[Korea Selatan] Day 3 – Nami Island & Petite France

Nami Island berjarak 63 km dari Seoul, located in the middle of The Han River. Nami Island looks like a leaf floating, gracefully on top of Cheongpyeong Lake. Nami Island was named after General Nami, a notable figure in Korean History who courageously fought in battles but died at the age of 26.
*taken from leaflet Naminara Republic*

Untuk menuju Nami Island ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan, antara lain:

  1. Limousine shuttle bus menuju Nami Island.
    Terdapat dua pilihan tempat keberangkatan yaitu dari Insa-dong dan Jamsil station. Bis akan berangkat jam 09.30, dengan harga tiket tiket one-way 7500 Won, sedangkan tiket PP 15000 Won. Dari Nami Island menuju Insa-dong dan Jamsil station, bis akan berangkat jam 16.00
  2. Subway menuju Gapyeong Station, dengan menggunakan subwayΒ  kamu harus beberapa kali naik turun-pindah-transfer subway karena untuk menuju Gapyeong Station kamu akan menggunakan beberapa jalur subway yang berbeda
  3. Kereta ekspress ITX Cheongchun Line menuju Gapyeong Station.
    Jika kamu akan menggunakan ITX Cheongchun Line terdapat dua pilihan stasiun untuk menuju Gapyeong Station yaitu Yongsan Station dan Cheongnyangni Station. Harga tiket dari Yongsan Station harus di tebus senilai 4800 Won, sedangkan jika naik dari Cheongnyangni Station senilai 4000 Won.

Setelah menghabiskan sarapan yang ‘berisi’, kita bergegas menuju Hongik Univ Station. Kali ini kita akan menggunakan option ke tiga dengan kereta express ITX Cheongchun Line dari Yongsan Station. Alasannya sih karena :

  1. kereta ekspress akan memangkas waktu perjalanan untuk menuju Nami Island
  2. tidak perlu sibuk naik-turun dan transfer subway
  3. gak perlu plangaplongo dan nanya-nanya cari informasi ketika harus transfer subway
  4. mau menikmati nyamannya kereta ekspress alias tiduuuurrrr!

Untuk menuju Yongsan Station kita naik subway terlebih dahulu dari Hongik Univ Station, setelah keluar dari kereta pastikan kamu jangan tapping out dan keluar dari Yongsan Station!!! Mesin tiket ITX berada di area dalam Yongsan Station, setelah kamu keluar naik eskalator (atau tangga) posisi mesin tiket ITX berada di sebelah kanan kamu. Oya, jgn lupa tapping (transfer) tiket subway di sekitar mesin tiket ITX ya karena ini merupakan dua jenis kereta yang berbeda, yang pertama adalah kereta reguler sedangkan ITX adalah kereta ekspress. Gw gak tau apa konsekuensinya jika kita lupa tapping di transfer station, karena gw gak tau kalau harus tapping pada perjalanan pergi menuju Gapyeong Station, sedangkan ketika kita pulang banyak sekali petunjuk yang mengharuskan kita harus tapping terlebih dahulu di transfer station. Jika kamu masih bingung, ada petugas yang membantu ko. Pasang muka bingung aja, pasti nanti dibantu… πŸ˜›
Oya, kalau mau booking online ITX pun bisa dilihat di sini.

Jadwal ITX menuju Nami Island
ITX Schedules to Nami Island
ITX shedule from Nami Island
ITX shedules from Nami Island
At Yongsan Station *taken from Epoy cam*
At Yongsan Station *taken from Epoy cam*
Inside of ITX Cheongchun Line
Inside of ITX Cheongchun Line *taken from Epoy cam*

