[Jepang] Day 4 – Tokyo : Asakusa, Akihabara, Fujiko F. Fujio Museum & Shinjuku

Sunday, April 5th, 2015

Rencananya hari ini kami akan menuju :

  1. Berkeliling di Asakusa
  2. Fujiko F Fujio Museum
  3. Shinjuku → looking for Odakyu Sightseeing Service Center
  4. Akihabara
  5. Odaiba

Namun berhubung itinerary menuju Fujiko F Fujio Museum bergeser dari jadwal seharusnya. Akhirnya setengah dari itinerary hari ini berubah dan tercoretlah Odaiba dari list.

Dan ini adalah itinerary yang berhasil kami jalankan :

  1. Asakusa
  2. Akihabara
  3. Fujiko F Fujio Museum
  4. Shinjuku

*****

Pagi itu badan gw berasa remuk redam.
Rasanya kok seperti ada Kingkong yang nemplok di badan gw.. 😦
Mau bangun dari tempat tidur rasanya butuh perjuangan!

Emmm…
Yeaahh… Gw akui penyebab utamanya sih memang faktor ‘U’, tapi faktor adaptasi dengan cuaca dan jet lag itu berpengaruh besar juga loh.
Pluuusss… perjalanan sehari sebelumnya, gw forsir dengan berkeliling Tokyo seharian penuh tanpa memperhatikan kondisi badan.

Then, mengingat gw not feeling well (baca:gak enak badan) dan rundown hari ini mengalami perubahan, gw minta ke Yudha untuk memundurkan perjalanan hari ini menjadi jam 9.

Sekitar jam 8 kurang, gw baru bangun dari tempat tidur.
Mandi – ganti baju – dempulin Sun Block ke muka – semprot minyak wangi – beberes tas – pasang 2 lapis sweater – dan, turun ke bawah untuk sarapan!

Beres dengan urusan sarapan, awalnya gw iseng-iseng ingin menanyakan tiket menuju Lake Kawaguchiko di resepsionis hostel.
Dan jodoh gak kemana ya, boookk…
Gw ketemu Naoto-san (lagi)! Hehehe… *muka bertanduk*

Gw menanyakan bagaimana caranya memesan tiket di Odakyu Sightseeing Service. Dan pastinya kalau sudah berbicara dengan Naoto-san, obrolan pendek (selalu) berlanjut dengan diskusi panjang lebar.

Naoto-san menginformasikan bahwa doi bisa membantu memesankan tiket bus ke Lake Kawaguchiko. Namun doi meragukan bahwa kami bisa mendapatkan pemandangan Gunung Fuji dalam cuaca cerah karena setelah melihat weather forecast untuk esok hari disekitar Gunung Fuji akan di perkirakan cloudy hingga akhirnya akan turun hujan. Dan itu berlangsung seharian!

Sambil menjelaskan beberapa alternatif, Naoto-san menyerahan keputusan kepada gw. Kalau masih berminat ingin membeli tiket bus ke Lake Kawaguchiko, nanti doski akan membantu memesankan tiket.

Okeh, berarti setelah ini gw harus berdiskusi dengan Yudha.

Pukul 09.00 gw dah siap-siap menuju meeting point hari itu di depan Kaminarimon (Kaminari Gate)

Pagi itu, perkiraan cuaca menginformasikan bahwa seharian ini kami akan berhadapan dengan hujan dan cuaca dingin di kisaran 10-12 derajat Celcius.

Hmm…. Baeklah!
Peralatan perang untuk hujan sudah ada di tangan, tapi kalau untuk cuaca dingin pasrah aja deh mengandalkan kekuatan badan..

Begitu gw keluar hostel, gerimis sudah menyambut kehadiran gw. Berhubung eikeh males buka payung, yuk mareee kita jalan melipir sajah.

Jam 09.30 gw sudah tiba di meeting point. Sambil menunggu kedatangan Yudha (yang baru gw temui 30 menit kemudian), gw berkeliling disekitar Kaminari Gate. Hujan yang turun tidak menyurutkan orang-orang untuk mendatangi Asakusa.

Daya tarik utama dari Asakusa adalah kuil Sensoji, sebuah kuil Budha yang dibangun pada abad ke-7. Begitu masuk kedalam dari Kaminari gate (yang merupakan simbol dari Asakusa) jalanan langsung mengarah ke Sensoji Temple.

Di antara Kaminari gate dan Sensoji Temple terdapat Nakamise Street yang penuh dengan toko-toko menjajakan pernak-pernik dan souvenir khas Jepang.

Berhubung saat itu Nakamise Street mulai dipenuhi dengan orang-orang, gw lebih banyak berjalan lurus menuju Sensoji Temple.

Kalau dari resensi Claudia Kaunang, barang-barang yang dijual disini termasuk diatas harga rata-rata. Semakin tidak menambah minat gw mendekat ke salah satu toko. Hanya Yudha yang sibuk mendekat ke salah satu toko dan terkadang doi mencoba beberapa sample makanan.

Souvenir yang dijual sebenarnya cukup beragam tapi berhubung tempat ini memang sangat ‘turis’ jadi wajar kalau harga-harganya juga bersaing dengan ketat.

