu depan Kyoto Guest House Lantern, gw masih semangat berjuang menaikan koper melewati tangga-tangga cantik itu menuju resepsionis yang berada di lantai 2.

Check in sebentar, dan kalimat basa-basi pertama gw adalah dimana letak kamar gw?
Ternyata ada di lantai 4, Sodara-sodara!
Berhubung gak ada lift, gw harus menjadi kuli panggul menaiki 2 lantai selanjutnya.

Setelah berhasil mengangkat koper (dengan bantuan Yudha pastinya 😀 ), gw segera beberes, mandi dan turun ke lantai 3 untuk makan malam.

Suasana malam di lantai 3 terasa sangat ramai. Terdapat satu keluarga berasal dari negara Tirai Bambu dan beberapa penghuni hostel yang sibuk masak, makan dan masak sambil chit-chat.

Luas ruangan makan di Kyoto Guest House Lantern memang tidak terlalu luas, bahkan untuk ruang makan dengan orang sebanyak itu cenderung kecil. Ruang makannya langsung menempel dengan dapur. Layaknya gang senggol. Ketika kami duduk, kami harus memajukan kursi untuk memudahkan orang lalu lalang yang sedang memasak di belakang kursi kami.

Namun justru itu menjadi titik kelebihannya penginapan ini, karena ruang makan ini kecil justru menambah keakraban interaksi di antara para penghuni penginapan.

Malam itu, setelah kami duduk manis menikmati makan malam, kami ditawarkan masakan berupa sayur kuah yang dimasak oleh sang ibu dari keluarga Tirai Bambu tersebut. Ingin menolak tapi kok rasanya gak enak sekali ya. Setelah bertanya apakah makanan ini halal, (dan sang translator meyakinkan bahwa makanan ini halal), gw mencoba masakan tersebut. Walaupun rasanya terasa hambar tapi semakin meyakinkan kalau masakan ini tidak menggunakan barang-barang yang ‘menggugah selera’. 😛

Setelah selesai menghabiskan jatah sayur kuah, gw berpamitan meninggalkan ruang makan untuk merebahkan badan di malam yang mulai mendingin ini. Rasanya sudah tidak sabar untuk menjelajah Kyoto di esok hari.

Good night, Kyoto!

Advertisements

32 thoughts on “[Jepang] Day 6 – Kyoto : Arashiyama, Sagano Romantic Train, Kyoto Imperial Palace, Kyoto Mosque & Philosopher’s Path

  1. mba,
    salam kenal ya 🙂

    di atas dituliskan begini “Yup, untuk masuk ke dalam Kyoto Imperial Palace di luar jadwal umum/public (biasanya dari 4-8 April dan 31 Oktober-4 November), untuk masuk ke Kyoto Imperial Palace para pengunjung harus reservasi terlebih dahulu.” berarti 4-8 April dan 31 Okt-4 Nov adalah jadwal umum dan g harus register dulu? karena aku ada rencana ke imperial palace tgl 3 Nov nanti.

    terima kasih,
    salam.

    1. Hi!
      Salam kenal juga!
      Yup berarti tanggal 3 November masuk ke jadwal umum dan tidak perlu registrasi terlebih dahulu. Tapi coba kroscek ke website resminya dulu ya karena tanggal fix setiap tahun akan di umumkan web nya.

  2. Mbak, ke Arashiyama enakan naik bis atau JR yah? Oh ya, kalo siang udah otw dari Osaka ke Kyoto dan sore mau jalan enaknya kemana dulu ya mbak (hari itu belum beli bus one day pass)? Kiyomizudera, Gion, or another place?

    Thank yooou! 🙂

    1. Hai Difa,

      Enakan yang mana ya..???
      Belom pernah coba naik bis. Tapi rasanya gw lebih prefer naik JR karena lebih cepat tiba di Arashiyama.

      Pertanyaan kedua:
      Kalau sudah sore kayaknya lebih enak ke Kiyomizudera terus lanjut jalan kaki ke Gion,Difa.
      Mbak-mbak Geisha biasanya wira-wiri setelah jam 5 sore. Siapa tau rejeki bisa melihat geisha berjalan cepat dengan sendal kayunya yang berat ituh.. 😄

      1. Ahahaa, thank you pencerahannya mbak! Padahal perginya masih Oktober, tapi udah dipikirin banget dari sekarang sampe puyeng sendiri.. Kecepetan ya? 😅

  3. Udah mbaaak, kebanyakan browsing malah ini kayaknya.. postingan2 mbak entah udah berapa kali kubaca ulang. Mungkin sekarang udah waktunya semedi, haha.