Waktu itu, kita dibantu oleh petugas stasiun untuk membeli tiket ITX. Karena petugasnya tidak bisa bicara bahasa Inggris sempat membuat gw ragu untuk membeli 5 tiket sekaligus. Akhirnya kita membeli tiket ITX sebanyak dua kali transaksi, transaksi yang pertama untuk satu orang dan transaksi yang kedua untuk empat orang. Alhasil ketika gw liat nomor tempat duduknya, gw duduk terpisah dengan gank Happy Tour. Gw mendapat duduk di gerbong belakang, sedangkan mereka berempat duduk di gerbong depan. Ketika gw berusaha mencari gerbong dimana gw duduk, gw baru ngeh kalau ternyata kereta ini bertingkat!!!! Ditengah gerbong kereta, ada beberapa gerbong yang mempunyai dua tangga naik dan turun. Gw beberapa kali melewati gerbong bertingkat dan tidak banyak orang yang duduk di gerbong tersebut. Kereeennnn….!!!

Setibanya di Gapyeong Station udara dingin menampar pipi ini. Kita bergegas keluar stasiun, foto narsis dulu kemudian langsung naik taksi (cost naik taksi senilai 3000 Won). Oya, Tante Anne berpikir yang namanya Nami island itu berada dipinggir laut so pasti cuacanya agak hangat dunk, jadi dia memutuskan memakai baju berbahan tipis dan memakai celana legging. Ternyata ketika kita naik taksi, gw sempet melihat suhu saat itu (tertera didalam taksi) di 2 derajat celsius!!!! Alhasil selama perjalanan, Tante Anne menjadi bahan ledekan dengan baju tipis dan leggingnya ituh.

Gapyeong Station
Gapyeong Station

Setiba di pintu masuk Immigration Nami Island, kami membayar tiket masuk seharga 8ooo Won. Bernarsis didepan pintu masuk sambil menunggu ferry selanjutnya. Ketika kami sedang berfoto, turunlah sebuah rombongan dengan menggunakan satu bis besar. Ketika Tour Guidenya yang berwajah Korea berbicara, ” Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, mari kesini! ” Jiaaahhhh…. Ternyata ini rombongan wisatawan dari Indonesia, saudara-saudara! Akhirnya kita pun melipir menuju tempat keberangkatan ferry.

Keberangkatan Ferry pada pagi hari dari Gapyong Wharf menuju Nami Wharf dimulai pada pukul 07.30, sedangkan dari Nami Wharf menuju Gapyong Wharf pada pukul 07.35. Pada pukul 07.30-09.00 ferry akan berangkat dengan interval jarak waktu 30 menit, pada pukul 09.00-18.00 ferry akan berangkat setiap 10-20 menit dan untuk pukul 18.00-21.40 ferry akan berangkat setiap 30 menit. Sedangkan untuk keberangkatan ferry paling akhir jam 21.40 dari Gapyong Wharf dan dari Nami Wharf jam 21.45.

Immigration of Nami Island
Immigration of Nami Island
Ferry to Nami Island
Ferry to Nami Island

IMG_3294

Naik ferry nih..
Naik ferry nih.. *taken from Mbak Wiwid cam*

Setibanya di Nami Wharf kami menikmati pemandangan pepohonan yang berwarna-warni. Banyak spot yang bisa diabadikan, namun karena saat itu banyak sekali pengunjung, alhasil kami harus extra bersabar menunggu antrian untuk mengambil spot berfoto. Kami menyusuri jalan utama Nami Island, yaitu Central Korean Pine Tree Lane, disini berjejer-tinggi-rapi pohon pinus yang mulai berubah warna dan meranggas. Di sebelah jalur utama, kami bisa menemukan jalan setapak dengan hamparan daun kuning. Walaupun ini sepertinya tampak dibuat sengaja oleh pihak Nami Island, namun spot ini sangat eye catching. Ditengah perjalanan, ada toko souvenir Nami Island yang bernama Artshop Imagine Nami, tanpa berpikir dua kali kami langsung masuk sekalian numpang menghangatkan badan. Disini dijual suvenir Nami Island beserta beberapa aksesoris berbau Winter Sonata. Yup, serial Korea tahun 2002 yang berhasil sukses membuat Nami Island menjadi terkenal. Gw membeli koin dan post card Nami Island dengan latar pohon kuningnya, masing-masing suvenir berharga 1000 Won.