Fyi, disalah satu toko di Nakamise Street ada yang menjual snack khas Jepang dan tertempel label halal. Sempat tertarik membeli snack tersebut, tapi berhubung perjalanan gw masih jauh, keinginan untuk membeli makanan harus gw rem-rem dulu.

Sesampainya di Sensoji Temple, tempat ini sangat penuh dengan orang. Baik dari warga Jepang yang ingin beribadah ataupun turis-turis yang tertarik dengan kuil ini.

Senso-ji adalah kuil tertua di Tokyo dan merupakan salah pusat ibadah penting di Jepang. Senso-ji dikenal juga sebagai Asakusa Kannon temple.

Di tahun 628, dua nelayan bernama Hinokuma Hamanari dan saudaranya bernama Takenari, ketika sedang memancing di Sungai Sumida, mereka menemukan sebuah patung Bodhisattva Kannon. Meskipun mereka menempatkan patung kembali ke sungai, namun patung tersebut selalu kembali kepada mereka. Hingga akhirnya, Sensoji dibangun terdekat dengan patung Bodhisattva Kannon dan pembangunan kuil ini selesai pada tahun 645.

Setiap tahunnya terdapat festival besar bernama Sanja Matsuri yang di adakan di Asakusa Shrine.  Festival ini diadakan di bulan Mei setiap tahunnya dan berlangsung selama tiga hari. Sanja Matsuri merupakan perayaan untuk ketiga pendiri Kuil Sensoji, yang diabadikan sebagai Shinto dewa (Kami) .

Untuk festifal Sanja Matsuri pada tahun 2016 jatuh pada tanggal 20-22 Mei 2016.

A national treasure built by third Edo shogun Tokugawa Iemitsu, the Main Hall was obliterated in the March 1945 Tokyo air raids. However, it was reconstructed in October 1958 through donations collected from adherents around Japan. Though it mirrors the original style, the current building features a solid reinforced concrete structure with titanium roof tiles.

One immediately apparent characteristic of the Main Hall is its dramatically sloping roof, quite tall compared to that of other temples, such that it can be seen from a great distance.

The 1,150 square-meter hall is divided into the naijin (inner sanctum) lain in tatami mats and the concrete-floor gejin (outer sanctum). Senso-ji’s principle image, the Bodhisattva Kannon, sits on the zushi (miniature shrine) called the gokuden in the center of the naijin. The gokuden houses both the secret statue and the duplicate statue carved by Ennin, which is taken out for public viewing on December 13 of every year. It also holds images of Kannon once worn by persons of high rank including Edo period shoguns and ordained members of the royal family. To the left and right of the gokuden sit the Buddhist protector deities Bonten and Taishakuten. To the rear left of the naijin is a statue of Fudo Myo-o, and to the right is Aizen Myo-o, attendants of Bodhisattva Kannon.

Hours: 6:00 to 17:00 (from 6:30 October to March)

Admission: Free

http://www.senso-ji.jp/about/index_e.html

Kariman Gate di kala sepi
Kaminari Gate di kala sepi ; foto diambil sehari sebelumnya
Kariman Gate di kala ramai
Kaminari Gate di kala ramai
Nakamise street
Nakamise street
Lorong Nakamise Street
Lorong Nakamise Street
Souvenir shop
Souvenir shop
Hozomon Gate
Hozomon Gate
The Dragon
The Dragon
The gate
The gate
Kannondo Hall
Kannondo Hall #1
Kannonado Hall
Kannondo Hall #2
Kannondo Hall
Kannondo Hall #3
Kannondo Hall
Kannondo Hall #4
The gate at Kannondo Hall
The gate at Kannondo Hall
The main hall
The main hall
Garden #1
Garden #1
Garden #2
Garden #2
Garden #3
Garden #3
Asakusa Temple
Asakusa Temple
Kaminari Gate view at night
Kaminari Gate view at night

Jam 11.00 kami keluar dari Sensoji Temple.
Kami menyempatkan kembali ke hostel untuk memutuskan rencana ke Lake Kawaguchiko esok hari.

Siang itu gw bertemu dengan Naoto-san kembali, doski mengulang informasi yang kurang lebih sama di informasikan ke gw sebelumnya. Berhubung sekarang ada Yudha, jadi kami bisa memutuskan apakah tetap lanjut sesuai rencana sebelumnya.

Setelah berkali-kali cek kesana-kemari, Naoto-san tetap tidak merekomendasikan kami jalan ke Lake Kawaguchiko karena hasil weather forecast tidak banyak jauh berubah dari beberapa jam sebelumnya, bahkan informasi yang tercantum menyatakan 90% cuaca mengarah cloudy, hujan serta kemungkinan b.e.s.a.r Gunung Fuji akan tertutup awan.

Naoto-san juga memperlihatkan live streaming Gunung Fuji saat itu lewat http://www.fujigoko.tv/english/
Sumprit!!! Keren banget deh ini negara sampai punya streaming khusus untuk Gunung Fuji!

Streaming pada saat itu memperlihatkan Gunung Fuji sangat tidak terlihat penampakannya. Pemandangannya berwarna sangat kelabu! Dan bahkan (sama sekali) tidak ada penampakan gunung!

