[Jepang] Day 2 – Osaka, Tokyo : Kansai International Airport & Ueno Park

Friday, April 3rd, 2015

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, kami tiba dengan selamat di Kansai International Airport. Tanpa terburu-buru, kami berjalan keluar dari pesawat menuju ke dalam bandara Kansai.

Penerbangan Jakarta-Osaka kali itu dipenuhi oleh rombongan travel, dimulai dari gaya emak-emak berpakaian cuek dan santai hingga emak-emak borjuis plus coat tebalnya. Kenapa fokusnya ke emak-emak ajah? Soalnya gap kesenjangan berpakaiannya kelihatan bingid! 😀

Baru saja gw melewati rombongan tour and travel, gw merasa mengenali sesosok wanita yang sering wira-wiri di facebook gw dengan foto-foto travelingnya.
Gak pake malu-malu, gw berseru..
“ Kak Desyyy….!!! “

Tidak pernah menyangka kalau akhirnya kami malah bertemu di negara orang. 🙂 Karena tidak banyak waktu, kami hanya sempat menginformasikan rute yang akan kami tuju selama di Jepang. Usai bercupika-cupiki pamitan dengan kak Desy, kami berjalan menuju imigrasi.

Antrian imigrasi sebenarnya cukup panjang. Namun petugas yang ada sigap mengatur antrian hingga urusan imigrasi selesai dalam waktu 30 menit. Setelah itu kami turun ke bawah menuju conveyor belt. Sempat lihat kanan-kiri apakah ada anjing pelacak di sekitar pemeriksaan customs. Amaaannnn, gan!!! Kami langsung menggeret koper menuju customs.

Di customs, petugas wanitanya hanya menanyakan tujuan kami datang ke Jepang, berapa lama kami berada di Jepang, kota yang akan didatangi dan doski sempat menanyakan apa kegunaan Buku Kuning yang menempel di dalam paspor gw. Hehehe… Kepo bener deh!

Tanpa melalui pemeriksaan x-ray ataupun proses ngubek-ngubek isi koper, kami langsung dipersilahkan keluar.
Lancar jayaaa…!

Sampai di luar bandara, kami langsung melangkah menuju lantai 2. Walaupun kami sudah web check in, tapi kami ingin segera melepas koper ini dengan cepat. Apa daya, counter Jet Star baru dibuka jam 10 pagi. Alhasil kami (harus) mengelilingi bandara dengan menggeret koper.

Baru saja gw terpaku ke satu titik yang menarik perhatian, jepret-jepret 2 foto, tiba-tiba kami di sapa oleh seorang wanita berstelan jas. Doski berbicara bahasa inggris dengan pelafalannya yang kurang jelas, membuat gw menatap wajahnya dengan muka kebingungan. :mrgreen: Namun setelah doi memperkenalkan diri dengan cara mengeluarkan lencananya dari balik jasnya, barulah gw mengerti bahwa doi adalah Koban alias polisi.

Petugas tersebut menanyakan paspor kami, apa tujuan kami datang ke Jepang, berapa hari kami akan berlibur, ke kota mana saja, kenapa kami masih berjalan-jalan di sekitar bandara dan pertanyaan standar lainnya. Karena kami sempat membicarakan tujuan kedatangan kami untuk melihat sakura, kami akhirnya malah berbicara tentang sakura.

Usai mengajukan pertanyaan, kami mengucapkan salam perpisahan dan mulai mengelilingi bandara lagi. Turun menuju lantai 1, tampaklah Kansai Touris Information Center, kami pun singgah ke tempat tersebut.

Dalam rangka memecahkan pecahan besar uang Yen yang ada di tangan gw dan mempersingkat waktu di Osaka nanti, gw membeli Osaka Amazing Pass seharga 2.300 Yen yang akan gw gunakan di minggu selanjutnya. Tanya-tanya sebentar dengan petugasnya, kemudian gw diberikan beberapa penjelasan dengan berbekal peta Osaka Amazing Pass.

