Bermula dari Bad Mood, berakhir di Afek Datar

Hari ini dimulai dengan menyemangati diri sendiri ketika gw sudah berada ditengah kepadatan (beda tipis dengan tergencet) penumpang di Commuter Line menuju Tanah Abang. Ketika menyebrangi jembatan penyebrangan diatas jalur busway, gw mulai melihat kemacetan yang sudah mulai merambah di dua jalur. Kesimpulannya pagi ini mulai tampak macet! (ya iyalah, tiada hari Jakarta tanpa macet,jeng!)

Sampai di kubikel, gw langsung duduk dikursi tercinta, taro tas, buka laci, pasang modem, ganti sendal jepit, nyalain komputer, buka email dan melirik tumpukan disposisi ( serta mengumpulkan mood ) akhirnya gw pun memulai kerjaan hari ini.

Disposisi kali ini adalah surat yang berisi tentang permohonan rekomendasi untuk peminjaman dana dari salah satu pemilik daerah (read:Bupati) di salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara untuk diberikan ke Kementerian Keuangan. Setelah seharinya gw sempet berkonsultasi dengan teman di bagian Hukormas, gw pun menelpon Dinkes Sulawesi Tenggara.Β  Respon mereka sangat ramah, tapi sayangnya mereka sama sekali tidak tahu tentang informasi surat tersebut. Setelah gw fax isi surat tersebut ke mereka dan beberapa kali telpon-telponan dengan mereka, akhirnya gw memutuskan untuk menelpon rumah sakit bersangkutan.

Bad mood pun mulai melanda, et causa:

  1. email yang dinanti-nanti tidak kunjung datang *bolakbalik resfresh email* –> Ini juara biang onarnya !!!
  2. PMS Syndrome
  3. Beberapa perwakilan RS Daerah yang meminta tanda tangan BAP (sok tenaaarrrr, padahal sih tanggung jawab gede bener tuh) untuk hasil desk TP DUA MINGGU LIMA BELAS HARI lalu yang tidak selesai-selesai. Karena hanya gw yang manteng di kantor (team yang lain sedang rapat ataupun DL) alhasil gw yang dikejer-kejer, gw coba jelasin kalau gw gak mau tandatanganin BAP mereka karena bukan wilayah yang gw pegang dan daripada berbeda kebijakan dari teman-teman yang lain, dengan berat hati gw tolak. Maaf ya Bapak-Bapak, Ibu-Ibu dan Saudara-Saudari sekalian, saya tidak punya kewenangan di BAP yang Bapak-Bapak pegang..

Gw pun akirnya menelpon kontak person RS yang bersangkutan dengan pembicaraan yang berlangsung alot. Sekedar informasi, kantor gw tidak lazim untuk memberikan surat rekomendasi untuk permohonan pinjaman yang akan diberikan Kementerian Keuangan. Biasanya yang diminta RS adalah permohonan rekomendasi ijin mendirikan RS ataupun penetapan kelas RS yang akan dikeluarkan oleh Dinkes Kab/Kota atau Provinsi.
Selama gw menelpon gw berpikir permohonan pinjaman ini akan digunakan untuk pembangunan RS baru, dimana di Kab tersebut sudah mempunyai satu RS Kab yang berdiri dengan jarak 1 km. Kalaupun mereka ingin membangun RS, mereka harus mengoptimalisasikan RS yang sudah ada. Karena biasanya RS dengan gedung yang lama akan menjadi useless.
Entah karena memang perencanaan awal yang memang tidak OK, BOR yang tinggi (hampir 97%), jumlah spesialis yang rencananya masuk ke RS tersebut sebanyak 18 orang ataupun pemegang kekuasaannya yang ingin unjuk gigi menyebabkan mereka ingin meminjam uang untuk relokasi RS ( yak ini pangkal masalahnya, RELOKASI…! ) *getok2kepala*

Sayangnya Dinkes Kab setempat belum memberikan rekomendasi untuk relokasi RS yang baru dan di tempat yang baru sudah terbangun beberapa bangunan dengan menggunakan APBD 2011 dan APBN 2012. Dengan bermodal data yang sudah terhimpun, akhirnya gw pun membuat telaah yang sudah gw print (finally…) dan gw letakan di meja Bapak Plh.. πŸ˜‰

Stengah jam sebelum pulang, gw denger ada disposisi bahan paparan CITO yang harus selesai 1 hari. Sebelum itu disposisi sampai dimeja gw dan menyebabkan gw harus bertahan lama (sendiri) di ujung kubikel , akhirnya gw ngabur dari TKP dan nongkrong di depan tempat absen.hehehehehe….

Menuju perjalanan pulang, niatnya mau nemenin Bumil Rima (alias nebeng) yang mau kontrol dedek fetus ke RS dengan menumpang di taksi yang nyaman dan dingin ituh. Tapi sayang sekali dari depan kantor menuju putaran balik yang berada didepan Kuningan City memakan waktu 35 menit. Gelisah melanda *bolakbalik liat jam tangan* mengingat kereta di atas jam 5 akan sangat-sangat-sangat-sangat-sangat tidak manusiawi, akhirnya gw pun memutuskan turun dari taksi dan numpang Mikrolet 44 yang kala itu gw beruntung bisa naik karena ada penumpang yang turun. Alhamdulillah…
Rejeki pun bersambut untuk kedua kalinya, ketika kereta datang, gw dengan sukses bisa masuk tanpa terdorong dan terjepit oleh sesama anker.Sesampai dirumah, sudah disambut oleh celotehan Juragan Raisa yang dengan asyiknya bercerita sudah memakan cokelat yang notabennya itu cokelat milik gw! Gw pun cuma bisa tersenyum melihat kenakalan matanya bercerita tentang cokelat yang katanya enak ituh…

Akhir kata, rumah selalu menjadi pelabuhan terbaik untuk mengakhiri hari. Home sweet home!

Pray : Semoga besok email galau itu mampir di Inbox gw dan Viba. Amin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s