[Kamboja] Day 2 – Siem Reap : Angkor National Museum, Banteay Srei, Phnom Bakheng & Angkor Night Market

” Gw mau ke Kamboja nih! ”
Respon 1 : Eh, ngapain di Kamboja ?
Respon 2 : Di Kamboja ada apa?
Respon 3 : … (Hening, dahi berkerut)
Respon 4 : … (Terdiam) Okeh, dimana itu?
Respon 5 : Kamboja yang ada Angkor Wat kan? Apa tuh nama kotanya?
Respon 6 : Wuiii, seru banget! Mau jalan kapan? Sama siapa? Mau kemana aja? Ke Pnomphen?
Respon 7 : Kok ke Kamboja? Emang ada apa di Kamboja ?
Respon 8 : Oleh-oleh ya! –> Arrrghhh! *terima receh Dollar*

Dari sekian orang yang berespon, hanya segelintir orang yang tahu tentang Kamboja. Entah karena mereka yang tidak familiar dengan negara ini, mereka yang tidak ngeh dengan tempat syuting Tomb Raider-nya Angelina Jolie,  mereka yang hanya tahu tempat liburan itu ya antara Singapore-Malaysia-Thailand atau karena gw yang anti mainstream ketika memilih negara ini sebagai tujuan ngetrip. Entahlah…???!!!

*****

Pukul 01.30 alarm hp berbunyi menandakan kita harus segera bangun, bergegas mandi, rapi-rapi dan check out hotel. Sesuai dengan itinerary yang sudah dibuat, pukul 02.30 kami harus bergerak menuju halte bis bandara di KL Sentral. Dengan berjalan selama 5 menit, kami sudah sampai di halte, tak lupa membayar tiket sebesar 10 RM dan kami segera naik Aerobus dengan jam keberangkatan pertamanya di pukul 02.45. Untuk mengecek timetable Aerobus bisa dilihat disini.

Ketika masuk bis, semua bangku di bis sudah berada dalam posisi setengah tidur. Ditambah dengan bis yang sudah hampir terisi penuh, Ade dan Didit sudah duduk di bagian depan, sedangkan gw dan Uke tidak mempunyai pilihan tempat duduk lain. Ketika kami duduk, ternyata posisi ac tepat di atas kepala kami dalam keadaan bolong alias itu ac tidak bisa di atur. Ketika akan pindah tempat duduk, gw lihat mayoritas penumpang sudah pasang posisi wuenak dan ditambah badan mereka (plus beberapa ransel) yang mayoritas besar membuat gw dan uke mengurungkan niat berpindah tempat duduk. Ya sudah, pasrah saja dengan kenyataan yang ada.

Tutupi badan dengan jaket, letakan backpack di atas perut sebagai tameng, cari posisi nyaman, grasak-grusuk sebentar dan dalam hitungan 1…2…3… berubah menjadi Zzz…Zzz…Zzz…

Tepat pukul 03.45 kami sudah tiba di KLIA2. Aktivitas KLIA2 di pagi dini hari itu sudah tampak. Dalam keadaan mengumpulkan nyawa setengah sadar, kami mencari terminal keberangkatan. Karena kami sudah melakukan web check in, kami singgah sebentar di Starbucks untuk membeli hot chocolate dan kemudian langsung masuk menuju imigrasi dan masuk ke terminal keberangkatan.

Ini adalah pertama kalinya gw menginjak terminal keberangkatan KLIA2. Dengan banyaknya orang yang berkata kalau KLIA2 itu luas banget, kami tidak mau ambil resiko harus berlari-lari bermain amaizing race hanya untuk menuju departure gate. Dengan gaya berjalan kami yang santai (plus bolak-balik liat jam tangan) dan beberapa kali berhenti di duty free shop, untuk sampai di International Transfer/Pertukaran Antarabangsa memakan waktu 30 menit.

Berdasarkan pengamatan gw sehari sebelumnya dan pagi itu, banyak sekali perbedaan antara KL-LCT dan KLIA2. Yang tampak terlihat secara penampakan, KL-LCT terkesan sangat sederhana dan minimalis sedangkan KLIA2 memang terbilang mewah dibandingkan KL-LCT, namun konsep sederhana masih terlihat, terutama jika disandingkan dengan KLIA yang sangat eksklusif. Tapi kalau mau di compare dengan terminal 3 Bandara Soetta, kayaknya pemenangnya tetap jatuh ke KLIA2. Semoga saja (calon) terminal 3 yang sekarang sedang proses pembangunan dapat menyaingi (minimal) KLIA2.

Setelah melewati skybridge yang panjang ituh, kemudian turun satu level, kita bisa menemukan ruang tunggu yang berada di level 2 dari Satellite building dan letak persisnya berada di antara departure gate P dan Q. Ruang tunggu ini dinamakan Public Lounge atau Ruang Istirehat Awam. Setelah melihat Public Lounge ini secara langsung, hanya bisa berkomentar ” Pantas saja Ratri betah nungguin pagi bermalam di area ini dan putranya (Fabian) juga asyik main gadget diatas sofa yang empuk “. Area ini memang sangat tenang dan nyaman sebagai area transit terutama bagi penumpang yang harus menginap di dalam bandara. Banyaknya kursi-kursi empuk yang beraneka ragam bentuk, televisi-flat-besar dan wifi gratis (yang hanya berlaku untuk 3 jam) membuat orang akan betah di area ini. Bahkan di area yang agak memojok, gw menemukan banyak orang yang tertidur pulas hanya beralaskan karpet dan beberapa dari mereka lepas sepatu loh. Berhubung gw tidak sempat memfoto area ini, untuk info lebih lanjut bisa cek di http://www.klia2.info/about-klia2/klia2-layout-plan/sector-6-satellite-level-2

Menurut info dari petugas di customer counter, musholla yang tersedia di lantai ini hanya ada di area yang berdekatan dengan Public Lounge. Kami menanti di area ini kurang lebih satu jam hingga azan Subuh. Selama satu jam, kami berusaha memejamkan mata. Sepertinya yang sukses tidur hanya Didit, gw (yang mulai kelaparan) dan Uke sempat membeli french fries di Burger King sedangkan Ade duduk manis menunggu barang-barang kita. Hehehehe..

