[Kamboja] Day 3 – Siem Reap : Angkor Wat, Taprohm, Bayon, Baphuon, Elephants Terrace, Angkor Night Market & The Blue Pumpkin

Mari kita lanjutkan cerita hari ketiga di SR.. *lemaskan jari tangan, pasang ikat kepala ala prajurit tahun ’45 demi sebongkah mood dan ide menulis*

Hari ini merupakan puncak perjalanan selama di Siem Reap (SR). Yup, hari ini kami akan mengelilingi spot-spot candi terkenal di komplek Angkor Archaelogical Park. Namun sebelumnya, mari kita singkirkan bayangan teriknya matahari, panasnya cuaca serta kelelahan yang akan kami hadapi hari ini ! 😉

Sesuai dengan briefing Didit di malam sebelumnya, kami janjian bertemu dengan Bang Ratha setelah menunaikan shalat subuh. Pada pukul 04.30,  kami gw sudah (berusaha) bangun, mandi, beberes peralatan tempur untuk persiapan mengejar sunrise di Angkor Wat.

Menikmati moment sunrise di Angkor Wat adalah moment langka yang bisa dilakukan ketika kami berada di Indonesia *yaeyalahhh..Situ kan tinggal di Indonesia, terus sunrisenya ada di Kamboja, mana ada titik temunya* 😀
So pasti, moment sunrise di Angkor Wat tidak boleh terlewatkan dengan percuma. Setelah azan subuh berkumandang pukul 05.15, kami segera menunaikan shalat subuh dan baru beranjak memulai perjalanan pada pukul 05.25.

Selama perjalanan menuju Angkor Wat sudah tampak keramaian kendaraan dimulai dari kendaraan berjenis tuk-tuk, mobil berjenis elf, mobil berjenis sedan hingga bus mungil berlogo pariwisata yang membawa turis-turis (sangat) kepo dengan sunrise. Ketika kami melewati ticket booth, sudah tampak antrian panjang wisatawan yang hendak membeli tiket. Bersyukur kami sudah membeli tiket, tidak perlu antri di pagi hari dan gusrak-gusruk rushing mengejar waktu. Dengan modal kelincahan Bang Ratha, tuk-tuk kesayangannya berjalan meliuk-liuk di antara kepadatan antrian mobil di tempat pengecekan tiket dan membuat perjalanan menuju Angkor Wat hanya memakan waktu 20 menit.

Sesampai di Angkor Wat samar-samar tampak kepadatan orang-orang yang ikut berpartisipasi memeriahkan pertunjukan sunrise Angkor Wat. Kenapa samar-samar??? Karena saat itu masih gelap, belum ada semburat sinar matahari yang tampak dan kedua mata ini memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan kegelapan. 😛 Bener juga kata bos gw, walaupun masih gelap gulita tapi akan banyak sekali terdengar langkah orang-orang yang mempunyai tujuan sama, bahkan ada kalanya di depan dan belakang kita penuh dengan rombongan orang. So, please be careful with your steps, guys!

Ditengah kegelapan dan kehebohan gw dan Ade yang sedang berbicara, tiba-tiba kami ditegur oleh sesosok pria yang tidak tampak mukanya dengan jelas, ” Dari Indonesia ya?! ”
Akhirnya kami menemukan wisatawan berasal dari Indonesia.
Yeaaayyy… !!! *kibarin bendera kemenangan*

Dan tampaknya pria ini berondong!
Yeaaayyy…! *kibarin bendera kemenangan lebih tinggi* #wupsss

Singkat cerita, pria yang berinisial H ini *edisi sok misterius* *syabidubidubae* 😀 sudah berada di SR semenjak kemarin. Beberapa hari sebelumnya doski sudah tiba di Phnom Penh, berkeliling di Phnom Penh, melanjutkan perjalanan darat menuju SR dan baru pagi itu doski memasuki area Angkor Wat. Sambil mengorek-ngorek informasi tentang perjalanannya, kami berjalan mencari spot terbaik.

Dari arah pintu gerbang menuju Angkor Wat, kami berjalan lurus menyusuri undakan batu jalan setapak (lebar) khas candi. Dari kejauhan tampak samar-samar terlihat kolam (air) yang berada di sebelah kanan dan kiri jalan. Di sebelah kanan tidak terlalu banyak turis yang berdiri memenuhi area disini.

Namun ketika gw melihat ke sebelah kiri, waaauuuuwww… *melolong*  ribuan ratusan orang sudah memenuhi area ini. Gw bertanya dimanakah tempat terbaik mengambil foto.
” Sebelah kiri! “, jawaban pasti dari Uke dan pria berondong itu.
Jawaban mereka berdua kompak sekali ya??!! Ada apa nih??? *mata micing* *sodorin kertas minta tanda tangan*

Kami mulai menyusup-nyusup berusaha mencari tempat terbaik. Namun apa daya tempat ini sudah terlalu penuh dengan orang-orang. Daripada di amuk massa, gw memilih tempat yang agak lebih tinggi dan mulai memasang tripod sedangkan Uke, Didit dan Ade mencari pijakan terbaik untuk dirinya masing-masing.

Trus.. Trus.. Bagaimana dengan pria itu???
Sampai detik ini, gw juga tidak tahu doski berdiri dimana. Kalau kata tiga serangkai, doski berdiri disekitar kami dan kemudian menghilang entah kemana. Yayayaya..Mungkin doski terlalu lelah menunggu kami yang setia-sabar menanti sunrise bagaikan menanti pujangga hati. #wooopss *kelepasan curcol*

Baiklah, mari kita mulai hunting sunrise!

