[Macau] Day 3 – One day trip at Macau

October 13, 2013

Macau…. !!!!
Yes, finally my dream came true!
Gw selalu penasaran dengan negara kecil yang kaya ini, terutama dengan bangunan-bangunannya yang bergaya Eropa.
Di trip tahun 2011, bos menolak memasukan Macau ke dalam itinerary dengan alasan yang dilihat hanya casino, ” Memangnya kita mau main judi di Macau? ” πŸ˜€ dan menolak Disneyland dengan alasan ” Itu kan tempat mainannya anak kecil ” :))
So, tujuan utama gw kembali ke HK sebenarnya ya untuk melihat pesona Macau.. πŸ™‚

Macau – terletak di tepi barat Sungai Pearl Delta di selatan Provinsi Guangdong, Cina – bersebelahan dengan kota Daratan Zhuhai dan terletak sekitar 60 kilometer di sebelah timur Hong Kong. Macau terdiri dari Macau Peninsula, Taipa dan kepulauan Coloane. Macau Peninsula adalah pusat dari wilayah tersebut dan terhubung ke Pulau Taipa oleh tiga jembatan jalan. Beberapa resort hotel besar internasional – dengan infrastruktur pendukung baru – yang terletak di tanah reklamasi antara Taipa dan Coloane di distrik baru yang dikenal sebagai Cotai.

Bangsa Portugis tiba dan menetap di Macau pada pertengahan abad ke-16. Dengan demikian, arsitektur kota, seni, agama, tradisi, makanan dan masyarakat mencerminkan integrasi budaya Cina, Barat dan Portugis. Macau menjadi Daerah Administratif Khusus Republik Rakyat China pada tanggal 20 Desember 1999 dan menjadi wilayah otonomi tinggi di bawah prinsip ‘Satu negara, dua sistem “. SAR kecil tumbuh seiring perkembangan bangunan di tanah reklamasi, dan dalam jumlah dan keragaman atraksinya. Pada tahun 2005, Pusat Sejarah Macau yang tertulis di Daftar Warisan Dunia UNESCO sebagai hasil dari lanskap yang unik sejarah dan budaya. Macau saat ini memposisikan diri sebagai Pusat Dunia Pariwisata dan Kenyamanan karena berkembang menjadi tujuan wisata bertaraf internasional.

Total penduduk diperkirakan berjumlahΒ 598,200 . Sekitar 94% merupakan etnis Cina, dari berbagai provinsi, seperti Guangdong dan Fujian. Sisanya 6% termasuk Portugis dan bangsa lainnya. Bahasa Cina dan Portugis merupakan bahasa resmi, dengan dialek Canton yang paling umum dipergunakan. Bahasa resmi digunakan pada instansi pemerintah dalam seluruh dokumen resmi dan komunikasi. Bahasa Inggris umumnya digunakan dalam perdagangan, pariwisata dan bisnis.

http://id.macautourism.gov.mo/index.php

Jam 7 pagi kami sudah berjalan kaki menuju Hong Kong China Ferry Terminal yang memakan waktu kurang lebih 20 menit. Bagaimana cara menuju HK China Ferry Terminal ??? Dari hotel gw yang berlokasi di Mirador Mansion, gw tinggal menyusuri Haiphong Road yang berdampingan dengan Kowloon Park. Posisi Kowloon Park berada di samping Masjid Kowloon, Masjid yang tampak dari pinggir jalan Nathan Road dan Tsim Sha Tsui station (exit A2 atau D1). Dibeberapa blog ada yang menginformasikan untuk menuju HK China Ferry Terminal dengan melewati bagian dalam dari Kowloon Park, namun untuk meminimalisirkan tersesat, gw prefer menyusuri Haiphong Road, hingga bertemu dengan pertigaan jalan, gw menyebrang dan kemudian belok kanan. Gw berjalan lurus kembali hingga bertemu dengan HK China Ferry Terminal yang posisinya berada di sebelah kiri jalan. Oya, patokan gw waktu itu menemukan HK China Ferry Terminal adalah dengan banyaknya orang yang lalu lalang masuk ke dalam gedung, dimana di pagi hari itu gedung-gedung (dan mall-mall) disekitarnya belum menunjukan tanda buka.