Dari Artshop Imagine Nami, kami berbelok ke kanan menuju Metasequoia Lane hingga bertemu Meta Wharf. Kami berfoto-foto sebentar dan kemudian kami duduk beristirahat di bangku piknik di Sequoia Family Garden sambil menikmati pohon-pohon yang berwarna kuning-oranye.

Kelakuan tante-tante galau :D
Kelakuan tante-tante galau πŸ˜€ *taken from Epoy cam*
It's all about yellow things!
It’s all about yellow things!
the little cute girl!
the little cute girl!
Beralaskan karpet kuning
Beralaskan karpet kuning
Awalnya foto dengan efek bunga jatuh, tiba-tiba ada beberapa orang Jepang ikut membantu melemparkan daun
Awalnya foto dengan efek daun jatuh, tiba-tiba ada sekumpulan orang Jepang lewat yang ikut berpartisipasi melemparkan daun, gw pun cuma bisa nyengir
Tante Anne dengan baju tipis dan leggingnya..
Tante Anne dengan baju tipis dan leggingnya.. *taken from Epoy cam*
Akhirnya hidung gw bisa berwarna merah juga...
Akhirnya hidung gw bisa berwarna merah juga… *efek kedinginan*
In front of Souvenir Shop *taken from Epoy cam*
In front of Souvenir Shop *taken from Epoy cam*
Winter sonata
The story of Winter sonata #1
The story of Winter Sonata #1
The story of Winter Sonata #2
The story of Winter Sonata #2
The story of Winter Sonata #3
*taken from Mbak Wiwid cam*
*taken from Mbak Wiwid cam*
The stunning view #1
The stunning view #1
The stunning view #2
The stunning view #2
The best spot, i think!
It became my wallpaper!
Picnic time
Picnic time
Mbak Wiwid in action
Mbak Wiwid in action
Mencari spot yang tidak penuh pengunjung itu sangat syusyah!
Mencari spot yang tidak penuh pengunjung itu sangat syusyah!

IMG_3598IMG_3337

Coffee at Republic of Nami ; 5300 Won
Coffee at Amuse The Cafe ; 5300 Won

Rasanya untuk mengeksplor dibutuhkan satu hari penuh, tapi kita harus mengejar bis menuju Petite France. Sebelum kembali menuju Nami warf, kami menuju Nami Library Baplex untuk salat. Tempat salat ini berada dikompleks restoran, lantai 2. Sambil menunggu teman lain yang sedang salat, gw pun membeli segelas cokelat panas untuk menghangatkan badan. Dari beberapa blog yang gw baca, disini ada tempat makan yang menjual makanan halal tapi saat itu gw tidak menemukannya alhasil kita hanya mengisi perut ini dengan ramen di Mayhouse Food Court. Kalau kata Uke, (seorang sahabat yang sempat kuliah di Korea tapi gak sempat jalan ke Petite France :mrgreen: ) , ramen yang dijual di Korea tidak halal. Gw dah hopeless bingung mau makan apa, padahal cuaca suhu makin dingin dan perjalanan masih jauh, trik lama dijalankan dengan mengucap Bismillah sebelum makan ramen.. πŸ™‚

Our lunch
Our lunch ; 5000 Won

IMG_3633

At the end of 2012
At the end of 2012

Website Nami Island http://www.namisum.com/

Selesai lunch, kita kembali menuju tempat penyebrangan ferry. Rencananya kami akan menuju Petite France menggunakan Shuttle bus dari Nami Island, tapi karena kami tidak tahu dimana menunggu shuttle bus tersebut kami memutuskan kembali ke Gapyeong Station dengan menggunakan taksi. Di Gapyeong Station, kami sempat kebingungan dimana harus menunggu Shuttle bus karena tidak ada petunjuk sama sekali dimana kami harus menunggu. Kami pun bertanya dengan petugas di Gapyeong Station. Seorang petugas wanita dengan sangat ramah dan baik membantu kami, saking baiknya dia memfoto kopi jadwal shuttle bus yang di tempel di kantor Gapyeong station kemudian menjelaskan jadwal shuttle bus dan kami disuruh menunggu di halte bus yang ada di seberang stasiun. Di Gapyeong Station terdapat dua halte bis, yang pertama persis didepan Gapyeong Station dan yang kedua berada di sebrang Gapyeong Station. Shuttle busΒ  tidak berhenti di depan Gapyeong Station, namun dia akan putar balik di depan halte bis Gapyeong Station dan akan berhenti di halte bis yang berada di seberang Gapyeong Station.

