[Jepang] Day 3 – Tokyo : Harajuku, Meiji Shrine, Tokyo Camii & Turkish Culture Center, Shibuya, Ginza and Tokyo Tower

Saturday, April 4th, 2015

Sebelum gw memulai cerita perjalanan hari ini, gw akan mencoba menjelaskan beberapa tiket diskon atau pass yang tersedia di Tokyo. Banyak sekali pass yang tawarkan dan untuk memaksimalkan penggunaan pass, cobalah kutak-katik itinerary sesuai dengan jalur yang akan kita gunakan dan berhematlah semaksimal mungkin. 😀

Berikut ini pass yang tersedia di Tokyo :

Tokyo Metro 1-Day Open Ticket

Tiket seharga 600 Yen dapat digunakan di sembilan jalur Tokyo Metro untuk penggunaan satu hari tidak terbatas. Tiket dapat dibeli ticket machine di seluruh Tokyo Metro station. Sedangkan pembelian tiket sebelum hari H, dapat dibeli di Tokyo Metro pass offices (kecuali Nakano, Nishi-funabashi and Shibuya (Fukutoshin Line) Stations). Info selengkapnya bisa di lihat di http://www.tokyometro.jp/en/ticket/value/1day/index.html

  • Untuk para traveler, terdapat diskon dengan menggunakan Tokyo Metro Special Combination 2-Day Open Ticket seharga 980 Yen (yang seharusnya seharga 1.200 Yen) untuk penggunaan 2 hari berturut-turut tak terbatas.
  • Tiket ini dapat dibeli di Bandara Narita.
  • Cek di http://www.tokyometro.jp/en/ticket/value/travel/index.html

Toei 1-Day Open Ticket

Tiket seharga 700 Yen dapat digunakan untuk Toei subway, Toei bis, Toei Streetcar (Toden) Arakawa Line, dan Nippori-Toneri Liner dengan penggunaan tak terbatas selama satu hari. Tiket dapat dibeli di ticket machines seluruh Toei subway stations, Nippori-Toneri Liner stations, Toei buses and streetcars. Info selanjutnya bisa cek di http://www.kotsu.metro.tokyo.jp/eng/services/sub_ticket.html

Common One-day Ticket for Tokyo Metro & Toei Subway

Tiket seharga 1.000 Yen ini dapat digunakan untuk Toei subway dan Tokyo Metro dalam penggunaan satu hari tidak terbatas.  Tiket dapat dibeli di seluruh ticket machine di seluruh Tokyo Metro dan Toei subway (kecuali Oshiage, Meguro, Shirokanedai, Shirokane-takanawa dan Shinjuku Stations). Sedangkan pembelian tiket sebelum hari H, dapat dibeli di Tokyo Metro pass offices (kecuali Nakano, Nishi-funabashi and Shibuya (Fukutoshin Line) Stations). Infonya bisa di lihat di http://www.tokyometro.jp/en/ticket/value/1day/index.html

  • Khusus harga turis, tiket Tokyo Subway 1-Day Ticket dapat dibeli seharga 800 yen, 2 hari sebesar 1.200 Yen dan 3 hari sebesar 1.500 yen → recommended price ticket !!!
  • Tiket hanya dapat dibeli di travel agen, Bandara Yonago, Bandara Haneda dan Narita. Khusus penjualan di bandara Narita dan Haneda pembelian harus dengan menunjukan paspor.
  • Info selanjutnya cek di http://www.tokyometro.jp/en/ticket/value/travel/index.html

Tokyo Combination Ticket

Tiket  seharga 1.590 Yen ini berlaku untuk Tokyo Metro, Toei Subway, Toei Streetcar (Toden), Toei Bus, Nippori-Toneri Liner dan seluruh jalur JR selama satu hari tidak terbatas. Info selengkapnya cek di http://www.tokyometro.jp/en/ticket/value/1day/index.html

Skyliner & Tokyo Subway Tiket

Tiket ini berguna untuk penggunaan kereta (cepat) dari bandara Narita menuju pusat kota Tokyo. Harga tiket one way Skyliner + Tokyo Subway 1-Day Ticket di bandrol dengan harga 2.800 yen, dari harga semula 3.470 Yen. Sedangkan untuk tiket one way Skyliner + Tokyo Subway 2-Day Ticket dihargai 3.200 Yen. Info selanjutnya cek di http://www.keisei.co.jp/keisei/tetudou/skyliner/us/value_ticket/subway.html

Tokunai Pass

Tiket seharga 730 Yen digunakan untuk seluruh jalur JR, kecuali JR Express

Yurikamome One-Day Open Ticket

Tiket seharga 800 Yen ini berlaku untuk satu hari di daerah Odaiba ( Tokyo Bay). Tiket dapat dibeli di mesin tiket seluruh stasiun Yurikamome.

Dari seluruh pass yang tersedia, gw merekomendasikan menggunakan Common One-day Ticket for Tokyo Metro & Toei Subway. Hanya tinggal menggabung beberapa rute yang dituju dan kalau dihitung-hitung gw hemat beberapa ratus Yen dengan menggunakan pass ini.

Tapi…
Sayangnya info tiket pass untuk turis, baru gw sadari ketika gw sedang memposting cerita ini. 😦
Alhasil, gw membeli tiket Common One-day Ticket for Tokyo Metro & Toei Subway di mesin tiket stasiun Asakusa seharga 1.000 Yen. Kalau gw lebih jeli, bisa mendapatkan tiket di harga 800 Yen.

Ya sutralah, keuntungan untuk yang membaca postingan ini.
Siapa tau nanti jadi pahala buat gw kan ya?
Aamiin! 😉

*****

[Preambule]

Ketika gw sedang breakfast, gw bertemu dengan seorang traveler wanita berasal dari Jakarta di common room. Malam sebelumnya kami sempat berpapasan di lift dan baru pagi itu kami bisa sibuk beramah tamah.