Sesampai di HK China Ferry Terminal kami naik ke lantai 2 dan tampak counter yang menjual berbagai macam jenis ferry menuju Macau. Kami mencari jadwal pemberangkatan terdekat tapi jangan lupa perhitungkan waktu selama di imigrasi HK ya. Pilihan pun akhirnya ke Turbo Jet dengan kelas ekonomi seharga 175Hkd. Ferry ini hampir sama seperti ferry Batam-Singapura, tampak bersih serta nyaman. Jam 8 tepat ferry meninggalkan pelabuhan untuk menuju Macau dengan waktu tempuh selama 1 jam.

Inside of Hong Kong China Ferry Terminal
Inside of Hong Kong China Ferry Terminal
Inside of Turbo Jet
Inside of Turbo Jet
The ticket
The ticket

Sesampai di Macau Ferry Terminal, kami menuju Free Shuttle Bus yang berada di seberang jalan dengan melewati lorong bawah tanah. Tampak berbagai macam pilihan free shuttle untuk menuju tempat yang diinginkan. Karena tujuan pertama kami ingin menuju tempat gondola maka kami memilih The Venetian. Perjalanan dengan bis berwana biru ini memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sepanjang perjalanan bisa kita lihat bangunan-bangunan megah kasino yang menarik mata (dan mata uang pastinya)..

Free shuttle direction
Free shuttle direction
Free shuttle option
Free shuttle option
The Venetian shuttle
The Venetian shuttle
Macau view #1
Macau view #1
Macau view #2
Macau view #2
Macau view #3
Macau Tower

Sesampai di The Venetian suasana interior yang klasik dan elegance tampak terasa kental. Ketika kami memasuki level 1 The Venetian, mulai tampak kasino yang ditutupi pembatas dan dijaga petugas keamanan. Kami naik eskalator menuju level 3 dan dari eskalator ini tampak jenis-jenis permainan judi yang sering gw liat di tivi. And, it’s real!!! πŸ˜‰

Memasuki level 3, mulai tampak toko-toko menjajakan barang-barang branded. Lumayan lah untuk cuci mata walaupun gw juga gak begitu tertarik juga sih. Di level 3 ini dihiasi pemandangan (buatan) awan biru di langit-langit gedung yang tampak terasa kontras dengan toko-toko disekitanya. Canal dan gondola yang di parkir mulai terlihat. Setelah menyusuri canal, kami tertarik masuk ke toko souvenir. Toko ini adalah satu-satunya toko yang kami masuki selama di The Venetian. πŸ˜€
(Note : selama di Macau, kami selalu membayar dengan mata uang Hkd dan diberikan kembalian dalam mata uang Hkd, namun ada beberapa toko yang memberikan kembalian dengan MOP)

Keluar dari toko souvenir, terdengar lagu Itali (yang pasti bukan bahasa Inggris ataupun Perancis) yang dinyanyikan oleh para pria bersuara bariton dan ternyata gondola sudah memasuki jam operasional. Pada awalnya kami memang berniat menaiki gondola ini, tapi entah kenapa setelah melihat canal ini tidak terlalu dalam dan gw sudah tidak terlalu exciting naik gondola, gw semakin ragu menghabiskan 120Hkd untuk naik gondola ini.
Kami pun beralih menuju food court untuk mencari makan siang. Di food court ini ada 2 tempat yang mempunyai label halal, namun karena gw sangat ingin makan nasi maka pilihan pun jatuh ke Indian Spice Express. Gw memilih seafood kari dan adhe memilih Chiken Briyani. Entah karena gw lapar atau gw sangat ingin makan nasi, rasa Seafood karinya lumayan terasa enak di lidah..