Ketika gw mulai memainkan kamera dan hasil yang tampak didepan lensa adalaaahhh…. *genderang berbunyi* kumpulan ratusan kepala dan bahu orang serta lampu-lampu yang bersinar dari LCD handphone ataupun kamera. *tarik nafas panjang* *sabar..sabar..*

Dengan posisi yang berada dibelakang ratusan orang, tipis harapan untuk mendapatkan foto sunrise tanpa ada penampakan kepala orang. Ditambah dengan cuaca pagi itu yang kurang bersahabat (read:mendung) membuat langit terlihat semakin suram. Ya sudahlah, memang sepertinya kami tidak bisa melawan takdir dan harus pasrah dengan alam pada pagi hari itu. Emang situ bisa ngapain lagi??? *gulp*

Berselang 30 menit kemudian ketika matahari mulai menunjukan keperkasaannya, satu persatu orang-orang mulai meninggalkan area ini menuju Angkor Wat. Sedangkan kami berjalan melawan arus meninggalkan Angkor Wat menuju tempat parkir.

Note : Untuk mendapatkan tempat terbaik hunting sunrise, posisi terbaik berada di sebelah kiri dari arah pintu gerbang Angkor Wat. Jangan lupa, usahakan berdiri persis di pinggir kolam. Tapi rasanya perjuangan untuk mendapatkan area pinggir kolam akan sangat sulit. Cobalah berangkat lebih pagi, sekitar jam 4 dan mungkin kamu akan beruntung mendapatkan sunrise!

Sunrise at Angkor Wat #1; 06.22 AM
Sunrise at Angkor Wat #1 ; 06.22 AM
Sunrise at Angkor Wat #2
4 menit kemudian
Sunrise at Angkor Wat #3
26 menit kemudian
Sunrise at Angkor Wat #4
12 menit kemudian
Sooooooooo many people!
Sooooooooo many people!
The crowd
The crowd
Us
Us

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pemandangan di luar gerbang Angkor Wat
Pemandangan di luar gerbang Angkor Wat
Di sekitar gerbang Angkor Wat
Di sekitar gerbang Angkor Wat

IMG_1908

Tepat pukul 8, Bang Ratha membawa kami menuju destinasi selanjutnya yaitu Taprohm. Sesuai dengan peribahasa yg bilang kalo “sebodoh-bodohnya keledai, dia tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. *maksudnya???* *sambungin sendiri yeee* Kami memilih menuju Taprohm untuk menghindari ratusan orang menyerbu candi terkenal ini. Perjalanan ke Taprohm ditempuh dalam waktu 20 menit dan benar saja sesuai dengan harapan kami, tidak banyak turis berada di Taprohm saat itu.

Setelah turun dari tuk-tuk kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak bertanah merah. Disebelah kanan kiri jalan dipenuhi dengan rimbunan pohon-pohon tinggi yang masih belum tersentuh dengan pembalakan liar. Sampai di depan Taprohm, tampak pemandangan candi dengan latar background sebatang pohon yang tumbuh menjulang tinggi menghiasi candi. Kami memasuki candi dari pintu sebelah kanan dan ternyata dibalik candi ini terdapat salah satu spot paling hits di Taprohm karena spot ini masuk di salah satu scene film Tomb Raider ataupun image yang akan (sering) bermunculan di google search dengan key words “Taprohm”.

Sambil menunggu area ini kosong oleh orang-orang yang berfoto, gw mulai mengamati pohon ini dari atas hingga bawah. Entah kenapa, pohon besar ini tampak sekali ‘menguasai’ bangunan candi. Bangunan ini seakan-akan pasrah ditaklukan dan dikuasai oleh keperkasaan pohon. Akar-akar besar merambati candi, bahkan dibeberapa tempat akar ini menembus dinding batu candi. Entah mana yang lebih kokoh, candi atau pohon tersebut.

Setelah mengambil beberapa foto, kami berjalan ke arah dalam candi. Dikarenakan pemugaran candi, beberapa area dikawasan ini banyak ditutup dengan pagar pembatas. Kami mulai memasuki lorong-lorong di dalam candi.

Di salah satu selasar Taprohm yang kami masuki, dinding candi yang didominasi dengan warna cokelat muda tampak mulai berpadu warna dengan warna hijau. Suasana perpaduan antara cahaya matahari yang masuk dengan warna dinding candi membuat kesan aura misteri terbentuk sangat kuat. Rasanya tepat sekali candi ini dijadikan syuting Tomb Raider karena tidak perlu bersusah payah menciptakan image misteri dan petualangan yang otomatis akan terbentuk sendiri.

Gw berbelok ke area yang bersebelahan dengan lorong, kemudian terlihat penampakan pohon besar dan untuk mengambil foto, kami harus menaiki tumpukan batu-batuan yang posisinya lebih tinggi. Belum selesai berpijak dengan tenang, tiba-tiba kami diserbu dengan serombongan grup turis dari negara oppa Lee Min Ho. Mood gw mengambil foto langsung raib menghilang dan gw lebih memilih berbalik arah kembali berjalan ke lorong awal. Hingga akhirnya gw terpaku menemukan selasar panjang dengan pondasi tiang-tiang berdiri tegak sejajar. Gw tegakan tripod, test beberapa foto hingga akhirnya kami menghabiskan 25 menit di selasar ini hanya untuk photo session.

Ada sedikit penyesalan yang baru gw sadari ketika gw sedang mencari bahan menulis cerita ini. Ternyata kami h.a.n.y.a mampir di (salah) satu pohon akar merambat dan melewatkan tiga pohon (atau bahkan lebih) yang berada di Taprohm. Arrggghhh…!!!! *jedotin kepala* *pukul-pukul bantal* *penyesalan selalu datang terlambat*

Karena gw sudah merasa puas melihat pohon (paling hits) di bagian depan Taprohm, gw tidak sadar kalau disini banyak tersebar pohon serupa dengan pohon yang gw lihat. Ditambah dengan menghindari serbuan turis, gw lebih memilih jalur lain yang sepi dengan turis. Next time harus lebih teliti ya, Kakak!
Terus, kayak apa sih gambar pohon lain yang ada di Taprohm??? Silahkan gugling sendiri yaaa.. *gigit kuku-tertunduk lesu-menatap ujung sepatu*

Taprohm

The Buddhist monastic complex of Taprohm is one of the largest sites at Angkor, having been untouched by archaelogist. It was built about mid-12th century to early 13th century (1186) by the King Jayavarman VII, dedicated to the mother of the king (Buddhist) replica to Bayon style of art. This Bayon style temple is ethereal in aspect. Stone pillars and tree roots intertwine in this impressive complex.