SOP obrolan ketika bertemu dengan sesama traveler biasanya ujung-ujungnya selalu berkutat dikisaran info rute perjalanan dan tempat wisata yang harus dikunjungi. Baik itu tentang the place worth it to visit, tempat yang harus dihindari, kegiatan yang menarik atau mencari tempat makan yang penuh dengan pria keren.

Kami sempat berdiskusi rute yang (rencananya) akan gw kunjungi hari ini. Beberapa saran yang doi berikan sudah sesuai dengan itinerary yang gw buat. Ketika gw sedang menanyakan  cara membeli tiket musium Doraemon (musium Fujiko F Fujio lebih tepatnya), tiba-tiba masuklah seorang pria berwajah Jepang ke dalam common room. Mereka berdua kemudian terlibat pembicaraan bahasa Jepang (dan gw melongo terpesona mendengar percakapan mereka), tak lama kemudian pria ini keluar dari ruangan.

Hanya berselang beberapa menit kemudian, doi (read:sosok pria Jepang yang berwajah cute dengan topi kupluknya!) kembali dengan membawa surat cinta print out denah Fujiko F Fujio museum.

Sebenarnya gw sudah ngeprint segala sesuatu yang berhubungan dengan ini museum, sama persis plek-plek-plek dengan kertas yang doski print out. Yang gw perlukan itu hanya tulisan kanji untuk pembelian tiket di Lawson nanti. Tapi kok rasanya gak enak menolak kebaikan doi kan ya..?!

Berhubung penolakan itu kejam, Sodara-sodara.
Dengan berwajah semanis mungkin, gw terima print out tersebut dengan senyum dan hati seluas samudra!

“ Modus nih yeee??? “
“ Siapa??? “
“ Gw??? “
“ Pastiiii!!! Namanya juga usaha yeeee…! “ 😛

Dari print out tersebut, (Fyi, nama pria ini adalah Naoto yang memangku pimpinan tertinggi di Khaosan Tokyo Kabuki yaitu dengan pangkat manager) doski menjelaskan rute yang harus gw tempuh, bagaimana cara membeli tiketnya dan yang paling penting, (tanpa perlu gw minta) doski sudah menuliskan “ Saya Ingin membeli 2 tiket museum Fujiko F Fujio untuk tanggal 5 April 2015” dalam bahasa kanji. Cakeeeppp!

Naoto-san juga menuliskan dalam bahasa kanji untuk ditunjukan kepada orang, kalau(-kalau) kami tersesat di dalam perjalanan menuju Fujiko F. Fujio musium. Setelah itu, gw mengucapkan terima kasih atas kebaikan hatinya penjelasan detailnya.

Print out yang diberikan Naoto-san
Print out yang diberikan Naoto-san dengan tulisan kami ingin membeli tiket Fujiko F Fujio Museum untuk tanggal 5 April sebanyak 2 buah
kalau di translate, kurang lebih berisi pergi menuju Noborito, kemudian menuju musium Fujiko F Fujio dengan bis
kalau di translate, kurang lebih berisi pergi menuju Noborito, kemudian menuju musium Fujiko F Fujio dengan bis
Yang ini khusus catatan buat gw :D
Yang ini khusus catatan buat gw 😀

*****

Perjanjian pagi hari itu, gw akan bertemu dengan Yudha di stasiun Tawaramachi.

Sebenernya ini yang agak (bikin) ribet ya, Sodara-sodara.
Selama di Tokyo, gw harus mengatur meeting point dengan Yudha setiap paginya (Fyi, kami berbeda tempat penginapan) dan ketika Yudha sudah keluar dari hostel, doi gak bisa mengakses internet, alhasil gw gak bisa mengkontak Yudha untuk menanyakan posisinya. Yaaa…Pada akhirnya, waktu yang dibutuhkan dalam tunggu-menunggu cukup menyita waktu.

Pagi itu, ketika gw akan turun kereta, ternyata Yudha sudah tampak berdiri menunggu di platform kereta yang gw naiki. So, hanya tinggal mengkode Yudha, gw gak perlu turun kereta dan Yudha bisa langsung naik kereta.

Tujuan pertama hari ini adalah Harajuku.
Area ini terbilang cukup luas dan terdapat beberapa tempat yang bisa kita kunjungi dalam satu waktu sekaligus.

Rute kami di harajuku : kami turun di Ometosando station dan kemudian menyusuri Ometosando → Harajuku → Takeshita Dori → Meiji Shrine.

Rute Harajuku
Rute Harajuku *courtesy Google Maps*

Keluar dari stasiun Ometosando exit A2, gw mulai menyusuri jalan Ometosando. Seperti yang sudah tersaji di Japan Guide , sepanjang jalan Ometosando dipenuhi dengan brand-brand terkenal, butik, kafe dan restoran.

Jalanan di pukul 09.55 pagi tampak sangat lengang, efek udara yang dingin serta cuaca mendung rasanya membuat orang semakin malas beranjak meninggalkan heater kehangatan rumah.

Semenjak keluar dari Exit A2, kami hanya berjalan lurus menyusuri Ometosando. Sebelum perempatan jalan (beserta lampu merahnya) pertama setelah keluar dari stasiun, kami berbelok kearah kanan.

Kenapa belok kanan??? Entahlah!!!
Karena rasanya lebih enak blusukan menyusuri gang-gang kecil.

Benar saja!
Toko-toko mungil yang berada di dalam gang ini lebih menarik perhatian. Sayangnya jam 10 pagi hari itu toko-toko belum ada yang buka. Kebanyakan para pegawai toko sudah setia berdiri menunggu toko dibuka oleh pemiliknya, ada yang sibuk memainkan gadgetnya, berchit-chat dengan temannya ataupun ada yang mengasingkan diri dengan merokok.

Ometosando #1
Ometosando #1
Ometosando #2
Ometosando #2
Ometosando #3
Ometosando Hill
Blusukan di Harajuku street
Blusukan di Harajuku street
Harajuku street #1
Nice ambience
Harajuku street
Green..