Mana Fujinyaaa….???
Ini apa yang mau gw liat disana….???
*tusuk bawang merah dan cabai merah ke batang lidi, tancap ke tanah*
*komat-kamit*
*jampi-jampi biar gak hujan*

Daaaan…. Berita buruknya, Naoto-san menjelaskan berhubung besok kami mendapatkan tiket bus jam 10 pagi, maka ketika kami tiba di Lake Kawaguchiko view yang didapatkan kurang lebih sama dengan pemandangan yang gw liat di live streaming hari itu.

Makjleb…
Alamat bubar jalan deh rencana ke Gunung Fuji!

Final decision, sesuai dengan saran Naoto-san, kami tetap memesan tiket menuju Lake Kawaguchiko. Besok pagi Naoto-san akan menginfokan update cuaca dan cek streaming keadaan disekitar Gunung Fuji.

Keputusan tetap di tangan kami, perjalanan ke Lake Kawaguchiko akan diputuskan esok hari.

Rute selanjutnya menuju Akihabara…

Berhubung hari ini kami akan menaiki beberapa jenis kereta, kami tidak membeli tiket pass. Kami langsung membeli tiket kereta di mesin tiket sesuai dengan jenis kereta yang akan kami naiki saat itu.

Dari stasiun Asakusa, kami naik Tokyo Metro Ginza Line, transit di stasiun Ueno dan melanjutkan perjalanan dengan JR Yamanote Line menuju stasiun Akihabara. Harga tiket Tokyo Metro Line 170 Yen dan JR Yamanote Line 140 Yen.

Oya, ketika kami transit di stasiun Ueno. Kami keluar terlebih dahulu di stasiun Ueno, kemudian membeli tiket baru JR untuk berganti kereta JR Yamanote Line menuju stasiun Akihabara.

Begitu gw menginjak Akihabara, gw menyimpulkan bahwa Akihabara adalah surganya para lelaki!

Kenapaaaa…?
Karena Akihabara merupakan pusat penjualan barang elektronik, anime, manga, retro video games, figure dan teman-temannya. Disini juga terdapat Gundam Café, AKB48 Café and Shop, Don Quijote dimana terdapat AKB48 theather serta Maid Café.

Selamat berpesta untuk kaum pria!

Ketika kami keluar di pintu exit Akihabara Electric Town, kami langsung bertemu dengan bangunan-bangunan tinggi yang penuh dengan iklan elektronik dan games.

Berhubung eikeh gak ngerti ya boooook dengan anime dan teman-temannya ituh. Gw ngekor Yudha aja deh!

Kami sempat memasuki salah satu bangunan yang berada di Akihabara.Gw sempat terpaku dengan berbagai macam koleksi figure yang menghiasi etalase-etalase.

Figure yang dijual memang di bandrol dengan harga yang cukup “ woooww – fantastic – bombastis “. *jalan mindik-mindik, takut nyenggol*
Walau dibeberapa figure memang ada yang (tampak) seksih, namun secara garis besar figure yang dipajang di etalase terlihat sangat detail dan sempurna!

Sambil mencoba mencari keberadaan AKB48 Café & Shop, kami menyusuri jalan besar Chuo Dori. Tapi gw juga lupa menulis detail cara menuju AKB48 Café & Shop, so follow the crowd aja deh!

Hingga tiba di suatu perempatan besar. Kami melihat tulisan AKB48 menempel disebuah bangunan. Dan mampirlah kami kedalam gedung tersebut.

Gedung tersebut adalah Don Quijote yang merupakan departemen store menjual berbagai aneka ragam jenis dari makanan, aksesoris, baju, tas, keperluan rumah tangga hingga berbagai macam aksesoris.

Gw sempat membeli payung warna-warni khas Jepang (namun made in China!) dengan harga termurah yang pernah gw lihat selama di Jepang.

Oya, AKB48 yang berada di gedung ini merupakan AKB48 theater yang berada di lantai 8. Gw sempat melewati bagian depan dari AKB48 theater, namun kok ya ternyata antriannya sudah mengular.

Berhubung waktu sudah mepet, kami memutuskan kembali ke stasiun Akihabara. Dengan menggunakan rute yang berbeda dari sebelumnya, kami (akhirnya) menemukan AKB48 Café & Shop dan Gundam Café.

Sempat tertarik mencoba menu-cepat yang ditawarkan di AKB48 Café & Shop, tapi kenyataannya kami malah berbelok masuk kedalam AKB48 Café & Shop. Sesuai dengan dugaan gw, isinya ya pernak-pernik yang berbau AKB48. Tawaf cuma sekali putaran, habis itu cap cus deh.

Jalur di Akhibara ; AKB 48 yang diatas adalah AKB48 Theater, sedangkan yang dekat dengan stasiun Akihabara adalah AKB$* Cafe & Shop
Jalur di Akhibara ; AKB48 yang diatas adalah AKB48 Theater, sedangkan yang dekat dengan stasiun Akihabara adalah AKB48 Cafe & Shop *courtesy Google Maps*
Akihabara #1
Akihabara #1
Akihabara #2
Akihabara #2
AKB48 Theater
Don Quijote builing and AKB48 Theater
AKB48 Cafe & Shop
AKB48 Cafe & Shop
Gundam Cafe and AKB48 Cafe & Shop
Gundam Cafe and AKB48 Cafe & Shop
Gundam Cafe
Gundam Cafe
Kawai...
Kawai…
Toys
Toys
The expensive figure!
The expensive figures! Harganya diatas 1,5 juta rupiah…
Figure #1
Dragon Ball Figures
Figure #2
Figures
Emmm... Any comments???
Emmm… Any comments???