Setelah shalat Subuh, dikarenakan lorong departure gate Q ini ternyata panjaaaangggg (mau tidak mau) kami harus jalan terburu-buru untuk menuju gate. Dan ternyataaaaaa… di lorong departure gate Q kami masih bisa menemukan beberapa tempat makan, wc dan musholla!!!! Arrghhh, si Mbak-mbak itu harus dibriefing peta public area nih.. 😦

Candid by Didit
Mata bengkak – Muka bantal
KLIA2, before long-long-long Skybridge
KLIA2, before long-long-long Skybridge
Eraman Duty Free
Eraman Duty Free
Duty Free Area
Duty Free Area
The forms
The forms
I'm flying...
I’m flying…
Before landing at Siem Reap International Airport #1
Before landing at Siem Reap International Airport #1
Before landing at Siem Reap International Airport #2
Before landing at Siem Reap International Airport #2
Before landing at Siem Reap International Airport #3
Before landing at Siem Reap International Airport #3

Perjalanan dari KL menuju Siem reap menempuh waktu 2 jam. Dengan ukuran bandara yang tidak terlalu luas dan proses imigrasi yang tidak memakan waktu, pukul 08.30 kami sudah keluar dari Siem Reap International Airport. Dengan menggunakan fasilitas penjemputan gratis dari hotel, perjalanan menuju kota Siem Reap hanya butuh waktu 20 menit.

Ada sedikit cerita ‘perang urat’ ketika kami dalam perjalanan menuju hotel. Di bayangan awal gw, kendaraan yang akan dipakai untuk menjemput kami adalah tuk-tuk tapi ternyata rejeki anak sholehah itu tergantikan dengan mobil sedan Camry dengan transmisi matic! 😀 Sepanjang jalan sopir ini mengajak kami berbicara, pada awalnya masih berbicara ramah tapi ketika dia mulai menanyakan kami akan menggunakan transportasi apa selama di Siem Reap (SR), rasanya gw sudah mulai bisa membaca modus yang akan dia tebar. Sang sopir mulai meminta kami untuk menggunakan mobilnya selama berkeliling di SR. Dari gaya bicaranya yang sopan hingga keluar nada paksaan dan trik terakhirnya dengan menggunakan alasan dia sudah menjemput kami ke bandara dan kebutuhannya akan uang untuk membeli bensin kalau kami tidak memakai jasanya. Modus ini sudah sering gw baca dari blog-blog orang, sekarang tinggal pintar-pintarnya kita mensiasati menjawab omongan mereka dan pastinya sangat diperlukan kelihaian dalam menjawab jebakan batman mereka.

Didit yang dari awal sudah menolak dengan mengatakan kalau kita hanya minta fasilitas penjemputan hotel yang notabennya gratis, sedangkan untuk urusan diluar itu adalah urusan antara pihak hotel dan sopir.
Titik!!!
Didit yang tadinya sabar menanggapi omongan si sopir, mulai menampakan kekesalannya. Sesampai di hotel kami segera turun dari mobil, tutup pintu dengan sedikit membanting (padahal sih emang rada susah ditutup 😛 ), ambil barang-barang dari bagasi mobil dan langsung masuk hotel tanpa berbasa-basi dengan si sopir mobil.

Inside of Siem Reap International Airport
Inside of Siem Reap International Airport
Welcome to Siem Reap
Welcome to Siem Reap
Siem Reap International Airport
Siem Reap International Airport
Free pick up
Free pick up from hotel

Sesampai di hotel, kami langsung di sambut ramah oleh karyawan Golden Temple Villa. Kami yang tadinya sempat bete, langsung lupa dengan kejadian ‘perang urat’ di mobil. Dari lobi hotel, kami langsung diarahkan menuju sofa yang satu ruangan dengan ruangan makan. Berhubung job desk pemesanan hotel ini diserahkan kepada Didit, jadi biarkan Didit yang mengurus check in, sedangkan gw mulai memainkan kamera.

Sambil menunggu kamar siap, kami duduk santai di sofa dan sibuk menyeruput welcome drink. Pukul 09.20 kami sudah bisa check in, kami meletakan barang di kamar, beberes sebentar dan pukul 10.00 kami janjian dengan supir pribadi abang tuk-tuk yang bernama Bang Ratha (tsaaahhh…SKSD bener ya?!?!?!). Sesampai di lobi, gw melihat Didit dan Uke sudah asyik chit-chat dengan Bang Ratha. Gw dan Ade memperkenalkan diri dengan Bang Ratha, kemudian konfirmasi dengan itinerary yang sudah kami kirim ke doski dan langsung jalan menuju tujuan pertama.