Mentok dengan gang ini, di pertigaan gang kami berbelok kiri hingga bertemu dengan jalan besar, setelah itu kami berbelok kekanan dan langsung bertemu dengan bangunan berwarna biru yang eye catching habis.

Bangunan berwarna biru ini merupakan Moshi Moshi Box yang dibuka sejak 25 Desember 2014 dan berfungsi sebagai tourist information center. Didalam Moshi Moshi Box (juga) terdapat penjualan souvenir, money exchange, ATM, JTB Travel agency,serta stand crepes. Dan yang lebih keren, tempat ini juga menyediakan free wifi dan free charger for your laptop and your smartphones!

Info Moshi moshi box bisa di cek di website ini.

Moshi Moshi Box ; eye catching!
Moshi Moshi Box ; eye catching!
suasana
Meiji Dori
Antrian di pagi hari
Antrian Moshi Moshi box di pukul 10.00
Moshi Moshi Box
Moshi Moshi Box

Setelah itu, kami menyebrangi jalan dan kami tertarik memasuki jalan yang di bagian depannya tampak dengan rimbunan pohon sakura. Memasuki jalan setapak, kami melihat sebuah danau (buatan) kecil dan terdapat sesi pemotretan pre wedding (atau mungkin post wedding).

Sepasang pengantin berdiri di atas jembatan dengan latar belakang sakura.
Sumpah deh, pengantin dan view latarnya kece bangeeeddd!!! *mata berbinar-binar*

Emmm…
I wish …..
*duduk dipojokan*
*berpikir keras*
*mencoba mengisi titik-titik diatas*

Tak jauh dari danau kecil, terdapat kuil yang bernama Togo Shrine. Yudha kemudian masuk ke dalam Togo Shrine, sedangkan gw memilih berkeliling di luar kuil.

Mentok dengan jalan disekitar Togo Shrine, kami memutuskan kembali melewati jalur sebelumnya. Setelah bertemu dengan jalan raya, kami berbelok ke arah kanan dan kemudian menemukan plang Takeshita Dori di sebelah kanan dari arah kedatangan gw.

rimbunan sakura
rimbunan sakura
*duduk di pojokan*
*duduk di pojokan*
*menatap*
*berpikir keras*
Togo Shrine
Togo Shrine
suasana di sekitar Togo Shrine
suasana di sekitar Togo Shrine
Breath taking
Breathtaking
Another view
sakura.. oh, sakura…

Takeshita Dori adalah daerah paling heitz di Harajuku dengan trend pakaiannya. Walaupun masih pukul 10.30 jalanan di Takeshita Dori sudah mulai tampak ramai. Kami menyusuri jalan yang tampak penuh dengan toko-toko menjajakan pernik-pernik imut, pakaian berwarna soft, sepatu boot serta aksesoris ala Jepang.

Di perempatan gang (di gambar peta Harajuku diatas, gw kasih gambar segitiga warna hitam), kami mencoba crepes yang famous di Harajuku bernama Marion Crepes. Sebenarnya sangat banyak stand penjual crepes di sepanjang jalan Takeshita Dori, namun berhubung Marion Crepes ini sudah ada sebelum gw lahir (semenjak tahun 1976 boook…!).
So, tidak ada salahnya kita icip-icip aja deh ya!

Tidak usah bingung bagaimana cara memesannya!
Di display tercantum nama menu dalam bahasa inggris serta nomor menu, nanti ketika didepan kasir tinggal sebutkan nomor menu yang ingin kita pesan.

Kalau bingung menentukan menu yang akan dibeli, tinggal mencontek di bagian atas display dimana tercantum “ top 5 menu “ yang laris manis dibeli.
Gampang kan??!!

Setelah perjuangan memutuskan menu (aman) yang ingin gw icip, gw membeli banana chocolate whipped cream seharga 420 Yen.
Overall, penilaian gw → Crepesnya terasa lembut dan whipped creamnya terasa (lebih) manis. Namun rasa manisnya tidak berakhir dengan haus dan enek. Recommended deh!

Beres urusan cemilan-cemilun, kami melanjutkan perjalanan kembali dan menyelesaikan perjalanan di Takeshita Dori. Tidak lama melangkah, kami bertemu dengan Daiso Harajuku. Dan pastinya kami mampir dunk, it’s a must place to visit, right?!?!?!

Daiso merupakan tempat menjual segala barang, dari makanan, pernak-pernik, alat tulis, alat dapur, pernak-pernik pesta hingga barang-barang yang tampak sangat kreatif dengan bandrol harga @100 Yen (ditambah tax 8% menjadi 108 Yen). Oya, jika di barang tersebut tidak terdapat price tag, berarti barang tersebut di bandrol dengan harga 100 Yen. Jika ada price tag, berarti kamu harus membayar sesuai dengan harga yang tertulis di price tag tersebut.

Setelah mampir Daiso Harajuku, kami sempat membeli Kit Kat Green Tea di salah satu toko obat (merangkap toko kosmetik seperti Guardian atau Century) yang letaknya sejajar dengan Daiso Harajuku, berada di antara Mc Donald hingga ujung jalan Takeshita Dori. Kalau tidak salah, tokonya bersebelahan dengan toko Wego.

Ini adalah rekor Kit Kat termurah yang gw beli. Harga masing-masing di bandrol 215 Yen per bungkus (sudah termasuk pajak). Satu bungkus Kit Kat Green Tea berisi 12 buah, sedangkan satu bungkus Kit Kat Chocolate berisi 13 buah.