Mari kita ke Museum Doraemon!

Rutenya : Dari stasiun Akihabara transit di stasiun Shinjuku, then naik Odakyu Odawara Line Exp menuju stasiun Noborito.

Dari stasiun Akihabara naik JR Sobu Line menuju Stasiun Shinjuku gak ada masalah nih. Begitu turun di platform 5, gw sempat foto-foto kereta yang lalu lalang di platform stasiun Shinjuku sedangkan Yudha (yang mulai kelaparan) membeli jus buah. Btw, jus buah pisang yang dibeli Yudha endang abeeesss  !

Di itinerary sebelumnya, starting point menuju Fujiko F Fujio Museum itu dari Asakusa. Dan sekarang berubah dari Akihabara, pakai ketemu Shinjuku pula! Bener-bener gak ada bayangan sama sekali harus bertemu dengan keramaian stasiun besar seperti stasiun Shinjuku.

Begitu kami mencari tempat transit, mulailah kami kebingungan. Mencari informasi papan kereta Odakyu ituh yang bener-bener bikin kami sedikit tersesat. Sempat bertanya kepada petugas stasiun namun petugas tersebut hanya menunjuk arah yang harus kami datangi.

Dan ketika kami mendatangi arah tersebut, kami tidak menunjukan petunjuk yang jelas. Alhasil kami muter-muter didalam stasiun selama 15 menit!!

Isshhh…
15 menit aja pake ngeluh?!!!?
15 menit nyasar di Jepang, apalagi didalam stasiun besar seperti Shinjuku, rasanya seperti masuk ke dalam labirin yang tak berujung.. *keluh*

Disatu titik, gw sempat melihat gate dengan tulisan Odakyu Odawara di atas gate tersebut, tapi gate ini berfungsi sebagai transfer gate dan (rasanya) kami tidak bisa masuk kesana.

Yudha menanyakan kembali kepada petugas stasiun yang posisi petugasnya berada diujung gate tersebut dan petugas tersebut mengarahkan kalau kami harus keluar stasiun.

Begitu kami keluar stasiun, terlihat mesin tiket dan terpampanglah tulisan Odakyu di atas mesin tiket. Cek sebentar dan terdapat tulisan Noborito!
Yes, ketemu juga akhirnya!

Lesson & learn : Setelah menemukan tulisan petunjuk Odakyu (tampilannya seperti transfer gate), maka keluarlah dari stasiun Shinjuku dan cari tempat pembelian tiket kereta Odakyu. 😀

Tips : Klik link berikut untuk membantu kalian memahami seluk beluk stasiun Shinjuku yang besar ituh.

Dengan tiket seharga 250 Yen, kami memilih kereta Local untuk tiba di Noborito. Kalau dari papan informasi, stasiun Noborito akan dilalui oleh kereta Express, Semi Express, Section Semi Express dan Local. Berhubung jadwal terdekat terdapat kereta Local, kami menaiki kereta tersebut dari platform 9.

Kereta ini hampir sama dengan jenis kereta commuter line Jabodetabek. Jarak yang ditempuh dari stasiun Shinjuku menuju stasiun Noborito kurang lebih 19 menit. Lumayan deh bisa tidur-tidur ayam sebentar.

Sesampai di stasiun Noborito, kami mencari shuttle bus menuju Fujiko F Fujio Museum. Dan sudah terlihat, shuttle bus yang penuh dengan gambar kartun berada di sebelah kiri dari arah kami keluar stasiun. Kami pun segera berlari-lari menuju bus dan sedikit keteteran mencari recehan 210 Yen untuk membayar tiket bus.

Oya, gw tidak menyarankan kalian untuk berjalan kaki dari stasiun Noborito menuju museum. Walaupun dibilang bisa ditempuh 15 menit berjalan kaki, tapi rasanya untuk orang Indonesia (ditambah kebingungan celingak-celinguk nyari jalan) waktu yang ditempuh bisa 25-30 menit. Menurut gw, jarak yang harus ditempuh dari stasiun Noborito menuju museum terbilang cukup (lumayan) jauh.Tapi kalau ingin mencoba berjalan kaki, lebih baik turun di stasiun Mukogaoka-Yuen atau stasiun Shukugawara.
Selamat mencoba!

Suasana di salah satu platform Stasiun Shinjuku
Suasana di salah satu platform Stasiun Shinjuku
The machine tickets
The machine tickets
Odakyu Route
Odakyu Route
Odakyu Gate Entrance
Odakyu Gate Entrance
The local train of Odakyu
The local train of Odakyu
The shuttle bus
The shuttle bus to Fujiko F Fujio Museum ; The fare 210 Yen

Sore itu, ada secuil kisah “drama” ketika kami tiba di museum!