Kami pun menyebrang sesuai arahan petugas wanita tersebut. Gw gak tahu saat itu berapa derajat suhu di luar Gapyeong Station, yang pasti cuaca suhu semakiiiiiiinnnn dingin. Sarung tangan sudah tidak mampu menahan hawa dinginnya udara saat itu. Kalau kata celetukan gank Happy Tour, kayak masuk ke kulkas. Kulkasnya ada diluar ruangan…
Tepat jam 15.10, datanglah bis yang kami nanti-nanti. Waktunya mencari kehangatan.Yihaaaa….

Schedule of shuttle bus
Schedule of shuttle bus to Petit France, thanx to the nice officer!
Pose menahan dingin *taken from Iin cam*
Pose menahan dingin *taken from Iin cam*

Petite France (sepertinya) berlokasi di satu district yang sama dengan Nami Island. Dengan menggunakan shuttle bus perjalanan menuju Petite France memakan waktu setengah jam. Harga tiket shuttle bus 5000 Won, agak mahal ya…?!?! Tapi kalo kamu mau naik shuttle bus sepanjang rute tersebut tidak akan dikenai charge lagi dengan persyaratan harus menunjukan karcis shuttle bus kepada sopir. Bis ini akan berhenti di 10 halte bis yang telah ditentukan dengan rute Gapyeong Terminal-Morning Calm Garden.
Ketika bis berhenti di Nami Island, ternyata halte bis Nami Island berada di ujung jalan dekat dengan tempat pemberhentian taksi. Jadi memang harus sedikit bersabar untuk berjalan kaki jika ingin menemukan halte bis ini. Didalam bis sedang ditayangkan serial Running Man yang mengambil tempat syuting di Petite France. Gw belum pernah menonton serial Running Man, jadi gw menikmati serial yang isinya lari-lari, apalagi saat itu guest starnya adalah Nikchun dan Taecyon 2PM (lumayanlah untuk cuci mata). Kelucuan mereka (berlari-lari mengejar orang) mampu mengalihkan perhatian gw dari perjalanan yang berliku-liku yang sempat membuat gw mabuk darat alias mual mabok.

It’s all about Petite France :
From its outward appearance, it would appear to be a village that belongs on the Mediterranean coast or in a pastoral area of the Piedmont Alps. This is Petite France, a French cultural village set in the Korean countryside! Petite France serves as both a French cultural village and a youth training facility (Goseong Youth Training Center), and consists of 16 French-style buildings where visitors can lodge and experience French food, clothing, and household culture.

The concept of Petite France encapsulates β€˜flowers, stars, and the Little Prince.’ The village contains a memorial hall dedicated to Saint-Exupery, the author of the celebrated French novel, Le Petit Prince (1943) and as such it is called the Little Prince theme park. It also has a gallery displaying sculptures and paintings of le coq gaulois (the Gallic rooster), the national symbol of France; Orgel House where a 200-year-old music box plays a sweet melody; a shop that sells herbal and aromatic products; a souvenir shop; and many other locales where you can experience French culture. The village can accommodate up to 200 visitors with 34 guest rooms that hold four to ten people each.
Enjoy the marionette experience and hear percussion instruments from around the world, and also enjoy soap bubble experience.
*taken from http://english.visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_1_1_1.jsp?cid=815994

Kenapa gw tertarik ke Petite France karena disini seperti berdiriΒ  kota kecil dengan bangunan unik yang berwarna-warni. Datang ke Petite France tidak seperti berada di Korea, benar-benar seperti di negeri dongeng ala France. Oya, disini juga tempat syuting Bethoven Virus dan Secret Garden (one of my favorite Korean Dramas) alhasil gw pun makin penasaran dengan Petite France. Untuk masuk Petit France dikenai harga tiket 8000 Won.