Selesai urusan Osaka Amazing Pass, mengingat jam sudah menunjukan 10 lewat, kami kemudian beranjak menuju tempat check in. Baru beberapa langkah, kami disapa oleh seorang wanita berstelan jas (lagi). Yeeeeah, ini polisi ke dua yang mendatangi kami. Emmm…Memangnya muka kita tampang kriminal atau mungkin karena efek belum mandi??? *sigh*

Prosedurnya hampir sama dengan polisi sebelumnya. Sebagai Warna Negara Indonesia yang baik, kami pasrah saja menjawab pertanyaan yang diajukan.

Kami menaiki eskalator menuju lantai 2. Counter Jet Star sudah melayani penumpang lain. Kami bergegas check in ulang dan kemudian memasukan bagasi. Tidak seperti Jet Star di negara asalnya, pemeriksaan jumlah berat barang yang dibawa tidak ketat. Yang diperiksa hanya berat bagasi koper yang akan dimasukan, sedangkan ransel yang gw sandang tidak ditimbang oleh petugasnya.

Kansai International Airport
Just landed at Kansai International Airport
Inside of Kansai International Airport
Inside of Kansai International Airport
Setelah dua kali menjepret spot ini, kami dihampiri oleh seorang polisi wanita
Setelah dua kali menjepret spot ini, kami dihampiri oleh seorang polisi wanita
Kansai Information Center
Kansai Tourist Information Center

Jam 10.30 kami sudah beres dengan urusan check in, Yudha berkomentar rasanya kok lapar ya. Arrgghh, hidup gak usah dibawah susah, mari kita makan! 😀

Didalam terminal 1 Kansai International Airport terdapat 2 restoran yang mempunyai label halal, The U-don berada di lantai 2 dan Sojibo di lantai 3. Mumpung halal, kenapa gak kita coba?!?!?!

Selantai dengan tempat check in Jet Star, kami menuju restoran area yang letaknya persis berada di tengah-tengah lantai dua Kansai International Airport.

Kami mencoba The U-don. Awalnya sempat bingung dalam memilih menu makanan. Gw menanyakan salah satu menu yang tersedia, sayangnya petugas restoran tidak bisa berbahasa inggris, doi hanya menunjukan menu yang berbahasa inggris. Akhirnya gw coba-coba saja deh salah satu menu yang tersedia.

Gw memilih udon seharga 550 Yen dengan tambahan tempura ubi seharga 90 Yen, sedangkan untuk minumnya gw memilih green tea gretong, yang tersedia di sebelah kanan kasir.

*Sluuuurrppp*
*sibuk ngunyah*
Rasa udonnya endang surendang, kakaakkk!
Sedangkan tempura ubinya terasa manis, tanpa pemanis buatan. Love it!
Jangan lupa mampir kesini kalau sedang di Kansai International Airport.

Info selanjutnya cek disini ya.

The U-don restaurant
The U-don restaurant
Inside of The U-don
Inside of The U-don
My 2nd breakfast
My brunch – Yummmmyyyy ; 640 Yen

Pukul 11 kami beranjak menuju boarding gate. Kami menunggu dalam ruangan boarding yang full kaca. Rasanya seperti di bandara Sultan Hasannudin, Ujung Pandang, yang boarding gatenya full kaca juga. Sambil memperhatikan orang-orang Jepang yang wara-wiri lewat di depan gw, malah sukses membuat gw jatuh tertidur. Hehehe…

Pesawat boarding telat 30 menit dari jadwal seharusnya. Gw pikir jadwal pesawat disini akan on time, ternyata bisa juga delayed ya. Dengan bahagia, gw segera naik pesawat dan tidak lama kemudian gw jatuh tertidur (lagi).

Zzz… Zzz…Zzz…

Ketika pilot mengumumkan pesawat akan landing, gw terbangun dan ternyata goncangan ‘roller coaster’ di dalam pesawat mulai terasa. Awalnya gw mau memfoto pemandangan yang tampak dari jendela pesawat, namun langsung gw urungkan untuk tidak memegang kamera karena situasi di dalam pesawat benar-benar naik turun seperti roller coaster. *sibuk pegangan kursi*

Dan ketika pesawat landing, ceritanya tidak jauh beda. Bantingan pesawat terasa ke arah kanan dan kiri. Beeeuuuh… Ngeri ajah ban pesawatnya tiba-tiba lepas karena gak stabil! #efek terlalu imajinatif