Karena semenjak turun stasiun Noborito gw berlari-lari menuju shuttle bus, grasak-grusuk mencari recehan dan posisi kami berdiri (mepet) dekat dengan pintu masuk bus, begitu turun di museum, gw baru sempat mengecek keberadaan si ipin.

Cek saku celana…
Cek semua kantong (doraemon) di dalam tas ransel…
Gw tidak menemukan si ipin…!!!

Hadeeuuuhh….
Pusing ‘pala berbie!!!
Beneran deh, timing hilangnya gak pas banget!
Padahal tinggal 5 menit lagi menuju jam masuk museum.

Gw coba mengingat-ingat kembali, dimanakah posisi terakhir kali gw bersentuhan dengan si ipin.
Ingetan gw yang rapuh ini menyatakan kalau si ipin ketinggalan di wc stasiun Noborito !!!

Alamakjaannn…
Jauh bener ketinggalannya… 😦

Antara tenang dan gak tenang sebenarnya…
Tenangnya karena si ipin pasti gak bakal hilang karena ada cerita teman yang gadgetnya tertinggal di salah satu stasiun kereta di Jepang dan akhirnya gadget tersebut dapat ditemukan utuh-selamat-sentosa-sejahtera.
Gak tenangnya karena dalam beberapa menit lagi kami harus masuk ke dalam museum Fujiko F Fujio. Bah, alamat telat deh!

Gw memutuskan kembali ke stasiun Noborito.
Walaupun gw yakin si ipin bisa ditemukan selamat sentosa, tetep saja (satu-satunya) aset berharga gw harus ditemukan lebih dulu!

Gw segera menaiki shuttle bus, bayar 210 Yen dan berdiri menempati area yang kosong. Dengan hati tenang, kali ini gw mencoba mencari kembali ipin hingga ke pelosok-pelosok tas yang mungkin tak terjamah oleh tangan gw. Dan benar sajah, gw menemukan keberadaan ipin di salah satu jurang bagian terdalam tas!

Alhamdulillah…
Pelajaran agar tidak sembarang meletakan barang ya, Pichuuu! #note to my self!

Gw mencoba turun dari shuttle bus, kemudian sempat ditanya oleh bapak pengemudi. Gw hanya menjawab, “Cancel” sambil mencoba menggerakan bahasa tubuh dengan melambaikan tangan mengisyaratkan kalau gw tidak jadi naik bus.

Dan bapak pengemudi tersebut menanyakan uang tiket yang telah gw masukan ke dalam kotak uang. Gw hanya menjawab, “ It’s ok!”

Beliau menyuruh gw untuk menunggu dan sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya. Dan ternyata beliau memberikan gw selembar tiket bus yang dapat digunakan untuk naik shuttle selanjutnya sebagai pengganti uang tiket yang telah gw masukan ke kotak uang.

Ahhh… So nice!!!
Terharu-sangat !!!
Dan gw berkali-kali menundukan kepala sambil mengucapkan terima kasih!

Back to story of Fujiko F Fujio Museum!

Gw adalah salah satu generasi (bangsa) yang selalu bersemangat bangun pagi di hari Minggu dan tidak mau sedikitpun melewatkan serial karton Doraemon di pukul 8 pagi! Waktu itu kalau tidak salah hanya ada siaran TVRI dan hanya ada satu(-satunya) channel tv swasta yang mengudara.

Cie…Cie…Cie…
Ketahuan banget kan angkatan hidup gw! 😛

Ditambah dengan kehadiran film Stand by Me Doraemon yang bikin gw (sedikit) termehek-mehek di akhir tahun 2014, semakin menambah rasa penasaran gw dengan museum ini.

Dan akhirnya sampailah kami tiba di museum ini.

Museum yang terletak di kota Kawasaki ini tidak hanya mengkhususkan untuk tokoh Doraemon dan Nobita saja, karena Fujiko F. Fujio, si pencipta kartun yang mempunyai nama asli Hiroshi Fujimoto ini juga menghasilkan tokoh seperti Obake no Q-taro dan Perman (sepertinya ini adalah nama tokoh P-Man).

Dengan berbekal pemandu audio elektronik, cukup mudah mengikuti cerita di setiap masterpiece guratan tangan Fujiko F Fujio dan uniknya, terdapat beberapa diorama tiga dimensi yang menceritakan proses pembuatan komik Doraemon.

Museum ini terbagi menjadi beberapa area. Salah satunya terdapat area exhibition room dimana kita bisa melihat karya gambar asli Fujiko F Fujio dengan berbagai macam guratan hasil karyanya.

Fyi, tidak diperbolehkan mengambil gambar atau film di exhibition room dan Fujiko F Fujio Theater !!! Karena akan mempengaruhi tingkat kerapuhan kertas yang dipamerkan didalam area ini dan tentunya masalah copyright.

Yang membuat gw terpesona, di salah satu exhibition room terdapat meja kerja Fujiko F. Fujio ketika beliau membuat semua karya-karyanya.

Diceritakan, beliau selalu membuat riset terlebih dahulu sebelum menghasilkan karya. Sehingga rasanya tidaklah mengherankan jika di bagian atas meja kerja beliau terdapat susunan rak-rak yang penuh dengan berbagai macam jenis buku, dari buku masa pra sejarah hingga buku astronomi.