Selama gw berkeliling di Harajuku, gw tidak menemukan anak muda yang berpakaian unik, baik yang dari lucu dan imut hingga sangar ala gothic. Entah karena gw yang datang terlalu pagi ataupun anak-anak muda ini mempunyai spot hang out tersendiri. Belum rejeki bertemu dengan sosok yang aneh-aneh sepertinya.. 🙂

Takeshita Dori
Takeshita Dori
Takeshita Dori #1
Takeshita Dori #1
Takeshita Dori #2
Takeshita Dori #2
Takeshita
Takeshita Dori #3
Marion Crepes
Marion Crepes ; Dari tahun 1976 boookkk!
Display Marion Crepes
Display Marion Crepes
The display
Mau… Mau… Mau…???
Chocolate whipped cream ; 420 Yen
Banana chocolate whipped cream ; 420 Yen
Shopping tiiiimeeee..!
Shopping tiiiimeeee..!
gerbang Takeshita Dori yang terletak diseberang Stasiun Harajuku
gerbang Takeshita Dori yang terletak diseberang Stasiun Harajuku
Takeshita Dori dari Stasiun harajuku
Penampakan Takeshita Dori dari Stasiun harajuku
IMG_3516
Harajuku Station
IMG_3517
kawaiiii….
Salah satu icon di Tamagotchi
Salah satu icon di Tamagotchi ; kira-kira orang di dalam boneka ini setinggi apa ya??? *curious*

Dari ujung jalan Takeshita Dori (yang berseberangan dengan Harajuku Station), kami berjalan menyusuri jalan yang sejajar dengan Harajuku station dan berbelok ke kanan menuju Meiji Shrine.

Masuk ke dalam area Meiji Shrine, rasanya seperti masuk ke peradaban masa lampau. 😀 Untuk menuju kuil utama, kami menyusuri jalan berbatuan dengan kanan kiri jalan dipenuhi rerimbunan pohon-pohon tinggi.

Pada tahun 1945, bangunan asli kuil (kecuali Shukueisha dan Minami-Shinmon) terbakar saat terjadi serangan udara. Sejak bulan November 1958, bangunan tersebut dibangun kembali yang terdiri dari kuil utama Honden (dibangun dengan gaya Nagerezukuri), bersama-sama dengan bangunan Noritoden, Naihaiden, Gehaiden, Shinko, Shinsenjo dan beberapa bangunan lainnya.

Sesampainya di dalam kuil, langsung tampak bangunan kuil utama. Orang silih berganti berdoa di area kuil utama.

Sedangkan di sebelah kanan dari kuil, tampak Camphor tree dan dikelilingi dengan ratusan papan kayu kecil (yang dinamakan Ema) bertuliskan berbagai keinginan dan harapan si penulis.

Yang menarik, selama 40 menit gw berada di Meiji Shrine terdapat 3 pasangan (pria dan wanita) yang melakukan prosesi perkawinan dengan menggunakan prosesi perkawinan Shinto. Mereka melakukan iring-iringan didalam area Meiji Shrine. Iring-iringan ini terdiri dari dua pendeta, dua perempuan berpakaian tradisional, pasangan pengantin, kemudian diikuti oleh jajaran keluarga dan teman.

Iring-iringan ini sangat menarik perhatian pengunjung Meiji Shrine. Di bagian depan iringan, akan tampak muka serius namun khidmat dalam mengikuti prosesi sakral perkawinan. Namun dibagian belakang iring-iringan, terdapat beberapa anak kecil bermuka polos yang sibuk (sekali) melambaian tangan kepada para pengunjung kuil. Bah, rasanya pengen (banget) nyulik satu ajaaah untuk stok di rumah! 😛

Meiji Jingu is a Shinto shrine. Shinto is called Japan’s ancient original religion, and it is deeply rooted in the way of Japanese life. Shinto has no founder, no holy book, and not even the concept of religious conversion, but Shinto values for example harmony with nature and virtues such as “Magokoro (sincere heart)”.

In Shinto, some divinity is found as Kami (divine spirit), or it may be said that there is an unlimited number of Kami. You can see Kami in mythology, in nature, and in human beings. From ancient times, Japanese people have felt awe and gratitude towards such Kami and dedicated shrines to many of them.

This shrine is dedicated to the divine souls of Emperor Meiji and his consort Empress Shoken (their tombs are in Kyoto).
Emperor Meiji passed away in 1912 and Empress Shoken in 1914. After their demise, people wished to commemorate their virtues and to venerate them forever. So they donated 100,000 trees from all over Japan and from overseas, and they worked voluntarily to create this forest. Thus, thanks to the sincere heart of the people, this shrine was established on November 1, 1920.

Opening hours :
Meiji Jingu (Naien) is open every day throughout the year. Since Meiji Jingu opens with sunrise and closes with sunset, the opening hours change every mont

http://www.meijijingu.or.jp/english/index.html

Gerbang Meiji Shrine
Torii
Meiji Shrine 1
Barrels of sake
hall
Dipilih.. dipilih.. dipilih..
mari kita mabok!
mari kita mabok wine!
Gentong
Gentong wine
@Shukueisha ; Yang di sebelah kanan itu ternyata seorang manusia! Doi gak bergerak-gerak loh...!
@Shukueisha ; Yang di sebelah kanan itu ternyata seorang manusia! Doi gak bergerak-gerak loh…!
Torii (Shrine Gate)
Torii (Shrine Gate)
The hall
The hall
Main Shrine Building #1
Main Shrine Building #1
Main Shrine Building #2
Main Shrine Building #2
ddrhjt
Camphor tree
ema
Ema
fsg
Kiganbun
Pengantin pertama
Pengantin pertama
Pengantin kedua
Pengantin kedua
Pengantin ketiga
Pengantin ketiga
The bride
The bride
Behind the scene
Behind the scene #1
The wedding shoot
Behind the scene #2
with the crew
Behind the scene #3
Bye-bye, uncle, aunty..!
Bye-bye, uncle, aunty..!
Sadar kamera abisss
Sadar kamera abisss

Sekitar pukul 13.20 kami keluar dari Meiji Shrine untuk menuju itinerary selanjutnya.

Berhubung letak Harajuku dengan Tokyo Camii berada dalam satu jalur kereta yaitu Tokyo Metro Chiyoda Line, gw membelokan itinerary untuk shalat di masjid Tokyo Camii and Turkish Culture Center.