The venetian #1
The venetian #1
The venetian #2
The venetian #2
The venetian #3
The venetian #3
The venetian #4
The venetian #4
The venetian #5
The venetian #5
The venetian #6
The venetian #6
The venetian #7
The venetian #7
Inside of souvenir shop
Inside of souvenir shop
Price 58 Hkd
Price 58 Hkd
Indian spice express
Indian spice express
Our lunch @75 Hkd
Our lunch @75 Hkd

Dari The Venetian kami akan menuju Senado Square. Selama di Macau kami memang menggunakan free shuttle, tapi kita harus tahu dimana lokasi free shuttle dan tujuannya. Menurut blog, untuk menuju Senado Square kita bisa ke City of Dreams yang (katanya) berdekatan dengan The Venetian dan kemudian naik shuttle dari City of Dream untuk menuju Senado Square. Berhubung kita sudah bolak-balik tidak menemukan jalan menuju City of Dreams dan gw sudah hopeless berat, akhirnya kita memutuskan naik shuttle untuk kembali ke Macau Ferry Terminal dan kemudian naik shuttle dari Macau Ferry Terminal menuju City of Dreams. Kami naik bis, kemudian bis shuttle keluar dari The Venetian menuju Macau Ferry Terminal melewati bagian depan The Venetian. Dan TERNYATA-TERNYATA-TERNYATA….. (Jreng Jreng) City of Dreams bersebrangan dengan The Venetian !!! 😦
*ketok2 jidat, menatap nanar City of Dreams*

Singkat cerita, bis menuju Macau Ferry Terminal dan kami langsung naik free shuttle menuju City of Dreams. Sampai di lobby City of Dreams, kami langsung disambut dengan layar berisikan pemandangan The Mermaid. Dari sini, kami belok kanan dan menaiki eskalator untuk menuju lantai dibawahnya. Di lantai bawah tampak ada beberapa tujuan free shuttle. Untuk menuju Senado Square kami mengantri di area Sintra shuttle.

Sesampai di pemberhentian Sintra shuttle, tampak Grand Lisboa berada disebelah kanan. Dari tempat pemberhentian bis, kami jalan ke arah kiri dan berjalan menjauhi Grand Lisboa. Kami terus berjalan lurus selamaΒ  5 menit dan kemudian di sebrang jalan tampak Senado Square.

Lobby the City of Dreams
Lobby the City of Dreams
City of Dreams
City of Dreams
Perjalanan menuju Senado Square
Perjalanan menuju Senado Square

Siang itu Senado Square tampak penuh padat orang dan ditambah cuaca yang panas terik (gila), setelah berkeliling sebentar di sekitar Senado Square, gw tidak sanggup melanjutkan perjalanan dengan menembus kerumunan orang. Akhirnya kami melipir (tujuannya untuk berteduh πŸ˜€ ) ke pinggir bangunan yang ada di Senado Square dan berakhir dengan duduk di pinggir gedung Santa Casa Da Misericordia *sibuk kipas-kipas*

Selesai beristirahat, kami meneruskan berjalan kaki menuju Ruins of St. Paul’s. Di sepanjang jalan kami melihat beberapa toko Pastelaria Koi Kei yang selalu penuh di padati para pembeli. Dengan muka ‘Kepo’, kami mencoba memasuki toko Pastelaria Koi Kei. Dibagian depan toko, banyak orang berkerumun dan ternyata di bagian ini menjual berbagai macam daging slice kering dari yang halal sampai yang tidak halal.. πŸ˜€
Masuk ke dalam toko, berkeliling sebentar dan berakhir di didepan penjualan egg tart. Karena penasaran kami membeli 2 egg tart. Rasanya??? Enak dan sangat terasa sekali telurnya ( Ya iyalah, namanya juga Egg tart πŸ˜› ). Oya, jangan lupa baca Bismillah ya!Β  πŸ˜‰

