[Wonderful Indonesia] Teluk Kabui, Raja Ampat

Pemandangan dari Bukit Pangaihu #3
Raja Ampat

Pada tahun 2014, penyelenggaraan “Sail” yang rajin diadakan tiap tahun di Indonesia akan berlokasi di Raja Ampat, Papua Barat. Kantor (baca:Direktorat) gw yang berurusan secara langsung dengan tenaga medis, ikut turun langsung untuk acara ini. Yaaa….Secara gw belum pernah kesana dan biaya perjalanan menuju Papua Barat itu sakitnya disini *tunjuk dompet*, harap-harap cemas dan berharap (tingkat tinggi) bisa ikut serta dalam acara ini.

Persiapan acara ini sudah dimulai dari akhir tahun 2013, rencana awal Sail Raja Ampat 2014 akan berlangsung di bulan Juni 2014 namun berhubungan saat itu negara tercinta(h) ini akan melakukan Pemilihan Umum dan efisiensi anggaran dimana-mana, akhirnya Sail Raja Ampat 2014 baru dapat dilaksanakan pada bulan Agustus 2014. Persiapan mulai diperkuat, pergantian nama yang akan ikut tim Sail Raja Ampat pun diperkuat juga alias gonta-ganti nama. Gw tidak berharap banyak bisa ikut serta tim Sail Raja Ampat, hanya bisa pasrah, maklum deh namanya juga anak bawang ya. Hingga sebulan sebelum hari H, gw bisa bernafas lega seiring dengan tercantumnya nama gw di tiket pesawat Jakarta-Ujung Pandang-Sorong. Alhamdulillah, rejeki anak shalehah itu gak kemana…

…..
[ Hari pelaksanaan Sail Raja Ampat 2014 ]
…..

Sehari setelah acara puncak Sail Raja Ampat 2014, kami hanya punya waktu sehari untuk bisa mengeksplor Raja Ampat. Emmm… Lebih tepatnya hanya 8 jam karena pada pukul 14.00 hari itu juga kami akan kembali ke Sorong. Ada 2 opsi yang ditawarkan oleh travel untuk mengeksplor gugusan pulau di Raja Ampat. Untuk menuju tempat dimana pemandangan yang sering kita lihat di gambar-gambar Raja Ampat, yaitu Wayag, harga yang dipatok untuk sewa kapal sebesar 7 juta rupiah sedangkan untuk menuju daerah yang tidak terlalu jauh yaitu Teluk Kabui mereka meminta 4,5 juta rupiah. Harganya fantasitik dan bombastis yah??!! *ngitung sisa recehan* Karena tidak punya pilihan lain, kami memilih option berlayar menuju Teluk Kabui.

Karena adanya badai di Philipina yang ikut mempengaruhi cuaca di Raja Ampat, dalam beberapa hari cuaca di atas Waisai (ibukota Raja Ampat) memang sangat tidak bersahabat. Awan kelabu, angin dan hujan silih berganti mendominasi Waisai. Pagi itu walau matahari tidak menampakan kehangatannya, kami sudah sampai di dermaga kapal dengan semangat ’45 siap mengarungi laut. Walau tidak ada acara perkenalan antara sang nahkoda dan asistennya kepada kami *apa seh???* ,kapal kecil ini (yang bisa menampung 10-12 orang) mulai berjalan meninggalkan dermaga.

Dermaga
Dermaga
Team penerjang ombak
Team penerjang ombak
Our boat
Our boat

Daaaannnn perjalanan horor pun dimulai…
Ketika kapal perlahan-lahan memasuki muara antara sungai dan laut, kapal mulai terasa oleng ke kanan dan ke kiri. Hantaman ombak yang semakin lama semakin tinggi makin membuat kapal menjadi oleng. Dua teman perempuan gw mulai berbicara berceloteh panjang lebar karena ketakutan dengan tingginya ombak, sedangkan para pria tidak banyak berbicara, hanya tersenyum pasi dan gw mulai pusing dengan hantaman ombak. Hantaman ombak saat itu memang dahsyat, sang nahkoda harus pintar-pintar mencari jalan untuk tidak melawan arus atau rasanya akan seperti naik kora-kora. Naaaiiiik ke atas ombak dan kemudian “Baaammmm…”, terhempas ke dalam ombak. Karena faktor ombak, yang normalnya perjalanan menuju Teluk Kabui ditempuh 45-60 menit, harus kami tempuh selama 75-90 menit.

Teluk Kabui berada di sekitar Pulau Waigeo dan Pulau Gam, Raja Ampat. Sesampai di dalam teluk ini, arus laut berbanding terbalik seperti diluar sana, tidak ada ombak, yang ada hanya aliran laut tenang. Kapal kemudian berbelok menuju pos penjagaan. Kami harus lapor ke pos ini dan membayar Rp. 200.000 untuk sekali perjalanan. Setiba di pos, pemandangan bawah laut terlihat jelas dan pantulan warna biru yang memantul tampak menakjubkan. Gw hanya berpikir jika saat itu cuaca cerah pastinya pemandangan disini akan lebih menakjubkan.

Karena sang penjaga pos yang tidak menampakan hidungnya, akhirnya kami kembali menyusuri laut. Kami yang didalam kapal sudah mulai sibuk mengabadikan keindahan gugusan pulau dengan gadget masing-masing. Kapal kemudian berlabuh ke dermaga kecil di salah satu gugusan bukit. Tanpa komando, kami segera naik ke dermaga, foto-foto narsis dan menyempatkan diri untuk memberi remahan kue ke ikan-ikan yang berenang di bawah dermaga. Di saat itu kami dihampiri oleh sebuah perahu kecil yang mengaku penjaga di pos penjaga sebelumnya yang tidak berpenghuni dan kami mengeluarkan uang Rp. 300.000 untuk biaya masuk ke area teluk.

