[Jepang] Day 5 – Tokyo : Sumida Park, Asakusa Mosque & Shinjuku

Monday, April 6th, 2015

Sesuai dengan cerita di hari sebelumnya, perjalanan hari ini sangat tergantung dengan keberuntungan kami dengan faktor cuaca.

Pukul 8, setelah menyelesaikan sarapan pagi, gw sudah stand by mencari Naoto-san. Begitu gw nongol, Naoto-san langsung tersenyum dan meminta gw untuk menunggu. Okeh, gw sabar menanti dirimuh kok, Akang Naoto. 😀

Tak lama kemudian, seperti dugaan gw, Naoto-san menginformasikan kalau cuaca di sekitar Lake Kawaguchiko (tetap) tidak bersahabat. Hujan akan menghantui mendominasi area tersebut. Berdasarkan live streaming Gunung Fuji, pagi itu pemandangan Gunung Fuji sudah mulai tampak tertutup awan. Rasanya pemandangan ini tak akan jauh berbeda dengan kemarin.

Hufffttt…
Sepertinya keberuntungan untuk melihat Gunung Fuji belum di tangan kami.

Dan gw melangkah gontai kembali ke kamar untuk membereskan sisa-sisa baju yang belum selesai di packing sambil mencoba chat discussion dengan Yudha.

Akhir kata…
Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Lake Kawaguchiko!

Keputusan yang cukup berat namun daripada kami menghabiskan dana yang cukup besar untuk sampai Lake Kawaguchiko dan yang dilihat pun tidak mau memunculkan dirinya, hanya pemandangan kelabu. Ya sutra lah hai, pasrah saja mengikuti kehendak alam. *nangis sesegukan*

Seperti kata Naoto-san, mungkin ada rejekinya kami akan datang kembali ke Jepang untuk melihat Gunung Fuji. Aamiin !!!

Langkah selanjutnya karena gw tidak menyiapkan plan A-B-C-D-E-F…
Gw mengusulkan option tempat-tempat yang tidak sempat kami kunjungi di hari sebelumnya. Agak sedikit galau dengan pilihan yang ada, buntut-buntutnya kami akan membahas tempat tujuan berikutnya setelah kami keluar dari hostel.

Beres dengan packing, turun ke lantai satu untuk menitipkan koper dan melangkah keluar hostel di jam 10 pagi.

Karena posisi Asakusa berdekatan dengan Tokyo Skytree, gw melemparkan pilihan menuju Tokyo Skytree. Yudha pun setuju, namun karena memory card kamera Yudha error dan tempat penjualan elektronik berada dalam satu jalur menuju Tokyo Skytree, kami mencoba mampir di salah satu tempat perbelanjaan Matsuya Ekimise.

Matsuya Ekimise ini hampir sama seperti Metro atau Sogo. Barang-barang yang dijual pun termasuk lengkap, terbukti dengan Yudha berhasil mendapatkan memory card sedangkan gw berhasil mendapatkan titipan Yari yaitu payung made in Japan untuk Ibundanya!

Umbrella - green - made in Japan ; Done !
Umbrella – green – made in Japan ; Done !
Free packaging
Free packaging

Ketika kami keluar dari Matsuya Ekimise, matahari bersinar dengan lucu-lucunya. Agak-agak mikir juga kalau kami (harus) berjalan ditengah teriknya matahari. Perjuangan bener untuk menuju Tokyo Skytree!

Komporin Yudha sebentar dan perjalanan sukses berbelok menuju Sumida Park. Kekekek…

Ada apakah di Sumida Park?
Sakuraaaaa…….!!!!

“ Whaaattt ??? “
“ Sakura-lagi ??? “
“ Gak bosen,bu? “
“ Gw sih nggak, tapi gak tahu kalau Yudha ya. “
😀

Sakura di Sumida Park juga tidak kalah bagus dengan Ueno Park dan yang pasti, tidak seramai seperti di Ueno Park. Yang gak kalah ciamik, Sumida Park bersisian dengan Sumida River jadi pemandangan yang ada pun sangat berbeda dengan Ueno Park. I luv this place!

Tidak hanya turis (seperti kami) yang menikmati Sakura, masyarakat Jepang juga asyik menikmati Sakura. Tak jarang, di siang yang mulai terik, banyak orang-orang yang lalu lalang jogging. Dibeberapa tempat, ada kelompok kakek-nenek yang asyik berhanami.