  4. Hi mba Vika, ketemu lagi disini.. 😀
    aq mau nanya lai dong,,
    klo summer kira2 recommended ga ya naik sagano romance train??
    trus klo mau naik sagano, dari kameoka st bisa juga ga mba?? berarti dari Kyoto st naik JR train ke Umehori st – trus jln kaki ke kameoka st – naik sagano train – Tarokko st – eksplore arashiyama (Bamboo forest – togetsu bridge)
    maksudnya si biar aga lamaan jln2 di arashiyama nya tanpa khawatir dikejar2 waktu naik kereta
    klo rutenya ky gitu gimana mba??

    atau lbh baik eksplore arashiyama dlu aja kurleb 2jam spare waktu sebelum naik sagano ya?? klo ekplore arashiyama nya ditaruh diakhir khawatir bamboo forestnya penuh orang ya..

    1. Hai Novia,

      Hmmm… rekomended gak ya?
      Kalau informasi dari sahabat yang jalan bulan Mei kemarin, pemandangan di sekitar sungai akan tampak biasa saja karena yang membuat pemandangannya okeh adalah warna-warni pepohonan seperti di musim gugur dan pohon sakura di bulan April.

      Kalaupun mau dari Kameoka station juga bisa kok. Coba buka di link https://www.sagano-kanko.co.jp/english.php untuk informasi lengkapnya.
      Rasanya bisa request seat di gerbong open air asalkan tiketnya masih available.

  5. iya, dr beberapa web yg saya baca mereka juga kurang recomen klo pas summer naik sagano train,,

    oya, mba kemarin di kyoto ga nyobain rental yukata mba???

  6. hahahahaha,, sama dong mba,, aq juga berpikir ulang mau sewa yukata,..
    btw mba, klo ga salah mba sewa wifi selama di jepang dr JAPAN-WIRELESS ya??
    reviewnya gmn mba?? soal kecepatan & ketahanan baterainya?? cukup kuat ga tu batre??
    soalnya barusan sy baca di blog orang klo dia ga bs ngecharge modem itu pake power bank, jd hrs selalu dicharge dr charger bawannya & signalnya susah padahal lokasi di kyoto & osaka yg notabene kota besar.. klo review dari mba vika gmn mba???

  7. ok..
    1. mba vika, boleh bocorannya, waktu ke jepang bw uang cash brp ya?? apa semua dlm bentuk Yen atau dollar??
    sempet nyobain ngitung ga mba, ktnya lbh untung nukerin dollar ke yen ya drpada rupiah ke yen?? bener ga si??

    2. klo mau beli tiket Toei – Tokyo Metro one day pass 800yen itu kan khusus buat turis ya? nah itu nanti qta hrs ingetin lagi minta hrg yg 800yen atau otomatis diksh hrg 800yen?? soalnya kan setau saya tiket ini ada 2 versi yg 800yen & 1000yen ya??

    3. mba vika ga beli pasmo/suica/icoca kah?? saya baca2 bnyk yg recomen beli ini daripada tiket terusan macam one day pass

    1. 1. Untuk total pengeluaran dan itinerary detailnya bisa cek di postingan Itinerary Jepang, Novia. Lengkap deh tertulis disana! Pasti kamu puas. #ehhhh
      Untuk penukaran mata uang, gw tidak benar-benar memperhitungkan berapa selisih rupiah perbandingan jika menukar dollar-yen atau rupiah-yen. Selama ini, ketika di tanah air gw selalu menukar rupiah-yen dan membawa saving dollar jikalau kepepet butuh uang selama di Jepang.
      2. Harga tiket Toei-Tokyo Metro 800 yen (harga turis) hanya berlaku di tempat-tempat tertentu, salah satunya kalau tidak salah di tourist information centre yang ada di bandara dengan persyaratan harus menunjukan paspor. Waktu itu ketika di bandara gw sudah tidak sempat membeli pass dengan harga 800 yen ini, jadi gw langsung membeli pass seharga 1.000 yen di hari H-nya.
      3. Silahkan saja, Novia. Pasti ada perhitungan kelebihan & kekurangan menggunakan pasmo dkk ataupun dengan menggunakan one day pass. Berhubung intensitas perjalanan gw santai dan tidak padat, gw lebih suka menikmati suasana mengantri, clingak-clenguk beli tiket dan mempelajari sistem transportasi mereka. Lagipula terkadang perhitungannya jika menggunakan one day pass akan lebih hemat (walaupun hematnya hanya 200 yen 😁 ) dibandingkan dengan menggunakan tiket biasa. Tapi kalau kamu tidak mau ribet antri dan malas hitung-hitungan biaya perjalanan, pasmo dkk bisa dijadikan pilihan utama. Jadi kamu mau pilih yang mana hayooo…? 😉