Dari Meiji-jingumae station, kami turun di Yoyogi-Uehara station. Setelah keluar dari gate keluar tiket, kami turun satu lantai. Didepan langsung tampak lift, belok kanan dan ketika sudah berada diluar stasiun, berbeloklah ke arah kanan menyusuri stasiun. Hingga bertemu perempatan lampu merah (di sebelah kanan akan ada bangunan kantor polisi yang berukuran kecil), berbeloklah ke arah kanan. Teruslah berjalan menyusuri jalan dan melewati bawah fly over, hingga sekitar 5 menit berjalan akan tampak Tokyo Camii and Turkish Culture Center di seberang jalan.

Pemandangan ketka keluar stasiun
Pemandangan setelah keluar dari stasiun Meiji-jingumae
Susuri hingga akhir dari ujung stasiun
Susuri jalan ke arah kanan stasiun hingga tiba di ujung stasiun
Berjalan lurus
Ujung jalan Meiji-jingumae stasiun
Di lampu merah tersebut, berbeloklah ke arah kanan
Di lampu merah tersebut, berbeloklah ke arah kanan
Susuri jalan hingga melewati jalan di bawah fly over
Susuri jalan hingga melewati jalan di bawah fly over
Berjalan lurus
Berjalanlah lurus
Di sebelah kiri jalan terlihat Tokyo Camii & Turkish Culture Center
Di sebelah kiri jalan terlihat Tokyo Camii & Turkish Culture Center

Sesampai di Tokyo Camii and Turkish Culture Center, kami bergegas menaiki tangga. Dan tampaklah pintu masuk menuju prayer hall masjid. Sedangkan tempat wudhunya berada di lantai bawah, dan terdapat tangga yang berada di halaman masjid untuk menuju tempat wudhu.

Bangunan serta arsitektur masjid Tokyo Camii terlihat sangat megah. Dominasi kaligrafi yang menghiasi dinding masjid serta terdengarnya alunan ayat Al Quran semakin menambah aura ketenangan dan kedamaian yang tercipta didalam masjid.

Info selanjutnya Tokyo Camii and Turkish Culture Center bisa cek di sini.

Tokyo Camii &
Tokyo Camii & Turkish Culture Center
Inside of Tokyo Camii #1
Inside of Tokyo Camii #1
Inside of Tokyo Camii #2
Inside of Tokyo Camii #2
The dome
The dome
View from the 2nd floor
View from the 2nd floor

Selesai menunaikan ibadah shalat, kami mengunjungi Lawson yang jaraknya hanya beberapa jengkal (di gugle map 😀 ) dari Tokyo Camii. Mumpung daerah ini tidak ramai dengan orang, jadi rasanya kami tidak akan terlalu mengganggu pegawai Lawson dengan kehadiran kami.

Sesampai di Lawson, kami langsung menuju bagian kasir Lawson. Kami berbasa-basi sebentar dengan pegawai wanita yang berdiri dibelakang mesin kasir, dan kemudian mengeluarkan jurus minta tolong dengan memberikan kertas print out serta catatan yang sudah dituliskan oleh Naoto-san.

Wanita tersebut kemudian memanggil seseorang utuk menggantikan posisinya sebagai kasir dan kemudian membantu kami menggunakan mesin Loppi.

Walau di website resmi Doraemon terdapat petunjuk bagaimana menggunakan mesin loppi, tetap saja gw gak yakin mengoperasionalkannya. Dan benar saja, kami harus bolak-balik mengganti waktu masuk museum.

Jadwal masuk museum Fujiko F. Fujio Museum hanya ada 4 jam, yaitu jam 10.00, 12.00, 14.00 dan 16.00. Rencana awal kami akan membeli tiket untuk jam 10.00, namun ternyata tiket untuk hari Minggu 5 April 2015 jam 10.00 sudah sold out.

*berpikir cepat*

Kami minta tolong kepada wanita tersebut untuk mengubah waktu masuk menjadi jam 12.00, dan ternyata tiketnya juga dinyatakan Sold Out!

Dengan kemampuan bahasa Jepang kami yang limit dan wanita tersebut terbata-bata berbahasa inggris, doski berusaha sekali membantu kami mencari tiket. Mukanya tampak serius sekali ketika membantu kami mencarikan pilihan jam masuk musium.

Doski kemudian mencoba memilih option masuk di jam 14.00, dan hasilnya tetap saja sold out!
Bah.. ini tiket kenapa laris manis bak kacang goreng ya!

Hingga akhirnya, kami mencoba kesempatan terakhir untuk masuk di jam 16.00. Kemudian tiba-tiba doski menarik nafas dan tersenyum lega menatap kami. Tiket untuk jam 16.00 masih tersedia!!!

Yeaaayyy…!
Rejeki anak shalehah emang gak kemana ya, encang-encing-emak-babeh!

Setelah itu, doski memastikan jam masuk tiket kami dengan menggunakan bahasa inggris yang terbata-bata. Kami mengikutinya ke kasir, membayar tiket seharga 1.000 Yen/orang dan tak lupa mengucapkan rasa terima kasih.

Sepanjang berjalan kaki menuju stasiun Yoyogi-Uehara, gw dan Yudha sibuk membahas rasa kekaguman kami terhadap kegigihan wanita tersebut dalam menolong kami. Bertambahlah poin plus kami kepada keramahan masyarakat Jepang!

Next destination → Shibuya!

Dari Yoyogi Uehara kami naik Chiyoda Line, transit di stasiun Meiji-jingumae dan melanjutkan menuju stasiun Shibuya dengan Fukutoshin Line, kemudian keluar melalui pintu exit Hachiko atau exit 8.

Selain terkenal dengan Shibuya crossingnya, di Shibuya juga terdapat sebuah patung anjing setia yang bernama Hachiko. Kalau sudah pernah menonton film Hachiko, rasanya cerita seekor anjing yang rajin menunggu tuannya setiap hari di depan Stasiun Shibuya, dan terus dilakukannya selama bertahun-tahun bahkan setelah tuannya meninggal, sudah sangat familiar dengan cerita tersebut. Berhubung tempat ini sangat populer di kalangan turis, maka gunakanlah insting bersabar dan mengantri untuk dapat berfoto di tempat ini.