Petite France berisi bangunan-bangunan seperti bungalow-bungalow dan kamu bisa masuk ke dalam beberapa bangunan tersebut. Gw lebih suka mengeksplor dari luar karena gw suka sekali dengan tatanan uniknya Petite France yang bertingkat-tingkat dan colourfull. Untuk mengelilingi Petite France tidak banyak membutuhkan waktu lama. Kami berkeliling selama satu jam ditambah saat itu hujan rintik mulai turun, jadi kami tidak terlalu lama disana. Puas berkeliling, kami kembali menuju halte shuttle bus.

In front of Petite France
In front of Petite France
Map of Petite France
Map of Petite France
The colourfull buildings
The colourfull buildings
Petite France
Petite France
The open theater
The amphitheater
Tampak samping
Tampak samping

IMG_3705

Ini berada di dinding luar loh
Gambar ini berada di salah satu dinding luar bangunan Petite France

IMG_3754

IMG_3757

Inside of the France House Exhibition Center
Inside of the France House Exhibition Center
At shuttle bus halte
At shuttle bus halte *taken from Iin cam*

Setiba di Gapyeong Station, kita membeli tiket ITX sesuai dengan jadwal yang terdekat (kalau tidak salah jadwal ITX terdekat ada di jam 6). Namun hasil print tiket ITX yang tertera kita mendapatkan jadwal kereta ITX untuk jam 9 malam. Bisa mati gaya kedinginan kita menunggu selama 3 jam! Iin pun bertanya kembali ke kantor stasiun dan kembali bertemu dengan petugas wanita yang baik itu. Petugas tersebut membantu mengganti jadwal sesuai dengan jadwal terdekat kereta yang sudah kami beli. Kami pun sempat mengobrol, kata doski hari itu adalah hari terdingin selama bulan November dan mungkin sekarang suhu udara diluar sudah minus derajat. Wew….!

Kali ini kami membeli tiket dengan tujuan Cheongnyangni Station karena kami ingin mampir ke Doota Mall di daerah Dongdaemun Market untuk berbelanja oleh-oleh. Di Cheongnyangni Station kami sempat kebingungan untuk melanjutkan perjalanan ke kereta selanjutnya. Selesai tapping, kami mencoba turun ke bawah untuk naik kereta dan mencoba-coba naik kereta yang ada. Ternyata kereta yang kita naiki berada dijalur yang benar menuju Dongdaemun station. Sesampai di Dongdaemun Station untuk menuju Doota mall kamu bisa keluar di pintu exit #8.

Perut cacing-cacing mulai bergemuruh, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Berkeliling di sepanjang satuΒ  lantai di Doota, teman yang lain memilih makan Burger King tapi tetap saja gw (setia) memilih makan nasi goreng (seafood) lagi. He….
Di beberapa tempat makan di Korea mempunyai tradisi kebiasaan setelah makan kita harus membereskan sisa makanan, membuang sisa makanan di tempat sampah yang sudah disediakan dan meletakan baki di tempat penyimpanan baki yang sudah disediakan. Menurut gw, ini kebiasaan yang sangat baik terutama kita mempunyai andil dalam menjaga kebersihan sekitar. Satu kebiasaan yang patut dicontoh!