Sesuai dengan itinerary yang telah dibuat detail oleh Uke, tujuan pertama hari ini adalah Angkor National Museum. Kenapa kita harus ke museum ini ??? Karena :
#1: Menurut hasil postingan beberapa blog, di museum ini bercerita tentang sejarah Kerajaan Khmer dan Angkor Wat sehingga informasinya akan berguna ketika akan mengelilingi Angkor Wat
#2: Uke dan Didit merupakan pecinta museum
#3: kali ini gw berfungsi sebagai followers
#4: supaya (semakin) terlihat keren

Sebelum ke museum, Bang Ratha sempat menanyakan apakah kami akan membeli tiket masuk di travel atau langsung membeli di museum. Kami sempat bertanya, apakah ada perbedaan jika kami membeli tiket di travel atau di museum. Doski bilang sama saja, tidak ada perbedaan harga. Ya sudahlah, kami memutuskan ikut Bang Ratha kemana saja.. Weeeitsss, maksudnya ikut tuk-tuknya Bang Ratha menuju travelnya.

Sesampai di travel, kami langsung membeli 4 tiket dengan harga @12 USD dan berhadiah 1 buah 3D Map Siem reap yang ada tulisan FREE nya, eh pas kami meminta tambahan FREE Map-nya (namanya juga gak mau rugi dengan 12 USD ya) kata si mbak penjualnya hanya bisa dikasih satu map. Hmmmm…Baiklah, Mbak!

Terus, alamat travelnya dimana???
Gw pun gak tahu. Kita hanya modal pasrah dibawa kemana saja sama Bang Ratha. 😀 Dari hasil jepretan Uke, juga tidak terlihat alamatnya, hanya nomor telepon dan email. Happy hunting deh!

Golden Temple Villa
Golden Temple Villa
welcome drink
welcome package : welcome peanut – welcome drink – welcome towel
The travel
The agent travel

Sesampai di Angkor National Museum, kami menitipkan tas di tempat penitipan (kamera dan barang berharga jangan lupa dibawa serta), kami menukarkan tiket masuk, berfoto di depan tulisan Angkor National Museum yang di apit oleh 2 patung dan memulai tur museum.

During the Golden Era of the Khmer Kingdom, one of the ancient civilizations of this world was being created. It was the origin of Khmer art, culture, and architecture. These great inventions became one of the few wonders of the world that still amaze people throughout generations that still hold a great impact in present Cambodia society.

Angkor National Museum takes pride in revealing the royal historical path of this Golden Era of the Khmer Kingdom through state of the art multimedia technology to provide visitors a full pictorial story of the legend for easy comprehension.

Operating Hours :
1 Apr – 30 Sep 08.30 – 18.00
1 Oct – 31 Mar 08.30 – 18.30
Admission : 12 USD

http://www.angkornationalmuseum.com/index

Pertama kali yang kami masuki adalah Briefing Hall, tempat ini adalah ruangan teater dimana kita diberikan penjelasan musium ini secara garis besar. Setelah itu, museum akan dibagi menjadi 7 gallery dan 1 eksklusif gallery. Masing-masing gallery mempunyai tema yang berbeda. Mari kita bahas satu persatu..

  • Gallery of 1000 Buddha images ; “A Gallery of Cambodia Buddhism Reflection”
    Di galeri ini menampilkan koleksi paling bergengsi dari 1.000 patung Buddha yang pernah dibuat. Kita akan diperkenalkan dengan berbagai macam material dalam pembuatan patung serta mempelajari Buddha melalui bentuk dan posisi tubuh Buddha.
  • Gallery A : Khmer Civilization ; “The Origin of Khmer Empires Story”
    Penjelasan bagaimana peradaban Khmer dapat menciptakan salah satu bangunan yang paling kolosal di dunia serta pembagian periode sejarah dari jaman pre-Angkorian, Angkorian dan post-Angkorian.
  • Gallery B : Religion and Beliefs ; “The reflection of Khmer’s beliefs”
    Galeri ini menceritakan tentang agama dan kepercayaan peradaban Khmer, tak luput dengan legenda dan cerita rakyat yang memotivasi peradaban Angkor selama berabad-abad.
  • Gallery C : The Great Khmer Kings ; “The Great Inventors”
    Sejarah kepemimpinan raja yang terdiri dari
    – Raja Jayavarman II, raja yang menyatukan dua kerajaan TchenLa antara tahun 802-850 CE
    Raja Yasovarman I, raja yang mendirikan Angkor sebagai ibukota antara tahun 889-900 CE
    Raja Soryavarman II, raja yang membangun Angkor Wat antara tahun 1116-1145 CE
    Raja Jayavarman VII, raja yang membangun Angkor Thom antara tahun 1181-1201 Masehi
  • Gallery D : Angkor Wat ; “Heaven on Earth”
    Galeri ini akan menceritakan bagaimana pembangunan Angkor Wat, penggambaran Angkor Wat Temple dan fenomena equinox.
  • Gallery E : Angkor Thom ; “The Pantheons of Spirit”
    Galeri ini akan mengeksplorasi Angkor Thom, suatu maha karya arsitektur teknologi canggih yang dikombinasikan dengan karya seni berharga yang dibuat dari beberapa generasi. Perubahan keyakinan agama akan terlihat pada seluruh desain dan karya seni di Angkor Thom
  • Gallery F : Story from Stones ; “The Evidence of the Past”
    Prasasti batu yang ditemukan di seluruh Angkor merupakan peristiwa penting sejarah dan berfungsi sebagai bukti bahwa kerajaan besar ini pernah ada.
  • Gallery G : Ancient Costume ; “The Fascination of Apsara”
    Pakaian Khmer kuno digambarkan dalam bentuk patung dewa, dewi, penari langit, atau Apsara. Pakaian kuno melambangkan status dalam masyarakat dalam bentuk perhiasan dan aksesoris yang indah.
Gallery of 1000 Buddha images ; Courtesy of Angkor Natonal Museum
Gallery of 1000 Buddha images ; Courtesy of Angkor Natonal Museum
Gallery A : Khmer Civilization ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery A : Khmer Civilization ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery B : Religion and Beliefs ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery B : Religion and Beliefs ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery C : The Great Khmer Kings ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery C : The Great Khmer Kings ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery D : Angkor Wat ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery D : Angkor Wat ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery E : Angkor Thom ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery E : Angkor Thom ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery F : Story from Stones ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery F : Story from Stones ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery G : Ancient Costume ; Courtesy Of Angkor National Museum
Gallery G : Ancient Costume ; Courtesy Of Angkor National Museum