Ta Prohm is among the largest of the monuments in the Angkor complex, the in scrimption gives an idea of the size of the temple. The complex included 260 statues of gods, 39 towers with pinnacles and 566 groups of residences. Ta Prohm comprises a series of long low buildings standing on one level, which are enclosed by rectangular laterite wall (600 by 1,000 meters, 1,959 by 3,281 feet). Only traces of the wall are still visible. The center of the monument is reached by a series of towers connected with passages. This arrangement forms a ‘ sort of sacred way into the heart of the monument’; three-square galleries enclose the area.

DSCN0507

Taprohm #1
Taprohm #1
Taprohm #2
Taprohm #2
Taprohm #3
Taprohm #3 – the famous one
Ta Prohm
Taprohm #4
Taprohm #4
Taprohm #5
Pemugaran Taprohm
Pemugaran Taprohm
Lorong 'waktu'
Lorong ‘waktu’
Lorong 'waktu'
Lorong ‘dimensi’
The pattern
The pattern
Selasar
Selasar
Behind the scene part 1
Behind the scene part 1
Behind the scene part 2
Behind the scene part 2
Test..test..
Test..test..
Lorong waktu
Lorong foto

Selesai dengan Taprohm, kami meneruskan perjalanan menuju Bayon dengan waktu tempuh 20 menit. Bang Ratha menepikan tuk-tuknya di east gate Candi Bayon. Sebelum kami (malas-malasan) turun dari tuk-tuk, Bang Ratha dengan sigap segera turun dari motornya, mengajak kami mengobrol sebentar, mengambil (laminating) peta miliknya yang diselipkan dilangit-langit atap tuk-tuk dan ditutup dengan wejangan briefing denah perjalanan kaki yang harus kami lalui di Bayon serta meeting point untuk bertemu dengan Bang Ratha di siang hari nanti karena kami akan keluar di jalur yang berbeda dengan jalur masuk.

Baik, perintah siap dilaksanakan, Komandan!!! *hormat*

Baru beberapa langkah menginjak halaman Bayon, pandangan gw langsung terfokus dengan kerumunan turis-turis tersebar merata di seluruh area depan Bayon. Gw melirik jam tangan, hmm.. ternyata sudah jam 10. Matahari sudah mulai tidak bersahabat dan datangnya turis-turis ke candi ini mengalir terus menerus bagaikan air bah. *sigh* *menenggak air mineral*

Gw melirik ke tiga serangkai yang sudah berjalan berpencar-pencar mengikuti naluri dan insting per-kepo-annya masing-masing. Mereka tampak antusias sekali, sedangkan gw mulai menyemangati diri sendiri untuk tidak malas berjalan dan berusaha tidak mengeluh dengan cuaca panas yang mulai menyelimuti badan gw. *pasang kacamata hitam*

Di bagian depan candi, berdiri tiang-tiang kokoh dengan beraneka ragam jenis relief panjang yang memenuhi dinding candi. Berjalan lebih kedalam, gw melihat banyak tumpukan batu-batu yang entah disengaja ditumpuk selama proses pemugaran ataupun memang tumpukan batu ini sudah ada sejak dahulu.

Berbekal dengan briefing Bang Ratha, kami menaiki tangga dan setelah tiba di area utama Candi Bayon, lagi-lagi tempat ini penuh dengan kerumunan turis. *sigh* Gw berusaha mengingat beberapa posting blog yang sudah gw baca, kenapa di foto-foto yang dipajang dalam blog mereka, sama sekali tidak ada penampakan keramaian turis sebanyak ini. Gw mulai berasumsi keramaian turis disebabkan karena waktu gw mendatangi Angkor Archaeological Park bertepatan dengan weekend, ditambah para wisatawan ini sedang menikmati jatah liburan akhir tahunnya. Oya, salah satu yang menarik perhatian gw, selama 2 hari di Angkor Archaeological Park, wisatawan Korea dan Jepang lebih banyak mendominasi Angkor Archaeological Park dibandingkan wisatawan bule ataupun wisatawan Asia Tenggara seperti kami. Sepertinya mereka lebih memilih berlibur ke negara tropis untuk menghindari musim dingin dinegaranya.

Emmm… Emmm… Trus ada yang ganteng gak??? #salahfokus 😀
Ada bangettttt !!! Gw sempat melihat seorang pria Korea dengan body atletis, hidung mancung dan berwajah putih-mulus-licin-terawat-habis. *gw kasih ponten 9 dari angka 1-10 bow!!!* Gw sampai menolehkan kepala kembali untuk memastikan apakah pria itu termasuk salah satu selebriti Korea. Dengan segala kepintaran kesoktahuan, gw membuat kesimpulan (sendiri) kalau pria itu adalah seorang artis, pasti disekeliling pria itu akan ada beberapa asisten dan camera man yang sibuk mengabadikan perjalanannya. #efek kebanyakan nonton reality show(Korea)
Tapi mungkin pria itu memang bukan siapa-siapa, hanya ditakdirkan berwajah ganteng dan berbodi keren melalui oplas! 😉

Kembali ke cerita Bayon..
Candi Bayon yang berada ditengah-tengah kompleks Angkor Thom, mempunyai bentuk khas yaitu banyaknya relief-relief wajah orang dengan ukuran sangat besar. Relief wajah ini ditaksir berjumlah lebih dari 200 buah yang tersebar di 54 menara. Candi ini dibangun pada akhir abad 12 hingga awal abad ke 13 oleh Raja Jayavarman VII yang didedikasikan untuk Buddhist.

