Food Traveling – Sup Durian Margando & Daebak

Setelah half day trip ke Bogor, sore harinya gw berencana hunting makanan dengan Ibu Bankir, Uke, disekitar Depok. Berhubung kami berdua termasuk maniak durian, kami sempat menanyakan ke beberapa teman untuk menanyakan rasa Sop Durian Margonda (yang ternyata namanya adalah Sop Durian Margando) dan terkenal enak seantero kota Depok. Janjian bertemu dengan Uke jam 5, kami langsung bertemu di tempat Sop Durian Margando. Posisinya berada di Jl. Margonda Raya No. 1, tidak jauh dari lampu merah Ramandha dan sejajar dengan terminal Depok. Patokannya cukup melihat banyak motor yang parkir dan tidak jauh dari Bapak-Bapak polisi bertugas.. πŸ™‚

Warung ini sepertinya sudah mengalami perluasan karena seingat gw biasanya para pembeli harus duduk di sekitar trotoar warung, namun saat ini para pembeli bisa duduk di dalam warung. Untuk memesan, kami harus antri ke kasir, langsung request jenis sop durian yang akan dipesan, bayar pesanan, kemudian menunggu panggilan nomor antrian yang tertera di bon pembayaran. Kami awalnya sempat bingung mau pesen jenis sop durian yang mana, informasi dari mbak kasir, doski merekomendasikan Sop Durian Original, akhirnya gw mengikuti saran Mbak kasir dengan memesan Sop Durian Original sedangkan Uke memilih mencicipi Sop Durian Ketan.

Setelah duduk mojok, kami mulai mencoba sop durian. Dari segi rasa, sop durian ini terasa enyaaakkk (read:enak). Namun dikarenakan sudah tidak memasuki musim durian, rasa duriannya memang tidak terlalu manis, tapi dari segi kematangannya lumayan okeh dan tetap terasa manis. Kalau dari testimoni Uke, kuah sup durian ini dianggap terlalu banyak, tapi kalo menurut gw tetep oke lah, secara gw menikmati sup durian ini dengan tenang. πŸ˜€ Memang kami tidak bisa berlama-lama duduk disini, karena disini tidak disediakan meja dan para pengunjung terus berdatangan sehingga kami harus tahu diri untuk bergantian duduk.

Sup Durian Margando
Sup Durian Margando
Inside of Sup Durian Margando
Inside of Sup Durian Margando
Left: Sup Durian Original Right : Sup Durian Ketan
Left: Sup Durian Original ; Rp. 11.000
Right : Sup Durian Ketan ; Rp. 9.000

Dari Sop Durian Margando, kami berlanjut hunting makan makanan berat, alias dinner. Beberapa hari sebelumnya, Uke sempat memberikan option makanan Arab atau makanan Korea. Berhubung gw sedang penasaran dengan makanan Korea, tanpa ragu-ragu gw memilih makanan Korea. Kami memilih restoran Korea bernama Daebak yang mempunyai label halal. Oya, Miss Uke sudah selesai memblogging cerita Daebak loh..

Daebak !
Daebak !

Lokasi Daebak ini berada di Jl. Margonda Raya No.239, yang berada di seberang Perumahan Pesona Khayangan. Masuk ke dalam Daebak, langsung terasa panas karena ternyata di lantai pertama ini adalah dapur. Jika kita ingin makan ataupun take away bisa langsung ke lantai dua, sedangkan lantai tiga merupakan kantor staf dan mushalla.

Di lantai 2 ini terdapat 2 ruangan, yaitu ruangan Hongdae room dan Bukchon room. Pertama kali kita masuk di lantai dua, kita langsung bertemu dengan Hongdae room. Hongdae room ini terasa meriah dan ‘happening’ karena berisi dengan poster-poster boyband – girlband Korea, tempelan post it warna-warni yang di tulisi oleh pengunjung Daebak, serta terdapat televisi yang menayangkan video klip musik girlband – boyband Korea. Di Bukchon room sangat terasa aksesorisnya tidak seramai seperti di Hongdae room, hanya terdapat gambar-gambar pemandangan alam dan kuil di Korea,Β  serta terdapat televisi yang sedang menayangkan serial drama Korea.