Sumida Park #1
Sumida Park #1
Sumida Park #2
Sumida Park #2
Sumida Park #3
Sumida Park #3
Tokyo Skytree & Asahi Beer
Tokyo Skytree & Asahi Beer
The boat..
The boat..
Tokyo Skytree
Tokyo Skytree
Panorama view at Sumida Park
Panorama view at Sumida Park
Sumida Park #4
Sumida Park #4
Sumida Park #5
Sumida Park #5
Sumida Park #6
Sumida Park #6
Sumida Park #7
Sumida Park #7
baby friendly bicycle
baby friendly bicycle
let's playing
let’s playing
hanami time
hanami time
Diantara guguran sakura..
Diantara guguran sakura..
Lovely sakuraaaaaa...
Lovely sakuraaaaaa…

Satu setengah jam berlalu, tanpa kami sadari kami mulai berjalan menjauhi jalan besar Asakusa. Berhubung perjalanan kami sudah mengarah ke masjid Asakusa, kami memutuskan mencoba mencari masjid Asakusa untuk shalat disana. Berbekal dengan gugel maps, pukul satu siang kami tiba di masjid Asakusa.

Nama lengkap masjid ini adalah Masjid Dar el Arqam Asakusa. Berdiri tahun 1998, masjid ini dikelola oleh Japan Mosque Foundation (JMF), one of departements in Islamic Circle of Japan (ICOJ) organization.

Mesjid ini memang tidak semewah Masjid Tokyo Camii, menempati salah satu bangunan yang tampak seperti ruko, masjid ini memang terbilang sederhana. Khusus untuk jamaah wanita, kamar mandi, tempat wudhu serta tempat shalat tersedia di lantai 2.

Walaupun, masjid ini tidak terlalu ramai dikunjungi, namun siang itu gw bertemu dengan rombongan turis dari Malaysia.

Office hour :
Everyday 10.00am – 5.00pm (except Tuesday and Saturday)
Sunday 2.00pm – 5.00pm

Location :
111-0025,Tokyo, Taito-ku,
1-9-12 Higashi Asakusa.
Tel: 81-3-3871-6061
Fax: 81-3-3871-6062

http://masjid-asakusa.ucoz.com/index/about_the_masjid/0-5

Penelusuran mencari Mesjid Asakusa
Penelusuran mencari Mesjid Asakusa *courtesy Google Maps*
Mesjid Asakusa tampak samping
Mesjid Asakusa tampak samping
Asakusa Mosque
Asakusa Mosque
Prayer hall for women
Prayer hall for women
Tempat wudhu
Tempat wudhu

Selesai shalat, Yudha sempat menanyakan tempat makanan halal terdekat kepada tour guide yang membawa turis Malaysia.
Kenapa bertanya kepada tour guide yang berwajah Jepang tersebut?
Karena (ternyata) doski beragama Islam!!!
Tergugah (dan sedikit terpesona) melihat sosoknya yang ternyata memeluk Islam. Pfiuuuh… *rapihin jilbab*

Dari penjelasannya, doski menunjukan tempat makan halal yang berdekatan dengan Sensoji Temple. Sambil berjalan menuju arah Asakusa, gw mulai browsing-browsing mencari tempat yang dimaksud.

Dari website halal media, tempat tersebut bernama Naritaya dan yang lebih bikin gw bersemangat, ramen ini mempunyai label halal secara resmi!!!

Mencari Naritaya ternyata cukup sulit, setelah kami sampai di Sensoji temple, kami berjalan menuju pertokoan yang ditunjukan oleh Gugel map. Arah yang ditunjukan di gugel map cukup menyesatkan alias berbeda dengan tempat aslinya.

Kami berkeliling berkali-kali mengitari mencari tempat yang di maksud dan tetap saja kami tidak menemukan Naritaya. Hingga akhirnya kami mencoba menyisiri satu-persatu pertokoan yang ada dan bertemulah Naritaya dengan logo Halal-nya yang menarik perhatian kami!

Cara termudah menemukannya, jika kita berdiri berhadapan dengan Sensoji temple, berjalanlah ke arah pintu samping di sebelah kiri dari Sensoji Temple. Nanti akan bertemu dengan pertokoan, letak Naritaya tidak jauh dari ujung jalan tersebut dan posisinya berada di sebelah kanan pertokoan dari arah Sensoji Temple. Jadi perhatikan baik-baik ya! Jangan seperti kami yang membutuhkan waktu 30 menit mencari Naritaya.

Tempat ini tidak terlalu banyak menampung pengunjung, bangku yang tersedia hanya cukup untuk 6 orang. Walaupun begitu, sepanjang kami makan, banyak orang yang keluar masuk datang untuk makan di Naritaya.