The famous Hachiko
The famous Hachiko statue

Beres jeprat-jepret dengan hachiko, kami menjajal menyebrangi Shibuya crossing. Rasanya seru juga berada di antara ratusan orang yang berjalan cepat di Shibuya crossing ini!

Sesuai dengan info yang beredar di dunia maya, tempat terbaik mengambil spot Shibuya crossing berada di Starbucks Coffee yang berada di lantai 2 gedung Tsutaya.

Warning : Sebelum gw mulai bercerita, gw ingatkan ini bukan contoh yang baik ya..!!! 😀

Pada dasarnya gw memang tidak berminat membeli minuman starbucks, males liat antrinya yang panjang beeet(ul), buuuuu….!

Kami masuk ke lantai 2 Starbucks hanya terfokus untuk mengambil foto. Sebenernya sih gak enak juga, berfoto ngumpet-ngumpet tanpa membeli hal-hal yang berbau Starbucks. Ah, tapi sutralah hai, toh gw juga tahu diri gak berlama-lama disini. Walaupun sebenarnya, tempting juga bisa menempati salah satu spot terbaik menikmati ratusan orang lalu lalang di Shibuya crossing.

Note : Jika ingin mendapatkan posisi terbaik di Starbucks Coffee, ambilah tempat duduk yang berada di sebelah kiri jika kita berhadapan langsung dengan jalanan Shibuya crossing.

View from Starbucks 2nd floor
View from Starbucks 2nd floor
The crowd
Hasil fotonya berasa gak proporsional banget yak??? Maklumlah hasil mepet-mepet cari tempat yang agak lowong dengan pengunjung resmi Starbucks
miring-miring
The crowd

Shibuya terkenal sebagai area pusat hiburan, dining, night club, pusat perbelanjaan, pusat perbelanjaan dan pusat perbelanjaan.
Intinya memang full sebagai pusat perbelanjaan..

Tapi karena tujuan utama kami ke Shibuya hanya melihat patung Hachiko dan Shibuya crossing, kami hanya berkeliling mengikuti keramaian orang. Sedikit tertarik mampir ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada, tapi rasanya masih gak tega mengeluarkan pundi-pundi Yen di hari ketiga inih.

Selesai berfoto, karena Yudha sudah mulai lapar dan gw ragu dengan tingkat kehalalan makanan di sekitar area Shibuya, kami berjalan mengelilingi Shibuya tanpa tahu arah. Hanya mencoba keluar masuk menyusuri jalan, hingga akhirnya kami mampir di Family Mart. Gw membeli salad sayur sedangkan Yudha membeli onigiri. Kami pun duduk menikmati makanan instan ala Family Mart.

Salad and mineral water 226 Yen
Salad and mineral water 226 Yen ; Hidup sehat itu beda tipis sama ngirit jeehhh..
Around Shibuya
Perhatikan cowok berjaket hijau, warna celananya cihuy banget deh! 😀
Shibuya shopping street
Shibuya shopping street
Yes, before crossing! ; kok gw brasa pendek bener yak??!!
Yes, before crossing! ; kok gw brasa pendek bener yak??!!
Follow the crowd
Follow the crowd
Sebelah kanan merupakan gedung Tsutaya, tempat Starbucks berada
Sebelah kanan merupakan gedung Tsutaya, tempat Starbucks coffee berada
Pusing..??? Sama!
Pusing liat fotonya..??? Sama!!!
Tooooo many people!
Sooooo many people!
Let's counting : 1... 2... 3...
Let’s counting : 1… 2… 3…
#1
#1
#2
#2
Shibuya crossing
#3
#5
#4
#6
#5
#7
#6
#8
#7
#9
#8
#10
#9
#11
#10
#12
#11
#13
#12
#14
#13

Selanjutnya, dari Shibuya kami bergerak menuju Ginza.

Hampir sama statusnya dengan Shibuya, Ginza juga dipenuhi dengan pusat perbelanjaan. Namun sepertinya Ginza lebih banyak diperuntukan untuk pasar kelas atas karena tempat ini lebih banyak dipenuhi dengan jajaran butik-butik bermerek internasional yang harganya pasti muahal tenan.

Dari stasiun Shibuya, kami naik Tokyo Metro Ginza Line dan turun di stasiun Ginza. Seharusnya kami keluar dari pintu exit A2, dari pintu exit A2 hanya tinggal berjalan lurus dan di sebelah kanan langsung bertemu dengan Uniqlo Ginza.

Kenyataannya, kami keluar dari pintu exit B2. Gw juga agak lupa kenapa kami malah keluar dari pintu exit B2. Dengan menumpang lift, kami langsung bertemu dengan jalan Harumi Dori. Sampai diluar kami sempat celingak-celinguk sebentar, buka contekan peta dan tak lama kemudian kami didatangi seorang wanita yang menanyakan tujuan kami. Kami langsung menjawab, ” Uniqlo! ”

Pada mulanya wanita tersebut tampak kebingungan, namun setelah itu doi menginformasikan jalur yang harus kami lalui.

Jadi begitu kami keluar lift (diseberang jalan akan terlihat butik Giorgio Armani, Gucci dan Longchamp), kami berbelok kiri, susuri jalan hingga bertemu dengan perempatan (besar) lampu merah pertama. Dari perempatan ini, kami belok kanan, tinggal susuri jalan saja hingga bertemu dengan Uniqlo di sebelah kanan jalan.

Di sebelah kanan dan kiri dari perempatan lampu merah tersebut merupakan jalan Chuo Dori. Setiap weekend, jalan Chuo Dori akan dipenuhi dengan para pejalan kaki dikarenakan jalanan ini ditutup dari lalu lalang kendaraan sejak pukul 12.00 hingga 17.00, sedangkan pada bulan April-September jalan akan ditutup dari jam 12.00 – 18.00.