Ketika gw keluar dari pesawat, entah karena ini memang SOP yang diterapkan atau merasa bertanggung jawab dengan hard landing, sang pilot berdiri bersebelahan dengan pramugari di pintu keluar pesawat, sambil mengucapkan Arigato Gozaimasu. Baru sekali ini gw melihat pilot ikutan berdiri di pintu keluar pesawat! *acung jempol*

Hi, Tokyo!
Hi, Tokyo!
detik-detik sebelum pesawat gonjang-ganjing
detik-detik sebelum pesawat gonjang-ganjing

Selesai urusan bagasi, kami keluar dari terminal 2. Pertama-tama yang akan kami lakukan adalah mencari prayer room dan kantor pos untuk mengambil mobile wifi router.

Prayer room di terminal 2 terletak di lantai 1 dan lokasinya persis bersebelahan dengan Narita information center. Ruangannya cukup luas, dan untuk meminimalisir ruangan yang tidak terlalu besar, mereka meletakan tempat wudhu di sebelah pintu masuk prayer room. Tak lupa terdapat kerai yang menutupi tempat wudhu untuk menjaga privacy dan mencegah air terciprat keluar.

Untuk info prayer room bisa lihat di sini.

Usai shalat, kami naik ke lantai 3 untuk mencari kantor pos. Posisinya berada di check in area terminal 2. Cukup mudah menemukannya karena posisinya berdekatan dengan tempat check in area C.

Prayer room at Narita International Airport *Permisiiii, Pak!*
Prayer room at Narita International Airport, terminal 2, 1st floor *abaikan foto model didepannya*
Inside of prayer room
Inside of prayer room

Beres dengan urusan wifi router, kami menuju stasiun kereta yang berada di lantai B1. Awalnya kami menggunakan ticket vending machine, namun karena kami melambaikan tangan ke arah kamera menyerah kebingungan membaca petunjuk yang ada di mesin tiket akhirnya kami menuju skyliner ticket sales counter yang letaknya berada di sebelah mesin tiket. Fyi, skyliner ticket sales counter beroperasional dari jam 07.00 sampai 22.30.

Dari itinerary yang gw rancang, kami berencana menggunakan kereta Keisei Main Line Ltd Exp seharga 1.100 Yen dengan rute Narita Airport Terminal 2 → Aoto → Oshiage → Asakusa. Namun petugas counternya menyarankan untuk naik kereta yang tidak harus transit dan naik turun kereta, dengan harga 1.290 Yen. Karena tidak berbeda jauh dengan budget yang gw rancang, kami mengiyakan membeli tiket yang doi sarankan.

Namun ternyata kebodohan kami mulai dari situ!
Penyebabnya karena kami tidak mengetahui jenis kereta dan jam keberangkatan tiket yang kami beli!!!

Gw masih ingat saat itu kami membeli tiket jam 15.02 (tertera juga di tiket), dan kami segera terburu-buru masuk menuju platform 1.

1 menit..
5 menit..


10 menit..

*clingak clenguk*
*baca info kedatangan kereta di layar informasi*

15 menit

*sibuk wasapan Ratri demi translate bahasa kanji yang tertera di tiket*

20 menit

Wasapan dengan Mak Ratri demi mencari info nama kereta yang akan kami naiki. Yang ditanya hanya bisa menjawab ,
Wasapan dengan Mak Ratri demi mencari info nama kereta yang akan kami naiki. Yang ditanya hanya bisa menjawab , “bahasa kanjinya syusah!!!” *tepok jidat*

Dari mati gaya sampai desperado sendiri karena gw gak tahu jenis kereta yang akan dinaiki dan tidak ada tanda-tanda kereta “murah” yang lewat semenjak kami menunggu di platform.

Yudha akhirnya menanyakan kepada petugas di platform dan doi bilang kalau jadwal keberangkatan tiket yang gw beli adalah jam 16.06.

Jeng jeng jeng…
Lemes deh gw dengarnya!
Masih ada setengah jam lagi kami harus menunggu kereta.
Bagaimana cerita rencana perjalanan kami selanjutnya sore ini????