Jika diperhatikan satu sama lain, relief wajah di Candi Bayon hampir berdiri tegak sejajar dengan kita ataupun berada satu level di atas kita, dengan pandangan mata tertuju ke arah pengunjung. Gw tatap satu persatu relief wajah yang ada di Bayon, pesan akan kekuasaan dan kekuatan tertangkap jelas melalui tatapan dan tarikan senyuman dingin relief wajah Candi Bayon. Seluruh pahatan relief wajah di Bayon tampak seperti hidup. Merinding rasanya membayangkan jika harus melihat relief wajah ini di malam hari. Kalau nanti bergerak-gerak seperti di film Tomb Raider bagaimana ya???? Apakah bisa hilang dengan membaca ayat kursi *uhuk uhuk*

Prasat Bayon

The Bayon was built nearly 100 years after Angkor Wat. The basic structure and earliest part of the temple ate not known. Since it was located at the centre of a royal city it seems possible that the Bayon would have originally been a temple-mountain conforming to the symbolism of a microcosm of Mount Meru. The middle part of the temple was extended during the second phase of building. The Bayon of today belong to the third and last phase of the art style.

The architectural scale and composition of the Bayon exude grandness in every aspects. Its elements juxtapose each other to create balance and harmony.

Over 2000 large faces carved on the 54 tower give this temple its majestic character. The faces with slightly curving lips, eyes placed in shadow by the lowered lids utter not a word and yet force you to guess much, wrote P Jennerat de Beerski in the 1920s. It is generally accepted that four faces on each of the tower are images of the bodhisattva Avalokitesvara and that they signify the omnipresence of the king. The characteristics of this faces – a broad forehead, downcast eyes, wild nostrils, thick lips that curl upwards slightly at the ends-combine to reflect the famous ‘Smile of Angkor’.

Layout
A peculiarity of the Bayon is the absence of an enclosing wall. It is, though, protected by the wall surrounding the city of Angkor Thom. The basic plan of the Bayon is a simple one comprising three levels (1-3). The first and second levels are square galleries featuring bas-reliefs. A circular Central Sanctuary dominates the third level. Despite this seemingly simple plan, the arrangement of the Bayon is complex, with a maze of galleries, passages and steps connected in a way that make the levels practically indistinguishable and creates dim lighting, narrow walkways, and low ceilings.

http://www.tourismcambodia.com/attractions/angkor/bayon-temple.htm

Bayon #1
Bayon #1
IMG_2086
Bayon #2
Bayon #3
Bayon #3
Bayon #4
Bayon #4
Didit & Uke
Didit & Uke
Jendela Rumah Kita
Jendela Rumah Kita
Tiga serangkai
Tiga serangkai
The pattern
The pattern
Bayon #5
Bayon #5
Bayon #6
Bayon #6
Bayon #7 ; The face
Bayon #7 ; The face
Bayon #8
Bayon #8
Bayon #9
Bayon #9
Bayon #10
Bayon #10
Photo session
Photo session
Bayon
The visitors

Satu jam sudah kami mengelilingi Bayon. Sambil berjalan mengikuti alur kerumunan orang, kami menyusuri jalan setapak di depan kami. Walaupun di sekeliling kami banyak berdiri pohon-pohon, cuaca panas dan teriknya matahari tidak mampu tersaring oleh rindangnya pohon. Satu(-satunya) botol air minum yang tersisa sudah habis diminum secara bergilir oleh kami. *sibuk ngelap keringat*

Tak jauh melangkahkan kaki dari Bayon, disebelah kiri jalan akan tampak candi Baphoun. Sebelum memasuki candi, kami sempat duduk melipir bersender dengan salah satu bangunan candi. Memang seharusnya kami tidak boleh melakukan ini demi kelestarian candi. Namun rasa lelah dan panasnya cuaca memaksa kami untuk beristirahat sebentar.

Selang beberapa menit kemudian, kami memasuki pelataran jalan panjang seperti jembatan untuk menuju bagian depan Baphoun. Begitu sampai di bagian depan Baphoun, tampak berjejer barisan tangga-tangga menjulang tinggi untuk masuk ke dalam Baphoun, secara reflek gw menoleh ke arah kiri dan rasanya penampakan pohon-kecil-rindang terlihat lebih menggoda.Tanpa menunggu persetujuan tiga serangkai, gw langsung jalan berbelok menuju pohon rindang untuk berteduh dan kemudian disusul oleh tiga serangkai. Panas di siang itu pake banget-nget-nget-nget, saudara-saudara!!!

Kami berdiskusi sebentar apakah ingin memasuki candi ini dan dengan suara bulat kami memutuskan untuk kembali ke parkiran mencari Bang Ratha.

Baphuon

Constructed : Mid 11th century, 1060
Religion : Hindu
Temple Style : Baphuon
King Built : Udayadityavarman II ; 1050 – 1066

Baphuon is a huge temple-mountained located in the heart of Angkor Thom. Temple was built by Udayadityarvarman II was the most poorly constructed of all the temples in Angkor. From the remaining ruins, it is possible to see how imposing it was. This temple hill was dedicated to Shiva, but in its reliefs many motives from the Vishnu epic can be seen. Restoration work continues to be carried out on the Baphuon.

Baphuon #1
Baphuon #1
Baphuon #2
Baphuon #2
Baphuong
Baphuon #3

Dengan langkah yang mulai terseok-seok, kami berjalan kearah keluar dari Baphuon menuju meeting point yang ditentukan Bang Ratha. Kami menyusuri kembali jalan setapak yang sejajar dengan jalan utama beraspal.

Tak lama melangkah keluar dari area Baphuon, disebelah kiri jalan akan tampak dinding panjang relief gajah. Gw hanya mengambil foto seperlunya dan melanjutkan berjalan kaki kembali. Ketika gw menengok ke arah belakang, ternyata tiga serangkai masih berjalan jauh di belakang gw. Rasa panas yang semakin menggila dan mulai timbulnya dehidrasi, membuat gw segera mempercepat langkah kaki mencari Bang Ratha dan meninggalkan mereka yang berjalan tertinggal jauh di belakang. Beneran deh, walau gw sudah pakai payung *ketahuan deh gaya emak-emak pakai payung* panasnya itu terasa menembus payung dan membuat tetesan keringat mengalir tanpa henti.