Di antara semua galeri, galeri yang menarik perhatian gw adalah Gallery of 1000 Buddha Images. Kita bisa mengenal Buddha melalui bentuk dan posisi tubuh Buddha. Penampakan patung yang gw lihat juga berbeda dengan patung-patung yang ada di Candi Prambanan. Ditambah dengan lighting yang okeh, warna pantulan yang ditimbulkan patung menimbulkan sensasi elegan namun tetap misterius.

Kemudiaaannn…
Ada galeri yang paling nyaman dikunjungi yaitu galeri D, Angkor Wat. Di galeri ini terdapat ruangan teater yang menayangkan film Angkor Wat, dimana pencahayaan di area ini memang lebih gelap + suhu ruangan yang dingin = meninabobokan Ade, Uke dan Didit disalah satu sofa tempat duduk yang ada. Sebenarnya mata gw juga sudah tidak kuat melawan rasa kantuk. Akibat tidur malam yang praktis hanya 2 jam plus dinginnya ruangan, rasanya ingin sekali gw mengganjal kelopak mata dengan galah.

Ketika melihat ada The Coffee House di lantai 1, tanpa berpikir dua kali gw memilih membeli kopi. Kalau tidak minum kopi, pasti nasib gw akan sama tertidur seperti tiga serangkai itu. :mrgreen:
Gw pun mencoba minum cappucino dan ternyata gw tidak rugi menghabiskan kopi hasil patungan dengan Ade. Rasanya enak! Berbeda dengan cappucino di tanah air yang terasa lebih ringan rasa kopinya, cappucino disini terasa lebih berasa kopinya tapi dengan tidak meninggalkan sensasi pahit di lidah. Gw memang bukan pecinta kopi sejati dan tidak tahu jenis-jenis kopi secara detail tapi menurut gw rasanya hampir sama dengan rasa kopi yang ada di Vietnam. Maknyuuuusss… Love it!

Overall, gw merekomendasikan datang ke museum ini sebelum menjelajah Angkor Wat. Rasanya dengan menjelajah museum ini, kita sudah tidak perlu datang ke Angkor Wat,  penjelasan sejarah peradaban Khmer dan riwayat Angkor Wat sudah tergambar sangat baik di museum ini.

Sayangnya selama di museum ini, pengambilan foto dilarang, banyaknya petugas yang berjaga di setiap galeri serta CCTV yang disebar disetiap sudut hati membuat hati ciut juga kalau ingin curi-curi foto. Gak lucu kalau gw di deportasi hanya karena mencoba memfoto patung di museum ini. 😦

FYI, pihak museum juga menyediakan penyewaan Audio Tour Guide seharga 3 USD dengan pilihan bahasa English, French, German, Japanese, Chinese, Korean dan Thai. Sayangnya tidak ada pilihan bahasa melayu, ya mungkin penyebabnya karena pengunjung dari Malaysia atau Indonesia tidak sebanyak dari negara-negara lain. #inmyopinion

Angkor National Museum
Angkor National Museum
In front of Angkor National Museum
In front of Angkor National Museum
Inside of Angkor National Museum #1
Inside of Angkor National Museum #1
Inside of Angkor National Museum #2
Inside of Angkor National Museum #2
Inside of Angkor National Museum #3
Inside of Angkor National Museum #3
The coffee house
The coffee house
My Delicious coffee
My Delicious coffee ; 2 USD
Pangkalan tuk-tuk
Pangkalan tuk-tuk

Selesai berkeliling, kami keluar museum menuju tempat parkiran tuk-tuk. Diluar museum kami langsung disambut dengan teriknya matahari plus senyuman manis Bang Ratha. Yihaaaa…

Tujuan selanjutnya, mari kita memberi makan monster yang ada di perut.
Sesuai dengan rekomendasi sejuta blogger, kami akan mencoba makan siang berlabel halal di Muslim Family Kitchen. Mencoba makan di negara ini memang harus ekstra hati-hati karena hampir di semua restoran menyediakan menu yang mengandung babi. Restoran ini letaknya berseberangan dengan mesjid An-Nikmah jadi hal yang lumrah kalau banyak pemandangan lelaki berpeci dan wanita berjilbab wira-wiri disekitar restoran.

Kami memesan Beef Climbing Mountain (alias Daging lembu naik bukit yang terkenal itu), Fried Spicy Seafood dan Amok. Pertama kali yang keluar dari dapur adalah bahan masakan untuk Beef Climbing Mountain. Emmm… Keluarlah rasa penasaran, mau diapain nih daging dan sayur bersama kompor mini. Tak lama berselang, salah satu pegawainya memulai atraksi memasak. Prosesnya cukup gampang, masukan mentega, lumuri mentega ke semua area wajan, lalu masukan semua bahan masakan ke dalam wadah masak. Aduk-aduk sampai daging matang dan Voilaaa… Selesai!