Gw keluarkan gadget dan mencari info di Hyperdia. Dari Hyperdia nama kereta yang akan kami naiki adalah Keisei Narita Sky Access Exp. Baiklah, kakak! Thanks untuk infonya!

*duduk manis lagi*
*posting kegalauan gw di IG*
*sibuk membalas wasapan Mbak Ester yang sedang meramaikan GTF 2015*

Menunggu.. Dan menunggu..
Menunggu.. Dan menunggu..
Hasil postingan di IG
Postingan IG dengan judul “Bahkan dengan 2 gadget pun, masih terlunta-lunta disinih..”
Inilah jenis kereta yang kami tumpangi untuk menuju Tokyo
Inilah jenis kereta yang kami tumpangi untuk menuju Tokyo

Beberapa menit sebelum kereta datang, info kedatangan kereta tertulis Access Exp dilayar monitor, akhirnya gw bisa bernafas lega.

Daaannn kereta yang dinanti-nanti akhirnya datang juga…!

Bentuk tempat duduknya hampir sama seperti jenis kereta commuter line Jabodetabek sehingga koper mudah kami letakan di depan kami. Salah satu opsi kereta murah yang bisa dijadikan pilihan karena kami tidak perlu repot-repot transit dan naik turun kereta dengan membawa koper. Info tentang Keisei Electric Railway bisa dilihat di sini.

Suasana di platform 1
Suasana di platform 1
Ini yang gw maksud kereta mahal alias kereta cepat menuju kota Tokyo
Skyliner alias kereta mahal alias kereta cepat menuju kota Tokyo

Perjalanan 57 menit tidak terlalu terasa karena gw mulai exciting melihat sakura yang tampak dari jendela kereta.

Karena kami telat tiba di Tokyo, kami mengubah itinerary yang awalnya akan check in ke penginapan terlebih dahulu menjadi Ueno Park. Sampai di Asakusa station, gw langsung mencari loker untuk meletakan koper. Namun kami tidak menemukan loker yang kosong, oleh salah satu penjual makanan, kami di arahkan menuju pintu exit A4. Dan ternyata di sini, kami menemukan banyak sekali loker yang kosong. Gw menyewa salah satu loker berukuran besar seharga 400 Yen.

Beres dengan urusan koper, kami langsung naik Tokyo Metro Ginza Line menuju Ueno dengan harga tiket sebesar 170 Yen. Yup, kami akan ke Ueno Park. Salah satu tempat paling heitz di Tokyo untuk melihat sakura.

Begitu keluar dari pintu exit 7/Ueno, kami langsung melihat ribuan orang lalu lalang di Ueno Station. Mudah menemukan Ueno Park, dari pintu exit 7, jalan lurus saja, seberangi zebra cross, susuri jalan pedestrian dan tampaklah tangga menuju Ueno Park di sebelah kanan jalan.

Penampakan setelah keluar dari stasiun Ueno, exit Ueno *courtsey Google Maps*
Penampakan setelah keluar dari stasiun Ueno, exit 7 *courtesy Google Maps*
seberangi zebra cross dan ambilah jalur sebelah kiri *courtsey Google Maps*
seberangi zebra cross dan susuri jalur pedestrian menuju area yang dpenuhi pepohonan  *courtesy Google Maps*
Tanda panah merupakan tangga menuju Ueno Park *courtsey Google Maps*
Tanda panah menunjukan tangga menuju Ueno Park *courtesy Google Maps*

Ueno Park di sore (menjelang malam) itu terlihat sangat ramai. Banyak sekali orang-orang berstelan jas yang baru pulang kantor merayakan hanami. Hanami merupakan salah satu tradisi tradisional jepang untuk menikmati keindahan bunga sakura yang sedang mekar dengan cara mengadakan pesta di bawah pohon sakura. Hanami ini dapat dilakukan di malam hari yang dikenal dengan yozakura.

Tradisi ini sudah ada sejak periode Nara (710-794), dan ketika periode Heian (794-1185), bunga sakura menjadi  lebih menarik untuk dinikmati dan sejak saat itu Hanami identik dengan bunga sakura.