Sesampainya di tempat parkiran, gw sempat bingung mencari keberadaan tuk-tuk Bang Ratha. Cukup lama gw celingak-celinguk mencari Bang Ratha hingga akhirnya Ade dan Didit berhasil menyusul gw dan kami celingak-celinguk bersama. :mrgreen:

Tak lama kemudian, kami menemukan Bang Ratha melambaikan tangan, tak lupa diakhiri dengan senyuman mautnya. Rasanya itu seperti menemukan mata air di padang pasir! #salahfokus #efek dehidrasi

Bang Ratha dengan sigap memberikan tissue dingin dan sebotol air mineral dingin. Sambil berbicara ngalor-ngidul dengan Bang Ratha, kami mulai curcol panasnya cuaca saat itu dan dibalas dengan tertawa renyah plus senyuman maut khas Bang Ratha. #salahfokuspart2

Satu-persatu kami naik ke atas tuk-tuk dan mencoba meluruskan kaki di dalam tuk-tuk, kami mengkonfirmasi jadwal selanjutnya ke Bang Ratha. Sesuai kesepakatan perundingan-di-bawah-pohon-kecil-rindang sebelumnya, kami akan kembali ke kota dengan rute mencari makan siang –> kembali ke hotel –> beristirahat sebentar –> sore harinya akan kembali menuju Angkor Wat. Dan lagi-lagi, pembicaraan antara kami dengan Bang Ratha ditutup dengan senyuman mautnya. #salahfokuspart3

Oya, sejujur(-jujur)nya, pada saat gw melewati dinding panjang dengan relief gajah, dengan alasan cuaca terik gila, gw (lebih) memilih tidak peduli dengan tempat yang gw lalui dan fokus utama mencari Bang Ratha (dan sebotol air mineral dingin yang menanti). Sekarang ketika gw browsing cari data untuk posting, melihat peta Central Angkor Thom dan hasil jepretan foto, baru gw sadari kalau tempat yang gw acuhkan itu ternyata Elephants Terrace yang tersohor. 😀

Haduuuuu… Maapkan ya gajah!
Dulu kan taunya teras gajah ini akibat sibuk browsing riset bikin itinerary, itupun 8 bulan sebelum bulan Desember. Terus pas dah beres semua urusan tiket dan hotel, lupa aja kali itinerary tidak gw sentuh. Baru inget lagi pas sibuk cari itinerary untuk bahan referensi nyari abang tuk-tuk. Habis itu ya lupa lagi, entah karena gw sibuk (dikejar-kejar) dinas luar yang nggak ada ujungnya, sibuk ngurusin printilan rumah sakit (orang lain), pluuusss hampir jadi anak durhaka gegara kamar dah rapi diberesin sama Momsky (baca:Nyokap) akibat penghuni kamarnya jarang nginap di rumah *cium Momsky*.

Sampai pas hari H-nya yang gw mudeng, ya cuma tempat makan, hotel, Bang Ratha, Angkor Wat dan candi Tomb Raider. Pokoknya, asalkan ada ‘itinerary berjalan’ (baca:Uke) yang mendampingi gw, perjalanan akan berjalan aman, damai, tentram dan sejahtera #eaaaa…kenapa jadi curcol inih??!! *cium tangan Uke*

Elephants Terrace

Terrace of the Elephants is an impressive, two and a half-meter tall, 300 meter long terrace wall adorned with carved elephants and garudas spanning the front of Baphuon, Phimeanakas and the Royal Palace area at the heart of Angkor Thom. The northern section of the wall displays some particularly fine sculpture including the five headed horse and scenes of warriors and dancers. Constructed in part by Jayavarman VII and extended by his successor. The wall faces east so the best lighting for photography before noon. The Terrace of the Leper King is at the north end of the Terrace of the Elephants.

Elephant Terrace #1
Elephant Terrace #1
Elephant Terrace #2
Elephant Terrace #2
Elephant Terrace #3
Elephant Terrace #3
Elephant terrace
Elephant terrace #4
Elephant terrace
Elephant terrace #5
Sekitar
day walking
Parkiran tuk-tuk
Parkiran tuk-tuk

Dalam perjalanan kembali ke kota SR, kami teringat untuk mampir di salah satu hamparan kolam air (sebenarnya gak jelas juga sih itu kolam atau sungai ya???). Namun karena kami tidak tahu letak persis kolam tersebut, sambil sedikit memanjangkan kepala, menoleh kanan-kiri mencari tempat tersebut dan siap-siap teriak manggil Bang Ratha untuk berhenti. Hingga akhirnya setelah melewati gerbang, dengan sigap kami meminta Bang Ratha untuk berhenti. Dengan kecanggihannya membawa motor, Bang Ratha segera menepikan tuk-tuknya, satu persatu kami turun dan mulai berpencar.

Sesampai di tepian kolam, bayangan kolam yang kami cari berbeda dengan kolam yang kami lihat kemarin. Walaupun tidak sesuai dengan apa yang kami harapkan, ternyata disekitar kolam ini terdapat gerbang dikelilingi jajaran patung-patung. Ketika kami bertanya apakah nama tempat ini ke Bang Ratha, ternyata ini adalah South Gate Angkor Thom.
Hmmm…Yayayaya, *muka ngangguk-ngangguk*
Tetep ajah gw gak ngerti juga sih! *siap-siap naik ke tuk-tuk*

a river?
a river?
South gate Angkor Thom #1
South gate Angkor Thom #1
South gate Angkor Thom #2
South gate Angkor Thom #2
South gate Angkor Thom #3
South gate Angkor Thom #3

Okeh, mari kita kembali menuju kota, ciiinn!!! Lapaaaar inih!!!