Bagaimana dengan rasanya?
Banyak orang yang menulis kalau Beef Climbing Mountain ini top markotop dan a must food to try, tapi (entah kenapa) untuk kami rasanya tidak se-amaizing ituh. Rasanya ya standar saja! Untuk amok yang merupakan makanan ciri khas Kamboja rasa rempahnya terlalu menyengat di lidah kami. Hanya fried spicy seafood yang terasa enak sesuai dengan lidah kami. Oya, siang itu gw memesan kopi dan lagi-lagi rasanya kuat seperti kopi Vietnam tanpa meninggalkan kesan pahit di lidah gw. Top markotop deh kopinya!

Fyi, restoran ini buka dari 07.00 – 21.00, beralamat #069, Steung Thmei Village, Svaydangkum Commune, Siem Reap City, info lebih lanjut bisa klik di  http://www.muslimfamilykitchen.com/

Saat itu disekitar restoran banyak sekali mobil yang meramaikan jalan ditambah dengan pria-pria berbaju putih yang berjalan menuju mesjid. Kami lupa ternyata hari itu adalah hari jumat, jadi mesjid tampak ramai oleh para pria yang akan menunaikan ibadah shalat Jumat.

Selesai shalat Jumat, kami sempat bertemu dan berbicara dengan owner restoran ini. Bapak (muda) tersebut menanyakan asal usul kami dan seperti biasa, beliau menebak kami dari negara tetangga sebelah. Gw sih cukup maklum karena selama di SR hanya 2 kali kami bertemu dengan orang Indonesia. Kemudian beliau bercerita tentang asal usul nama makanan Beef Climbing Mountain yang ternyata nama menu tersebut diusulkan oleh seorang warga negara Malaysia. Kemudian perbicaraan berubah menjadi topik yang lebih berat, kami berbicara kehidupan muslim di Kamboja yang merupakan penduduk minoritas di negara tersebut.

Salah satu hikmah yang gw petik, bahwa kami harus bersyukur tinggal di negara yang mayoritas beragama Islam. Karena untuk mereka yang minoritas, mereka tidak mempunyai hari libur yang diberikan pemerintahnya pada hari-hari besar agama Islam. Kebayang gak sih kalau pas Hari Raya Idul Fitri kita tidak dapat tanggal merah dari pemerintah kita??? #bersyukurmenjadiwarganegaraIndonesia

Muslim Family Kitchen #1
Muslim Family Kitchen #1
Muslim Family Kitchen #2
Muslim Family Kitchen #2
Inside of Muslim Family Kitchen
Inside of Muslim Family Kitchen
Us
Us
The ingredients of
The ingredients of Beef Climbing Mountain
How to cook
How to cook Beef Climbing Mountain
Lembu
Beef Climbing Mountain ; 7 USD
Amok 4,5 USD ; Fried Spicy Seafood 3,5 USD
Left : Amok 4,5 USD ; Right : Fried Spicy Seafood 3,5 USD ; free rice

Selesai makan siang, kami beranjak menuju Banteay Srei. Kami kembali menyusuri tengah kota untuk menuju area Angkor Wat. Tempat yang pertama kali singgahi adalah tempat penjualan tiket Angkor Wat. Di loket akan banyak ditemui petugas yang sigap dan ramah dalam menghadapi pengunjung. Karena kami akan menjelajah Angkor Wat selama 2 hari, jadi kami membeli tiket 3 day pass seharga 40 USD. Ketika kita membeli tiket, akan ada kamera di depan kita, jangan lupa pasang pose dengan senyuman maut ya. 😛

Usai mendapatkan tiket (plus foto yang terpasang di tiket) kami naik tuk-tuk dan tidak lama dari loket akan ada pemeriksaan karcis. Tunjukan karcis dan mereka akan membolongi karcis tanda kalau kita sudah mengambil jatah satu hari dari 3 day pass.

Fyi, dengan adanya tiket day pass para pengunjung boleh masuk-keluar berkali-kali dari Angkor Wat area asalkan terhitung masih dalam satu hari. Contoh, pada hari ke dua di SR, kami berkeliling di Angkor Wat sejak pagi hari, kemudian pada siang hari kami makan siang dengan posisi restoran berada di luar area Angkor Wat (ditengah kota SR) dan sorenya kami kembali lagi ke Angkor Wat.

Ticket gate
Ticket booth
Map of Angkor Wat
Map of Angkor Wat

Perjalanan pun berlanjut…
Cuaca hari itu sangat panas dengan kelembaban tingkat tinggi. Bahkan dibeberapa area terlihat awan mendung menutupi langit. Fiuuuhh… *sibuk ngelap keringat*

Di awal perjalanan menuju Banteay Srei, disebelah kanan kiri jalan masih banyak terlihat pemandangan rumah-rumah, tempat makan dan rimbunan pohon-pohon dengan jarak yang rapat. Setelah 30 menit perjalanan, pemandangan disebelah kiri kanan mulai berganti menjadi pematang sawah…pematang sawah… rimbunan pohon…pematang sawah…pematang sawah dan pematang sawah. Kalau dilihat pemandangannya, kenapa berasa kayak Indonesia tahun 70an. Eits, Fyi, gw belum lahir ya di jaman itu! Gw hanya melihat fotonya dari buku Sejarah kok.. 😉

Ketika jalanan yang kami lalui mulai tampak sepi, mulai keluar pertanyaan dari kami.
” Ini kita gak nyasar kan ya? Kok makin lama makin sepi ini jalan? Kita gak dibawa kabur kan ya? ” 😛
Jawabannya, ” Ah, Ya sudahlah! Emang kita bisa ngapain lagi??? ”

Kami pun sempat berdiskusi topik yang sangat penting, apakah ada blog yang menulis lamanya perjalanan menuju Banteay Srei??? dan jawabannya tidak ada!!! Kalaupun ada yang membahas, berarti kita terlewat membacanya. 😛