Bunga sakura awalnya digunakan untuk menandakan hari panen tahunan dan menandakan musim tanam padi. Orang Jepang ketika itu percaya pada roh suci yang di dalam pohon sakura dan membuat persembahan. Kemudian orang Jepang akan minum sake untuk merayakannya. Kerajaan Saga pada periode Heian, mengadopsi kepercayaan kuno ini, sehingga mereka mengadakan Hanami sambil minum sake dan mengadakan pesta di bawah pohon sakura. Kemudian puisi akan ditulis untuk menggambarkan keindahan bunga sakura. Siklus bunga sakura sendiri dianggap sebagai cerminan hidup manusia, dimana dilihat indah dan bercahaya namun hanya sekilas/ singkat.

Hanami pada awalnya terbatas hanya untuk kalangan orang elit kerajaan tetapi kemudian menyebar ke kalangan samurai. Pada jaman Edo, warga Jepang biasa dapat mengikuti Hanami. Tokugawa Yoshimune kemudian menanam banyak pohon sakura untuk mendukung kebiasaan Hanami ini.

http://halojepang.blogspot.com/2013/04/hanami.html

Ueno park dipenuhi oleh orang-orang yang merayakan hanami. Digelarnya tikar berwarna biru, kotak-kotak kardus yang dijadikan meja darurat, serta penuhnya meja dengan makanan dan sake menjadi ciri khas hanami. Para perkerja berstelan jas baik pria maupun wanita melepas lelah dengan bernyanyi, melakukan games dan tertawa lepas, entah karena efek samping sake atau memang ingin melepas beban hidupnya. 😉

Walaupun mereka (sibuk) bersenang-senang, tradisi menghormati orang dengan cara membungkukan badan ketika akan menerima sesuatu atau bertemu dengan orang lain adalah tradisi orang Jepang yang selalu mereka lakukan setiap saat.

Oya, selama di Ueno Park gw sempat melihat dengan salah satu pasangan arteeesss dari Indonesia yaitu Christian Sugiono dengan Titi kamal beserta keluarga besarnya dan tak lupa banyak sekali pasangan calon pengantin yang melakukan pre wedding disini. Rasanya beraneka ragam orang numplek di Ueno Park.

Karena hari semakin malam, ditambah penerangan di Ueno Park minim sekali dan jarak antar lampu berjauhan (membuat gw tidak puas dengan foto-foto yang gw hasilkan), kami memutuskan segera keluar dari Ueno Park.

Yes, Ueno Park!
Yes, Ueno Park!
Ueno Park #1
Ueno Park #1
Ueno Park #2
Ueno Park #2
Ueno Park #3
Ueno Park #3
Ueno Park #4
Ueno Park #4
The crowd
The crowd
Suasana hanami *maafkan atas hasil foto gw yang blur-sangat!*
Suasana hanami *maafkan atas hasil foto gw yang blur-sangat!*
Suasana pasar malam di sekitar Ueno Park
Suasana pasar malam di sekitar Ueno Park
temple
Gojoten Shrine

Dari Ueno Park, kami ingin mencoba makan malam Doner Kebab halal yang tak jauh dari Ueno park yaitu di Ameyoko shopping street.

Posisi Ameyoko shopping street berada di seberang stasiun Ueno. Keluar dari stasiun, seberangi zebra cross yang posisinya berada dibawah jembatan, di seberang jalan akan terlihat papan bertulisan Ameyayokocho dan disebelah kanannya terdapat gedung Yodobashi Camera. Masuk ke dalam jalan tersebut, jalan lurus, hingga nanti bertemu percabangan jalan, ambilah sisi sebelah kiri. Tidak jauh dari percabangan, disebelah kanan jalan akan terlihat Doner Kebab yang bersebelahan dengan Chicken Man (bersertifikat Halal juga).

Note : Di Ameyoko shopping street terdapat 2 penjual Doner Kebab. Yang pertama berlokasi dengan cerita gw di atas, sedangkan Doner Kebab kedua posisinya tidak jauh dengan Doner Kebab pertama. Dari percabangan jalan (di dalam Ameyoko shopping street), ambilah sisi sebelah kanan, lokasinya persis berada dipercabangan jalan tersebut (letak tokonya berada di sebelah kiri jalan).

Suasana di Doner Kebab malam itu tampak ramai. Gw memesan menu mix kebab dengan tingkat kepedasan medium seharga 500 Yen. Rasanya lumayan saja tapi cukup mengobati rasa lapar gw di malam yang dingin.