  8. halo mba vika, salam kenal 🙂
    mau tanya soal tiket sagano train nya dong, gerbong 5 itu open air deck bukan mba? aku baca baca katanya beli tiket yang terbuka gitu decknya mesti ngantri dari pagi banget, dan satu lagi mba, kalau dari saga-arashiyama ke togetsukyo bridge jalan kaki jauh ngga? 2 tahun lalu aku sempet ke arashiyama, jalan ke bamboo forest tp ngga ke togetsukyo karena udah pegel duluan terus langsung buru buru ke gion, huhuhu. btw kuat juga ya mba kakinya seharian yang dikunjungin banyak banget

    1. Hai Presyl…!
      salam kenal juga ya… 😉
      Yup, kamu benar sekali! Gerbong 5 adalah gerbong terbuka, sedangkan gerbong 1-4 yang tertutup.
      Kami tiba di Arashiyama pukul 10.00, keberangkatan terdekat pukul 11.35 dan 12.35, akhirnya kami memilih Sagano pukul 12.35. Jadi (masih) rejeki dapat number seat di gerbong 5 karena seatnya masih tersedia. 🙂
      Jarak perjalanan dari stasiun Saga Arashiyama ke Togetsukyo Bridge hampir sama jauhnya dengan jarak dari stasiun Saga Arashiyama ke Bamboo forest.
      Jadi saran gw, rute terbaik supaya gak mondar-mandir adalah Togetsukyo Bridge-Bamboo Forest-Sagano train.
      Rasanya pasti capek, Presyl. Tapi edisi ogah rugi kalau ngetrip kayak beginih… 😀

    1. Kyoto One Day hanya berlaku untuk penggunaan bus. Jika ingin ke Arashiyama menggunakan bus juga bisa. Di peta jalur perkeretaapian akan tertulis jenis kereta JR atau Subway. Kalau mencari rute kereta dengan menggunakan website Hyperdia, nanti akan tertulis jenis kereta JR ataupun subway.

      1. Sesuai dengan info yang sudah saya tulis di postingan atas, bahwa Kyoto sightseeing one and two day pass berlaku untuk pemakaian subway dan city bus. Sedangkan transportasi untuk menuju Arashiyama dapat menggunakan kereta JR dan city bus. Jadi kamu bisa menggunakan pass tersebut untuk menuju Arashiyama. 😃

  9. hi vika..
    kalau Kyoto city buss pass (500 yen) itu mengcover arashiyama? meskipun dia outside kyoto?
    soalnya kami rencana nginap didaerah arashiyama tp klo transportnya kemahalan buat keliling pusat kota kyoto.. suseh deh. ada saran gak, vik?

    terimakasih.
    Nisa

    1. Hai Nisa!
      Iya, kalau dari Map Navi Bus terdapat rute untuk ke daerah Arashiyama.
      Sarannya mungkin prefer milih stay di daerah kota, agar akses ke tempat wisatanya lebih mudah. Kecuali kalau mau niat hibernasi di daerah Arashiyama, mungkin bisa dijadikan pilihan.

  10. Siang mba..
    Saya mau ke Kyoto 6-7 April nanti. Ingin ke Ginkakuji/Philosopher’s Path, Kinkakuji, Kyoto Imperial palace, Gion dan Fushimi Inari
    Bisakah dibuatin itin dan jalur bus nya ?
    Terimakasih..

    1. Hai Ninik,

      Hmmm…
      Berhubung gw gak gak tau Ninik lebih prefer jalan kemana terlebih dahulu, Ninik bisa coba arrange itinerary sesuai dengan tempat wisata yang Ninik inginkan. Fyi, Ginkakuji/Philosopher’s Path dan Gion berada di satu area yaitu sebelah Timur Kyoto, Kinkakuji di sebelah barat, Kyoto Imperial palace berada ditengah antara Gion dan Kinkakuji sedangkan Fushimi Inari berada di sebelah selatan.
      Untuk jalur busnya bisa cek di web http://www.arukumachikyoto.jp/index.php?lang=en

      Selamat mencoba!

  11. Halo Mb Vika, mau tanya sagano romantic train jam terakhir dari arashiyama jam berapa ya. dan apa susah untuk dapat tiketnya?

    thanks ya

  12. mbak vika, mau tanya kalo sekarang pake epasspor kan bebas visa ya ke jepang. itu jadi kita ga perlu ngurus apaapa lagi ke kedutaan jepang apa gimana ya ? makasih 🙂

  13. Pagi mba…
    Maaf, nanya2 lagi..Klo ke Philosopher’s Path/Ginkakuji jalurnya harus dr bawah ke atas (Ginkakuji) ?
    Kalo pake bus dar Imperial palace ke Philosopher’s Path pake bis no brp, turun dimana..?
    Makasih banyak…

    1. Kalau mau sekalian eksplor Ginkakuji, lebih baik gunakan dari jalur bawah ke atas (atau lebih tepatnya selatan ke utara). Untuk bus bisa cek di link yang kemarin dikasih ya, nanti lengkap infonya turun di halte mana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s