Selesai makan, Shopping time!!!!
Beberapa blog ada yang bercerita tentang salah satu toko yang menjual suvenir dengan harga miring, berciri-ciri mempunyai bendera merah putih di pajang di toko tersebut. Kita sempat beberapa kali berkeliling, tapi gw tidak menemukan keberadaan bendera merah putih. Di lantai 5 ada 2 toko yang cukup besar menjajakan souvenir. Kami tertarik ke salah satu toko yang penjaganya adalah seorang wanita berdomisili di Jakarta (sekarangΒ menemani suaminya yang sedang sekolah) dan seorang pria yang cukup fasih berbahasa Indonesia, namun mengaku campuran Bapak Korea-Ibu Indonesia (sepertinya sih dia anak ownernya deh). Cerita selanjutnya adalah suasana kalap belanja memenuhi hasrat genk Happy Tour!
Oya, setelah gw selesai berbelanja, ternyata di toko di sebelah tempat kami berbelanja adalah toko yang mempunyai bendera merah putih. Gw sempat masuk dan membandingkan harga. Intinya sih ada beberapa harga yang murah di toko ini dan ada yang mahal dibandingkan di toko tempat gw belanja, saling melengkapi. Kelebihannya di toko tempat gw belanja, dia memberikan tas kain besar yang bisa digunakan untuk menyimpan barang cabin. Lumayan juga, Jaga-jaga kalau ternyata koper tidak muat lagi.

Malam itu kita tidak mampu untuk berjalan lebih jauh menyusuri Dongdaemun Market. Kami hanya terfokus di Doota Mall saja. Selesai berbelanja oleh-oleh, gw sempat melihat-lihat sebentar. Banyak sekali coat (yang keren banget!) dan boot yang dipajang di Doota Mall,mengingat sebentar lagi Korea akan memasuki musim dingin. Kalau kamu punya dana lebih, coba mampir ke Doota Mall, dijamin kamu tidak menyesal dengan model-model fashion yang teramat sangat ciamik, tapi jangan lupa siapkan karung uang ya.. πŸ˜€

Selesai mengeksplorasi Doota dan mengingat besok kami harus bangun sangat pagi untuk menuju Jeonju, kami kembali ke base camp Housetay dibawah rintik-rintik hujan. FYI, disini banyak sekali cowok-cowok berjas yang memakai payung transparan loh. Co cweet banget…! *lap iler*

Nasi goreng seafood.. Rasanya??? Standarlah..
Nasi goreng seafood.. Rasanya??? Lumayanlah..!
Alat ini merupakan nomor urut untuk mengambil makanan. Kalau makan sudah siap diambil, alat ini akan bergetar dan kamu bisa mengambil makanan di counternya..
Alat ini merupakan nomor urut untuk mengambil makanan. Kalau makan sudah siap diambil, alat ini akan bergetar dan kamu bisa segera mengambil makanan…

// //

Advertisements

24 thoughts on “[Korea Selatan] Day 3 – Nami Island & Petite France

  1. Denger-denger emang ramen itu gak halal karena bahan pembuatan mie-nya, Vik. Tapi gw pernah nyoba sih sekali yang deket kampus, waktu itu belom tau soal halal-haram itu. Daaannn… yang deket kampus itu endang bambaaanngg!!! Pas banget di makan di tengah winter :mrgreen:

    Petite France itu di mana sih? Satu lokasi sama Nami Island gitu atau gimana? petunjuk lo kurang jelas nih soal how to get there…

    Trus… lo gak maen ke daerah sinchon-ewha ya? konkuk juga gak? itu SERUUUUU!!! daerah kampus, trus di samping konkuk ada tempat makan albab yang ENAAAAAKKK πŸ˜† dan banyak kafe-kafe lucuuuuu *ngiler*
    Booo itu cucowok korea tampangnya seragam semuah. Setipe! Kurang jantan ah menurut akika *ayam kali, jantan*
    Cari yang tipe lain lah… yang timur tengah-timur tengah gitu *kode*

    Daaann… lo gak ke namdaemun Vik? cari oleh-oleh lebih enak di namdaemun, lebih murah daripada doota. Tapi emang kalo boneka keramik yang pasangan raja-ratu korea jaman dulu cuma ada di doota dan insadong sih…

    Demikian komen gw, ntar kalo ada yang keinget gw tulis lagi… :mrgreen:

    1. perasaan gw sih kyk indomie biasa,ke… :p

      petite france itu sepertinya satu kabupaten sama Nami Island. Whattt??? Kabupaten??? District kali ya…. πŸ˜€

      Untuk daerah2 universitas yang lo sebut itu, gak sempet didatengin.kakinya udah gak sanggup menopang berat badan dan beban hidup! Tsaahhh…. *lempar poni*

      Ih, itu sih balik ke selera masing-masing ya bow.
      Mukanya emang sama semua sih, dari idung sampe mata setipikal. Mgkn tmpt operasi sama juga kali ya..?!?!?!