Kami dilayani oleh satu(-satunya) pegawai yang ada di Naritaya, doi merangkap sebagai pramusaji, koki dan kasir. Hebaattt!!!!

Tapi rasanya hal ini wajar terjadi di Jepang, dibeberapa tempat makan yang gw singgahi di Jepang, untuk tempat makan yang tidak terlalu besar (seperti restaurant rumahan) hanya akan dilayani oleh satu hingga dua orang. Multi talented..!

Untuk jenis menu yang disajikan, gw agak sedikit kesulitan menjelaskan makanan yang disediakan di Naritaya. Kalau dari mesin menu yang tersedia di depan toko, terdapat 3 menu yaitu Soupless Ramen, Cold Ramen dan Asakusa Ramen dengan berbagai macam pilihan topping. Sedangkan dari website, hanya terdapat 2 pilihan yaitu Naritaya Mazesoba dan Naritaya Zaruramen.

Cup-cap-cup-kembang kuncup..
Gw memilih Soupless Ramen seharga 700 Yen sedangkan Yudha memilih menu nasi.

Dengan cekatan sang koki meracik bahan makanan yang ada.
Begitu tersaji, sedikit bingung melihat ramen yang tersaji tidak menggunakan kuah. Ya eyalah, kan situ milihnya soupless ramen. Gimana seh?!?! 😀

*ngaduk-ngaduk ramen*
*Sluuuurrrppp….*
*ngunyah*

Rasanya enyaaakkk euy….!
Dari skala 1-10, rasanya enaknya berada di skala 9.
Rasanya berbeda dengan ramen Kaijin yang full kuah, karena ini soupless ramen rasa kaldu dan bumbunya sudah tercampur kuat didalam mie ramen.

Kalau kalian sudah berada disekitar Sensoji Temple, rugi jika tidak mampir dan mencoba ramen Naritaya.
Recommended!!!

Karena tempat ini mempunyai label halal secara resmi, beberapa kali tempat ini didatangi oleh turis-turis muslim. Namun sayangnya karena bahan untuk masak sudah habis, oleh (satu-satunya) pegawai tersebut terpaksa ditolak.

Oya, poin plusnya di tempat ini menyediakan ruangan untuk shalat (prayer room) loh! |
T.O.P B.G.T kan???!!!

Dari arah Sensoji Temple
Sensoji Temple
Jalan masuk menuju area pertokoan
Dari arah Sensoji Temple, masuklah ke area pertokoan seperti digambar
Jejeran ruko
tanda panah hitam adalah restoran Naritaya
Finally, Naritaya!
Finally, Naritaya!
mesin menu
Menu machine – out of order!
Halal Thoyiba!
Halal, Mak Cik!!!
Inside of Naritaya
Inside of Naritaya
Naritaya name cards
Naritaya name cards
The menu
The menu
Soupless ramen ; 700 Yen
Soupless ramen ; 700 Yen
pilihan Yudha yang berbau nasi, tapi ternyata porsinya sedikit.. :D
pilihan Yudha yang berbau nasi, tapi ternyata porsinya sedikit.. 😀

Perut sudah kenyang, kami memutuskan kembali ke hostel untuk mengambil koper dan bergerak menuju Shinjuku.

Diperjalanan menuju hostel, kami sempat melewati Sekai Café. Restauran ini termasuk kedalam jajaran restaurant muslim friendly, kalau dilihat dari menu yang tersedia restaurant ini mengasung menu untuk vegetarian. Jika berminat bisa cek di sini.

Ada satu lagi restoran halal yang berada di daerah Asakusa bernama Ippin Asakusa. Beralamat 3-16-11、Nishiasakusa Taito-ku, Tokyo 111-0035, posisinya tidak jauh dari ramen Naritaya. Info lebih lanjut bisa cek di websitenya langsung.

Halal food map at Asakusa
Halal food map at Asakusa ; A adalah Sekai Cafe, B adalah ramen Naritaya (Gambar segitiga adalah lokasi ramen Naritaya sebenarnya), C adalah Khaosan Tokyo Kabuki dan D adalah Ippin Asakusa *courtesy Google Maps*
papan Sekai Cafe
Sekai Cafe dari kejauhan
Sekai Cafe
Sekai Cafe

Sesampai di hostel, gw beristirahat sebentar di common room sambil menunggu kedatangan Yudha. Sambil sesekali memperhatikan Naoto yang sedang sibuk bertemu dengan tamu di ruangan sebelah. Kalau dari posisi duduk Naoto yang terlihat sangat tegak-sopan-resmi, sepertinya doski bertemu dengan tamu penting.