Bahkan terdapat bola dunia dan berbagai macam hewan jaman purba yang diletakan di meja kerjanya. Mungkin inilah cikal bakal terbentuknya tokoh Piisuke yaitu hewan mirip dinosaurus yang dipelihara oleh Nobita.

Tidak terbayang sangat imajinatifnya Bapak Fujiko F Fujio dalam menciptakan tokoh-tokoh kartun yang dibuatnya di tahun 60-an!
Tahun 60-an, Sodara-Sodara!
Tahun era Presiden Soekarno, tahun Emak Babeh gw masih ingusan… 😛

Setelah keluar dari Exhibition room di lantai 2, kita akan bertemu dengan Manga Corner yang merupakan area bacaan komik-komik Doraemon (berbahasa Jepang, pastinya!), Kids’ Space khusus untuk taman bermain preschoolers, People’s Plaza yaitu tempat bermain secara interaktif dan Fujiko F Fujio Theater.

Naik ke lantai 3, terdapat Museum Café dan Rooftop Playground yang menempati area taman. Taman ini merupakan atraksi paling utama dan spot paling eksis di Fujiko F Fujio museum. Di taman ini terdapat patung Doraemon dengan gorong-gorong tempat persembunyian Nobita, “ Pintu Kemana Saja ” dan terdapat tokoh Piisuke dengan Nobita dan Doraemon duduk diatasnya.

Kami pun mulai sibuk narsis di seluruh spot yang ada di Rooftop Playground. Bahagia sekali rasanya menemukan sosok Doraemon yang biasanya hanya gw temui di layar kaca, dapat gw temui dalam sosok utuh berbentuk Doraemon.
I luv this museum!

Selanjutnya, karena kami belum makan siang, niatnya kami akan mencoba makan di Museum Café. Tapi berhubung antriannya lumayan panjang, kami hanya membeli Dorayaki seharga 210 Yen untuk mengganjal perut.

Di akhir perjalanan mengelilingi museum, gw mencoba menanyakan apakah gw bisa menggunakan Nursing Room untuk tempat shalat kepada salah satu staf museum. Awalnya doi sempat ragu karena dalam beberapa menit lagi museum ini akan tutup. Staf tersebut menanyakan berapa lama gw akan menggunakan ruangan tersebut. Setelah gw jawab 5 menit, doi mempersilahkan gw menggunakan ruangan tersebut.

Alhamdulillah…
Senang (sekali) rasanya ketika gw diberikan ruangan kosong untuk beribadah!
Jadi janganlah takut untuk menanyakan ruangan untuk shalat ya!
Mereka dengan senang hati membantu kita…

Open hours :
10:00-18:00

Days closed :
Every Tuesday except during the Golden Week (April 29th
May 5th) and summer holidays (July 20th September 3rd).
The Year-end and New Year Holidays (December 30th
January 3rd).

Ticket :
Our museum requires reservation so that every guest could thoroughly enjoy the museum.
Attention! We do not sell any tickets at the museum.
Please purchase our admission ticket at Lawson in Japan

Entry schedule :
Each day, entrance time is divided into quarterly time-schedule.
(1)10:00  (2)12:00  (3)14:00  (4)16:00

Admission fee :
Adults and University Students 1,000 yen
High School and Junior High School Students 700 yen
Children (4 years or older) 500 yen

http://fujiko-museum.com/english/

The tickets of Fujiko F Fujio Museum
The tickets of Fujiko F Fujio Museum
Gak perlu nenteng payung ke dalam museum!
Suka banget dengan ide tempat penyimpanan payungnya!!!! Kreatip!!!
Fujiko F Fujio Museum
Fujiko F Fujio Museum
Manga Corner
Manga Corner
Nice ambience, right?!?!?!
Nice ambience, right?!?!?!
The comics
The comics
Doraemon comic..
Doraemon comic, in Kanji! 😦
The two little girls playing interactive game
The two little girls playing interactive game
(Big) Giant
(Big) Giant
The puzzle
The puzzle
Giant with his song
Giant with his (bad) song
Nobita with his exam
Nobita with his exam
The menu at Museum Cafe
The menu at Museum Cafe
My Dorayaki ; 210 yen
My Dorayaki ; 210 yen
The handsome cat, Doraemon !
The handsome cat, Doraemon !
Pintu kemana saja...
Pintu kemana saja…
Piisuke...
Piisuke…
P-man
P-man
Eksploitasi si adek! Kakaknya berdiri tenang memperhatikan boneka Giant
Eksploitasi si adek! Adeknya sibuk menaikan pedal sedangkan Kakak berdiri tenang memperhatikan boneka Giant..

Dari Fujiko F Fujio Museum, kami kembali naik shuttle bus menuju stasiun Noborito. Di perjalanan menuju Shinjuku,Yudha memberikan ide untuk mencoba ramen “halal” bernama Kaijin yang ada di Shinjuku. Browsing-browsing sebentar, setelah itu mari kita mencoba peruntungan di Shinjuku.
Semoga gak pake nyasar lagi yeee…

Dari awal gw tiba di Jepang, gw sangat penasaran dengan rasa ramen di negara aslinya. Namun begitu mengetahui pembuatan ramen di Jepang selalu disajikan dengan kaldu babi. It’s a big NO-NO untuk mencoba ramen! 😦

Begitu mendengar ide Yudha dan setelah mendapatkan infomasi di Halal Media Jepang bahwa tempat ini adalah satu-satunya warung di Shinjuku yang menjual ramen dengan menggunakan kuah kaldu ikan. Pastinya kesempatan langka ini tidak boleh terlewatkan begitu saja!