” Kita mau dibawa kemana, Bang Ratha? ”
” Tempat makan, neng! ” *percakapan absurd*

Pas duluuuuuu (banget) gw rajin browsing, gw sempat menemukan ada 2 tempat makan halal yang femeus bin kondang di SR. Terus pas mendekati hari H, kenapa cerita postingan salah satu tempat makan itu raib menghilang begitu saja, yang nongol di guglingan cuma Muslim Family Kitchen. Ya sudahlah pasrah ajah seperti kemarin-kemarin mau dibawa kemana, Bang Ratha hanya berbicara kalau tempat ini merupakan asal muasal berasalnya Muslim Family Kitchen. Itu pun kalau gw gak salah denger juga 😛

Bang Ratha membelokan tuk-tuknya ke restoran yang bernama Cambodian Muslim Restaurant. Lokasinya hanya berselang beberapa rumah jembatan dari restoran Muslim Family Kitchen yang kemarin kami singgahi. Restoran ini terlihat sangat sederhana dibandingkan Muslim Family Kitchen, tidak ada dekoratif yang menarik, tidak banyak hiasan dinding, hanya ada televisi yang menyala dan seorang pria (berbaju putih dengan tulisan EXO!!!) yang setia melayani kami dengan menjawab rentetan-rentetan pertanyaan menu makanan.

Sempat galau melihat menu yang tersedia karena menu yang disajikan tampak tidak terlalu menarik. Dan setelah hasil cup-cap-cup-kembang-kuncup, kami memesan Samlor Korkoh with Beef, Lok Lak Beef, Fried Mixed Vegetable with Shrimp, 3 nasi putih, 2 buah fresh coconut, 1 ice milo with milk dan 1 ice tea with milk. Makanan datang, hati pun senang. Pas dah di icip-icip, hati kembali galau. Namun berhubung gw lapar abes dengan sarapan seadanya tadi pagi, jatah makan siang gw habis tidak bersisa. Gw dan Didit sempat menebak-nebak ingredients yang ada di depan kita. Salah satu ingredients Samlor Korkoh with Beef yang terkenang di memori gw yaitu adanya irisan tipis buah pepaya muda yang terasa kres ketika gw gigit.Unik-unik gimana gituh..

Terus rasanya gimana?
Rasanya ya standar ajah, tidak ada bumbu yang terlalu menarik indera pengecapan, tidak spicy, tidak asin, tidak manis juga, pokoknya STD deh. Yang penting cacing-cacing dah kenyang deh!

Cambodian Muslim Restaurant
Open daily, from 06.00 – 21.00
Phone : (+855) 12682361/15526188
Address : Steung Thmey Village, Svay Dong Kum, Siem Reap City

Muslim
Cambodian Muslim Restaurant #1
Cambodian Muslim Restaurant
Cambodian Muslim Restaurant #2
Lak
Samlor Korkoh Beef ; price 4 USD
fried
Lok Lak Beef ; price 4 USD
Lak LKok
Fried Mixed Vegetables with shrimp ; price 3 USD

Selesai urusan dengan makan, kami minta diantarkan ke hotel. Bang Ratha menurunkan kami di depan hotel dan kami segera masuk ke kamar masing dengan rencana masing-masing. Ade sudah berniat ingin mencoba free pijat refleksi yang disediakan hotel (walaupun akhirnya rencana ini gagal dan doski ikutan molor), sedangkan gw sudah tidak sabar untuk mandi dan berakhir dengan molor.
Bagaimana Uke dan Didit? Sepertinya mereka juga molor…

Hasil molor satu jam sukses membuat muka gw tampak segar dan mata semakin cemerlang. Tepat pukul 15.00 kami bertemu dengan Bang Ratha lagi. Let’s go to Angkor Wat!!!

Angkor wat bisa dibilang salah satu area candi yang luas dan terawat di antara candi lainnya. Dengan pengharapan Angkor Wat akan sepi, tenyata harapan gw sia-sia. Tetap saja turis-turis berkumpul dan berwisata kesini.

Untuk masuk ke Angkor Wat kami harus melewati jembatan panjang dan melewati area kolam yang sudah kami hampiri dalam rangka mengejar sunrise tadi pagi. Dari gerbang masuk, kami mengambil jalur dari sebelah kiri dan menaiki tangga.

Sesampai masuk Angkor Wat, kami langsung berhadapan dengan lorong panjang berhiaskan relief-relief. Setelah itu kami berbelok ke arah kanan, menemui lahan kosong berumput hijau dan didepan kami langsung berhadapan dengan tangga untuk masuk ke dalam area utama Angkor Wat. Melihat banyaknya turis yang lalu lalang naik-turun tangga membuat kami bertahan di lahan hijau. Foto-foto sebentar –> kami menaiki tangga –> bertemu selasar –> turun tangga –> tiba di area utama Angkor Wat. Sampai disini gw berpencar dengan tiga serangkai.

Gw berjalan keluar selasar dan mencoba mendekati kuil yang berada di area utama. Didepan gw terdapat kuil plus tangga dengan derajat kemiringan lumayan sadis, sekitar 60 hingga 70 derajat, sodarah-sodarah. Walaupun sadis, tapi penggemarnya laris manis bak kacang goreng. Panjangnya antrian menuju kuil tersebut cihuy habis pokoke. Sekitar 300 meter deh antriannya..!

Terus gw naik gak??? Ogah deh!!!
#1. Pemalas karena melihat antriannya segambreng gituh
#2. Cemen karena gw takut ketinggian!
Walau katanya view dari atas ituh okeh bingid, tapi kalau pasal 1 dan pasal 2 keluar, gak akan ada yang bisa mengalahkan keteguhan pasal 1 dan pasal 2.

Akhirnya gw melipir di pojokan mengamati antrian menuju kuil. Ada beberapa petugas yang berjaga dibawah tangga untuk mengatur naik-turunnya pengunjung. Tapi karena saat itu ramai oleh turis, demi alasan keamanan diberlakukan sistem buka-tutup. *ini candi atau puncak ya???*

Semakin gw yakin dengan pilihan gw untuk tidak naik kuil ketika gw melihat beberapa orang mencoba turun dengan berbalik arah. Maksudnya gimana, bu??? Biasanya kalau kita turun seperti posisi layaknya orang turun tangga, sedangkan yang gw lihat orang-orang itu turun dengan badan berbalik arah, dengan posisi wajah hampir berdekatan/menempel dengan anak tangga. Kok bisa ya mereka kepikiran menuruni tangga dengan cara seperti itu? Apakah dengan posisi tersebut membantu ketakutan melihat ketinggian??? Entahlah..