Perjalanan menuju Banteay Srei terasa panjang. Awalnya kami masih ketawa-ketawa, diskusi gak penting hingga lama-lama terasa mulai mati gaya, dan akhirnya membuat gw jatuh tertidur dari setengah perjalanan. Apa daya ketika gw terbangun, Bang Ratha masih asyik sibuk mengendarai motornya. Sampai kapan perjalanan ini akan berakhir?!?!
@#^&$@!^)(^##@$!@#!$&^!@! *cari tissue,ngelap keringat*

Selang beberapa menit, didepan jalan sudah mulai terlihat keramaian tuk-tuk yang sedang berparkir, Bang Ratha memelankan kecepatan tuk-tuknya dan kemudian menepi di sebelah kiri jalan. Setelah memarkirkan tuk-tuknya, Bang Ratha tersenyum dan mengatakan kita sudah sampai.

Pertanyaan yang keluar langsung dari mulut gw adalah ” How far is the distance from the ticket booth to Banteay Srei?”
Dan dijawab , “40 km!”
Uke langsung menimpali, ” Ini sih jarak dari rumah gw ke kantor gw di kelapa Gading! ”
Dan 40 km itu ditempuh dalam waktu 70 menit dengan kecepatan tuk-tuk sekitar 50-60 km/jam!

Back to Banteay Srei!
Banteay Srei ini merupakan temple yang paling kecil di antara beberapa temple yang kami kunjungi. Yang membuat berbeda dari temple yang lain, temple di Banteay Srei didominasi dengan warna merah karena terbuat dari batu pasir berwarna merah. Untuk mengelilinginya tidak butuh waktu banyak, cukup satu jam karena memang tidak banyak yang bisa di eksplor. Karena siang (menuju sore) itu cuaca sangat panas dan kami mulai bermandi keringat, kami memutuskan tidak berlama-lama di Banteay Srei.

Sedikit curhat-colongan yaaa, saat itu cuaca di Banteay Srei sangat tidak bersahabat! Akibat kegalauan cuaca, yang dimulai dari mendung, hujan rintik-rintik dan kemudian matahari kembali bersinar membuat gw berpeluh keringat. Ditambah gw harus membiasakan diri memegang kamera secara manual, cahaya matahari yang over expose daaaannn posisi matahari yang tepat berada di depan kamera (alias back light), cukup memainkan emosi gw saat itu!

Hasil fotonya??? Amburadul pastinya! Entah cahaya over expose, posisi bangunan tidak simetris ataupun foto tampak blur. *take a deep breath*  *puk-puk bahu sendiri*  *menenangkan diri sendiri*

Note : Sedikit saran, kalau ingin menikmati Banteay Srei pilihlah perjalanan pada pagi hari. Selain cuaca masih bersahabat, badan masih segar-bugar serta cahaya matahari belum terik dapat menghasilkan foto terbaik di Banteay Srei.

In Khmer, Banteay Srei means the “city of women”, but this is a contemporary name probably deriving from a phonetic pronunciation of Banteay Sri, the ” auspicious city”, which is not the original name of the monument. Inscriptions discovered in the monument give its original Sanskrit name as ” Isvarapura “, the “city of Shiva”. Banteay Srei was a shivaita temple : the main idol located in the central sanctuary-tower was a linga, the phallic representation of Shiva.

Although small in size, Banteay Srei is one of the jewels of Khmer art due to the outstanding quality of its sculpted decor, carved from red sandstone. A single-storey structure, the complex of buildings making up Banteay Srei is organised on an east-west axis.

A place of worship, it was also pilgrimage site with the duty to provide hospitality. A representation of the celestial residence of the Gods modelled on Indian ideas, this temple was hierarchically organised. The central complex of the monument, at present accessible to tourist, must have been reserved to an elite, whereas the long walkway and its surrounding buildings to the east of the main complex were open to everyone.

Banteay Srei entrance
Banteay Srei entrance
Banteay Srei #1
Banteay Srei #1
Banteay Srei #2
Banteay Srei #2
Boundary of the entrance causeway
Boundary of the entrance causeway
Bantaey Srei #3
Bantaey Srei #3
Bantaey Srei #2
Bantaey Srei #4
Bantaey Srei #3
Bantaey Srei #5
Bantaey Srei #6
Bantaey Srei #6
Sanctuary tower (prasat) where one of the temple's divinities was located
Sanctuary tower (prasat) where one of the temple’s divinities was located
Guardian from the stairs of the central of complex
Guardian from the stairs of the central of complex
Left : Devata (female divinity) of the northern & southern towers ; Right : Dvarapala (guardian) of the central sanctuary tower
Left : Devata (female divinity) of the northern & southern towers ; Right : Dvarapala (guardian) of the central sanctuary tower
Foto keluarga ???
Foto keluarga ???
Pose manis
Pose manis
Hmmm...
Hmmm…
*Cetuk
*Cetuk
Bingung ngeditnya...
Bingung ngeditnya…

Sekembalinya di tuk-tuk, Bang Ratha menawarkan air mineral dingin beserta tissue basah dingin. Tanpa ba-bi-bu, kami tenggak habis air mineral yang diberikan, melap keringat dengan tissue basah, beristirahat sebentar di tuk-tuk dan melanjutkan perjalanan kembali.

Next destination is Phnom Bakheng!
Perjalanan dimulai kembali lagi dengan pemandangan pematang sawah, pematang sawah, pematang sawah dan pematang sawah. Lagi-lagi topik yang kami bicarakan berakhir di tidak adanya blog yang menceritakan secara detail berapa lama perjalanan dari Banteay Srei menuju Phnom Bakheng. Sesuai request ke tiga-ibu-ibu-teman-ngetrip, gw akan mencoba menuliskan secara detail perjalanan menuju Phnom Bakheng yang tidak tertulis di blog orang-orang.