Pemandangan di sekitar pos penjagaan
Pemandangan di sekitar pos penjagaan
Let's sailing
Let’s sailing
Teluk Kabui #1
Teluk Kabui #1
Teluk Kabui #2
Teluk Kabui #2
Teluk Kabui #3
Teluk Kabui #3
Dengan background Teluk Kabui
Dengan background Teluk Kabui
Teluk Kabui #4
Teluk Kabui #4
Teluk Kabui #5
Teluk Kabui #5

Selesai berpuas bermain di dermaga, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kami akan ke mencoba mengambil pemandangan gugusan pulau dari atas Bukit Pangaihun. Walau tidak bisa mampir ke Wayag atau Pianemo, kami ngotot untuk bisa singgah ke Bukit Pangaihun. Sampai di pinggir pantai, kami ditemani oleh bapak penjaga pos yang saat itu merangkap menjadi pemandu jalan. Untuk sampai ke atas Bukit Pangaihun kami harus naik tangga yang berdiri secara tegak lurus dan kemudian dilanjutkan dengan mendaki.

Susunan peserta pecinta alam yang pertama kali naik tangga adalah Pak Nova, Pak Agus, gw, Mbak Dewi dan Pak Adi. Di awal pendakian, Mbak Dewi langsung meminta turun yang akhirnya mengharuskan Pak Adi ikut berbalik arah turun dan tidak melanjutkan perjalanan. Gw yang tersisa di belakang mulai mendaki pelan-pelan. Jangan membayangkan mendaki dengan jalan yang okeh yah?!?!?! Kami menanjak bukit dengan kemiringan kurang lebih 70-80 derajat, gw berjalan dengan merangkak mencari pegangan dengan apapun yang bisa gw pegang (entah dengan batu ataupun ranting pohon), ditambah dengan jalan setapak yang penuh dengan batu-batu yang runcing serta kerikil yang berjatuhan sempat membuat gw berniat untuk kembali berbalik turun. Gw hanya berpikir kalau memang saat itu gw jatuh akibat mendaki bukit dan akhirnya pass away, mungkin itu memang sudah waktunya. *lebaaaayyyy* :mrgreen:
Ketika gw bilang pengen balik, gw akhirnya malah disemangati oleh Pak Pemandu untuk tetap mendaki. Pak Pemandu ini berjalan menghampiri gw dan kemudian mulai menuntun gw untuk mendaki. Kenapa gw tidak berpikir dari tadi ya???? *tepok jidat*
FYI, disepertiga perjalanan karena gw tidak yakin dengan sepatu karet gw, akhirnya sepatu gw tinggalkan di jalan dan kemudian gw berjalan menyeker hingga sampai di atas bukit.
Lesson & learn : gunakan sepatu gunung untuk membantu kelancaran mendaki bukit ini. Hehehe…

Setiba diatas bukit, semua derita, suka duka dan jerih payah terbayar dengan pemandangan yang gw dapatkan. Walaupun awan kelabu masih mendominasi, buat gw pemandangan saat itu sudah tampak cantik. Hanya bisa berandai-andai, jika cuaca cerah, rasanya pantulan awan dan birunya laut akan mendominasi pemandangan. Pada akhirnya gw hanya bisa mensyukuri sudah sampai di Bukit Pangaihun, mungkin ini jalan dari Allah agar gw bisa kembali ke tempat ini suatu saat nanti. Aamiin.
Usai berfoto-foto, kami kembali ke bawah dengan mengarungi keterjalan jalan yang menurun. Perjalanan menuruni bukit ini sama susahnya dengan mendaki karena jika salah menapak, bisa-bisa kami jatuh tergelincir.

Pemandangan dari Bukit Pangaihu #1
Pemandangan dari Bukit Pangaihu #1
Pemandangan dari Bukit Pangaihu #2
Pemandangan dari Bukit Pangaihu #2
Pemandangan dari Bukit Pangaihu #4
Pemandangan dari Bukit Pangaihu #3

Kapal mulai beranjak lagi menuju spot selanjutnya, yaitu Goa Tengkorak dimana masih terlihat adanya sisa-sisa tengkorak manusia dan kemudian menuju Goa Kelelawar. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama singgah, karena kami harus segera kembali ke Waisai. Perjalanan menuju Waisai kembali ditempuh dengan terjangan ombak yang rasanya aduhai. Kami yang awalnya duduk tersebar berjauh-jauhan mulai merapatkan diri menuju bagian depan kapal sehingga tidak terkena cipratan air laut dan tepat pukul 12 siang kami sudah tiba di dermaga Waisai.

Goa tengkorak #1
Goa tengkorak #1
Goa tengkorak #2
Goa tengkorak #2 ; hayo tebak dimana posisi tengkoraknya??

IMG_0937

Goa Kelelawar #1
Goa Kelelawar #1
Goa Kelelawar #2
Goa Kelelawar #2
Goa Kelelawar #3
Goa Kelelawar #3
Flying with Bombardir Plane *exciting*
It was my 1st time to fly with Bombardir Plane *dancing*
cuaca cerah ketika kami akan kembali ke Jakarta *manyun*
cuaca cerah ketika kami akan kembali ke Jakarta *manyun*

IMG_0984

IMG_0988

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s