Setelah beberapa menit (dengan berharap bisa bertemu tiga serangkai di area utama), gw berjalan masuk kembali ke selasar. Gw mencoba mengelilingi selasar satu persatu. Di salah satu titik, gw berjalan mengarah ke selasar dengan posisi patung Budha berada ditengah-tengah selasar, namun gelapnya selasar cukup menggoyahkan iman gw untuk meneruskan berjalan. Beberapa kali menengok ke belakang, namun kosong, tidak ada penampakan turis yang akan lewat sini. Jantung gw semakin berdetak kencang, udara yang berhembus juga dingin-dingin gak jelas. Feeling gw makin gak enak nih, ini selasar makin terasa mistisnya. Gw pilih berbalik arah kabur aja deh! -_-

Gw bolak-balik di selasar, kembali ke area utama namun tidak bertemu dengan tiga serangkai. Hingga akhirnya gw mencoba melongok ke area yang ada lahan hijaunya. Ternyata mereka sedang asyik-asyik duduk disini. Gw hampiri mereka dan akhirnya kami menikmati area ini dengan minimnya kedatangan turis dengan berfoto-foto. Photo session lagiiiiii!

Pukul 17.20 kami berjalan keluar dari lahan hijau Angkor Thom. Kami masih sempat mampir sebentar di depan kolam untuk mengambil view Angkor Wat secara keseluruhan. Di sekitar kolam banyak sekali anak-anak kecil yang menjajakan kartu pos dengan teriakan One Dollar – One Dollar – One Dollar. Beberapa anak sempat mendekati kami dan bertanya kepada Didit apakah doski berasal dari Philippine. Ih, kamu lucu banget deh, de!

Selesai menjejakan kaki di Angkor Wat, maka selesailah serial perjalanan Angkor Archaelogical Park – challenge! Bye bye Angkor Wat!

Angkor Wat

Angkor Wat according to George Coedes is a replica of the universe in stone and represents an earthly model of the cosmic world. The main tower rises from the centre of the monument and symbolizes the mythical Mount Meru, situated at the centre of the universe. It’s 5 tower correspond to the 5 peaks of Mount Menu; the outer gallery of the monument represents the mountains at the edge of the world ; and the surrounding moat represents the ocean beyond.

There are a lot of explanations for Angkor Wat unusual orientation to the west; Khmer temples usually face to the east. One reason is because this temple was dedicated to Vishnu who is the God of the west. Another reason is an association with death. The bas-releifs are arranged for viewing from the left to the right, in the same manner religious ceremonies for tombs in Hinduism.

Angkor Wat #1
Angkor Wat #1
Angkor Wat #2
Angkor Wat #2
Angkor Wat #3
Angkor Wat #3
Angkor Wat #7
Angkor Wat #4
Angkor Wat #8
in front of Angkor Wat
Angkor Wat #8
Angkor Wat #5
Angkor Wat #9
Angkor Wat #6
Angkor Wat #15
Angkor Wat #7
Angkor Wat #4
Central of Angkor Wat
Angkor Wat #5
The stairs
Angkor Wat #6
Angkor Wat #8
Angkor Wat #10
Angkor Wat #9
Angkor Wat #11
Angkor Wat #10
Angkor Wat #12
Angkor Wat #11
Angkor Wat #13
Angkor Wat #12
Angkor Wat #14
Enjoying ‘us’ time
Manjat.com
Manjat.com
Higgghhhh....
Higgghhhh….

Sehubungan kami tidak puas dengan acara belanja oleh-oleh semalam. Kami meminta Bang Ratha untuk mampir ke Hard Rock Cafe. Niatnya kami ingin mencari oleh-oleh terbaik untuk sanak keluarga inti. Sampai di Hard Rock Cafe, cukup dengan thawaf 1 putaran, kami memutuskan segera capcus. Harga kaosnya lumayan bikin mata mendelik, dibandrol sekitar 28-35 USD. Terus gw belanja apa dunk? Gw cukup deh beli gelas kecil untuk hadiah diri sendiri. Harganya 10 USD. Lumanyun juga kan tuh?!?!

Perjalanan selanjutnya, kami meminta Bang Ratha untuk menurunkan kami di sekitar Angkor Night Market. Niatnya mau cari makan dan belanja oleh-oleh di sekitar area tersebut. Sesuai dengan niat utama, kami akan mencoba makanan serba 1 USD.

Pertama kali yang kami coba adalah hasil lirikan Didit yaitu Bak Lahong.
Bak Lahong itu seperti salad sayur yang berisi pepaya muda, basil, kol, fish sauce, pickled crab, tomat, jeruk nipis dan beberapa potong cabai. Rasanya itu cukup unik! Rasa awalnya sukses membuat gw mengerenyitkan dahi, tapi setelah itu nagih abis. Perpaduan pedas, kesegaran sayur-sayuran, kegurihan bumbu dan asamnya bumbu endang surendang bow!

Makanan selanjutnya adalah Pancake Banana Chocolate. Berbagai macam pilihan toping tersedia dari banana, egg, chocolate, nutella, milo, milk hingga sugar. Gw memilih pancake nutella dengan toping nutella. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari 1 USD selain gurihnya margarin dan ala kadarnya toping nutella 😦 Rasanya lumayan deh, seperti makan pancake (tipis) saja. Sedikit advice, pancake ini harus dimakan dalam keadaan hangat karena ketika pancake sudah mulai dingin, pancakenya terasa sulit digigit alias alot.