Begitu sampai di stasiun Shinjuku, kami mencari South East Exit. Dari platform kedatangan kereta (kami berada di Underground Platform), kami harus naik 2 lantai ke atas untuk menuju South Exit Gate. Kami berjalan mengikuti petunjuk South East Exit. Jangan kaget ketika menuju South East Exit, akan melewati pusat perbelanjaan.

Begitu keluar dari pusat perbelanjaan, kami langsung menemukan anak tangga menurun, di sebelah kiri akan tampak butik GAP dan di sebelah kanan terlihat fly over.

Berjalanlah lurus menuruni anak tangga. Dari posisi kami berdiri, blok gedung tempat Kaijin berada di balik gedung. Kami menyebrangi jalan, ketika tiba di blok ke dua, belok kiri sedikit (lebih tepatnya menyerong ke arah kiri) dan tampaklah warung Kaijin yang berada di toko kedua dari ujung jalan.

Patokannya, penampakan di luar restoran ini terdapat gambar ikan dan jika kamu sudah melewati toko Game Taito Station (dengan background warna merah) yang berada di sebelah kanan dari posisi berjalan, berarti kamu sudah melewati Kaijin.

Direction at Shinjuku Statioin
Direction at Shinjuku Statioin
Direction to Kaijin from South East Exit Shinjuku Station
Direction to Kaijin from South East Exit Shinjuku Station *courtesy Google Maps*
Turuni anak tangga setelah keluar dari Stasiun Shinjuku, di sebelah kanan tampak outlet GAP
Turuni anak tangga setelah keluar dari Stasiun Shinjuku, di sebelah kanan tampak outlet GAP, sedangkan sebelah kiri adalah fly over *courtesy Google Maps*
Letak bangunan Kaijin, berada di blok ke dua
Letak bangunan Kaijin, berada di blok ke dua, dibalik tulisan Mc Donalds *courtesy Google Maps*
Pemandangan yang tampak setelah menuruni anak tangga
Pemandangan yang tampak setelah menuruni anak tangga *courtesy Google Maps*
Tanda panah adalah letak restoran Kaijin
Tanda panah adalah letak restoran Kaijin *courtesy Google Maps*
Penampakan Kaijin Dari luar, terdapat gambar ikan.
Penampakan Kaijin dari luar, terdapat gambar ikan *courtesy Google Maps*
Pemandangan di malam hari
Mencari restauran Kaijin di malam hari
Jangan sampai melewati Game Taito Station
Jangan sampai melewati Game Taito Station yak!!!

Kami segera menuju lantai 2, tangga menuju lantai 2 ini seperti gang senggol dan ternyata antrian Kaijin malam itu sudah mengular hingga ke tangga.

Walau tempat ini selalu penuh dengan orang-orang namun para pengunjung akan segera pergi setelah menyelesaikan makan di Kaijin, jadi rasanya antrian di Kaijin tidak akan terasa lama.

Ketika antrian kami mendekati pintu masuk Kaijin, pramusaji memberikan menu dalam bahasa Kanji.
Reflek kami menanyakan, “ Do you have an English menu? “

Kami langsung disodorkan menu yang berbahasa Inggris.
Yes, gak perlu ribet pakai translate-translate segala!
Tinggal tunjuk menu yang kami inginkan dan mbak-mbaknya langsung ngertos. 😉

Gw memilih menu nomor 3 yaitu Spicy Seafood Bace Ramen with rice ball, level medium and Large Size, please! 😀

Kami kemudian memasuki restoran Kaijin. Tempatnya sendiri cukup sempit dan kurang lebih hanya menampung 17 orang. Pada saat itu terdapat satu keluarga kecil dari Indonesia yang sedang mencoba ramen Kaijin.

Gak pakai basa-basi, begitu kami duduk, kami langsung disajikan menu ramen yang telah kami pesan.

*Sluuurppp*
*sibuk ngunyah*
*sibuk nelen*
*sibuk ngunyah*
*sibuk nelen*

Mau tau rasanya????
Endang surendang, kakakkkk!!!!
Enak bangeeeeeddd-ngeeddd-ngeeddd-ngeeddd !!!!
This is the best ramen I’ve ever tried!!!
Sungguh!!!

Khayalan gw selanjutnya…
Ramen dengan kaldu ikan saja rasa lezatnya pooolll banget, apalagi dengan kaldu babi yaaa…???
*minta ditoyor* 😀

Sedikit saran, sebenarnya porsi makan gw itu termasuk jumbo *pengakuan gak penting*, jadi gw dengan pe-de nya memesan ramen porsi large. Namun ternyata porsinya itu besar sekalih! Walaupun perut sudah kosong karena tidak makan siang, hanya diganjal dengan Dorayaki, namun di 2/3 porsi ramen gw sudah mulai kekenyangan. Dengan susah payah gw mencoba menghabiskan ramen dan nasib si rice ball yah-yuk-dadah-bubye deh!