St Dominic's Church
St Dominic’s Church
Santa Casa da Misericordia
Santa Casa da Misericordia
Macau Business Tourism Centre
Macau Business Tourism Centre
The famous foods shop at Macau
The famous foods shop at Macau
Egg tar, the price 8 Hkd
Egg tart, the price 8 Hkd

Setelah itu kami berjalan kembali dan dari kejauhan mulai tampak Ruins of St Paul’s. Disekitar Ruins of St Paul’s sangat-sangat-sangat ramai oleh kerumunan orang. Sambil menunggu Adhe yang mencari tumbler Starbucks, gw melipir mencari spot terbaik untuk menikmati kerumunan orang serta pemandangan Ruins of St Paul’s.
Sekembalinya Adhe, kami berjalan ke arah tangga Ruins of St Paul’s dan sore itu kami lalui dengan duduk disekitar Ruins of St Paul’s.

The Ruins of St. Paul’s refer to the faΓ§ade of what was originally the Church of Mater Dei built in 1602-1640 and the ruins of St. Paul’s College, which stood adjacent to the Church, both destroyed by fire in 1835. As a whole, the old Church of Mater Dei, St. Paul’s College and Mount Fortress were all Jesuit constructions and formed what can be perceived as the Macao’s β€œacropolis”.

The faΓ§ade of the Ruins of St. Paul’s measures 23 metres across and 25.5 metres high and is divided into five levels. Following the classical concept of divine ascension, the orders on the faΓ§ade on each horizontal level evolve from Ionic, Corinthian and Composite, from the base upward. The upper levels gradually narrow into a triangular pediment at the top, which symbolizes the ultimate state of divine ascension – the Holy Spirit. The faΓ§ade is mannerist in style carrying some distinctively oriental decorative motifs. The sculptured motifs of the faΓ§ade include biblical images, mythological representations, Chinese characters, Japanese chrysanthemums, a Portuguese ship, several nautical motifs, Chinese lions, bronze statues with images of the founding Jesuit saints of the Company of Jesus and other elements that integrate influences from Europe, China and other parts of Asia, in an overall composition that reflects a fusion of world, regional and local influences. Nowadays, the faΓ§ade of the Ruins of St. Paul’s functions symbolically as an altar to the city. The baroque/mannerist design of this granite faΓ§ade is unique in China (as noted in UNESCO’s Atlas mundial de la arquitectura barroca). The Ruins of St. Paul’s are one of the finest examples of Macao’s outstanding universal value.

Close by, the archaeological remains of the old College of St. Paul stand witness to what was the first western-style university in the Far East, with an elaborate academic programme that included Theology, Mathematics, Geography, Chinese, Portuguese, Latin, Astronomy and various other disciplines, preparing a significant number of missionaries to pursue Roman Catholic work in China, Japan and throughout the region. The missionary route followed by the Jesuits from Macao all over the region was crucial in facilitating the dissemination of Catholicism in China, Japan and other countries, also enabling a broader interchange in other scientific, artistic and cultural fields.

http://www.macauheritage.net/en/HeritageInfo/HeritageContent.aspx?t=M&hid=43

The crowd of Ruins St Paul's
The crowd of Ruins St Paul’s
Ruins of St Paul's #1
Ruins of St Paul’s #1
Ruins of St Paul's #2
Ruins of St Paul’s #2
Ruins of St Paul's #3
Ruins of St Paul’s #3
Ruins of St Paul's #4
Ruins of St Paul’s #4
Ruins of St Paul's #5
Ruins of St Paul’s #5
Around Ruins of St Paul's
Around Ruins of St Paul’s
Behind of Ruins of St Paul's
Behind of Ruins of St Paul’s

Sambil menunggu matahari terbenam, kami berjalan kembali menuju Mount Fortress. Disekitar Mount Fortress dikelilingi oleh taman dengan pohon-pohon yang sangat rindang, oleh karena itu taman ini ramai di kunjungi orang. Dari Mount Fortress tampak pula pemandangan Macau dari ketinggian dan akhirnya kami berkeliling di sekitar Mount Fortress mencari tempat yang kosong untuk menunaikan ibadah shalat.