Total perjalanan yang dibutuhkan dari Banteay Srei menuju Phnom Bakheng adalah 50 menit. Sesampainya di Phnom Bakheng, sudah tampak keramaian tuk-tuk yang melebihi keramaian tuk-tuk di Banteay Srei. Kami ditunjukan arah jalan menuju Phnom Bakheng oleh Bang Ratha.

Huppp, kami turun dan mulai melanjutkan dengan berjalan kaki.
Yang tidak tercatat di blog orang itu adalaaaahhh kami harus berjalan kaki dengan kondisi menanjak dengan kemiringan 40-50 derajat untuk sampai ke Phnom Bakheng. Lumanyuuuunnn kan tuhhh?!?!?!?!

Dengan sisa tenaga yang ada, luapan emosi akibat tidak adanya blog yang bercerita harus berjalan menanjak dan tidak maunya kami disalip oleh turis-turis bule (padahal sih lebih sering kesalip tuh) membuat kami (terpaksa) berjalan dengan ritme sedang dalam waktu tempuh 10 menit sajah! *urut betis*

Sesampainya di Phnom Bakheng, tampak antrian turis-turis untuk menuju puncak temple. Kami mengikuti alur antrian yang ada dan untuk sampai di atas temple, dibutuhkan 10 menit saja. Sesampainya di atas temple, weeeewww…banyak bener ini orang-orang! Ini sih bikin gw ngedrop, mau foto orang atau mau foto sunset????

Phnom Bakheng adalah salah satu spot terbaik untuk melihat sunset. Temple ini mempunyai sejarahnya tersendiri, namun dengan melihat kondisi temple yang sedang dalam renovasi dan banyaknya turis membuat Phnom Bakheng tidak tampak terlihat seperti temple. Menurut gw, temple ini hanya di anggap sebagai tempat untuk melihat sunset. Namun dari atas Phnom Bakheng, kita bisa melihat pemandangan di sekitar Phnom Bakheng tanpa adanya gangguan pandangan, bahkan kita bisa melihat Angkor Wat komplek. Fyi, tangga naik menuju temple Phnom Bakheng akan ditutup pukul 17.30.

Ketika matahari mulai terbenam dan turis-turis mulai sibuk mengabadikan sunset, gw lebih memilih berkeliling temple. Alasan utamanya sih karena malas bersaing dengan bule-bule yang mempunyai tinggi badan di atas gw dan ditambah gw tidak punya kemampuan memfoto sunset, sepertinya gw tidak punya pilihan lain bukan?!?!

Pada pukul 18.00, disaat Phnom Bakheng tutup kami pun beranjak menuruni tangga temple. Tidak adanya penerangan selama menyusuri jalan yang menurun cukup membuat kami kesulitan. Mendengar hentakan kaki orang-orang yang berjalan cepat malah semakin menambah rasa terintimidasi ditengah kegelapan. Akhirnya keluarlah senjata pamungkas yaitu senter dari handphone!

Note : Berhubung tempat ini sangat penuh dengan orang yang mengejar sunset, jika ingin mendapatkan spot terbaik untuk sunset datanglah ke lajur awal pendakian Phnom Bakheng sebelum jam 16.30 sore. Dengan standar rata-rata kecepatan orang berjalan, pukul 17.00 kamu sudah tiba di atas temple. Posisi sunset, akan berada disebelah kiri dari tangga temple (itupun kalau tangganya tidak berubah ya 😛 ). Oya, jangan lupa gunakan sepatu yang nyaman untuk digunakan selama mendaki serta sediakan minum untuk mencegah dehidrasi!

Phnom Bakheng is located 1,30 meters (4,265 feet) north of Angkor Wat and 400 meters (1,312 feet) south of Angkor Thom. Enter and leave Phnom Bakheng by climbing a long steep path with some steps on the east side of the monument (height 67 meters, 220 feet) In the 1960 this summit was approached by elephant and, according to a French visitor, the ascent was “a promenade classic and very agreeable

Arrive at the summit just before sunset for a panoramic view of Angkor and its environs. The golden hues of the setting sun on this vista are a memorable sight. When Frenchman Henri Mouhot stood at this point in 1859 he wrote in his diary: ‘Steps.. lead to the top of the mountain, whence is to be enjoyed a view so beautiful and extensive, that it is not surprising that these people , who have shown so much taste in their buildings, should have chosen it for a site.

It is possible to see: the five towers of Angkor Wat in the west, Phnom Krom to the southwest near the Grand Lake, Phnom Bok in the northeast, Phnom Kulen in the east, and the West Baray.

Phnom Bakheng was built in late ninth to early tenth century by King Yasovarman dedicated to Siva (Hindi).

SYMBOLISM

The number of towers at Bakheng suggests a cosmic symbolism. Originally 109 towers in replica of Mount Meru adorned the temple of Phnom Bakheng but many are missing. The total was made up of five towers on the upper terrace, 12 on each of the five tiers of the base, and another 44 towers around the base. The brick towers on the tiers represent the 12-year cycle of the animal zodiac. Excluding the Central Sanctuary, there are 108 towers, symbolizing the four lunar phases with 27 days in each phase. The levels (ground, five tiers, upper terrace) number seven and correspond to the seven heavens of Hindu mythology.

TOP LEVEL

Five towers are arranged like the dots on a die. The tower in the middle contained the linga. It is open to all four cardinal points. The other four sanctuaries on the top level also sheltered a linga on a on a pedestal and are open on two sides.