Setelah Yudha datang, dengan berat hati gw mulai menggeret koper.
Perjuangan menggeret koper di tengah keramaian Asakusa menuju stasiun Asakusa ternyata lumayan juga. Sesampainya di stasiun Asakusa, kami langsung membeli tiket untuk menuju stasiun Shinjuku.

Di stasiun Shinjuku, kami mencari loker untuk meletakan koper. Berhubung stasiun Shinjuku ini besar, kami belum tahu letak pintu masuk untuk menuju stasiun Ikebukuro di perjalanan selanjutnya serta untuk meminimalisir nyasar, kami memilih loker yang berada diluar gate stasiun.

Sengaja memfoto tempat yang berdekatan dengan loker agar mudah menemukan loker jikalau tersesat
Sengaja memfoto tempat yang berdekatan dengan loker agar mudah menemukan loker jikalau tersesat
Loker kali ini lebih canggih
Loker kali ini lebih canggih
my PIN Locker
my PIN Locker

Beres dengan urusan loker, kami menuju Takashiyama Departemen Store Shinjuku. Selain karena penasaran dengan pusat perbelanjaan besar di Tokyo, tujuan lainnya agar gw dapat shalat disini.

Takashiyama Departemen Store Shinjuku ini kurang lebih sama dengan Grand Indonesia. Barang-barang branded yang pastinya bikin hati melolong tak karuan begitu melihat label harga. Mentok-mentoknya gw hanya berkeliling di Tokyo Hands dan Uniqlo.

Di Uniqlo (akhirnya) gw menemukan membeli jaket parka yang sedang SALE euuyyy…
Walaupun tidak ada niatan membeli secara khusus, ternyata jaket ini sangat berguna menghadapi cuaca dingin di Kyoto dan Osaka di hari perjalanan selanjutnya.

Setelah menghabiskan beberapa lembar kertas uang Yen, gw menuju lantai 11 dimana terdapat prayer room. Begitu gw tiba di lantai 11 dengan menggunakan eskalator, gw langsung menemukan pembatas ruangan seperti partisi berwarna putih untuk menutupi ruangan di baliknya.

Didepan partisi ini, berdirilah seorang Ibu, yang kalau ditilik dari usianya seharusnya Ibu ini sedang menikmati masa pensiunnya.
Gw menanyakan letak prayer room kepada beliau, dibalas dengan bahasa Jepang, Ibu tersebut meminta gw mengikuti beliau.

Gw memasuki bagian dalam dari partisi ini. Di balik partisi ini, banyak sekali orang lalu lalang berkerja mengangkut barang dan sepertinya ruangan ini merupakan exhibition hall yang pada saat itu sedang tidak dipakai.

Setiba didepan prayer room, beliau menggunakan intercom yang berada di depan pintu prayer room dan berbicara dengan pegawai lain untuk membukakan pintu prayer room. Setelah terbuka, dengan menggunakan bahasa Jepang beliau mempersilahkan gw masuk ke dalam ruangan.

Prayer room di Takashiyama terdiri dari tempat wudhu dan ruangan shalat yang cukup besar. Ruangannya sangat bersih! Gw hanya bisa berandai-andai ruangan shalat di fasilitas umum di Jakarta bisa sebersih ini.

Usai shalat, awalnya berniat ingin beristirahat sebentar di dalam ruangan ini (sekalian numpang ngecharge ipin sih sebenarnya), tapi feeling gw mengatakan kalau sepertinya gw ditunggu oleh si Ibu diluar prayer room.

Benar saja, ketika gw keluar, Ibu tersebut setia berdiri menunggu gw tidak jauh dari pintu prayer room. Alhamdulillah gw meng-cancel rencana beristirahat didalam prayer room.

Kami kemudian keluar dari ruangan tersebut, begitu sampai di luar partisi, gw mengucapkan terima kasih kepada Ibu tersebut. Untuk Takashiyama Departemen Store Shinjuku, gw ucapkan terima kasih atas fasilitas prayer room yang sangat membantu ini!

Inside of Prayer room at Takashiyama Shinjuku Store
Inside of Prayer room at Takashiyama Shinjuku Store
Prayer room
Prayer room
Wudhu
Tempat wudhu

Gw pun melangkah menuju ke meeting point untuk bertemu dengan Yudha. Sekitar jam 20.30 kami kembali menuju stasiun Shinjuku. Kami mengambil koper dari loker dan kemudian bergegas menuju stasiun Ikebukuro dengan menggunakan JR Yamanote Line.

Sesampainya di stasiun Ikebukuro, kami mencari pintu west exit. Begitu diluar stasiun, angin dingin langsung menerjang. Dan mulailah perjuangan kami mencari halte bus nomor 8.