Mount Fortress #1
Mount Fortress #1
Mount Fortress #2
Mount Fortress #2
Mount Fortress #3
Mount Fortress #3
Mount Fortress #4
Mount Fortress #4

Ketika matahari mulai terbenam, kami turun kembali menuju Ruins of St Paul’s. Saat itu Ruins of St Paul’s mulai lengang. Perlahan-lahan lampu-lampu disekitar Ruins of St Paul’s mulai menyala, pesona Ruins of St Paul’s tampak terasa beda. Note : Jika mempunyai waktu yang cukup panjang, kunjungilah Ruins of St Paul’s di sore hari dan tunggulah hingga malam hari sehingga kita bisa menikmati view Ruins of St Paul’s diwaktu sore dan malam hari.

Jam 7 malam kami memutuskan untuk kembali ke Senado Square. Sebelum sampai di Senado Square, gw sempat melihat ada toko souvenir. Kami akhirnya mampir untuk mencari souvenir versi Macau. Oya, penjualnya bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia dan kalau kita membeli dalam jumlah banyak akan diberi harga lebih murah.

Dari Senado Square, rencananya kami akan naik free shuttle dari Grand Lisboa untuk menuju Macau Ferry Terminal. Kami berjalan lurus menuju Grand Lisboa dan sesampai di Grand Lisboa, Adhe bertanya kepada petugas dimana free shuttlenya. Free shuttle Grand Lisboa berada di lantai Basement dengan melewati kasino terlebih dahulu. Sesampai di tempat free shuttle ternyata kami harus menunjukan voucher. Karena kami malas bertanya bagaimana mendapatkan voucher tersebut, akhirnya kami naik menuju lobby dan memutuskan kembali ke tempat pemberhentian shuttle Sintra untuk menuju City of Dreams. Dari City of Dreams kami melanjutkan menuju Macau Ferry Terminal. Di Macau Ferry terminal, kami membeli tiket ekonomi Turbo Jet seharga 184 Hkd dengan tujuan Kowloon. Selesai berurusan dengan imigrasi, kami menunggu di ruang tunggu dan jam 21.20 kami naik ferry. Perjalanan menuju HK kami lalui dengan tidur..

View Ruins of St Paul's at night #3
View Ruins of St Paul’s at night #1
View Ruins of St Paul's at night #2
View Ruins of St Paul’s at night #2
View Ruins of St Paul's at night #3
View Ruins of St Paul’s at night #3
St Dominic's church at night
St Dominic’s church at night
Senado square at night #1
Senado square at night #1
Senado square at night #2
Senado square at night #2
Senado square at night #3
Senado square at night #3
Name card & direction to Souvenir Macau Shop
Name card & direction to Souvenir Macau Shop
Souvenir Magnets Macau, @33 Hkd
Souvenir Magnets Macau, @33 Hkd
Tumbler Macau Starbucks 90 Hkd
Tumbler Macau Starbucks 90 Hkd
Advertisements

18 thoughts on “[Macau] Day 3 – One day trip at Macau

  1. saya boleh nanya, mbak di hongkong apakah ada kendala bahasa ? apa mbak menggunakan bahasa inggris disana atau gimana? saya mau kesana tapi saya gak gitu pandai bahasa inngris haha, biaya yang dikeluarkan total nya smua berapa ? terimakasih mbak

    1. Hai Tiya!

      Sorry for late repply ya.
      Di Hong Kong mayoritas menggunakan bahasa Inggris. Kalau mau nekat, rasanya gak akan terlalu banyak kendala sih. Tapi ya itu, asal modal keberanian dan nekat dengan bahasa tubuh. Hehehe… πŸ˜€
      Sedangkan untuk total budgeting, maaaaappp…ternyata pas dicari filenya gak nemu. Jadi gak bisa memberikan estimasi berapa jumlah biaya yang dikeluarkan.
      Semoga membantu ya jawabannya. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s