Susuri jalan dibawah plang bertuliskan Ameyokocho
Susuri jalan dibawah plang bertuliskan Ameyayokocho *courtesy Google Maps*
Percabangan jalan, ambilah sebelah kiri
Percabangan jalan, ambilah sebelah kiri
Doner kebab at Ueno #1
Doner kebab at Ueno #1
Doner kebab at Ueno #2
Doner kebab at Ueno #2
my mix kebab ; 500 Yen
mix kebab ; 500 Yen
Amey
Ameyoko shopping street #1
Amey
Ameyoko shopping street #2

Selesai makan, kami kembali ke Ueno station. Namun sebelumnya gw mampir terlebih dahulu ke Hard Rock Café Tokyo Uyeno Eki yang berada di atas stasiun Ueno.
Hehhh…Baru sampe dah belanja???
Noooo…!!! Ini titipan (suami) teman koooookk… *tunjuk Ratri*

Beres dengan urusan titipan, kami memilih kembali ke hostel masing-masing. Karena gw dan Yudha menginap di hostel yang berbeda, Yudha turun di stasiun Tawaramachi sedangkan gw turun di stasiun Asakusa.

Sampai di stasiun Asakusa, gw langsung mengambil koper.
Daaannn…Setelah mengambil koper ituh terdapat sebuah cerita ‘seru’ !!

Kalau menurut petunjuk yang diberikan hostel, gw seharusnya keluar dari pintu exit A2b dengan Toei Asakusa Line atau exit 1 dengan Metro Ginza Line. Sedangkan saat itu gw keluar dari pintu exit A4, tadi sore saja setelah menyimpan koper, gw dan Yudha sempat kelimpungan cari pintu masuk ke dalam subway. Nah ini sekarang gw mesti cari jalan menuju hostel. Sendirian pula! Mabok deh eikeh!

Gak ada petunjuk secuilpun disinih. Sepuluh menit muter-muter ke ujung jalan raya disekitar pintu exit A4 gak ada pencerahan sedikit pun. Dengan adanya koper semakin membatasi ruang gerak jalan gw mencari rute jalan. Siksaan hidup bener deh!

Gw coba lirik ipin yang baterainya dah hampir koit.
Eh, ternyata masih ada 5%. Please, be nice to me ya, ipin!

Buka gugel map, masukan kata “Khaosan Tokyo Kabuki”, klik search dan tinggal gw ikuti arahan gugel maps. Dalam beberapa menit berjalan kaki, gw tiba di hostel. Alhamdulillah…

Lesson and learn :

  1. Kalau kebingungan cari arah jalan, lebih baik cari dulu jalan yang benar tanpa mengikutsertakan koper. Setelah sudah tahu ancar-ancar rute jalan yang akan ditempuh, barulah ambil koper dan susuri jalan kembali.
  2. pesan diatas hanya berlaku untuk traveler yang menyimpan koper di loker 😀

Sesampai di Khaosan Tokyo Kabuki, gw disambut ramah oleh Eri, salah satu pegawai di Khaosan Tokyo Kabuki. Setelah selesai urusan check in (ditambah curcol edisi gak tau arah sebelumnya), gw diajak berkeliling ke common room, kitchen dan kemudian ditunjukan kamar yang akan gw tempati untuk tiga malam selanjutnya.

Ah, senangnya bisa melihat kasur!
It’s time to sleep…
Oyasumi nasai!

Advertisements

8 thoughts on “[Jepang] Day 2 – Osaka, Tokyo : Kansai International Airport & Ueno Park

  1. Hai vika…
    boleh nanya ya.. apakah di imigrasi atau di bandara akan ada petugas yang nanya kita punya uang berapa untuk selama liburan ?? (misalkan 2 minggu) apakah ada pemeriksaan itinerary liburan kita??
    tks

    1. Hai juga, Very!
      Pengalaman perjalanan kemarin, petugas imigrasinya tidak bertanya sama sekali. Yang bertanya hanya petugas di custom dan polisi yang sedang patroli. Pertanyaannya pun tidak terlalu detail, pertanyaannya secara global saja. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s