Peta menuju Uniqlo Ginza
Peta menuju Uniqlo Ginza *courtesy Google Maps*
Arah menuju Uniqlo, disebelah kanan merupakan pintu exit A2 Ginza station
Arah menuju Uniqlo, disebelah kanan merupakan pintu exit A2 Ginza station *courtesy Google Maps*
Setelah keluar lift akan terlihat butik Dior & Giorgio Armani di seberang jalan, beloklah ke arah kiri hingga bertemu lampu merah
Setelah keluar lift (exit B2) akan terlihat butik Dior & Giorgio Armani di seberang jalan, beloklah ke arah kiri jalan hingga bertemu perempatan lampu merah
Di perempatan lampu merah, belok ke arah kanan untuk menyeberangi penyebrangan jalan
Di perempatan lampu merah, belok ke arah kanan untuk menyeberangi zebra cross

Sore itu, jalan Chuo Dori tampak lengang dari lalu lalang mobil, namun dipenuhi dengan keramaian pejalan kaki. Kapan lagi bisa jalan-jalan semaunya di tengah jalan besar Tokyo. Hehehe..

Begitu bertemu dengan Uniqlo, gw dan Yudha langsung lupa diri.
Saking lupa dirinya, gw juga ikutan lupa memotret bagian dalam Uniqlo!
Setan shopping-nya lupa dibelenggu, buuuu…! 😀

Tapiiiii….
Saking napsunya belanja di Uniqlo pluuuusss tawaf hingga ke lantai 12, nyatanya malah tidak membuahkan hasil seperti yang gw inginkan.

Pengennya sih gegayaan keluar dari Uniqlo dengan tangan penuh tentengan belanjaan, tapi ternyata gw hanya sukses membawa tentengan tas plastik keciiiiilllll yang berisi satu buah kaos dan satu celana untuk keponakan serta satu buah t-shirt untuk abang tercinta.

Dimanakah belanjaan untuk gw, wahai dewa-dewi Uniqlo???
*puk-puk tumpukan Yen yang masih berjaya di dompet*

Dan ada sedikit cerita disaat gw membayar belanjaan..
Saat itu, gw memilih antri di tempat yang sengaja disediakan Uniqlo khusus untuk turis dengan logo Japan Tax Free. Karena gw memang tidak pernah membaca informasi tentang Japan Tax Free, gw ikuti saja antrian (yang ular naga panjangnya) tersebut.

Cukup lama gw mengikuti jalur antrian, hingga ketika gw sudah sampai di depan petugas yang akan mendata informasi paspor untuk keperluan Japan Tax Free. Doski sempat menanyakan, apakah gw ada belanjaan lain lagi.

Gw jawab tidak ada dan kemudian gw ditunjukan salah satu papan informasi yang intinya menjelaskan bahwa gw bisa mendapatkan Japan Tax Free asalkan berbelanja di satu tempat dan pada hari yang sama dengan total belanja lebih dari 10.000 Yen.

Jyahahahaha… *menangisi kebodohan gw sudah mengantri lama*

Total belanjaan gw gak sampai dari 2.000 Yen, cyiiinnn!!!

Akhirnya gw (terpaksa) keluar dari barisan antrian dan melangkahkan kaki menuju kasir yang sangat tidak diminati oleh penggemar Japan Tax Free

Info tentang Japan Tax Free bisa cek disini ya

Chuo Dori Street
Chuo Dori
The famous icon at Ginza, the clock!
The famous icon at Ginza, the clock!
Bisa jumpalitan nih..
Bisa jumpalitan nih..
Yes, Ginza!
Yes, Ginza!
Uniqlo Ginzaaaaa!!!! *screaming*
Uniqlo Ginzaaaaa!!!! *screaming*

Selesai menikmati Uniqlo, kami langsung menuju Tokyo Tower. Di awal merancang itinerary, gw sempat bingung ingin memasukan Tokyo Tower atau Tokyo Skytree. Namun atas rekomendasi beberapa segelintir orang, gw memutuskan untuk menjatuhkan pilihan ke Tokyo Tower.

Dari stasiun Ginza, kami menaiki Tokyo Metro Ginza Line, transfer di stasiun Roppongi dan menaiki Toei Subway Oedo Line untuk menuju stasiun Akabanebashi. Untuk menuju Tokyo Tower, kami keluar di pintu exit 3.

Sesampai di luar stasiun, udara dingin langsung berhembus kencang.
Brrrr……
Sepertinya ada yang salah dengan perkiraan cuaca di musim semi kali inih.. *bungkus badan dengan sweater baru buatan Ria*

Di depan jalan sudah tampak gemerlap lampu Tokyo Tower.

Masalah selanjutnya adalaaaah…
Gw tidak sempat mencari rute jalan kaki menuju Tokyo Tower!
*tertawa miris*

Gw membuka booklet Tokyo Hand Guide juga tidak tercantum informasi rute berjalan kaki menuju Tokyo Tower.

Ya sutralah…
Dengan perkepoan kami yang sangat tinggi, kami mencoba membuntuti salah satu rombongan turis Asia yang berusaha mencari jalan menuju Tokyo Tower. Walaupun rada-rada nyasar sedikit, melewati jalanan yang tidak jelas namun akhirnya kami bisa berjumpa dengan Tokyo Tower.