Cara memakan rice ball yang merupakan onigiri bakar (dengan olesan sambal diatasnya) ini adalah habiskan dulu ramennya hingga yang tersisa kuah ramen, kemudian campurkan rice ball tersebut dengan kuah ramen. Aduk dan makanlah seperti kita memakan sup. Kata orang-orang sih enak, tapi perut ini sudah tidak sanggup menghabiskan rice ball.

Kesimpulannya : Harga 1.030 Yen sangat sebanding dengan kelezatan ramen yang disajikan. Highly recommended !!!

Antrian di Kaijin. Posisi gw mengambil foto ini ketika mengantri berdiri di tangga.
Antrian di Kaijin. Posisi gw mengambil foto ini ketika sedang mengantri di tangga menuju lantai dua.
Pramusaji mencatat pesanan ramen sebelum kami masuk ke dalam restoran.
Pramusaji mencatat pesanan ramen sebelum kami masuk ke dalam restoran.
The Menu
The Menu
The ingredients
The ingredients
The Kaijin
The Kaijin
Spicy
Spicy seafood base ramen with rice ball, lebel medium and large size ; Nom nom…
Detik-detik perjuangan menghabiskan ramen..
Detik-detik perjuangan menghabiskan ramen..

Setelah dari Kaijin, sambil mencari tempat yang lebih hangat, kami berjalan menuju Takashiyama Departemen Store Shinjuku. Apa daya kami ketika kami tiba sekitar jam 9 kurang, Takashiyama sudah tutup. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang karena kami sudah tak sanggup melawan dinginnya udara malam Tokyo. Sebenarnya, April itu musim semi atau musim dingin yah ????

Dipertengahan jalan menuju stasiun Shinjuku (Toei Subway) kami menyempatkan mampir di Starbucks untuk membeli titipan tumbler kedua emak-emak Hore.
Hayoooo… Siapa yang ngerasa nitip tumbler?
Tunjuk tangan, jangan ragu-ragu… 😛

Pegawai di Starbucks sempat menanyakan apakah akan dibungkus dengan kotak atau kantung?
Kantung ajah deh,mbak!
Perjalanan eikeh masih panjang kalau itu kotak mulai memeriahkan isi koper eikeh.

Hai, tumbler!
Hai, tumbler!

Dari stasiun Shinjuku kami naik Toei Subway, transit di Aoyama-Itchome dan turun di stasiun Asakusa dengan harga tiket sebesar 310 Yen.

Sesampai di hostel, sambil packing, gw menceritakan perjalanan hari ini dengan salah satu teman kamar bernama Shamima yang merupakan warga negara Inggris.

Dan ditengah pembicaraan, ternyata kami mengalami kejadian yang sama.
Sama-sama nyasar di dalam stasiun kereta !

Gw tersesat di stasiun Shinjuku selama 15 menit dan Shamima tersesat di Stasiun Tokyo selama satu jam!!!
Lebih parah kan ?!?!?!?!

Di akhir pembicaraan, Shamima memberikan sebuah ide, kalau gw harus mencoba nyasar di stasiun Tokyo agar gw bisa merasakan perjuangan menemukan jalan yang benar di stasiun ituh.

Thanks, Shamima!
Namanya bunuh diri ituh..!
😀

Advertisements

11 thoughts on “[Jepang] Day 4 – Tokyo : Asakusa, Akihabara, Fujiko F. Fujio Museum & Shinjuku

  1. Mbaa, aku mendadak galau dengan kostum. Autumn sama spring suhunya mirip2 aja kan? Itu kayaknya banyak yang pake coat yah? Kalo perginya Oktober persiapan apa aja yaa mba? Aku nggak tahan dingin, hahaa..

    1. Waaaa….
      Menggalau dengan suhu ya? 😁
      Sebenernya suhu di musim autumn dan spring kurang lebih sama. Difa kapan jalannya?
      Kalau di awal Oktober kayaknya masih agak hangat, sisa-sisa dari musim panas. Tapi kalau sudah pertengahan Oktober sepertinya cuaca sudah mulai sejuk, cenderung dingin. Kalau saran gw, berhubung sekarang perubahan iklimnya ekstrim dan Difa gak kuat dingin, lebih baik bawa coat untuk jaga-jaga. Mentok-mentok bawa sweater tapi berat yah…?!?! Hehehe…
      Jangan lupa pantau perkiraan cuaca dan suhu, Difa. Jadi kamu bisa memperkirakan apakah harus membawa coat atau tidak.

      1. Pertengahan Oktober mbaa, berarti cenderung dingin ya? Dan ini belom punya coat, nggak tau mau beli di mana *maklum anak daerah*. Ada rekomendasi nggak mba? 😁

      2. Difa tinggal dimana?
        Kalau di Jakarta, di ITC Ambassador dan Mangga Dua ada yang menjual perlengkapan untuk musim dingin. Kalau lagi isenh ngemall, toko-toko branded di mall-mall besar juga suka ada. Tinggal rajin ngubek satu persatu. Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s