      Untuk Namdaemun belum gw tulis nih. Just wait and see yaaaa…

      1. emang kayak indomie, tapi kuahnya lebih mantep dan porsinya pun nendang cyiiiiiinnn…

        eh di margonda, sebelah kiri jalan *arah ke jakarta* ada resto korea namanya DAEBAK. Udah nyoba belom?

        Coba yuk!!!
        Wiskul lagi kita! :mrgreen:

      2. apalagi kl makan d musim winter y dan bersama Bapak ituh..?!?!?!?!?!

        Yuk… Pengen nyoba jg nih. Di UI jg ada tmpt makanan korea, kmrn smpt masuk metro tv. Tp g tau rasanya.
        Kpn nih gw dtraktir makan? *to the point*

      3. aku makan ramen sama andre kooookkk *ini bisa ada yang cemburu inih*… sama pacarnya andre jugaaa *biar gak ada yang cemburu, perlu dipertegas*

        makan di musim winter bersama kakanda prabu pujaan hati itu, makan albab di konkuk itu Vik, tapi beneran enak itu makanan… soalnya saat itu gw belom ada perasaan ape-ape sama si mister, baru mulai deg-deg-an aja *mureeeeehhh deh gw* πŸ˜†

        Yuk nyoba Daebak!
        Gak ada kado, gak traktiran. Ada kado pun, gak jamin ada traktiran πŸ˜†

        Kapan daebak-an?

      4. bwahahahaaa…
        eh lupita akika… kenapa lo gak makan shrimp burger di Lotteria? itu katanya kakanda prabu, halal.

        trus, sistem buang sampah sendiri itu juga ada kok di negara kita. kalo makan di Domino’s Pizza kan harus beresin sisa makanan sendiri bow…

      5. aw..aw..aw..
        lo ko g blg sm gw sih???

        saiah blm pernah makan d domino.jd g tau jg kl emg dah d terapin dsini. tp di NZ jg dah kyk ginih, brarti memang negara maju sdh ok sistemny.

      6. mosok fitnah? akika tidak tau kalo lo mau ke petite france *teteup balik-baliknya ke petite france* :mrgreen:

        ih beneran perasaan gw pernah bilang deh Vik…

  2. Mba, jadi sebenarnya dari Nami Island bisa langsung naik bis ke Petite France ya? Cuma shuttle bisnya nyempil? Itu 5000 won tiket bisnya PP untuk balik lagi ke Gapyeong ya? atau untuk one way?

    1. Hai Ismi,
      Iy, dari Nami Island qt bs langsung naik shuttle bus ke Petit France. Cb cari tulisan halte bus, halte bus nya juga tampak kecil shg sy jg gak ngeh kl itu adalah halte bus.
      5000 won itu harga tiket spanjang perjalanan rute bis, bkn utk one way. Jd qt bs berkali-kali naik bis itu asalkan menunjukan tiket.

  3. halo kak , aku mau nanya dong .. kalo naik ITX pake T-Money bisa juga ngga sih kak ? biar ngga perlu ribet beli tiket maksudnyaa ^^
    makasih banyak kalo dijawab πŸ™‚

    1. Hai..
      Stau saya kita tdk bs menggunakan T-Money utk naik ITX karena merupakan kereta yg berbeda dgn subway & qt harus membeli tiket ITX scr terpisah dr tiket subway baik membeli secara online ataupun dari mesin tiket. Dari mesin tsb seingat nanti kita akan mendapatkan nomor tempat duduk. Smoga membantu ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s