Rute sebenarnya :

  • Sesampai keluar dari pintu exit 3 stasiun Akabanebashi, seberangi jalan menuju ke arah pom bensin Eneos
  • Susuri jalan yang berada di sebelah kanan pom bensin Eneos, berjalanlah lurus hingga nanti akan bertemu dengan showroom Volkswagen yang berada di sebelah kiri jalan (jika tidak berubah ya!)
  • Setelah itu akan bertemu dengan pertigaan di sebelah kiri jalan, tetaplah berjalan lurus. Hingga nanti akan tampak tangga di sebelah kiri jalan dan (tampak seperti) perempatan lampu merah di sebelah kanan jalan, setelah itu beloklah ke kiri dan akan terlihat Tokyo Tower di depan mata.
Peta Tokyo Tower
Peta Tokyo Tower *courtesy Google maps*
Setelah keluar dari exit 3 stasiun, seberangi zebra cross menuju arah pom bensin Eos
Setelah keluar dari exit 3 stasiun, seberangi zebra cross menuju arah pom bensin Eos (yang diberi tanda panah) *courtesy Google Maps*
berjalanlah di sebelah kanan jalur dari pom bensin
berjalanlah di sebelah kanan jalur dari pom bensin, yang terdapat tanda panah putih *courtesy Google Maps*
Susuri jalan di depan
Susuri jalan di depan *courtesy Google Maps*
Tangga yang berada di sebelah kiri jalan
Susuri jalan hingga bertemu tangga di sebelah kiri dan lampu merah di sebelah kanan jalan. Setelah itu berbeloklah ke arah kiri dan kamu akan berjumpa dengan Tokyo Tower *courtesy Google Maps*

Dibangun pada tahun 1958, Tokyo Tower ini mempunyai tinggi 333 meter. Setelah adanya penghentian siaran televisi analog pada bulan Juli 2011, Tokyo Tower menjadi pemancar tertua di Tokyo dan paling terkemuka untuk sinyal radio, radio digital dan televisi digital di seluruh wilayah Kanto. Sementara itu, Tokyo Tower juga berfungsi sebagai menara komunikasi cadangan untuk Tokyo Skytree yang merupakan tower utama untuk siaran televisi digital.

Tokyo Tower mempunyai 2 tempat observatory, yaitu observatory di ketinggian 150 meter (Main observatory) dimana kita bisa melihat pemandangan kota Tokyo dan observatory di ketinggian 250 meter (special observatory) dimana bisa melihat Gunung Fuji dan Gunung Tsukuba.

Jam operasional :
Main observatory and special observatory : 09.00 – 23.00 (Last admission 22.30)

Main Observatory
(150 m)

Special Observatory
(250 m)
Main Observatory +
Special Observatory

Adult
(senior high school students or older)

900yen

700yen 1,600yen
Children
(junior high school students and primary school pupils)
500yen 500yen

1,000yen

Children
(4 years old and over)
400yen 400yen

800yen

* Fees above added to Main Observatory admission fee

http://www.tokyotower.co.jp/eng/index.html

Mengingat harga masuk menuju observatory cukup mahal ya, alhasil kami hanya menumpang mencari kehangatan di dalam Tokyo Tower. Di lantai 2 terdapat Tokyo Omiyage (souvenir) Town yang menjajakan berbagai macam souvenir baik dari yang tradisional hingga yang tampak modern.

Barang-barang yang dijual sangat beraneka ragam. Bersenang hatilah untuk penggemar Hello Kitty karena terdapat toko yang menjual pernak-pernik khusus Hello Kitty. Untuk penggemar Tokyo Banana, kalian juga bisa menemukannya di area ini.

Berhubung baru sekali ini gw memantau harga souvenir di Tokyo, jadi gw tidak bisa membandingkan apakah harga souvenir disini termasuk dalam golongan murah atau mahal. Salah satu harga barang yang gw perhatikan adalah harga magnet di tempat ini dibandrol dengan kisaran harga 380 – 500 Yen.

Tokyo Tower #1
Tokyo Tower #1
Tokyo Tower #2
Tokyo Tower #2
Miniature of Tokyo Tower
Miniature of Tokyo Tower
Souvenirs
Souvenirs #1
Souvenirs
Souvenirs #2
Hello Kitty Souvenirs
Hello Kitty Souvenirs
The famous Tokyo Banana
The famous Tokyo Banana
Fooodsss....
Fooodsss….
Unyu-unyu abeeesss!
Unyu-unyu abeeesss!

Setelah puas mengelilingi Tokyo Tower, pada pukul 21.15 kami memutuskan untuk kembali ke hostel.

Dari itinerary yang dirancang, seharusnya dari stasiun Akabanebashi, gw akan naik kereta dan transit di stasiun Daimon, langsung menuju stasiun Asakusa. Namun jika Yudha mengikuti rute tersebut, akan telalu banyak stasiun transit yang harus ditempuhnya, hingga akhirnya gw memutuskan mengikuti jalur kereta yang Yudha naiki. Dengan menaiki Toei Subway Oedo Line dari Stasiun Akabanebashi kami transit di stasiun Aoyama-Itchome, kemudian naik Tokyo Metro Ginza Line untuk menuju stasiun Asakusa.

Sekeluarnya dari stasiun Asakusa, gw menyengajakan diri mampir di 711 untuk membeli nasi instan seharga 132 Yen. Dan kali ini gak pake nyasar…! Hehehe… 😛

Setiba di hotel, gw langsung menuju ruang makan hostel. Makan malam dengan tempe teri balado yang (sengaja) gw bawa dari Jakarta sambil mencoba mengatur itinerary esok hari yang sepertinya akan berantakan karena jadwal menuju Fujiko F. Fujio Musium berubah dari jadwal semula.

Beres dengan urusan itinerary esok hari, gw langsung capcus menuju kamar. Bersih-bersih sebentar, selanjutnya mari kita bobo…

My late dinner
My late dinner ; instant rice 132 Yen
Advertisements

6 thoughts on “[Jepang] Day 3 – Tokyo : Harajuku, Meiji Shrine, Tokyo Camii & Turkish Culture Center, Shibuya, Ginza and Tokyo Tower

  1. halo mbaa, seneng deh baca blognya,,
    kalo boleh ngobrol2 lebih jauh tentang per transportasian jepang, boleh minta emailnya mba?
    karena bbrp itinerary nya hampir sama dengan rencana saya, tinggal tentuin transportnya..

    Terimakasiih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s