The evenly spaced holes in the paving near the east side of Central sanctuary probably held wooden posts, which supported a roof. The Central Sanctuary (10) is decorated with female divinities under the arches of the corner pillars and Apsaras with delicately carved bands of foliage above; the pilasters have a raised interlacing of figurines. The Makaras on the tympanums are lively and strongly executed. An inscription is visible on the left-hand side of the north door of the Central Sanctuary.

http://www.tourismcambodia.com/attractions/angkor/bakheng-mountain.htm

Let's hiking, girls!
Let’s hiking, girls!
Jalur datar yang tampak berdebu
Jalur menuju Phnom Bakheng yang tampak berdebu
mendaki kembali
mendaki kembali
Queque
Queque
Jalur tangga menuju Phnom Bakheng
Jalur tangga menuju Phnom Bakheng
Any comments ???
Any comments ???
View from Phnom Bakheng #1
View from Phnom Bakheng #1
View from Phnom Bakheng #2
View from Phnom Bakheng #2
View from Phnom Bakheng #3
View from Phnom Bakheng #3
View from Phnom Bakheng #4
View from Phnom Bakheng #4
Phnom Bakheng
Phnom Bakheng
Phnom Bakheng tampak dari bawah
Phnom Bakheng tampak dari bawah
Yeaaayyyy... Uke sukses memfoto sunset!!!
Yeaaayyyy… Uke sukses memfoto sunset!!!
The best sunset at Phnom Bakheng !
The best sunset at Phnom Bakheng !

Sesampai di bawah, kami sempat bingung bagaimana cara menemukan Bang Ratha di dalam penerangan minimalis bermodalkan sinar lampu dari mobil dan motor yang lewat. Kami susuri jalan  sambil sibuk menengok kanan kiri mencari Bang Ratha. Selang beberapa menit kemudian, tampak Bang Ratha melambaikan tangannya di depan kami. Rasa senang, lega dan bahagia bertemu Bang Ratha itu seperti bertemu dengan pacar, deg-degan-nya itu loh yang bikin gak nahan!!!! *blushing* Ya habis, daripada deg-degan nyasar gak bisa pulang, di negara orang pula! 😛

Kami mulai melanjutkan perjalanan menuju hotel dengan tingkat kepadatan cukup tinggi dikarenakan cukup banyaknya volume kendaraan yang keluar bersamaan dari Angkor Wat. Waktu yang ditempuh kurang lebih 30 menit. Sesampai di hotel, kami hanya meletakan barang-barang dan kemudian berniat mencari makan malam di daerah Old Market atau di Angkor Night Market dengan berjalan kaki.

Dikarenakan kami tidak bertemu dengan restoran berlabel halal di sekitar Old Market, akhirnya kami berjalan menuju Angkor Night Market. Di Sivatha Boulevard dan berdekatan dengan perempatan menuju Angkor Night Market, kami menemukan restoran India bernama Namaste (Taste of India) yang berlabel halal. Alamat lengkapnya yaitu #B 109, Sivatha Blvd, Siem Reap, Phone 063 969 109. Sempat bingung dalam memutuskan jenis makanan yang akan kami pilih. Dan hasilnya adalah sebagai berikut…

our dinner at Namaste (taste of India)
our dinner at Namaste (taste of India)

Usai makan, kami akan menikmati kemeriahan pasar malam hari di Angkor Night Market. Niatnya hari ini kami hanya akan survei harga untuk eksekusi esok hari. Kenyataannya malah lebih banyak belanja di hari pertama daripada hari kedua. Hehehe… Apa daya niat hanya tinggal seonggok niat, terkalahkan oleh naluri belanja dan insting menawar ibu-ibu! Untuk cerita oleh-olehnya akan gw gabungkan dengan postingan selanjutnya ya. 😉

Selesai berbelanja, kami berjalan kaki menuju hotel dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 10 menit. Sesampai di hotel, kami langsung berpisah menuju kamar masing-masing. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan kasur dan bantal.

Nite..Nite.. 🙂

Advertisements

5 thoughts on “[Kamboja] Day 2 – Siem Reap : Angkor National Museum, Banteay Srei, Phnom Bakheng & Angkor Night Market

  1. Halo Vika,

    Rencananya gw akan ke Siem Reap bulan Mei ini & Banteay Srei masuk dlm tujuan kami. Berhubung gw akan pergi bareng suami & anak gw yg masih setahun, perjalanan menuju Banteay Srei yg sekitar 70 menit itu gimana kondisi jalannya ya? Berangin kencang kah? Berdebu kah? Lalu jalanannya mulus ga ya? Krn sepertinya kami harus sewa mobil untuk ke Banteay Srei klo kondisi jalannya terlalu berat untuk si bocah. Thanks ya.. 🙂

    1. Hi, Vinna!
      Semua Kondisi jalan di SR terbilang beraspal mulus, include menuju Banteay Srei. Saat itu menuju banteay srei tdk terlalu berdebu mgkn krn posisi candi ini terbilang cukup jauh. Tapi dgn membawa anak brumur satu tahun yang cenderung aktif, gw sarankan sewa mbl saja. Ada kmgkn kondisi angin berhembus di tuk2 cenderung membuat anak kecil mudah tertidur sdgkn kondisi tempat duduk tuk2 yang tidak terlalu lebar sepertinya tdk memungkinkan anak bs tdr dgn nyaman.
      Have a nice trip!

      1. Oke, klo gitu gw akan sewa mobil. Btw, Vika ada alamat email yg bisa gw hubungi ga? Mau tanya2 tentang trip Siem Reap-nya lebih detil. Thanks before..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s