Next : Magic Stick Ice Cream!
Sesuai dengan judulnya kami makan es krim dengan cone berbentuk seperti tangkai payung. Rasanya okeh juga, conenya juga lembut. Kalau dilihat dari bentuk dan aksesoris tokonya, sepertinya es krim ini meng-adobe dari negara Korea. Terus, kalau kamu penasaran dengan es krim ini, ternyata es krim ini sudah bisa ditemukan di food court di Mall Ambasador dan beberapa mall besar lainnya. Selamat mencoba!

Old Market
Pub Street
Old Market
Pub Market
Lak #1
Bak Lahong #1
Lak #2
Bak Lahong #2 ; price 1 USD
Pancake #1
Pancake Banana Chocolate #1
Pancake #2 ; price 1 USD
Pancake Banana Chocolate#2 ; price 1 USD
Magic ice cream #1
Magic stick ice cream #1
Magic ice cream #1
Magic stick ice cream #1 ; price 1 USD

Kami kemudian berjalan menuju (original Noon) Night Market. Sesuai dengan postingan sebelumnya, gw akan bercerita hasil perburuan oleh-oleh yang berhasil gw dapatkan :

  • Beberapa pashmina dengan motif Angkor Wat dan gajah (kenapa berasa beli oleh-oleh dari Thailand ya?). Harganya 17 USD untuk 8 pashmina, brarti harganya 2,125 USD. Aneh dengan harganya??? Tentu tidak! Ini akibat hasil perang tawar menawar sama si empunya toko. Doski sampai geleng-geleng kepala ketika gw dan Didit menawar. Doski sebenarnya minta harga yang kami tawarkan naik beberapa dollar lagi, tapi berhubung gw dan Didit keukeuh-sumekeuh dengan opsi harga yang kami berikan, akhirnya doski lambaikan tangan menyerah.
  • 1 buah celana panjang (tipis) dengan motif gajah seharga 2,5 USD
  • 1 buah taplak meja persegi empat untuk ukuran sedang seharga 2,5 USD khusus untuk Momsky (yang berakhir menjadi penutup sofa)
  • 3 buah magnet kulkas dengan tulisan Cambodia seharga @2 USD
  • 4 buah magnet (warna-warni) kulkas seharga @2,5 USD. Ini adalah oleh-oleh paling sreg dan paling okeh yang berhasil kami temukan di SR. Setelah berputar-putar di (Original Noon) Night Market, kami malah mendapatkan magnet ini di Siem Reap Night Market yang posisi market ini persis berhadapan langsung dengan Jalan Sivatha Boulevard. Mungkin agak mahal untuk ukuran oleh-oleh di SR, tapi sayangnya harga untuk magnet ini tidak berkutik sama sekali. Walaupun sudah kami tawar, harganya kembali ke harga semula. Alasan dari penjualnya karena si pembuat magnet ini berasal dari Amerika, terus magnetnya sih tetap dibuat di SR. Nyambung gak tuh??? *sigh* Akhir kata, magnet ini  dikomentarin oleh Ria, “Magnet kayah gini banyak di jual di Singapura, Ve!” Hahaha…

Sedikit tips untuk berbelanja:
1. Tawarlah sesadis mungkin dengan penawaran harga 1/3 dari harga yang ditawarkan. Contohnya harga yang pertama kali di berikan dari penjual adalah 7 USD, maka tawar menjadi 2 USD. Perang batin antara tega gak tega biasanya terjadi nih. Tapi setelah kami berkeliling, ternyata harga tersebut bisa didapatkan lebih murah dari harga yang kami tawar.
2. Cobalah berkeliling lebih dahulu untuk mengetahui harga pasaran barang yang akan kamu beli. Dari hasil pengamatan gw, toko yang letaknya kurang strategis dan sedikit dari lalu lalang pembeli, harga barang-barang yang di bandrol akan lebih murah dan pedagangnya tak segan-segan menurunkan harga.
3. Gabungkan jumlah belanjaan yang sejenis rupanya dengan teman-teman kamu dan kemudian tawar kembali harga gabungan tersebut, biasanya si penjual akan menurunkan harganya.

(Original) Night Market
(Original Noon) Night Market
Price 10 USD
Price 10 USD
The colourfull of pashmina #1
The colourfull of pashmina #1
The colourfull of pashmina #2
The colourfull of pashmina #2
The colourfull of pashmina #3
The colourfull of pashmina #3
Celana panjang ; price 2,5 USD
Long pants ; price 2,5 USD
Taplak ; 2,5 USD
Table cloth ; price 2,5 USD
Magnet Cambodia ; Price @2 USD
Magnets Cambodia ; Price @2 USD
Magnets ; Price @2,5 USD
Rubber Magnets ; Price @2,5 USD

Selesai berbelanja, kami ingin mencoba “The Blue Pumpkin” yang paling hitz di SR. Sesuai dengan tagline di website resminya, The Blue Pumpkin is a french bakery and patisserie, an ice cream parlor and a restaurant with a lounge atmosphere, suasana di The Blue Pumpkin memang nyaman. Semenarik-nariknya makanan di Blue Pumpkim, gw hanya tertarik membeli eclairs seharga 2,25 USD dengan rasanya yang standar. Didit sebagai peserta fear factor yang rajin mencoba makanan baru, kali ini berbagi es krim berjudul Mango Melba bersama Ade sedangkan Uke memilih ice cappucino.

Eclairs ; Price 2,5 USD
Eclairs ; Price 2,5 USD
Mango ; Price 4 USD
Mango Melba ; Price 4 USD

Setelah kenyang, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Kami menikmati malam terakhir di SR dengan duduk santai di ruang makan hotel ditemani segelas teh dan beberapa potong pisang hasil free compliment hotel. Agenda utama malam itu hanya ngobrol ngalor ngidul sambil menemani gw dan Ade yang sibuk menghabiskan pop mie. Heh… Jauh-jauh makan pop mie??? Iya dunk, gak usah sirik ah! 😛

Sekitar pukul 11 malam kami kembali ke kamar masing-masing. Masih banyak yang harus kami kerjakan di penghujung malam itu. Kami harus packing baju (kotor) serta beberapa oleh-oleh yang berserakan di lantai kamar. Selamat malam, Siem Reap!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s