Hongdae Room #1
Hongdae Room #1
Hongdae Room #2
Hongdae Room #2
Hongdae Room #3 ; Infinite nih..
Hongdae Room #3 ; Infinite nih..
The menu
The menu
Saranghae oppa!
Saranghae oppa! ; Marry me, Oppa!

Waktunya memesan makanan..
Menu yang tersedia memang tidak terlalu banyak, terdapat pilihan sup, nasi, noodles, snack dan minuman. Untuk informasi detail makanan tersebut bisa dilihat di blog Miss Uke ya, maklum saiah kan penikmat makan sejati yang hanya tau rasa enak dan enak banget. Berhubung gw sedang mengikuti serial ‘When a man falls in love’ yang banyak menyajikan menu Sundubu Jjigae alias sop tahu, gw tertarik mencoba memilih menu ini dan Korean Tea rasa Peach, sedangkan Uke memesan Kimbab dan Korean Tea rasa Apple.

Sambil menunggu pesanan datang, kami sempat mengomentari pria dan wanita di Korea sana. Untuk kaum hawa-nya memang mempunyai body-body aduhai, kaki jenjang, muka mulus luar binasa (entah itu mereka hanya memakai BB Cream ataupun memakai dempulan berlapis-lapis) dan gaya berpakaian yang sangat stylish. Sedangkan untuk kaum adam, kalau versi Uke mereka itu cantik (bukan ganteng!) karena selain muka mereka yang kece-badai dan berhidung mancung, kebanyakan untuk para pekerja memakai Jas Hitam (and it looks fit in their bodies *lap iler* ) dan untuk para pelajar atau mahasiswa mereka berpakaian sesuai dengan trend saat itu. Satu hal yang bikin drop, aslinya mereka (terkadang) mempunyai bau badan yang khas. Ketika gw naik Subway di negara aslinya, bau badan ini sangat terasa dan bahkan gw harus mengurangi frekuensi nafas untuk tidak terlalu banyak menghirup bau ini *gak kuat sama baunya, Ciiinnn 😦 * . Selidik punya selidik, menurut diskusi panjang antara gw dan teman kantor gw, bau ini disebabkan karena mereka suka sekali memakan bawang putih mentah untuk kesehatan.

Our dinner ; Sundubu Jjigae Rp. 34.545 ; Kimbab Rp. 26.363
Our dinner ; Sundubu Jjigae Rp. 34.545 ; Kimbab Rp. 26.363
My Korean Tea Peach Rp. 16.363
My Korean Tea Peach Rp. 16.363

Sundubu Jjigae ini terdiri dari sop tahu (yang berjenis tofu) dan beberapa daging dengan kaldunya yang spicy. Rasanya ??? Standar lah, sesuai ko dengan harganya. Kalau kata Uke, menu ini sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, karena kalau rasa aslinya di negara Korea sana itu gak ada rasa. Ckckckck… Mereka hidup sehat sekali ya ?!?!?!?!?! Kalau Kimbab yang Uke pesan hanya berisi sayuran, rasanya hampir sama dengan sushi roll makanan khas Jepang yang berisi sayuran. Untuk rasa Korean Tea, terasa pas manisnya di lidah.

Selama kami makan di Daebak, yang berkunjung memang kebanyakan anak sekolah ataupun anak kuliah dengan gaya gahol. Di beberapa meja, gw sempat melihat banyaknya gelas yang sudah mereka minum melebihi jumlah orangnya yang ada di meja tersebut. Sebenernya menurut gw tempat ini memang asyik untuk kongkow, atmosfir dan dekorasinya cukup membuat nyaman, apalagi untuk pecinta K-Pop, tapi berhubung AC disini cenderung tidak dingin (alias panas) gw cukup menghargai usaha mereka untuk tetap stay disini dengan banyak minum untuk menghindari dehidrasi, sedangkan gw mulai sibuk mengeluarkan tisue. Selesai menghabiskan makan malam, gw segera menunaikan ibadah shalat magrib di lantai 3 (dan ternyata di lantai ini terasa lebih panas karena tidak tersedia AC), paid the bill and back to home,bebih!

Me and Uke
Me and Uke
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s