Ikebukuro map *courtesy Google Maps*
Ikebukuro map ; Tanda panah diatas merupakan lokasi halte bus nomor 8 *courtesy Google Maps*
Keluar dari west exit Ikebukuro station, akan terlihat gedung-gedung tersebut, berjalan menuju Soft Bank (tanda panah) *courtesy Google Maps*
Keluar dari west exit Ikebukuro station, akan terlihat gedung-gedung tersebut, berbeloklah kearah kiri menuju Soft Bank (tanda panah) *courtesy Google Maps*
Posisi halte ditunjuk oleh panah berwarna merah
Posisi halte ditunjuk oleh panah berwarna merah *courtesy Google Maps*
Halte bus no 8
Halte bus no 8
Willer Express bus
Willer Express bus

Setelah berhasil menemukan halte bus nomor delapan, kami berpindah tempat ke taman diseberangnya yang bernama Ikebukuronishiguchi Park.

Malam itu, walaupun udara terasa menggigit, namun taman penuh dengan para pegawai-pegawai kantoran berseragam khas Jepang yaitu jas-blazer hitam dengan dalaman kemeja berwarna putih. Mereka menikmati malam itu dengan asyik bersenda gurau sambil sesekali menyuap makanan cepat saji dan tak lupa, menengguk bir kalengan.

Kami pun tak mau kalah dengan mereka, kami menikmati makan malam yang kami beli di 711 dengan lauk pauk yang kami bawa dari Jakarta. Mau mabok-mabokan seperti mereka, tapi rasanya perjalanan menggunakan bis malam menuju Kyoto akan cukup membuat gw ketar-ketir dengan kehadiran wc. Jadi gw lebih memilih mencoret mabok-mabokan dari list. 😀

Gw cukup menikmati perjalanan tanpa arah di hari kelima ini.
Semua perjalanan di hari ini benar-benar tidak kami duga dan tidak kami rencanakan. Kami melalui hari tanpa adanya back up plan A-B-C-D-E-F, dan baru gw sadari ketika membuat postingan ini kalau ternyata dihari terakhir kami di Tokyo, kami hanya berkunjung ke tiga tempat. Sedikit banget ya!

At last, my late dinner at Ikebukuronishiguchi Park was a perfect ending of the day!

Sekitar jam 11 malam kami kembali menuju halte bus. Ada beberapa jenis bus Willer Express yang berhenti di halte tersebut. Setelah memastikan bis yang kami naiki itu benar, kami memberikan print out email reservation dan duduk sesuai dengan nomor yang telah ditentukan.

Setelah selesai memeriksa penumpang, bus Willer Express memulai perjalanannya. Dengan harga tiket sebesar 3.900 Yen, kondisi didalam bus terbilang nyaman dan jendela dalam bus benar-benar ditutup oleh tirai termasuk terdapat tirai penutup yang menjadi pemisah antara sopir dengan penumpang yang duduk dibarisan pertama. Kondisi bus dibuat agar penumpang dapat tidur nyenyak tanpa terbangun oleh silaunya lampu jalanan dan lampu mobil lain.

And no worries, bagi yang ingin ke wc, setelah satu jam perjalanan, bus akan berhenti kurang lebih 10 menit di rest area. Sempat memperhatikan kalau rest area ini sebenarnya cukup lengkap dengan minimarket, tapi berhubung mata gw sudah tidak bersahabat, gw lebih memilih segera naik bus.

Oyasumi nasai!

Advertisements

4 thoughts on “[Jepang] Day 5 – Tokyo : Sumida Park, Asakusa Mosque & Shinjuku

  1. mba,, minta info dong klo mau liat resto2 halal di jepang dimana aja link nya apa ya?? dlu klo ga salah pernah baca entah di blog ini atau dimana gitu ngeshare bbrapa link daftar resto2 halal dijepang, *saking bnyk nya baca blok smp lupa.. tp saya udh ngubek2 archive jepang ga ketemu juga link nya,,

  2. HI Mba Vika..salam kenal. Saya mau tanya mengenai willer bus dari tokyo ke kyoto apakah boleh membawa koper besar? krn menurut web nya maximum 155 cm ( Panjang+lebar+tinggi). Apakah mutlak seperti itu? Thanks ya Mba

    1. Hi juga..
      Asalkan ada informasi bus mempunyai tempat penyimpanan bagasi, bus dapat menerima koper. Waktu itu banyak koper besar yang memenuhi penyimpanan barang tapi saya tidak tahu apakah dimensinya sesuai dengan persyaratan yang tertulis di website.
      😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s